Savage Love

Savage Love
#26



Jasmine memasuki kamar perawatan ayahnya, kondisi ayahnya sangat memprihatinkan, dengan banyak luka di wajahnya. Lebam yang ada di pipi kanannya, masih tampak jelas.


Sedangkan ibunya masih ada diruang ICU karena kondisinya masih belum stabil. Jasmine menangis disamping ranjang ayahnya. Masih dibantu selang pernafasan, ayahnya tertidur mungkin karena pengaruh obat.


Jasmine merindukan wajah tua itu, yang lama tidak ditemuinya sejak mereka berpisah. Jasmine menangisi kenapa kondisi keluarganya menjadi seperti ini, padahal dulu mereka baik-baik saja.


Tapi sejak rencana pertunangan itu dan sejak laki-laki brengsek itu hampir saja merenggut kesuciannya, keluarga mereka jadi terpisah. Dan sekarang melihat kondisi kedua orang tuanya, Jasmine menjadi menyesal.


Tangan kekar menariknya dalam dekapan, memeluk Jasmine yang sekarang kondisinya sangat terpukul. Jasmine menangis sesenggukan dalam pelukan hangat Jordan.


Ada rasa sakit yang dia rasakan melihat gadis ini terpukul dan menangis dalam diam. Karena sejatinya meskipun Jordan seorang pemain wanita, dia takkan pernah bisa melihat ada wanita lemah dan terpuruk seperti yang Jasmine alami saat ini.


Jika Zack tahu, dia akan berkata bahwa Jordan adalah tipe pria lembek. Hanya badannya yang kekar tapi hatinya selembut hello kitty, dan pasti Jordan akan menertawakannya. Jordan tak perduli itu, baginya melihat perempuan menangis seperti ini membuatnya iba.


Mungkin benar apa yang dikatakan Zack, hatinya terbuat dari kapas dan berbanding terbalik dengan wajahnya yang dingin dan sangar. Jordan tersenyum mengingat kata-kata ajaib sahabatnya yang konyol itu.


Memang Jordan memiliki perpaduan dua karakter orang tuanya yang sangat bertolak belakang. Wajah tampan dan terkesan dingin itu turunan dari daddy nya, sedangkan hatinya yang lembut adalah karakter mommy nya.


Tapi jangan pernah bermain hati dengannya, baginya siapapun itu jika membuat orang yang dia sayangi terluka, maka bersiaplah menerima konsekuensinya. Dia tidak akan segan menjatuhkan nya bahkan membuat orang itu menyesal pernah berurusan dengannya.


Tangan Jordan terulur mengusap punggung gadis yang berada dalam pelukannya, memberinya ketenangan seperti beberapa waktu lalu.


Melihat Jasmine sudah lebih tenang, Jordan memapahnya ke sofa yang ada di kamar itu. Gadis itu menolak dan ingin berada di dekatnya tapi Jordan melarangnya. Kondisi Jasmine terlihat lemah, mungkin juga karena tidak ada satupun makanan yang masuk, jadi terlihat tak bertenaga.


Nafsu makannya hilang, meskipun dipaksa bahkan Jordan mengancam akan membatalkan perjalanan jika Jasmine masih tetap seperti itu.


#flashback on


Mobil yang mereka tumpangi berbelok ke sebuah restoran setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan. Dan ini sudah lewat jam makan malam mau tidak mau Jordan menghentikan mobilnya.


Jasmine yang tampak tidak bersemangat hanya mengikuti kemana pria itu membawanya. Dia hanya ingin secepatnya sampai di rumah sakit dan melihat kondisi kedua orang tuanya.


Jordan menarik kursi dan menuntun Jasmine untuk duduk, restoran itu memang terlihat sepi karena memang sudah lewat jam makan malam, hanya tersisa beberapa pengunjung saja sebelum restoran tutup.


Jordan memesan makanan untuknya dan juga Jasmine, tak begitu lama pesanan mereka datang. Jordan langsung menyantap makanannya, berbeda dengan Jasmine yang hanya memainkan sendoknya dan mengaduk makanan dihadapannya.


Setelah Jordan menyelesaikan makannya, dia beralih pada gadis dihadapannya yang tampak tidak bersemangat.


"Makanlah...kamu juga butuh tenaga, bagaimana kamu bisa menjaga orang tuamu jika membawa dirimu saja sudah tidak kuat." ucap Jordan, mengelap sisa makanan yang ada dimulutnya dengan serbet yang ada di meja.


Jasmine tidak bergeming, dia masih dengan pandangan kosong dan hanya mengaduk makanan itu.


"Baiklah, jika kamu tidak mau makan lebih baik kita kembali saja, percuma perjalanan sejauh ini sia-sia. Karena yang ada kamu hanya akan membuat orang tuamu sedih jika seperti ini."


Ucapan Jordan memang mengena dan berhasil membuat Jasmine menoleh kearahnya, tapi saat mencoba untuk memasukkan makanan itu justru selera makannya sudah tidak ada.


Dia hanya menangis, dan takut Jordan akan mengajaknya kembali sebelum melihat kedua orang tuanya. Jordan tahu, gadis ini tidak bisa makan sebelum tahu kondisi orang tuanya. Dan dipaksa pun percuma, yang ada Jasmine terlihat mual.


Setelah melakukan pembayaran, mereka lalu melanjutkan perjalanan kerumah sakit yang dituju. Karena Jordan pun mengkhawatirkan kondisi Jasmine.


#flashback off


Jasmine duduk bersandar di sofa di pojok ruangan perawatan itu, Jordan mengangkat kakinya agar sejajar dan meletakkan bantal dibawah kepalanya.


Jordan mengusap kepalanya, dan setelah melihat Jasmine terpejam Jordan meninggalkannya dan duduk disamping ayah Jasmine.


Jordan masih berdiri disamping ranjang, napasnya terasa berat. Sesekali menoleh ke arah Jasmine yang masih sesenggukan karena tangisnya tadi.


Ponselnya berdering, Jordan melangkah menjauh agar tidak mengganggu mereka berdua.


"Halo..." Jordan mengangkat panggilan telponnya.


"Kamu ada dimana, kenapa tidak pulang?" suara mommy nya terdengar diseberang.


"Maaf, Jo tidak pulang. Sekarang aku dikota X menemani Jasmine." ucap Jordan, dia masih berdiri didepan pintu.


"Kenapa, ada masalah dengan calon menantu mommy? kenapa tidak mengabari mommy." Hanna mencari tahu.


"Orang tua Jasmine kecelakaan, sekarang sedang dirawat di rumah sakit." Jordan menyugar rambutnya, menghela napas pelan.


"Bagaimana keadaannya, apa ada yang serius?" mommy Hanna.


"Ayahnya sudah berada diruang perawatan, tinggal ibunya kondisinya masih belum stabil jadi masih di ruang ICU" jelas Jordan lagi.


"Kasihan sekali, pasti gadis itu terpukul sekali melihat kondisi kedua orang tuanya. Mommy minta kamu temani dia, jangan tinggalkan sedetikpun." mommy Hanna


"Mommy tenang saja, tapi gadis itu terlihat lemah karena tidak mau makan sedikitpun. Aku jadi kesal dibuatnya." Jordan.


"Sayang, jangan seperti itu. Pahami kondisinya, mungkin jika kamu berada di posisi dia sekarang pasti tidak jauh beda." Mommy Hanna.


"Ya, mommy benar. Aku jadi kasihan padanya." Jordan melihat kearah Jasmine yang memegangi kepalanya.


"Mom, aku tutup dulu. Gadis itu sepertinya bangun. Bye mom" Jordan menyudahi panggilan.


"Bye, hati-hatilah disana" Hanna menutup panggilan telponnya.


Jordan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia berjalan mendekati sofa tempat Jasmine berbaring. Gadis itu mencoba bangun, sambil memegangi kepalanya. Merasakan sedikit pusing.


Jordan mengangkat gadis itu, dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.


"Are you oke?" tanya Jordan, dia merasa tak tega melihatnya.


"engh..." Jasmine menggeleng, tangannya masih memegangi kepalanya. Sedikit mengangkat badannya dari tubuh Jordan, tangannya lalu memijat kepalanya yang terasa pusing.


"Istirahatlah, aku akan panggilkan perawat agar memeriksamu. Mungkin karena lapar, kepalamu jadi pusing." Jordan kembali meletakkan kepala gadis itu di dadanya.


Tangan Jordan terulur, dia kembali merapatkan badan gadis itu kearahnya. Jasmine merasa tidak enak dengan posisinya, bukan karena badan mereka yang berdekatan tapi perutnya mulai terasa mual.


Sementara itu mommy Hanna yang tampak kuatir berulang kali menghubungi teman-teman Jordan. Dia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya seperti setrikaan.


"Hon, tenanglah. Jordan pasti bisa mengatasinya. Jangan terlalu cemas seperti itu." ucap Robby yang mulai pusing melihat tingkah istrinya.


"No honey, aku kuatir dengan kondisi gadis itu, apalagi dia tidak mau makan, bagaimana dia bisa merawat orang tuanya jika dia sendiri dalam keadaan lemah."


Hanna masih mencoba menelpon satu persatu kawan anaknya. Dan akhirnya telepon tersambung.


###