Savage Love

Savage Love
#36



Ciuman yang makin lama makin panas itu terhenti karena bunyi perut Jasmine. Jordan menghentikan ciumannya, meski Jasmine masih ingin.


Jordan ingat jika tadi dia membawakan sarapan bagi gadisnya, dan ternyata malah terbuai suasana romantis.


Jordan menikmati ciuman itu tapi tak seru jika perut gadis itu terus berbunyi. Jordan menyugar rambutnya pelan, hampir saja dia membuat gadisnya kelaparan.


"Maaf"


Ucap Jasmine ketika mereka sudah berdiri berhadapan. Gadis itu menunduk merasa malu dengan kebodohannya. Bagaimana bisa perutnya berbunyi saat mereka sedang berciuman.


"Lupakan, aku yang seharusnya minta maaf. Kamu pasti sudah lapar, aku membawakanmu sarapan. Makanlah"


Jordan mengambilkan makanan yang tadi dibawanya. Ada dua tangkup roti tawar isi selai stroberi dan kacang, irisan buah kupas dan segelas susu.


"Mommy yang menyiapkannya, aku tidak kamu suka yang mana jadi aku membawakan semua untukmu."


Jordan tak enak hati mengambil jatah makan Jasmine sementara dia menikmati vitamin C nya dengan sangat lahap.


Keduanya terlihat canggung, Jasmine duduk dihadapan Jordan di sofa kamar itu. Mereka duduk hampir tak berjarak dan hanya dibatasi oleh meja kecil berisi makanan.


Jasmine mengambil setangkup roti berisi selai stroberi, dia kurang menyukai kacang. Sejak kecil dia memang tidak menyukai kacang, napasnya sering terasa sesak setelah makan kacang.


Jasmine menggigit, dan mengunyah roti tersebut, lalu mengambil susu dan menegaknya. Jasmine baru ingat jika kemarin dia belum makan malam, itulah mengapa perutnya merasa sangat lapar pagi ini.


Jordan memperhatikannya sambil tersenyum, gadis itu merasa jika sedang jadi pusat perhatian. Dia sedikit merubah arah duduknya dan menghadap ke tembok karena gugup.


Jordan makin melebarkan senyumnya, dia suka sekali dengan sikap malu-malu Jasmine seperti ini. Menggemaskan


Tak ingin Jasmine semakin salah tingkah dia lalu mengambil irisan buah yang ada di depannya, lalu menggigitnya dan mengunyah tapi senyumnya tidak luntur.


"Kamu tidak makan roti dengan selai kacang itu, kenapa? apa sudah kenyang? padahal kemarin kamu bahkan tidak ingat untuk makan."


Jordan memberinya banyak pertanyaan secara beruntun. Jasmine masih meminum susu nya, setelah meletakkan gelasnya barulah Jasmine menjawab.


"Tidak, aku hanya tidak menyukainya. Sejak kecil aku tidak suka kacang, karena setelah memakannya napasku terasa sesak"


Jawab Jasmine lirih, dia masih menghabiskan sisa irisan buah dipiring. Tidak ingin Jordan kecewa jika sarapannya tidak dihabiskan.


"Mungkin kamu alergi dengan kacang. Sudah pernah memeriksakannya ke dokter?" Jordan mengambil roti selai kacang tadi dan memakannya.


Jordan tidak ingin mommy nya marah jika ada sisa makanan, jadi meskipun sudah merasa kenyang dia tetap makan roti itu dengan lahap. Lalu mengambil gelas berisi susu milik Jasmine dan menandaskan isinya.


Jasmine membulatkan matanya, Jordan minum pada bekas bibirnya itu artinya mereka berciuman tanpa sengaja.


"Kenapa dia melakukannya, padahal masih banyak tempat lainnya." Jasmine menggeleng kepalanya.


Tahu apa yang ada didalam pikiran Jasmine, Jordan hanya tersenyum.


"Aku menyukai semua tentangmu, dan semua milikmu adalah milikku, termasuk bekas bibirmu. Jadi jangan salahkan aku karena melakukan itu. Salahkan saja dirimu yang sudah menjeratku dalam pesonamu."


Jasmine hanya tertawa mendengar ucapan Jordan yang tidak masuk akal itu. Pria ini mulai jadi budak cinta, selalu saja ada alasan.


"Terserah apa katamu, yang pasti aku akan menjamin kamu tidak akan mudah lepas dari pesonaku tuan muda mesum"


Jasmine menggigit buahnya lagi, sebelum habis Jordan kembali mendekati bibirnya dan menggigit sisa buah di mulut Jasmine.


Bibir mereka kembali bertemu, tapi hanya kecupan karena mulut mereka masih penuh dengan buah yang tadi mereka makan.


"Dasar...tuan mesum" Jasmine memukul lengan Jordan dan menjauhinya. Tidak akan ada habisnya jika meladeni Jordan. Lebih baik dia menghindar.


Jordan tertawa sambil mengusap lengannya yang tadi dipukul Jasmine. Lumayan juga pukulannya meski tak bertenaga tapi sakitnya masih membekas.


Jordan memencet tombol di samping ranjangnya memanggil pelayan untuk membereskan kamarnya.


###


Tak lama seorang pelayan datang mengetuk pintu, Jasmine membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.


Pelayan itu mulai membersihkan kamar tuan mudanya. Merapikan tempat tidur dan juga baju kotor di kamar mandi.


Jordan tidak berhenti menggoda Jasmine, menanyakan tugas yang tempo hari dia berikan.


"Kamu masih memiliki tugas yang belum selesai sayang." Jordan mendekat kearahnya.


"Tugas...apa?" Jasmine pura-pura lupa, padahal dalam hatinya mulai bingung memikirkan jawabannya.


"Jangan bilang kamu pura-pura lupa baby, atau aku akan menghukummu sekarang juga."


Jasmine mencoba mengulur waktu, Jordan mendekat dengan senyum smirk nya. Baru sebentar dia terbebas dari jerat tuan muda mesum ini karena ada pelayan. Sekarang dia mulai lagi.


"Tidak, saya tidak lupa tuan hanya saja..." Jasmine gugup.


"Hanya saja belum terpikirkan jawabannya. Katakan saja, jika tidak aku akan menghukummu dobel kali ini." Jasmine makin mendekat dan


cup


ceklek


Bersamaan dengan pintu yang terbuka, Jordan mendekatkan bibirnya. Dan pelayan tadi membalikkan badannya. Dia malu karena ketahuan melihat tuan mudanya yang mencoba mencium gadisnya.


"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja." pelayan itu takut, tuan mudanya pasti akan menghukumnya kali ini.


Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Jordan menoleh dan menyuruhnya masuk.


"Masuklah dan ambil apa yang ingin kau ambil, lalu cepat pergi dari sini."


Pelayan itu bernafas lega lalu berjalan cepat mengambil vacum cleaner yang tertinggal di kamar Jordan. Berbeda dengan pelayan tadi, wajah Jasmine makin gugup, dia memejamkan mata memikirkan nama panggilan yang cocok untuk Jordan.


Ketika melihat pelayan itu akan keluar Jordan menghentikannya.


"Tunggu. Jika mommy menanyakanku, katakan saja aku sedang menghukum calon menantunya sekarang, jadi tidak boleh ada yang mengganggu. Paham?"


Pelayan mengangguk.


"Paham tuan muda."


"Bagus, sekarang pergilah dan tutup pintunya."


Pelayan itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua, kali ini Jasmine tidak akan selamat. Jordan sudah bersiap menghukumnya lagi.


"Tunggu, saya punya. Bagaimana jika sayang"


Jordan menolak, panggilan itu sudah terlalu umum. Jasmine kembali menyebutkan satu persatu sebutan sayang yang dia tahu.


"Honey, hmm..my prince..." tapi tak ada satupun yang cocok. Jordan mulai menyeringai, sampai akhirnya Jasmine menyebutkan yang terakhir.


"Love...hubby..."


Belum selesai Jasmine mengatakannya, Jordan sudah menangkap tangannya dan meletakkannya di atas dada bidangnya.


"Panggil aku hubby, karena kamu sebentar lagi akan menjadi istriku, serangga kecil"


Jordan mencium keningnya, Jasmine terperangah. Bagaimana bisa dia disuruh panggil hubby tapi Jordan memanggilnya serangga kecil. Dasar


"Tunggu...Kenapa aku dipanggil serangga kecil, ini tidak adil tuan muda." Jasmine


"Oh ya, lalu kamu ingin aku memanggilmu apa?" Jordan.


"Jika anda ingin saya memanggil anda hubby, maka harusnya anda memanggil saya wifey" Jasmine.


Jordan menyeringai, dia suka gadis ini dan yes dia bersorak dalam hati.


"Baiklah, aku hubby dan kamu wifey. Jadi mulai sekarang kita sepakat memakai panggilan itu."


Jordan tersenyum, selangkah lagi Jasmine akan jadi miliknya.