
Lampu tiba-tiba padam, berganti cahaya lampu sorot ke tengah lantai dansa, alunan lagu yang terdengar berubah romantis.
Banyak pasangan yang turun berdansa, Jasmine yang tadi memegang tangan Jordan berniat melepaskannya.
Tapi Jordan menahannya, dia lalu menarik Jasmine ke lantai dansa, meletakkan kedua tangannya dipundak, sedangkan tangan Jordan sudah memegang pinggang Jasmine.
Mengikuti irama lagu keduanya tampak menikmati dansa, Endless Love dari Diana Ross dan Lionel Richie benar-benar pas.
Pasangan muda-mudi yang berdansa pun tak ketinggalan menyanyikan lagu romantis sepanjang masa tersebut.
Jordan mendekatkan dirinya pada Jasmine, menikmati wangi tubuhnya yang membuat jantungnya bergetar.
Jasmine terhanyut, saat Jordan menarik dagunya mendekatkan bibirnya pada bibir mungil miliknya. Awalnya hanya kecupan, tapi tak ada penolakan Jordan lalu melu*** bibir merah didepannya.
Tak mau semakin terbawa suasana, Jordan lalu melepaskannya. Kening mereka beradu, mengatur napas dan tersenyum. Mereka menikmati ciuman singkat itu.
Cup
Jordan mengecup hidup mungil Jasmine, meski sebenarnya bisa saja dia langsung membawa gadis itu ke salah satu kamar hotel tapi Jordan tak melakukannya.
Dia ingin memberikan kesan pertama yang baik terlebih dulu, masih mengikuti irama lagu dan tetap dalam posisi semula.
Jasmine tak sadar banyak mata memperhatikan mereka, termasuk Chelsea, Sam, dan kuartet Jordan, yaitu Toni, Adam dan Zack.
Jika Jordan tampak biasa memperlakukan wanitanya seperti berciuman panas, kali ini dia hanya bermain aman. Karena dia masih penasaran dengan gadis ini.
Perkenalannya batal tapi untung karena bisa berdansa dengan gadis yang membuatnya penasaran sejak tadi.
Gadis yang tak malu mengambil banyak makanan tapi juga bisa menghabiskannya, tidak berpura-pura sedang diet padahal ingin sekali makan makanan manis, dan berpakaian paling sopan diantara yang lain.
Musik berhenti berganti irama yang lebih nge beat, Jasmine kembali ke tempat duduknya. Jordan menyusulnya, tapi saat Jasmine membalikkan badan tiba-tiba bibir merahnya mendarat dikemeja putih Jordan.
Kaget, berniat menghapus noda itu dengan sapu tangan yang masih dipegangnya. Jordan menggeleng, pertanda tidak ingin. Jasmine pun mengalah.
Jasmine tersipu malu, cup Jordan mendaratkan lagi ciuman di pipinya. blush...pipinya merona, sudah berapa kali dia dibuat tersipu.
"Simpanlah...siapa tahu kamu akan merindukanku"
Jordan melipat tangan Rei yang memegang sapu tangan itu. Jasmine mengangguk.
Senyum nya berubah saat Chelsea tiba-tba menarik tangannya. Mereka menjauh dan pulang lebih awal.
Jordan yang kaget melihat gadis incarannya pergi, berteriak memanggilnya.
"Nona, kita bahkan belum berkenalan."
Chelsea menoleh pada Jasmine seakan minta penjelasan. Mereka terus melangkah keluar lobby karena disana sopir sudah menjemputnya.
"Kamu harus menjelaskan ini sayang"
Chelsea terus memaksanya, Jasmine tak bergeming. Dia masih hanyut dalam suasana romantis di ballroom tadi.
Siapa dia, pria yang memberinya sapu tangan dan mengajaknya berdansa. Bahkan yang sudah berani mencuri ciuman pertamanya.
Masuk ke dalam mobil dan pulang kerumah Chelsea karena Jasmine harus menceritakan semua yang terjadi di pesta tadi.
Chelsea penasaran bagaimana sahabatnya ini bisa dekat dengan seorang casanova seperti Jordan.
Chelsea mengenalinya, tak sulit memang karena pesona Jordan sangat kuat. Sempat tergila-gila karena ketampanan dan kepintaran Jordan, bahkan jadi salah satu pengagumnya.
Tapi hanya sebatas kagum tidak lebih, bahkan untuk menjadi pacarnya dia akan berpikir beberapa kali. Jordan bukan tipenya, jadi Chelsea tidak tertarik sama sekali.
Chelsea membuka ponselnya ada pesan masuk. Chelsea membalas pesan dari manajernya.
Flashback on
Ketika pesta dansa tadi Chelsea mendapat telepon dari manajernya mengatakan bahwa besok ada jadwal pemotretan mendadak, dan mereka akan pergi pagi-pagi sekali karena harus melakukan perjalan keluar kota.
Dan ketika melihat Jasmine berdansa dengan orang yang sempat diidolakannya, Chelsea tak tega untuk menghentikannya. Bahkan pikiran liarnya, dia berniat membuat Jordan jatuh cinta pada Jasmine.
Flashback off
Tiba dirumah Chelsea, lampu diruang tengah masih menyala ternyata kedua orangtuanya masih terjaga.
"Mom...dad, kalian masih belum tidur?"
"Oh hai honey, ini masih terlalu siang kalian pulang. Apa pestanya tidak menyenangkan?"
"No mom, disana banyak pria tampan dan kami bersenang-senang tentu saja. Apalagi ini, anak angkat mami ini bahkan sudah mendapatkan pria incarannya."
Chelsea menggoda Jasmine, wajahnya bersemu merah. Mommy dan daddy Chelsea tergelak, saat sikut Jasmine mengenai perut Chelsea. Dan wajah malu Jasmine saat digoda tadi.
"Oh ya, wah itu bagus sekali. Sepertinya mommy akan segera memiliki menantu, ya kan dad"
Daddy Chelsea mengangguk, makin merah saja muka Jasmine. Lebih baik dia segera ke kamar dari pada harus dicecar pertanyaan dari mereka.
"No aunty, Chelsea berbohong justru dia lah yang akan membawakan kalian menantu. Dia sudah bertukar nomor telepon tadi."
"Kamu malu ya ketahuan dicium cowok cakep tadi."
Lagi-lagi Jasmine tak bisa berkutik. Akan semerah apa wajahnya sekarang.
"Really, baguslah jadi mom dan daddy akan segera memiliki cucu dari kalian berdua."
"What, no mom not yet."
"Baiklah kami akan ke kamar, karena besok pagi aku akan keluar kota ada pemotretan. Bye mom, dad."
Jasmine mengikuti Chelsea mencium pipi kedua orangtuanya. Keduanya lalu menuju lantai atas dimana kamar Chelsea berada.
Mereka berdua membersihkan diri, memakai piyama dan sebelum tidur seperti biasa, sesi pillow talk.
Chelsea bertanya bagaimana pertemuannya tadi dengan pria misterius yang berhasil mencuri ciuman pertama Jasmine.
Jasmine menceritakan semuanya tak ada yang ditutupi dari sahabatnya yang super cerewet ini. Mereka lalu beristirahat karena besok banyak agenda yang menanti.
###
Kembali ke hotel tepatnya di ballroom, pesta semakin semarak. Makin malam makin seru acaranya.
Jordan mendudukkan dirinya di salah satu pojok ruangan, menyesap minumannya. Zack dan Toni mendekat. Entah kemana pasangan mereka, mengambil minuman dari pelayan yang hilir mudik membawa nampan.
Zack menyerahkan salah satu gelasnya pada Toni. Mereka menemani Jordan minum.
"Hei kemana Adam?"
Jordan menoleh pada keduanya, tapi keduanya menggendikkan bahu tanda tidak tahu dimana keberadaan temannya itu.
"Mungkin dia sudah menikmati malam panjang dengan dokter wanita itu." ucap Zack
"hmm..." Toni mengangguk, menghabiskan minumannya.
Meletakkan gelas kosongnya dan matanya menangkap sosok gadis yang tadi bersamanya.
Dua orang gadis berpakaian seksi dengan dada terbuka dan menyembulkan miliknya yang tampak penuh itu.
Gadis-gadis itu mendekat disamping Zack dan Toni, mencium pipi dan berlanjut ke bibir. Tampak kini hanya Jordan yang tak mendapat pasangan kencan.
Kedua temannya sudah pamit menuju kamar yang mereka pesan sebelumnya. Mengapit gadisnya dan mencumbunya. Mereka pun menghilang dibalik pintu.
Sungguh malam minggu yang kelabu, tapi Jordan tidak ingin menyusul kawannya yang lain. Pesta pun selesai menjelang pukul 1 dini hari.
Sebenarnya jika mau Jordan bisa mengajak salah satu tamu wanita Sam yang hadir malam itu. Tapi dia enggan, masih terngiang manisnya bibir mungil yang tadi sempat dicicipinya.
Apalagi ternyata ada sisa krim dibibir itu. Jordan tersenyum, dia pengen bertemu lagi dengannya, tapi tak ada satupun petunjuk. Bahkan siapa namanya dia juga tidak tahu.
###