
Jasmine masih berada dalam pelukan hangat laki-laki yang sejak tadi membuatnya kesal. Tapi entah mengapa saat Jordan mengatakan kuatir padanya, Jasmine terdiam.
Dia kira Jordan hanya berusaha membuatnya melupakan kekesalannya. Berada dalam pelukan Jordan membuat jantung Jasmine berdetak kencang, bahkan seandainya ada kesempatan untuk merekamnya, bunyinya akan menjadi satu irama yang indah.
Pelukan mereka pun terurai, tangan besar itu membelai pipinya dan berhenti disana, lalu tatapan mata mereka bertemu, saling melihat isi hati dari sorot mata.
"Jangan ulangi lagi, kamu tahu betapa aku sangat mengkuatirkanmu."
Jordan masih memegang kedua pipi Jasmine bahkan sorot matanya mengatakan kecemasannya.
" Kamu tahu, aku akan sangat marah dan menyesal jika sesuatu terjadi padamu. Jangan ulangi lagi, aku mencintaimu."
Jordan mengatakan isi hatinya, dia tak peduli jika Jasmine akan mengatakan dia berlebihan. Bahkan jika Jasmine menolaknya dia sudah siap.
"Aku mencintaimu, jangan ragukan itu."
Jordan mencium kening, kedua matanya, hidung, dan bibirnya. Jasmine memejamkan matanya mencoba menerima perlakuan manis dari sang casanova yang tobat ini.
"Sekarang cepat pakai bajumu, atau aku akan memakanmu sampai kamu tak bisa jalan."
Jordan mengedipkan sebelah matanya dan menyeringai. Membuat Jasmine langsung berlari kearah walk in closet dan mengambil pakaiannya disana.
Baru saja dia dibuat terpana oleh ucapan Jordan, sekarang dia dibuat kesal lagi. Sedangkan sedari tadi tangannya sudah dingin, dan dadanya berdegup kencang dibuatnya.
Berada didekat pria tampan kharismatik satu ini membuat Jasmine jadi panas dingin, dia seakan dibuat tak berkutik karena ulahnya. Makin lama makin mesum saja ucapannya.
Tak menampik jika Jasmine mulai tertarik pada pesonanya, tapi tetap saja trauma masa lalu membuatnya menjaga jarak.
Meski berada di dekatnya membuat Jasmine merasa nyaman namun dia belum bisa sepenuhnya percaya pada laki-laki, apalagi tentang kata cinta.
Jordan masih setia menunggu Jasmine bersiap, jika dulu dia paling sebal jika harus menunggu lama mantan kekasihnya berdandan, maka kali ini dia bahkan tidak melewatkan sedikitpun melihat bagaimana gadis yang mencuri hatinya itu berdandan.
Jasmine keluar dari walk in closet mengenakan dress berwarna merah muda bermotif bunga kecil sepanjang lutut. Dia tidak begitu suka gaun yang mewah untuk pakaian hariannya.
Tapi dirumah ini tepatnya dikamar ini, semua bajunya sudah disiapkan oleh Hanna, mommy Jordan. Entah kapan, karena sejak kepulangan mereka dari kota asal Jasmine lemari itu sudah penuh dengan berbagai gaun cantik dan mahal pastinya.
Serta sudah ada beberapa rangkaian produk skincare dan juga kosmetik ternama yang sering dilihatnya di meja rias Chelsea sahabatnya.
Kosmetika yang banyak digunakan oleh wanita kalangan menengah keatas, bahkan banyak makeup artis yang menggunakannya. Jasmine pun pernah memakainya, berkat Chelsea dia bisa merasakan perawatan mahal ala selebritis.
Tapi karena kebutuhannya lebih penting, Jasmine memilih menggunakan merk yang sesuai isi kantongnya. Dan tetap memperhatikan jenis kulitnya yang sensitif.
Jasmine duduk didepan cermin, dan mulai mengambil satu persatu rangkaian skincare hariannya. Mengoleskan tipis diwajah cantiknya, menambahkan sedikit bedak dan disapu kuas agar terlihat lebih natural.
Bibir mungilnya dipoles dengan lipstik berwarna soft pink agar tidak terlihat pucat, gerakan bibirnya saat mencoba meratakan lipstik tak luput dari pandangan Jordan.
Laki-laki yang sejak tadi menjadi penonton setia pertunjukan gratis dibelakang layar, bahkan sejak tadi bibirnya tak berhenti mengumpat.
Setiap yang dilakukan gadis itu membuatnya harus menahan hasrat untuk tidak menerkam nya, apalagi setelah kejadian tadi.
Bukan hanya itu, sekuat tenaga dia harus menekan agar juniornya tidak bangun dan mencari tempat ternyamannya yang sudah lama dia tinggalkan.
Untung saja dia bisa segera mengatasinya dengan menyuruh gadis itu bangkit dan bersiap, karena jika tidak dengan posisi mereka dan Jasmine yang hanya mengenakan handuk akan memudahkannya melahap gadis itu.
Tapi tidak, Jordan tidak akan melakukan hal itu sekarang. Dia tahu Jasmine butuh waktu, dia akan bersabar menunggu hingga waktunya tiba. Dan Jasmine bisa menerimanya, serta melakukannya dengan rasa cinta, bukan hanya nafsu belaka.
Dia ingin Jasmine juga belajar mencintainya, dan akan dia hilangkan trauma yang membelenggunya, membuktikan bahwa mencintai itu tidaklah sulit.
Jordan belajar dari daddy nya bagaimana membuat mamanya menyerah dan melabuhkan cintanya, tapi tidak dengan cara yang sama menanam saham lebih dulu.
Dia ingin Jasmine merasa nyaman saat bersamanya karena dia yakin bahwa gadis itu sebenarnya sudah tertarik padanya hanya saja masih belum mengakuinya.
Melihat Jasmine sudah siap dan melihat kearahnya lewat kaca cermin didepannya, Jordan masih tak berkedip. Jasmine sampai membalikkan badannya.
Jasmine menatap Jordan yang tak melepaskan pandangannya sedikitpun darinya, sampai dia melihat dirinya. Dari atas ke bawah Jasmine melihat dirinya, takut ada yang salah pada penampilannya.
Jasmine tak menemukan apapun pada dirinya yang tidak sesuai menurut pandangannya, hanya saja melihat Jordan yang terus menatapnya tanpa kedip dan diam seperti itu Jasmine merasa aneh.
Jasmine beranjak mendekati Jordan yang masih diam. Sampai di depannya pun, Jordan masih tak bergeming.
Tak peduli bagaimana sikap Jordan setelah ini, yang pasti Jasmine merasa risih ditatap seperti itu tanpa henti.
"Jo"
Jasmine buka suara, gadis itu berdiri tepat didepan Jordan. Merasa namanya dipanggil Jordan tersadar dari lamunannya. Sedari tadi Jordan melamun, setelah mengamati Jasmine yang membuatnya terpesona.
Melihat penampilan Jasmine meski sederhana tanpa banyak make up dan dengan dress dengan potongan simpel yang membuatnya terlihat cantik dimata Jordan.
Jasmine benar, dia membuat Jordan jatuh cinta pada kesederhanaannya, pada wajah cantik alaminya dan semua yang ada padanya.
Jordan merutuki kebodohannya, kenapa baru sekarang mereka bertemu. Dengan keadaan Jasmine yang membuat hatinya iba.
Jasmine bukan tipe gadis yang suka dikasihani, jika itu menyangkut masalah pribadinya. Dia tidak ingin orang tahu masalahnya, dia hanya ingin orang melihatnya sebagai Jasmine yang ceria dan penuh semangat.
"Jo..Jordan"
Jasmine memanggilnya lagi, Jordan berdiri mendekatinya dan langsung melu*** bibirnya pelan, Jasmine yang tak siap dengan serangan mendadak itu hanya diam.
Dia menutup matanya mencoba menikmati ciuman kali ini, jujur saja semakin lama bibirnya mulai hapal dengan bibir Jordan.
Meski otaknya mengatakan tidak dan menolak, tapi tubuhnya berkata lain. Dia menikmatinya, kali ini Jasmine memilih menutup matanya dan kembali belajar cara berciuman yang baik menurut versi Jordan.
Belajar langsung pada ahlinya, dengan berbagai cara yang membuatnya makin menginginkan lebih. Merasa tak ada penolakan Jordan semakin semangat.
Menggigit pelan bibir tipis Jasmine, dan membiarkan gadis itu membuka mulutnya, mengabsen rongga mulutnya. Kecapan yang awalnya pelan semakin nyaring terdengar.
Keduanya saling bertukar saliva, menutup mata dan menikmati pelajaran yang paling mereka sukai. Hingga sesuatu menghentikannya.