
Jordan meninggalkan Jasmine yang kesal dan marah karena perbuatannya membuat lukisan indah ditubuh semampai gadis itu.
Lukisan yang dibuat dengan hanya menggunakan bibirnya tapi bermakna dalam, menandakan bahwa tubuh itu sepenuhnya adalah milik Jordan.
Tidak dipungkiri bahwa Jordan sangat menikmatinya, menikmati bagaimana ekspresi Jasmine ketika tanda merah itu dibuat, dan ketika dia melihat hasil akhirnya yang sangat indah dimatanya, hingga Jasmine meneriakinya.
Setelah melihat gadisnya sudah lebih tenang, Jordan kembali mendekatinya. Meletakkan kepalanya dibahu Jasmine, dan merangkulnya dari belakang.
cup
Jordan memberi kecupan di pipi Jasmine, meski tak ada sambutan tapi juga tidak ada penolakan darinya.
Jordan lalu mengeratkan pelukannya, meraih pinggang Jasmine dan menciumi wangi rambut Jasmine yang membuatnya candu.
Jasmine tahu, dia tak akan bisa menahan marahnya karena Jordan selalu bisa membuatnya kembali tersenyum, seperti kali ini.
"Dengarkan aku, sekarang ataupun nanti kamu adalah milikku. Semua yang ada padamu adalah milikku, selamanya. Dan untuk tanda merah ini, tak perlu kamu tutupi karena itu bukti kalau dirimu sudah jadi milikku. cup"
Jordan menegaskan posisinya, dia tidak mau Jasmine merasa dia hanya memanfaatkan tubuhnya saja.
Jordan kembali menambahi tanda kepemilikannya atas diri Jasmine di beberapa tempat lain yang belum terjamah.
Lagi, Jasmine tak bisa menolak pesona Jordan karena bagaimana pun dia sudah terjerat cinta pada sang casanova.
Mereka lalu beranjak meninggalkan kamar dan menuju dapur untuk sarapan.
Sandwich berisi kornet itu tampak menggugah selera, mereka makan bersama sambil bercanda dan bercerita.
Keakraban itu sengaja Jordan ciptakan agar Jasmine tidak lagi canggung, dan lebih terbuka padanya.
Sarapan pagi itu berakhir dengan tandasnya segelas susu yang disiapkan sejak tadi.
Jasmine membersihkan sisa sarapannya, lalu mencuci peralatan makannya yang kotor.
###
Hari ini keduanya memang tidak memiliki agenda lain. Jasmine akan pergi berbelanja keperluan festival, sedangkan Jordan hanya memeriksa email saja.
Jordan sebenarnya ada janji dengan seseorang tapi karena satu dan lain hal, pertemuan mereka harus ditunda.
Jordan masih berkutat dengan hand phone nya setelah membuka semua email yang dikirimkan oleh asistennya, Jordan langsung menghubungi Jamie.
"Halo, aku minta kamu siapkan semuanya besok. Setelah festival selesai, aku akan mengikatnya."
Ucap Jordan, matanya melirik ke arah Jasmine yang sedari tadi hanya menscroll layar telepon selulernya.
Jasmine pura-pura tidak mendengar apapun, meski hatinya penasaran dengan maksud ucapan Jordan.
Jordan mendekat, dia lalu duduk disamping Jasmine dan langsung memeluknya.
"Kamu tidak ingin menyapa sahabatmu?" tanya Jordan melihat Jasmine masih sibuk menscroll sosmed nya.
Jasmine menoleh, dia lupa jika sudah lama tidak beekomunikasi dengan Chelsea dan juga Gulya.
Jasmine tersenyum dan berterima kasih pada Jordan karena diingatkan. Jasmine lalu membuka kontak teleponnya dan mencari nama Chelsea.
Nada dering terdengar, menunggu beberapa saat hingga dia mengulangi lagi panggilannya untuk kedua kalinya.
Jasmine harap-harap cemas karena tidak ada yang mengangkat telepon darinya. Pikirannya melayang bagaimana sahabatnya saat ini.
Setelah panggilan ketiga barulah telepon itu diangkat. Jasmine tersenyum meski diseberang sana Chelsea tidak melihatnya.
"Halo..." nada suaranya seperti orang yang sedang terganggu tidurnya.
"Halo...Chelsea." ucap Jasmine
"Jasmine, itu kamu?" Chelsea terbangun seketika mendengar suara sahabatnya.
"Ya ini aku, i miss you Chel." Jasmine terisak.
Jordan lalu mendekapnya, dia tahu Jasmine sangat sensitif jika menyangkut orang-orang yang dia kasihi.
Kedua sahabat itu terlarut dalam rasa haru, baru kali ini keduanya tidak saling memberi kabar dalam waktu yang lumayan lama.
Karena biasanya baik Jasmine ataupun Chelsea saling mengabari satu sama lain, sesibuk apapun mereka.
Jasmine dapat melihat jelas wajah sahabatnya, begitu pula Chelsea. Mereka kembali menangis, lalu sama-sama tertawa. Jordan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Beginilah jika perempuan berkumpul pasti akan ada drama didalamnya. Jordan sedikit menyingkir, tidak ingin mengganggu keduanya.
"Aku punya kejutan untukmu" ucap keduanya bersamaan. Mereka pun tersenyum.
"Kamu duluan" Chelsea
"Tidak, kamu duluan" Jasmine.
Keduanya kembali tertawa. Akhirnya mereka melakukan suit seperti yang biasa mereka lakukan.
"Dasar perempuan." seloroh Jordan, dia pun meninggalkan mereka yang masih asyik ber suit ria.
Jordan memilih membersihkan dirinya, mengambil foam dan pisau cukurnya. Lalu menyikat gigi dan mandi.
Sedangkan kedua perempuan ini masih saja tertawa karena tingkah mereka.
"Sepertinya banyak yang harus kamu ceritakan padaku, girl." Chelsea
Tadi dia melihat sekilas bayangan lelaki berlalu dari sisi Jasmine. Dia penasaran, benarkah yang dia dengar tentang Jasmine.
Sam sudah menceritakan semuanya, tentang kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya, hingga meninggal dunia, juga tentang hubungannya dengan Jordan.
Jasmine pun menceritakan semuanya, tak ada yang ditutupi. Karena Chelsea jelas sudah mengetahuinya.
Chelsea yang awalnya mengantuk seolah tidak ada lagi. Perbedaan waktu mereka sangat jauh, di tempat Chelsea berada saat ini dini hari, sedangkan Jasmine pagi hari.
Chelsea menitikkan air mata saat Jasmine menceritakan kisahnya, dia menyesal karena tidak bisa berada disamping sahabatnya saat membutuhkan sandaran.
Tapi sekarang Chelsea tenang setidaknya ada yang menjaganya, meski Chelsea masih belum tahu bagaimana perasaan Jasmine sebenarnya.
Dia harus memastikannya, dan juga memastikan jika laki-laki yang kini dekat dengan Jasmine tidak akan membuat sahabatnya kecewa.
Chelsea harus segera menyelesaikan urusannya disini agar bisa segera pulang dan bertemu Jasmine.
"Sekarang giliranmu, kejutan apa yang kamu punya?" Jasmine.
"Ah, tidak. Aku tidak akan memberitahukannya sekarang biar kamu penasaran." Chelsea
"It's not fair. Tell me Chelsea." Jasmine memaksa, dia tak akan berhenti sampai Chelsea memberi tahukannya.
"Baiklah, karena kamu memaksa. Aku sekarang berada di Paris, dan aku terpilih sebagai salah satu model yang dikontrak eksklusif oleh designer dunia. Ya kamu tahu kan siapa idolaku"
Chelsea berbinar saat menceritakannya, Jasmine ikut senang. Dia mengucapkan selamat untuk Chelsea. Sahabatnya memang pantas menerimanya.
Chelsea juga mengatakan jika dia sudah lama berada di Paris sebelum Jasmine mengalami musibah.
Kedua orang tua dan juga neneknya juga ikut menyusul karena ada pesta pertunangan saudara sepupunya.
Jasmine jadi teringat dengan neneknya, dia merindukan nenek. Chelsea juga menceritakan jika nenek sempat pingsan saat tahu kedua orang tua Jasmine kecelakaan dan meninggal.
Nenek merasa kasihan pada Jasmine karena biasanya mereka akan saling bertukar cerita, sekarang sejak Jasmine memutuskan hubungan karena hand phone nya rusak, mereka jadi berjauhan.
Tak terasa mereka mengobrol sampai melupakan seseorang yang sejak tadi mondar-mandir mirip setrikaan.
Jordan bahkan beberapa kali menunjuk ke arah jam tangannya, agar Jasmine segera mengakhiri teleponnya.
Ya beginilah resiko jika dua perempuan bertukar cerita, mereka melupakan segalanya. Seolah tidak ada waktu lagi untuk bercerita.
Melihat Jordan mulai memasang tampang dinginnya, Jasmine pun mengakhiri teleponnya. Dia juga menyampaikan salam bagi orang tua Chelsea dan juga neneknya.
Setelah menutup teleponnya, Jasmine menghampiri Jordan. Dia pun merayu Jordan dan melayangkan banyak ciuman untuknya.
Jordan masih memasang tampang dinginnya, tapi dalam hatinya bersorak.
###
Double up
Semoga bisa lanjut lagi, nulisnya sambil ngotewe nih. Mumpung belum puasa, nyicil bab dulu. Semangat