
Jasmine masih melanjutkan omelannya pada foto yang dia pegang. Mungkin karena dia tidak berani bicara langsung pada orang dalam foto tersebut jadi dia memilih mengomeli fotonya saja.
"Apa? Ya aku tahu, aku cantik makanya kamu suka. Dan kenapa aku mau saja dibuat kesal sama kamu, tuan muda yang mesum."
Jasmine menunjuk kearah foto Jordan yang tersenyum dengan penampilannya yang menawan.
Jordan sudah berdiri tepat dibelakangnya, dia masih setia mengamati Jasmine. Senyum smirk tersungging dibibirnya. Gadis ini memang harus diberi hukuman. Tunggu saja, batinnya.
Jasmine merebahkan dirinya dikasur, dengan foto yang masih ada di tangan. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada kaki dan handuk berdiri terbalik. Tapi yang sebenarnya terbalik adalah Jasmine jadi yang terlihat hanya kakinya.
"Astaga" Jasmine menutup mulutnya dengan tangannya.
Belum sempat dia bangun dari posisinya, si tuan muda sudah ikut merebahkan diri dengan posisi kepala diatas kepala Jasmine. Jordan tidak membiarkan Jasmine pergi.
Jordan mengungkungnya, meski posisi keduanya terbalik. Terlihat seperti angka enam dan sembilan jika dilihat dari jauh.
Jordan tak membiarkan Jasmine lepas sedikitpun, dia menyerang Jasmine dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya.
Mulai dari kening, mata, hidung dan terakhir ke tempat favoritnya. Meski dengan posisi terbalik seperti itu Jordan tak sedikitpun kesulitan.
Malah dia tampak lihai dengan keahliannya sebagai seorang pemain wanita. Jasmine yang tak menduga akan diserang mendadak, hanya bisa mengikuti permainan Jordan.
Dia akui, sejak pertama kali Jordan mencuri ciuman pertamanya Jasmine pun menikmatinya. Jasmine larut dalam hukuman indah dan memabukkan dari Jordan.
Mereka saling mengecap, dan melu*** menikmati setiap sentuhan. Sampai keduanya berhenti karena kehabisan napas.
Jasmine mengatur napasnya yang terasa sedikit berat. Berbeda dengan Jordan yang tak sedikitpun bergeming. Dia tersenyum puas telah menghukum Jasmine, tapi itu belum cukup karena dia sudah menyiapkan hukuman berikutnya.
Jordan mengambil salah satu tangan Jasmine dan meletakkannya diatas dada bidang nya, menuntunnya bergerak menyusui setiap lekukan diatas roti sobek miliknya.
Jasmine gelagapan, apa lagi sekarang. Dia menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya, tak hanya itu dia juga harus menelan salivanya saat tangannya dibawa mendekati aset berharga pria itu.
Jasmine berteriak, dan langsung bangun dari posisinya. Wajahnya bersemu merah, dia bukan tidak tahu apa itu, apalagi posisinya sudah dalam keadaan tegak menjulang seperti menara.
Jasmine lari ke arah kamar mandi dan menutup pintu dengan keras, betapa malunya dia. Tidak dia tidak boleh terlena dan hanyut dalam permainan yang dia ciptakan sendiri.
Di kamar mandi Jasmine beberapa kali memukul mulutnya karena tadi dia sempat berucap ingin menyentuh roti sobek miliknya saat mereka berciuman.
Senjata makan tuan, Jasmine jadi salah tingkah. Mau ditaruh dimana mukanya nanti, Jordan pasti akan mengerjainya lagi. Diluar sana Jordan tertawa terbahak-bahak melihat Jasmine.
Dia puas membuat gadis itu mati kutu, apalagi tadi dia benar-benar menikmati ciuman mereka. Jasmine sudah mulai bisa mengimbanginya.
Gadis itu sudah bisa menerima sentuhannya dan dia tahu Jasmine pun menikmati ciuman mereka.
"I got you girl" Ucapnya lagi.
Selangkah lagi dia akan benar-benar membuat Jasmine jadi miliknya. Setelah semuanya siap dia akan benar-benar menjadikan Jasmine seutuhnya miliknya, hanya dia.
Jasmine cukup lama berada dikamar mandi. Sedari tadi ada saja yang dilakukannya agar tetap berada disana.
Jordan bahkan harus menggedor pintu kamar mandi karena tidak mendengar apa lagi melihat tanda-tanda gadisnya akan keluar.
Jordan dibuat kesal olehnya, mommy dan daddy nya sudah menunggu di meja makan, karena memang ini waktunya mereka sarapan.
Jordan turun menemui kedua orang tuanya setelah satu pelayan melihat mobil tuan mudanya. Lalu dia memberi tahukan pada nyonya Hanna yang sedang berkutat di dapur.
Tak ingin kedua orang tuanya terlalu lama menunggu, Jordan yang sudah melihat keduanya duduk di meja makan lalu menyapanya.
"Morning mom, dad"
Jordan mencium kening mommy nya seperti kebiasaannya. Lalu memeluk daddy nya dan melakukan salam ala laki-laki seperti dia dan teman-temannya lakukan.
"Morning" jawab mereka berdua bersamaan.
"Mana menantu mommy, kenapa dia tidak ikut turun." Hanna celingukan mencari Jasmine.
"Entahlah mom" jawab Jordan malas.
"Kenapa begitu son, apa ada masalah?" kali ini daddy nya yang bertanya.
Jordan lalu menceritakan kejadian beberapa menit lalu yang membuatnya kesal. Spontan mommy dan daddy nya tergelak, mereka benar-benar tak habis pikir Jordan bisa melakukan itu.
Robby tak berhenti tertawa mendengar kekonyolan anak mereka, Hanna bahkan harus memukul lengan nya agar berhenti tertawa ketika melihat Jordan mulai kesal.
"Son, kadang kala kita memang harus bergerak cepat untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tapi bukan berarti terburu-buru. Apalagi jika harus taruh investasi lebih dulu."
Robby mengakhiri kata-katanya dengan tawa karena ingat cerita Jordan. Hanna melotot pada suaminya, bagaimana bisa dia bercanda melihat anaknya frustasi seperti itu.
"Sorry honey." jawab Robby, mengambil jus di depannya dan menandaskannya.
"Jangan dengarkan daddy mu, dia memang buaya." ucap Hanna kesal.
"No honey, jangan berkata seperti itu. Aku hanya memberinya nasehat saja." Robby tersenyum.
"Sudah, makan dulu biar nanti mommy bicara padanya." Hanna lalu mengambilkan beberapa helai roti tawar yang telah di olesi selai keatas piring Jordan.
Selesai sarapan, Jordan kembali ke kamarnya membawakan Jasmine sarapan yang sudah disiapkan oleh mommy nya.
Sesampainya di kamar Jordan masih belum melihat tanda-tanda Jasmine keluar dari kamar mandi. Jordan mulai kuatir takut gadis itu pingsan. Bisa bahaya, mommy nya akan memberi hukuman jika itu terjadi.
Jordan mencoba membuka pintu kamar mandi, ternyata terkunci. Jordan memanggil Jasmine beberapa kali tapi tetap tidak ada tanggapan. Sudah tidak ada suara air, berarti Jasmine sudah selesai membersihkan diri.
Ingin rasanya Jordan mendobrak pintu itu tapi, takut jika Jasmine ada dibelakangnya malah akan membuatnya shok.
Akhirnya Jordan menuju lantai satu dan mencari kunci serep di rak dekat kulkas yang berisi berbagai kuncian dan juga kunci setiap ruangan di mansion mewah ini.
Saat Jordan ke lantai satu, Jasmine mengintip Jordan dari balik pintu yang dibukanya sedikit. Dia celingukan, dirasa aman Jasmine pun keluar.
Dia tadi sudah selesai mandi tapi karena tidak membawa jubah mandi akhirnya dia hanya memakai handuk. Ketika mendengar suara Jordan masuk, dia kembali bersembunyi di kamar mandi dan mengunci pintuya.
Jasmine keluar lagi setelah Jordan pergi, jadi mirip main petak umpet saja kelakuan keduanya. Dan kali ini Jasmine tidak bisa berkutik, saat Jordan tiba-tiba masuk dan memeluknya dari belakang.
"Jangan ulangi lagi. Aku sangat mencemaskanmu" Jordan masih belum melepas pelukannya, Jasmine tertegun. Ternyata pria ini begitu mengkuatirkan dirinya.
Jordan mengelus punggungnya, menikmati wangi rambut Jasmine. Cukup lama berpelukan Jordan melepaskannya.
###