
"Masuklah, dan bersihkan dirimu lalu tidur. Bukankah besok giliranmu shift pagi" Jordan membuyarkan lamunan Jasmine.
Jasmine mengangguk, dia meletakkan tas selempangnya di sofa kamar itu, lalu menuju kamar mandi.
Tak ada skincare karena semua ada dikamarnya, jadi malam ini hanya menggosok gigi dan cuci muka saja. Jasmine kembali ke kamar dan disana Jordan sedang duduk bersandar di kepala ranjangnya dengan tangan bersendekap.
Jasmine bingung mau tidur dimana, dikamar itu hanya ada tempat tidur dan tidak ada sofa panjang. Apa dia harus tidur seranjang dengan Jordan, tidak tidak Jasmine menggeleng kepala.
Dia tetap berdiri disisi ranjang, mau berbicara tapi takut mengganggu Jordan. Merasa tak ada pergerakan, dan gadis itu masih betah berdiri Jordan akhirnya membuka mata.
"Kamu sudah selesai, tidurlah." ucapnya
"Tapi saya tidur dimana tuan?" tanya Jasmine, dia menunggu jawaban dan masih berdiri di tempatnya.
"Disini, mau tidur dimana lagi?" Jordan menepuk sisi ranjang yang kosong disebelahnya.
"Tapi tuan..." ucapan Jasmine terpotong karena Jordan tidak suka dibantah.
"Tapi apalagi, tidurlah besok kamu akan terlambat jika terus berdebat. Kalau kamu berpikir aku akan macam-macam, buang pikiran itu. Tapi kalau kamu mau, tidak masalah." ucap Jordan lagi dengan seringainya.
Jasmine memutar matanya malas, tapi dia tidak akan bisa tidur di sofa kecil yang bahkan tidak ada sandarannya itu, jadi dia mengikuti saja.
Merebahkan dirinya dikasur yang dua kali lebih lebar dan lebih empuk dari miliknya, Jasmine tidur miring membelakangi Jordan. Rasa gugup nya datang lagi, takut jika tiba-tiba pria itu memeluknya dari belakang dan berbuat macam-macam.
Jordan membetulkan posisi tidurnya, melirik Jasmine yang memunggunginya. Mungkin gadis itu sudah tidur karena tidak ada pergerakan lagi.
Cukup lama keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, Jasmine masih takut memejamkan matanya dan Jordan berbuat tidak senonoh bahkan melecehkannya seperti yang dilakukan mantan tunangannya dulu.
Sedangkan Jordan dengan pikirannya yang membayangkan jika bisa memeluk tubuh gadis yang sedang tidur di sampingnya. Jordan membuang jauh-jauh pikiran itu sebelum sesuatu dibawah sana membuatnya tersiksa.
Mereka berdua akhirnya tidur, yang awalnya saling membelakangi, bahkan Jordan sengaja meletakkan guling ditengah-tengah mereka sebagai pembatas. Tapi menjelang pagi, posisi mereka sudah saling berhadapan, bahkan guling pembatasnya sudah hilang entah kemana.
Mereka tiba-tiba berpelukan, dan merasakan kehangatan dengan wajah tersenyum. Entah apa yang ada dalam mimpi mereka, keduanya masih belum menyadari posisi mereka sekarang.
Jordan memeluk Jasmine erat, seakan itu adalah guling yang biasa dia pakai. Sedangkan Jasmine meletakkan kepalanya di dada Jordan dan menikmati dekapan hangat pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
Jika dilihat mereka seperti sepasang kekasih yang tampak saling mencinta, sungguh pemandangan yang indah. Seandainya Hanna ada disana sekarang dia tentu akan sangat senang, dan punya alasan untuk menikahkan mereka berdua.
###
Pagi menjelang, sinar matahari perlahan menembus ke dalam melalui sela horden. Kedua anak manusia yang sejak tadi menikmati pelukan dalam tidurnya pun mulai membuka mata.
Jasmine menyadari dirinya berada dalam dekapan pria yang semalam mengantarkannya pulang, tapi dia lupa jika saat ini dia tidak berada dirumahnya sendiri.
Jasmine mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan dihadapannya, menikmati aroma tubuhnya. Sesaat kemudian dia tersadar saat jam dinding dikamar itu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari pelukan Jordan, tapi semakin bergerak semakin erat pelukannya. Dan tiba-tiba...
Jasmine menyadarinya, karena dia merasakan sesuatu yang keras dibawah sana sedang menyentuh kulitnya.
"Ya Tuhan.." batin Jasmine, dia memilih untuk pasrah. Setelah itu Jordan melonggarkan pelukannya dan mulai bangkit dari tidurnya.
Menggerakkan anggota tubuhnya dan sesekali mengeluarkan bunyi dari jari tangan dan kepalanya. Jasmine masih memperhatikan gerakan pria itu, dan Jasmine memilih memasuki kamar mandi lebih dulu.
Tak ada drama bangun tidur seperti yang biasa dilihatnya dari opera sabun favoritnya, dimana jika dua orang berbeda jenis tidur dalam satu ranjang yang sama, dan sang wanita akan menjerit setelah menyadarinya.
Tentu saja, karena baik Jordan maupun Jasmine sama-sama masih mengenakan baju yang semalam mereka kenakan saat tidur, tidak ada yang berubah apalagi berkurang, meski mereka tidur bersama.
Jordan benar-benar menepati janjinya untuk tidak menyentuhnya, meski tadi dia sempat merasakan hangatnya pelukan pria incaran wanita-wanita cantik di kota ini.
Jasmine anggap pelukan itu sebagai bonus baginya, meski sejujurnya dia sedikit malu karena dia harus bangun tidur dan mendapati wajahnya terlihat kusut dihadapan pria tampan.
Jasmine membersihkan dirinya, dia sedikit bingung karena tidak ada baju ganti yang dia bawa. Karena semalam kunci flatnya hilang entah kemana.
Sementara itu Jordan menghubungi asistennya Jeremy dan memintanya untuk membelikan baju dan juga pakaian wanita untuk Jasmine.
Asistennya tampak bingung dengan permintaan bosnya, apalagi ini masih terlalu pagi belum ada toko yang buka sepagi ini. Tapi Jamie, pria ini biasa dipanggil tahu bosnya tidak suka penolakan.
Untung saja dia menyimpan nomor kontak beberapa pemilik butik pakaian wanita yang sering menjadi langganan bosnya jika memberikan hadiah pada wanitanya.
Setengah jam berikutnya, Jamie sudah tiba disana dan menyerahkan beberapa paperbag berisi pakaian dalam dan dress wanita sesuai permintaan Jordan.
Setelah itu Jamie kembali ke apartemennya, karena dia juga harus bersiap ke perusahaan dan tiba lebih dulu sebelum bosnya. Jordan membawa paperbag tadi dan meletakkan di sofa.
Saat Jordan menemui asistennya Jasmine masih berada dikamar mandi, dan sekarang gadis itu sudah keluar dalam keadaan segar namun masih mengenakan bathrobe dan juga handuk yang digelung diatas kepalanya.
Jasmine yang bingung akan mengenakan baju apa ke tempat kerjanya, memilih mengenakan bajunya yang dipakai kemarin, meski dengan resiko kulitnya akan terasa gatal.
Rencananya Jasmine akan kembali ke flatnya dan meminjam kunci cadangan pada pengurus gedung, berganti pakaian lalu berangkat ke restoran.
Saat Jordan memasuki kamarnya, dia sudah melihat Jasmine mengambil pakaian yang lama, lalu dia menyerahkan paperbag yang sempat diletakkan di sofa.
"Ini, pakailah. Dan letakkan baju kotormu di keranjang pakaian kotor diujung kamar mandi."
Jasmine tercengang saat menerima bingkisan itu dan ketika membuka isinya membuatnya sedikit malu. Bagaimana tidak, isinya sama persis dengan ukuran yang dia kenakan. Bagaimana bisa pria ini mengetahui ukuran pakaiannya.
Tanpa banyak bicara Jasmine melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Ketika keluar dia tidak mendapati Jordan disana, Jasmine kemudian merapikan kasur yang semalam dia tempati.
Lalu dia masuk ke pantry untuk membuat sarapan, ternyata tidak ada apapun yang bisa dia olah. Jasmine sedikit kecewa, niatnya untuk membalas kebaikan tuan muda itu pupus sudah.
###