Savage Love

Savage Love
#37



Puas menghukum gadisnya, Jordan lalu mengajak Jasmine pergi keluar kamar. Rasanya akan sangat aneh jika mereka seharian berdiam diri dikamar, tanpa menyapa pemilik rumah.


Matahari siang ini sangat terik, bahkan pendingin ruangan seakan tidak berfungsi. Hanna dan Robby sedang menikmati minuman segar yang beri potongan buah segar dan es batu didalamnya.


Mereka sedang berada di teras belakang rumah, menghadap kearah kolam renang. Kolam renang yang dibiarkan terbuka dan dipojok kanan terdapat bale-bale yang ditutupi dengan kain kelambu putih dipinggirnya.


Jordan mengajak Jasmine tur di mansion daddy Robert. Banguan luas dan megah ini memiliki banyak kamar, baik di lantai satu maupun lantai dua. Dan setiap kamar sudah dilengkapi kamar mandi sendiri.


Sekarang kamar-kamar itu sepi hanya kamar daddy dan Jordan yang ditempati. Yang lainnya akan ditempati oleh pemiliknya jika mereka datang kemari.


Dilengkapi fasilitas ruang olahraga, juga ruang musik yang sekaligus jadi aula yang seluruhnya ada di lantai satu, hanya ruang gym yang berada di lantai dua dekat kamar Jordan.


Karena Jordan malas naik turun dan itu akan membuat moodnya hilang, jadi dia menyuruh pelayan untuk memindahkan peralatan gym nya ke lantai dua.


Dikamar paling ujung adalah kamar paling lebar diantara yang lain milik mommy dan daddy nya, tepat disebelahnya ruang kerja daddy Robert.


Tur berlanjut ke lantai satu, dimulai dari dapur. Dapur di mansion ini termasuk dapur yang luas dengan banyak peralatan yang modern didalamnya.


Mereka memiliki satu koki handal yang tak diragukan kemampuannya dan selalu siap kapanpun mereka membutuhkannya.


Tapi untuk makanan sehari-hari baik daddy maupun anaknya, hanya ingin masakan mommy nya.


Beberapa pelayan yang kebetulan berada disana, menundukkan kepala saat mereka melintas. Jasmine merasa tidak enak hati, tapi Jordan mengatakan dia harus membiasakan diri.


Karena tak lama lagi dia akan menjadi istri tuan muda mereka. Jordan akan mengembalikan semua yang seharusnya Jasmine miliki, termasuk panggilan nona untuknya.


###


Satu persatu Jordan tunjukkan pada Jasmine ruangan yang ada di mansion itu, termasuk paviliun di belakang mansion utama.


Paviliun itu terdiri dari dua bagian, bagian kiri biasanya ditempati oleh para penjaga, supir, tukang kebun, termasuk koki yang semuanya adalah laki-laki.


Dibagian kanan ditempati oleh pelayan perempuan dan yang memiliki keluarga. Robert dan Hanna tidak pernah memilih siapa pelayan yang paling dia sukai, tapi tetap kepala pelayan jatuh pada seorang yang sudah lama bekerja di keluarga mereka dan mengenal semua keluarga besar.


Puas mengelilingi mansion mereka kembali ke dalam dan menemui mommy dan daddy, yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


Salah satu pelayan mengatakan jika Jordan mengajak Jasmine berkeliling, lucunya sikap Jordan pada Jasmine begitu menggemaskan. Dia begitu perhatian, bahkan tidak malu meski dilihat oleh para pelayan.


Jasmine yang malu-malu dan Jordan yang sedikit memaksa, menjadi perhatian para pelayan disana. Mereka tersenyum karena tidak biasanya tuan muda mereka bersikap lembut pada seorang gadis.


Jordan menggenggam tangan Jasmine saat melihat gadis itu sedikit gugup ketika mendekat kearah daddy dan mommy.


"Hon, lihatlah putramu. Dia sepertinya sudah tak bisa jauh lagi dari gadisnya."


Ucap Robby ketika melihat Jasmine dan Jordan bersama bergandengan tangan. Hanna menoleh kearah mereka dan tersenyum.


"Kamu benar sayang, lihat mereka begitu menggemaskan."


Hanna merentangkan tangannya pada keduanya, Jasmine menoleh kearah Jordan dan dia mengangguk.


Jasmine dan Jordan mendekati Hanna, dan Jasmine tersenyum. Dia tidak menyangka jika mommy Hanna menyambutnya.


"Sayang, mami rindu padamu." Hanna berdiri dan berniat memeluk Jasmine. Tapi Jasmine kesulitan membalas pelukan mommy Hanna karena Jordan sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya.


"Sst...Jo, bisakah kau melepaskan tanganmu sebentar."


"Hubby..." teriak Jasmine seketika, dia sudah mulai kesal.


"What..." jawab Jordan dengan ekspresi kaget, pura-pura tidak tahu padahal dalam hatinya bersorak senang.


Dia memang sengaja membuat Jasmine kesal hingga memanggilnya dengan sebutan yang sudah mereka sepakati.


"Bisakah lepaskan tanganku sebentar, ini sangat mengganggu." ucap Jasmine pelan, jujur saja dia malu karena berbicara dengan suara keras seperti tadi.


"Aku akan melepaskannya jika kamu mau menciumku." Jasmine membulatkan matanya, bagaimana bisa pria ini berkata seperti itu di depan orang tua dan beberapa pelayan disana.


Jordan mengendikkan bahunya, berniat menjauh tapi tangannya tetap tak mau lepas.


"Hubby..." panggil Jasmine lagi.


"Apalagi?" Jordan menoleh, melihat ekspresi Jasmine yang mengerucutkan bibirnya, ingin rasanya dia gigit bibir itu.


Jordan menunjuk pipi, memberi kode pada Jasmine untuk memberi ciuman. Memutar matanya malas, dan dia langsung mendekat tapi pada saat itu pula Jordan menghadapnya.


Maka bibir mereka pun bertemu dan beradu, Jordan tak sekalipun memberi kesempatan Jasmine untuk lepas. Melu*** bibir mungil itu hingga pukulan mendarat di lengannya.


Jasmine mengatur napasnya, inilah yang dia benci dari Jordan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Aduh...kenapa mommy memukulku." Jordan mengelus lengan kanannya yang baru saja mendapat pukulan dari sang mommy.


"Dasar anak nakal, kamu tidak lihat bagaimana menantu mommy tadi saat kamu tiba-tiba menciumnya. Hah?"


Hanna memarahi Jordan meski begitu dia senang sekali akhirnya Jasmine bisa menerima kehadiran Jordan.


Bahkan tadi dia seperti mendengar panggilan sayang dari gadis itu untuk anaknya. Oh, so sweet. Hanna masih pura-pura marah. Dia tidak ingin Jasmine merasa malu karena Jordan berhasil menciumnya di depan mommy dan daddy.


"Iya..aku minta maaf." Jordan masih mengelus lengannya, pukulan mommy nya memang tidak seberapa kuat, tapi tetap terasa sakit.


"Bukan minta maaf pada mommy tapi pada menantu mommy" Hanna


"Oke...i am sorry wifey" ucap Jordan sambil mengelus kedua lengan Jasmine. Tak hanya itu dia juga memberinya bonus kecupan di kening dan tentu saja bibir mungil yang membuatnya candu.


Mendapat perlakuan manis seperti itu membuat Jasmine merona, wajahnya jadi semerah tomat sekarang. Hanna dan Robby tergelak melihat tingkah mereka.


Hanna yakin dia akan segera mendapatkan cucu jika Jasmine dan Jordan sudah resmi menikah.


Dia makin tak sabar menanti hari bahagia itu. Jasmine mendekat pada mommy Hanna dan memeluknya, kali ini tanpa gangguan karena Jordan berada di dekat daddy sekarang.


Pelukan hangat kembali Jasmine dapatkan dari Hanna, setelah kedua orang tuanya meninggal kini Jasmine hanya bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.


Jasmine beruntung karena keluarga Jordan mau menerimanya bahkan dengan tangan terbuka. Setelah puas memeluk mommy Hanna Jasmine mendekati daddy Robby dan memeluknya.


Tapi tidak lama karena Jordan segera menariknya kedalam dekapannya. Jasmine bingung kenapa Jordan begitu. Masa iya dia cemburu pada daddy nya sendiri.


"Kamu tidak boleh lama-lama memeluk daddy, karena kamu hanya milikku dan hanya aku yang boleh memelukmu, yang lain tidak boleh."


Jordan memberi peringatan pada Jasmine, dia benar-benar posesif sekarang. Bagaimana nanti.