Savage Love

Savage Love
#33



Jordan memasang lampu sein untuk berhenti di bahu jalan, baginya melihat Jasmine seperti ini membuatnya hancur. Gadis ini baru kemarin kehilangan kedua orang tuanya sekaligus hanya berselang beberapa jam saja.


Dan sekarang rumah peninggalan kakek neneknya juga sudah ludes terbakar. Bagaimana terpuruknya dia, bagaimana perasaan dia setelah ini. Semua terekam jelas, dimatanya Jasmine bukan hanya jatuh tapi gadis itu ambruk dalam sekejap.


Cobaan yang datang silih berganti, seperti tak pernah lelah menerpanya. Tapi Jasmine gadis yang kuat dan tegar, sekeras apapun cobaan yang dia hadapi berhasil dia lewati dengan baik.


Entah dalam hatinya, diluar dia terlihat tegar dan ceria tapi dalam hatinya tidak ada yang tahu. Meski beberapa hari ini menemaninya, Jordan merasa belum mengenal gadis itu.


Jordan merengkuh kepala Jasmine dan membiarkannya menangis didadanya. Dia tahu Jasmine butuh sandaran dan juga kekuatan. Biarlah dia dibilang modus atau apa saja, yang penting sekarang bagaimana mengembalikan keceriaan Jasmine dari segala kesedihannya.


Tak lagi terdengar suara tangis, hanya sesenggukan dan punggung itu bergetar, Jordan mengangkat kepala Jasmine dan melihat gadis itu mulai tenang.


Tampaknya dia kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Perlahan napasnya mulai teratur. Jordan membetulkan posisi jok yang ditempati Jasmine agar dia nyaman.


Jordan membiarkan Jasmine tertidur, lalu dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera sampai ke mansion orang tuanya, agar bisa membicarakan masalah yang sedang dialami Jasmine.


Jordan bukan tipe orang yang tenang dan santai jika berurusan dengan pekerjaan dan keluarganya. Tapi kini dia merasa terusik karena gadis yang dia cintai sedang mengalami masalah yang rumit dan bisa membahayakan nyawanya.


Tapi Jordan tak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya, karena sekarang dia memiliki tanggung jawab terhadap mendiang ayah Jasmine.


Gadis itu seperti mencoba mengingat sesuatu tapi kemudian pingsan. Mungkin ada sesuatu yang mengganggu ketenangan jiwanya, atau bisa saja dia pernah mengalami trauma mendalam sehingga memilih untuk melupakannya.


Jordan akan mencari tahu semuanya, dan siapa pun yang mencoba mengganggu ketenangan gadisnya akan berurusan dengan nya. Kali ini Jordan tidak akan memberikan kesempatan pada siapa yang mencoba menyalakan genderang perang dengannya.


Selama perjalanan tak sekalipun Jordan berhenti untuk beristirahat, karena keselamatan Jasmine lebih penting. Dia memilih meneruskan perjalanannya walaupun badannya terasa pegal.


Perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu tujuh jam jika dalam kondisi normal dengan beberapa kali terjebak macet, cuaca yang panas terik dan dan bising. Kali ini karena sudah melewati jam kerja, kondisi jalan mulai normal dan nyaris tanpa hambatan.


Lima jam berkendara non stop tanpa ada yang mengganti, tentu membuat badannya terasa lelah. Tapi demi pujaan hatinya, dia tak memperdulikannya.


Pintu gerbang mansion terbuka, dan jordan sudah memasuki halaman rumah bak istana yang megah itu. Setelah mematikan mesin mobilnya, Jordan lalu keluar dan berjalan ke samping sisi mobil dimana Jasmine masih tidur.


Jordan sama sekali tak berniat membangunkannya, biarlah gadis itu beristirahat agar melupakan kesedihannya. Jordan menggendong Jasmine ala bridal style, karena itu jauh lebih mudah menurutnya, dan tentu saja agar tidak membangunkan Jasmine.


Jordan lupa dengan posisi seperti ini jika dia tidak akan bisa mengambil kunci pintu rumah dalam kantong celananya.


"Ah sial, bagaimana aku bisa lupa mengambilnya lebih dulu." gumam Jordan pelan takut mengganggu sang putri tidur.


Jordan menyandarkan dirinya di depan pintu dan tangan kanannya mencoba meraih ponsel yang ada di saku kanan celananya. Sedikit kesulitan karena gadis ini meski badannya kecil tapi beratnya lumayan juga. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya dia berhasil mendapatkannya. Tentu saja karena ukurannya lebih besar dari kunci jadi lebih mudah.


"Got it."


Jordan menekan nomor daddy nya dan menelponnya beberapa kali tapi tidak diangkat. Tentu saja karena Jordan tiba disana saat tengah malam dan orang sedang tidur pulas.


Meski kesal Jordan mencoba menekan nomor lain, kali ini dia menghubungi penjaga pintu gerbang depan. Untung saja dua kali berdering dan langsung tersambung.


Tak lama penjaga itu membantunya membuka pintu dengan kunci yang dimiliki Jordan. Bagaimana caranya? Penjaga itu tentu harus mengambilnya lebih dulu dari kantong celana dan tentu saja dengan banyak drama.


Awalnya penjaga itu menawarkan diri untuk menggantikannya menggendong Jasmine, tapi sebelum selesai bicara Jordan sudah memasang tampang seram seolah ingin memakannya, penjaga itu menunduk dan mengambil kunci. Tapi lagi-lagi tidak mudah karena dia harus berhati-hati jangan sampai mengenai aset berharga milik tuan mudanya itu, atau dia akan kehilangan gajinya bulan ini.


Huh


Penjaga itu dan juga Jordan menghembuskan napas lega, setelah berhasil mendapatkannya. Lalu membukakan pintu bagi tuan mudanya, dan kembali ke pos depan tempatnya semula.


Jordan masuk ke dalam rumah yang sudah sepi dari aktivitas penghuni disana, dia langsung naik ke lantai dua kamarnya berada dengan naik lift. Dia sudah lelah dan tidak kuat lagi menggendong Jasmine yang meski tertidur masih terlihat cantik dimatanya.


Pintu kamar terbuka, Jordan langsung meletakkan Jasmine diatas ranjang king size dikamarnya. Kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi sambil membuka bajunya. Dada bidang tertampang jelas dan juga roti sobek yang menggoda menarik perhatian Jasmine yang sebenarnya pura-pura tidur.


Jasmine melihat Jordan memegangi salah satu bahunya dan memijatnya pelan. Tapi saat Jordan menoleh ke arahnya dia kembali pura-pura tidur.


Jasmine sudah bangun sejak drama kunci tadi, tapi dia masih memejamkan mata. Dan meski begitu dia dapat merasakan bagaimana penjaga itu begitu tegang saat melaksanakan perintah tuannya. Jasmine sebenarnya ingin tertawa, tapi ditahannya karena takut Jordan akan menghukumnya lagi jika ketahuan bohong.


Jordan sudah berada dikamar mandi dan memilih berendam dengan air hangat dan juga sedikit aroma terapi. Badannya yang lelah tentu harus segera dia pulihkan. Karena tidak mungkin memanggil tukang pijat diwaktu selarut ini, jadi cukup dengan berendam dia bisa merasakan badannya lebih segar.


Di tempat lain Jasmine mencoba duduk, badannya terasa gerah dan gatal karena keringat. Matanya mengitari seluruh ruangan kamar Jordan. Bersih dan rapi, tidak seperti kamar laki-laki pada umumnya yang selalu berantakan.


Jasmine turun dari ranjang dan mendekati nakas melihat bingkai foto berisi sang pemilik kamar. Jordan terlihat tampan dan berwibawa dengan setelan jas dan dasi. Jasmine mengambil foto itu dan bergumam.


"Kamu tahu, kamu sebenarnya tampan pantas saja dulu banyak gadis tergila-gila padamu, bahkan rela melakukan hal bodoh demi bertemu denganmu. Beruntung aku tidak mengenalmu dan ikutan bodoh seperti mereka."


"Tapi jelas saja kamu tidak kenal aku, seorang gadis yang berasal dari kota kecil dan berpenampilan sederhana dan tidak tahu merawat diri seperti mereka. Karena aku hanya punya dua tujuan, belajar dan bekerja. Tidak ada waktu untuk pedikure, menikure, facial apalagi keriting bulu mata. Jadi kamu tidak akan tertarik, aku jamin itu."


Masih memegang foto Jordan ditangannya, Jasmine meneruskan ucapannya.


"Kamu tahu, sebenarnya aku tidak peduli siapa yang menolongku waktu dipesta itu. Tapi aku pikir tidak ada salahnya menerima bantuan dari orang yang tidak aku kenal, dan ternyata kamu setampan ini dibalik topengmu."


"Bahkan sahabatku Chelsea dulu sempat mengidolakanmu, cih apa sih hebatnya kamu. Dan kamu tahu setelah pesta itu aku justru mendapatkan banyak cubitan dari si cerewet itu. Dia bilang kamu itu incaran semua wanita disini, jadi aku sangat beruntung bisa dekat denganmu."


"Ah, anak itu memang tidak bisa lihat orang senang. Tapi aku juga kesal padamu, bisa-bisa nya mencuri ciuman pertamaku. Ah bibirku jadi ternoda karena ulahmu. Dan sekarang kamu bahkan seenaknya mengambil ciuman dariku tanpa permisi, mengakui ku sebagai milikmu segala. Kamu pikir aku barang ha? Dasar pria mesum, awas ya jika berani menciumku lagi tanpa permisi. Aku doakan kamu jatuh cinta padaku sampai tidak bisa berpaling pada wanita lain. Aku bersumpah kamu akan menyesal jika membuatku kesal lagi."


Jasmine bergumam seolah-olah dia berbicara langsung dengan orang yang ada dalam foto itu. Dia tidak sadar jika sejak tadi orang yang dimaksud sudah berdiri di belakangnya dan mendengar semua perkataannya, bahkan dia tertawa saat Jasmine menunjukkan kekesalannya dengan mengepalkan tangan seolah ingin meninjunya.


###