
Pembicaraan tentang masalah kerja sama antara perusahaan Jordan dan Tuan Ramon berjalan mulus tanpa kendala.
Mereka berhasil menandatangani dokumen kerjasama dengan baik, hal itu tentu saja membuat Jordan bangga.
Karena bekerja dengan raja bisnis sekelas tuan Ramon tidaklah mudah. Jordan ingat beberapa kali kerja sama nya ditolak, padahal semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat baik.
Hal ini tentu saja akan menjadi berita menarik bagi keluarga dan sahabatnya. Belum pernah ada yang berhasil menggaet pemilik kerajaan bisnis itu hingga turun tangan langsung.
Sebuah prestasi yang membanggakan, Jordan tersenyum puas. Setelah itu Jordan menyuruh sekretaris nya untuk membayar tagihan restoran dan meminta Jamie untuk menemuinya.
Jasmine sudah mulai bisa mengikuti apa yang bos sekaligus suaminya inginkan. Dia belajar cepat, dan karena kecerdasan yang dimilikinya, Jasmine dapat dengan mudah menyiapkan apa saja yang dibutuhkan tanpa harus dikomando.
Bahkan Jasmine dengan sigap, mencatat semua yang mereka bicarakan secara garis besar. Hal ini membuat Jordan kagum sekaligus salut pada istrinya.
Meski berkali kali mendapatkan penolakan darinya, tapi Jasmine tak pernah putus asa untuk belajar.
Dan memang itu yang Jordan inginkan, dia ingin agar Jasmine bisa mandiri dan berani menghadapi masalah sendiri.
Bukan karena Jordan tidak mau membantu mengajarinya, tapi dia ingin jika saatnya tiba Jasmine benar benar siap dan mampu menangani masalah dalam keluarga nya.
Karena bagaimana pun, masalah yang menyangkut istrinya tidak lah mudah, Jasmine harus kuat mental menghadapi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi sewaktu waktu.
Sebelum itu terjadi Jordan harus tega membiarkan istri nya sedikit "menderita". Jordan tahu selama ini Jasmine banyak dibantu oleh daddy nya, Jamie dan juga Luciana untuk masalah pekerjaan dan seluk beluk perusahaan. Dan dengan cepat bisa dikuasainya.
Jordan tak ingin saat Jasmine serius belajar dia malah mengganggu konsentrasinya, karena Jasmine adalah miliknya, semua yang ada padanya adalah candu.
Dan itu tidak baik bagi kesehatan jantung mereka berdua, karena mereka pasti akan mempelajari hal lainnya daripada masalah pekerjaan.
Apalagi jika berhubungan dengan masalah reproduksi, ini materi paling Jordan sukai. Karena dia bisa dengan semangat mengajari tanpa ada jeda sedikitpun.
Otak mesum sang casanova memang tidak pernah bisa jauh dari hal hal yang berbau ranjang.
Bahkan melihat leher jenjang istrinya saja yang tanpa sengaja terexpose sudah membuat Jordan menelan salivanya, dan berusaha meredam gairah agar tidak mengganggu pekerjaannya.
Tapi bukan Jordan namanya jika tidak bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan sebelum pertemuannya dengan koleganya Jordan memanfaatkan waktu tersisa dengan bermain diatas tubuh molek istrinya.
Tak perlu nunggu waktu istirahat bahkan di dalam mobil pun Jordan bisa melakukan kegiatan intimnya.
Jangan tanya siapa yang paling sengsara melihatnya, kalau bukan asisten pribadinya. Meski mobil itu berjalan dan ditutup oleh sekat pemisah antara kemudi dan penumpang, tapi jangan lupakan suara yang mereka ciptakan.
Bikin hati jomblo merana, dan Jamie hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan majikan sekaligus sahabatnya itu.
Bukan hal baru sebenarnya, karena Jordan sudah terbiasa mencumbu wanitanya didalam mobil, termasuk dengan mantannya itu.
###
Jordan dan tuan Ramon masih berbincang bincang masalah pribadi setelah Jasmine meninggalkan tempat itu.
Jordan juga sudah menceritakan sebagian yang dia tahu mengenai keluarga Fernandez. Pak tua dihadapannya mulai paham kemana arah pembicaraan mereka.
Dia meminta Jordan untuk menemuinya nanti malam di kamar hotelnya, karena pembicaraan ini pasti akan lama.
Karena tuan Ramon adalah tamu spesial jadi Jordan berinisiatif untuk menjamu tamu nya di mansion daddy nya, Ramon setuju karena dia juga sudah lama tidak bertemu dengan salah satu koleganya ini.
Setelah selesai, Jordan pun berpamitan. Tuan Ramon pun menuju hotelnya untuk beristirahat sejenak karena nanti dia akan kembali memenuhi undangan makan malam dari keluarga Jordan.
###
"Good job son, kamu berhasil menggaet tuan Ramon. Daddy tahu itu tidak mudah. Selamat"
Daddy Robby memeluk putranya begitu mendengar kerjasama yang telah terjalin diantara mereka dari salah satu anak buahnya.
"Thank you dad, itu belum seberapa dibanding yang daddy lakukan."
Jordan membalas pelukan hangat dari daddy nya, mereka berdua tak malu mengungkapkan kasih sayang meski mereka adalah dua pria dewasa.
"Ah, mommy juga mau ikutan. Congratulation"
Mommy Hanna mendekati kedua pria kesayangannya, dan ikut menghambur dalam pelukan mereka.
Jordan yang tahu istrinya hanya diam dan tersenyum menatap mereka lalu menarik tangannya agar masuk dalam pelukan.
"Hubby... "
Teriak Jasmine kaget saat tangannya tiba tiba ditarik oleh suaminya. Akhirnya mereka berempat saling berpelukan.
Jordan mengecup pipi dan kening mommy nya, dan Hanna menikmatinya. Begitu juga Jasmine, Jordan melakukan hal yang sama.
"Hei, mommy mi milik daddy jangan terlalu lama memeluknya." seloroh Robby hingga mereka pun tertawa.
Dan saat Robby mencium pucak kepala menantunya Jasmine, Jordan membalasnya.
"No dad, she ia mine. Daddy tidak boleh lama - lama memeluknya, go away dad."
Jordan menyingkirkan tangan daddy nya dan membawa Jasmine dalam dekapannya, setelah itu menciumi istrinya dengan banyak kecupan di seluruh wajahnya.
"Hubby... geli."
Jasmine mencoba menjauhkan Jordan darinya karena dia merasa geli. Tapi Jordan tak mengindahkan malah semakin erat memeluk dan menciumnya.
"Aku akan menghapus jejak daddy dari wajahmu, honey. Karena kamu adalah milikku."
Jordan kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Jasmine. Melu*** benda kenyal dihadapannya dengan lembut.
Jasmine ingin menolak karena malu mereka berciuman didepan kedua mertuanya tapi Jordan menahannya.
Setelah Jordan melepaskan nya, Jasmine menarik napas lega sambil memukul pelan dada bidang suaminya.
"Hubby, aku malu. Jangan ulangi lagi."
Rona merah menghias pipinya, Jasmine benar benar malu.
"Malu pada siapa? Lihatlah mom dan dad juga melakukan hal yang sama."
Jordan menunjukkan kedua orang tuanya yang saling membalas ciuman. Jasmine melongo, ternyata dia salah.
Kedua orang paruh baya tersebut masih terlihat mesra meski usianya tak muda lagi. Siapa yang sangka jika mereka masih tetap harmonis.
Sungguh Jasmine iri melihatnya, dia teringat pada kedua orang tuanya. Dia sangat rindu mommy dan daddy nya. Semoga mereka berdua tenang disana.
"Malah bengong, ayo kita lanjutkan dikamar jika kamu malu."
Jordan menaik turunkan alisnya, mode mesum nya mulai lagi.
Aaaaa
Jasmine berteriak saat Jordan menggendongnya tiba tiba, membuat semua orang menoleh padanya.
"Mom dad, lanjutkan saja. Aku juga akan melanjutkan kegiatanku bersama istriku dikamar, agar tidak ada yang mengganggu."
Teriak Jordan sambil menggendong istrinya menuju kamarnya dilantai dua. Robby dan Hanna hanya menggeleng kepala melihat kelakuan absurb anaknya.
"Jangan lupa buatkan kami cucu agar kami tidak kesepian." Robby
"Tenang saja dad, kami akan segera memberi kalian cucu. Bye mom, bye dad."
Suara Jordan menjauh, dia sudah tidak sabar memberikan pelajaran selanjutnya pada istri kesayangannya.
"Kamu lihat honey, dia persis sepertimu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana menantuku nanti mengatasi kemauan putramu." Hanna
"Hei, dia keturunan Smith sejati sayang. Dari pada berdebat, kita lanjutkan olah raga kita dikamar bagaimana?"
Ajak Robby pada istrinya, dan Hanna dengan senang hati menerima ajakan suaminya. Mereka pun tidak ingin kalah dengan yang muda, tetap mesra meski usia tidak muda lagi.
###