
Selesai meletakkan semua barang-barang belanjaannya sesuai tempat masing-masing Jordan beristirahat sejenak.
Keringat membasahi tubuhnya, cukup lama juga Jordan tidak melakukan fitnes sejak kecelakaan orang tua Jasmine.
Dia beranjak menuju ruangan gym dibagian pojok penthousenya, ruangan itu langsung menuju ke kolam renang.
Jordan membuka pakaiannya dan hanya mengenakan celana boxernya karena tidak ada siapapun disana.
Pelayan yang biasa membersihkan penthouse sudah datang tadi pagi, tapi Jordan lupa mengatakan untuk mengisi keperluan hariannya.
Untung saja Jasmine ingat dan mengajaknya untuk berbelanja, jika tidak dipastikan hari ini dia akan memarahi pelayan itu.
Karena memang setiap selesai membersihkan ruangan, dan membawa baju kotornya ke laundry, pelayan itu akan kembali dengan membawa perlengkapan dan kebutuhannya selama beberapa hari kedepan.
Tapi Jordan juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pelayan itu, karena seminggu terakhir ini Jordan lebih sering menghabiskan waktunya di mansion daddy nya.
Jordan mengambil barbel dan menggerakkan tangannya keatas kebawah bergantian, setelah tangan kanan berganti tangan kirinya.
Lalu mengambil alat fitnes lainnya bergantian, hampir semua alat dia coba. Terakhir kali dia mendekati samsak dan meninjunya berulang-ulang.
Jordan masih belum berhenti meski badannya sudah sangat berkeringat. Sejam lamanya dia berada diruang fitnes.
Setelah itu dia menuju kolam renang, Jordan lupa kapan terakhir kali dia berenang disana. Karena kolam itu selalu bersih tapi hampir tidak pernah lagi disentuhnya sejak Sofia meminta acara pertunangan mereka digelar dengan sangat mewah.
Ya, terakhir kali dia menggunakan kolam renang itu bersama Sofia sebelum acara pertunangan.
Sofia bahkan mengajaknya untuk berhubungan intim disana, melancarkan semua jurus mautnya agar bisa tidur bersama kekasihnya Jordan.
Tapi Jordan masih tak bergeming, dia tidak menampik jika permainan Sofia hampir saja menggagalkan rencananya untuk tidak melakukan hal itu sebelum mereka resmi menikah.
Dan Jordan pun sempat akan melakukannya seandainya waktu itu Zack tidak menelponnya, dia sudah termakan rayuan manis Sofia.
Seandainya itu terjadi mungkin Jordan akan sangat menyesalinya, bukan karena dia melanggar janjinya sendiri tapi dia akan tahu bagaimana kekasihnya itu sudah bukan gadis suci lagi.
###
Setelah puas berenang Jordan membersihkan dirinya, dan membuat makan malamnya sendiri.
Dia membuka beberapa rak dan terlihat ada mie instan cup yang tadi dibelinya bersama Jasmine.
Jordan belum pernah makan mie instan, dia penasaran dengan rasanya.
Jordan mengambil satu cup dan membaca aturan pemakaian.
Membuka tutupnya dan mengambil bumbu serta membuka isinya lalu menuangkan air panas ke dalam cup, mengaduknya sebentar lalu menutup kembali.
Menunggu selama tiga menit hingga mie mengembang dan siap disantap, Jordan membuka tutup cup dan mencium aromanya.
Sungguh menggugah selera, dia tidak sabar ingin segera memakannya. Tapi masih terlalu panas, akhirnya dengan tidak sabar dia meniup mie nya dan menyantapnya.
Hmmm
Jordan sedikit aneh awalnya tapi lumayan bisa mengobati rasa penasaran sekaligus rasa laparnya malam ini.
Jordan menyantap mie nya sampai habis, dan meminum kuah mie nya.
Kenyang, sudah habis satu cup mie. Cukup untuk malam ini. Dia ingin segera bertemu Jasmine.
Dia mengambil kunci mobil dan hand phonenya, dan segera pergi untuk menjemput gadisnya.
###
Jasmine sedang membawakan makanan pencuci mulut bagi tamu istimewa yang membooking seluruh lantai dua.
Jasmine tidak tahu dan tidak mengenal tamunya, karena hari ini dia kebagian mengantar menu saja tanpa ikut melayani.
Jasmine berhasil menyelesaikan pekerjaannya malam ini, dia harus segera pulang karena ingin menelpon sahabatnya Chelsea.
Meskipun tidak ada larangan membawa hand phone tapi peraturan restauran melarang para karyawan yang bekerja pada shift tersebut untuk menelpon ataupun menerima telepon.
Mereka akan saling mengingatkan jika sampai terjadi, karena disini mereka semua adalah saudara. Sesama saudara harus saling mengingatkan dalam hal kebaikan.
###
Lima menit sebelum shift malam berakhir Jordan sudah menepi diparkiran restoran. Dia mencari tempat parkir yang agak jauh dari pintu masuk restoran.
The reds malam ini seperti kedatangan pengunjung istimewa, terbukti dari deretan mobil mewah yang terparkir dihalaman.
Juga banyaknya pengawal yang berjaga disekitar restoran. Jordan mengenali salah satunya.
Dia adalah pengawal kepercayaan daddy nya yang selalu setia menemani daddy nya kemanapun.
Jordan juga melihat ada mobil mewah milik ayah Adam, Zack dan Tony terparkir berjejer dengan mobil mewah milik daddy nya. Rupanya mereka sedang mengadakan reuni malam ini.
Entah siapa tamu penting tersebut, yang pasti daddy nya tidak akan melewati acara kumpul-kumpul begini jika bukan orang penting.
Sejak memilih untuk pensiun, daddy Robby memang membatasi kegiatannya diluar rumah. Daddy lebih senang berada dirumah menemani mommy nya.
Menurut daddy ini sebagai ganti saat daddy dulu sering meninggalkan mommy ketika masih merintis usahanya sendiri.
Kakek Jordan mewarisi perusahaan tapi daddy Robby tetap pada prinsipnya untuk memiliki usahanya sendiri selain warisan dari sang kakek.
Dan itu benar-benar diwujudkannya, bahkan usaha milik daddy nya tidak kalah dengan usaha yang dibangun oleh saingan bisnis kakeknya dulu.
Jordan ikut senang mendengar usaha daddy yang susah payah membangun dari nol. Hanya satu yang membuat Jo heran, sampai detik ini dia tidak diperbolehkan membangun usahanya sendiri.
Sebagaimana daddy nya dulu, Jordan sebenarnya sedikit kecewa tapi Jordan yakin daddy nya memiliki alasan yang kuat kenapa sampai detik ini tidak mendapatkan persetujuan dari daddy nya.
Jordan memilih untuk menunggu Jasmine didalam mobil saja, dia tidak ingin kedatangannya akan membuat para pengawal daddy nya mendekat.
Dan itu akan membuat heboh, Jordan yakin itu tidak akan membuat Jasmine nyaman nantinya.
Jordan tahu pasti jika pengawal daddy nya mengenali mobil Jordan meskipun dari jauh.
Dan benar saja para pengunjung restoran yang notabene para pengusaha dan konglomerat itu sudah keluar dari restoran.
Jordan melihat daddy dan mommy nya keluar, disusul kemudian orang tua Adam, Tony dan Zack.
Mereka sedang berpelukan satu sama lain seperti yang biasa mereka lakukan jika bertemu atau berpisah.
Para orang tua itu masuk ke dalam mobilnya masing-masing dan kemudian meninggalkan halaman restoran.
Jordan masih setia menunggu, tapi tangannya sudah tidak sabar. Sedari tadi mendial nomor hand phone Jasmine.
Beberapa kali berdering tapi tak diangkat, Jordan sedikit kuatir. Setelah beberapa lama teleponnya tidak diangkat Jordan berniat menghampiri Jasmine kedalam.
Tapi baru saja dia membuka pintu mobil, gadis itu sudah terlihat keluar dari restoran dan berjalan menuju kearahnya.
Jasmine berjalan sedikit berlari kearahnya, Jordan berdiri disamping mobil sambil bersedekap tangannya.
"Hubby..."
Jasmine langsung memeluknya, Jordan masih tak bergeming. Jasmine lalu berjinjit dan mengecup bibirnya.
Merasa tidak ada respon, Jasmine pun berinisiatif mencium bibir Jordan bukan lagi mengecup.
Jordan tersenyum, gadisnya sudah pintar membuat hatinya senang. Dan ini yang Jordan tunggu.
Jordan lalu membalasnya, meraih pinggang Jasmine. Ciuman singkat dan tidak menuntut seperti biasanya, Jordan lalu menyudahinya.
Tangannya masih berada dipinggang Jasmine, tangan Jasmine pun masih mengalung dilehernya.
"Jangan lakukan itu lagi, oke. Aku sangat kuatir"
Ucap Jordan tegas, Jasmine tersenyum. Bersyukur ada yang perhatian padanya, dia merasa tidak sendiri lagi.