
Jordan memperhatikan tingkah Jasmine, yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Tanpa banyak bicara Jordan merengkuh kepala Jasmine dan meletakkan di dadanya.
Jasmine terdiam mencoba menerima perlakuan lembut si tuan muda penuh pesona. Tak perlu menunggu lama gadis ini tertidur dalam dekapan hangat Jordan.
Senyum tersungging di bibir Jordan, ternyata membuat gadis ini terlelap tak perlu banyak drama. Meski sesekali Jasmine mengigau tentang kedua orang tuanya.
Jordan masih setia mengelus punggung gadis itu dan mencoba menenangkannya. Karena Jasmine adalah tanggung jawabnya sekarang, jadi dia tidak akan melewatkan hal sekecil apapun yang berhubungan dengan gadis ini.
Terlelap dalam buaian dan dekapan hangat, membuat Jasmine tanpa sadar merapatkan tubuhnya dan ikut memeluk badan tegap dihadapannya.
Agak lama memang Jordan menemani Jasmine sampai tertidur pulas, sedangkan dirinya malah sedang asyik ber chatting ria dengan sahabatnya.
Sesekali dia tertawa saat membaca balasan dari teman-teman sesama pemain wanita itu. Mereka meledeknya karena sudah menjadi budak cinta, pada gadis yang belum dikenalnya.
Tapi mereka tidak pernah marah meski sering kali bercandanya bisa dibilang parah. Justru itulah yang membuat mereka awet berteman, bukan hanya saling mendukung dalam masalah pekerjaan, mereka juga saling menjaga satu sama lain, dan tahu karakter masing-masing.
Jordan sedikit merasa gerah, karena Jasmine semakin mengeratkan pelukannya. Jordan terpaksa membuka atasan baju tidurnya, dan hanya bertelanjang dada.
Sebenarnya dengan posisi seperti ini, Jordan harus menahan sesuatu yang mulai bangkit dibawah sana. Bayangkan saja, Jasmine memeluknya erat sambil menempelkan dua benda kenyal miliknya didada bidangnya.
Jordan sudah mulai kepanasan karena Jasmine tak bergeser sedikitpun. Jordan mengeluarkan napasnya berat, ini tak bisa dibiarkan. Jika begini terus, bisa-bisa kepalanya akan pusing menahan gairah.
Untung saja itu tak lama, Jasmine tiba-tiba melepaskan pelukannya dan berbalik memunggunginya. Seketika itu juga Jordan langsung turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Jordan menyalakan kran dan mandi air dingin demi meredam hasratnya.
Setelah puas bermain dengan sabun dan air dingin, Jordan terlihat lebih segar. Tak masalah dia harus kedinginan tapi dari pada tersiksa menahan pening karena tidak bisa menyalurkan hasratnya, itu jauh lebih baik.
Setelah mengeringkan kepalanya dengan handuk Jordan kembali ke ranjangnya dan memeluk Jasmine sambil memejamkan matanya.
Keduanya pun tertidur saling berpelukan, merasakan hangatnya hawa tubuh masing-masing. Hingga pagi menjelang, keduanya masih dalam posisi yang sama. Sampai salah satu dari mereka terbangun lebih dulu.
###
Jordan masih memejamkan matanya, saat sinar matahari mulai menyapa lewat sela-sela tirai jendela kamar hotel. Sedangkan disisi lain ranjang itu sudah kosong.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, pertanda seseorang sudah ada disana lebih dulu.
Jordan mengerjapkan matanya saat sinar matahari mengenainya, dia merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku karena semalaman tidak berganti posisi. Tangan kanannya terasa kebas, dan sedikit nyilu.
Jasmine sudah selesai dengan aktivitasnya dikamar mandi. Dia masih mengenakan jubah mandinya, dan rambut yang masih basah dengan handuk digelung keatas.
"Good morning" ucap Jordan, Jasmine yang belum tahu jika Jordan sudah bangun, sedikit tersentak.
Untung saja dia masih mengenakan jubahnya, seandainya hanya memakai handuk yang ukurannya tidak begitu besar, jelas akan membuatnya semakin salah tingkah. Karena memperlihatkan asetnya yang susah payah dia jaga.
"Anda mengagetkan saya tuan muda." balas Jasmine
"Good morning, apa susahnya menjawab"
Jordan berjalan mendekati Jasmine, makin dekat, dan lebih dekat lagi.
"Maksud anda apa tuan?" tanya Jasmine.
"Harusnya kamu memberikanku ucapan selamat pagi, seperti ini."
Cup
Jordan mendaratkan kecupan di bibir mungil berwarna merah muda tersebut. Pemiliknya hanya bisa diam terpaku.
Merasa tak ada penolakan Jordan melancarkan lagi aksinya. Bibirnya kembali menyentuh bibir Jasmine, melu*** dengan rakus, sambil menggigit bibir bawah Jasmine pelan.
Jasmine yang masih kaku dalam hal berciuman dengan lawan jenis memang masih belum bisa mengimbangi Jordan. Jasmine membuka mulutnya saat Jordan menggigit bibir bawahnya.
Lidah Jordan mengabsen seluruh isi rongga mulut Jasmine, lidahnya membelit lidah Jasmine. Jasmine gelagapan, dan seketika langsung melepaskan ciuman itu karena merasa kehabisan napas.
Jasmine mengatur napasnya dan memukul lengan Jordan. Bukannya kesakitan, laki-laki ini malah tertawa. Jordan semakin keras tertawa saat melihat raut wajah Jasmine yang bersemu merah.
"Kamu tahu, itu tadi adalah hukuman untukmu."
Jordan kembali duduk di tepian ranjang, dan menarik Jasmine kearahnya hingga duduk dipangkuannya.
"Hukuman, memang apa salahku? Dan hukumannya benar-benar modus" Batin Jasmine, memutar bola matanya malas.
"Tapi apa salah saya, kenapa anda menghukum saya tuan muda." tanya Jasmine
"Ada banyak sekali kesalahanmu, tapi saat ini hanya beberapa saja yang akan aku sebutkan"
"Pertama, jika aku mengucapkan salam, jangan dijawab dengan pernyataan apalagi pertanyaan. Cukup balas dengan kecupan seperti ini. Cup"
Jasmine terperangah, selalu ada alasan baginya membuat Jasmine mati kutu seperti ini.
"Tunggu dulu, tapi kenapa harus hukumannya.." Belum juga Jasmine menyelesaikan ucapannya Jordan lagi-lagi mencuri ciuman darinya.
"Semakin banyak kamu protes, semakin banyak hukuman untukmu. Paham?"
Jordan menatap dalam kedua bola mata indah dihadapannya. Entah kenapa Jordan sangat menyukainya, Jordan tak mampu mengalihkan pandangannya.
Jasmine mengerucutkan bibirnya, dia seperti berada ditengah-tengah jalan sempit diantara mobil-mobil besar, mau maju kena mundur juga kena.
Cup
"Bisa tidak mulut kamu dikondisikan, aku tidak bisa menjamin mulutmu tidak bengkak jika terus seperti itu."
Jasmine sontak menutup mulutnya saat Jordan mengatakan itu, tapi Jordan malah tergelak melihatnya.
"Dasar mesum" gumam Jasmine pelan, tapi masih bisa didengar oleh Jordan.
"Sekarang lebih baik kamu pikirkan panggilan yang cocok untukku. Tapi ingat, tidak boleh sama dengan yang lain"
Jordan mencium wangi rambut Jasmine dari shampo yang dia pakai. Dan dia baru ingat kalau dia belum mandi. Seketika dia berdiri dan mendudukkan Jasmine di tepi ranjang.
"Aku mandi dulu, tapi ingat selesai aku mandi kamu harus sudah punya panggilan istimewa untukku."
Jordan mengedipkan matanya, dan berlalu menuju kamar mandi sambil tersenyum senang. Jasmine menghentakkan kakinya kesal.
"Dasar tuan muda mesuuuuummm" teriaknya.
"I hear you honey, hahaha..." jawab Jordan dari dalam kamar mandi.
"Awas ya, aku sumpahin kamu cinta mati sama aku. Dasaaaarrrr" teriak Jasmine lagi.
"I love you to baby" jawab Jordan lagi, dia masih belum benar-benar mandi karenanya dia bisa menjawab kata-kata yang dilontarkan Jasmine.
Dan itu membuat Jasmine makin kesal. Belum lagi memikirkan panggilan apa yang cocok buat si tuan mesum itu.
"Oh my god...kenapa aku harus berhubungan pria itu." Jasmine menggeleng kepala, sambil menghembuskan napasnya pelan.
###
Selesai berganti pakaian, Jasmine mulai merias dirinya bukan karena ingin terlihat cantik didepan Jordan tapi hidup harus terus berjalan.
Dan sekarang ayah dan ibunya tiada, dia hanya bisa memikirkan masa depannya sendiri, tidak boleh terus bergantung pada orang lain.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, badan tinggi dengan kulit putih, dada bidang jangan lupa perut yang kotak seperti kumpulan roti sobek berjalan kearah nya.
Dengan hanya menyampirkan handuk menutupi bagian bawah perutnya, membuat Jasmine menelan salivanya. Dia menutup matanya dengan tangan dan masih bisa melihat disela jarinya.
"Ya ampun, pria ini benar-benar menodai mataku dengan tubuhnya yang sexy itu. Oh my..." batin Jasmine, merutuki pemandangan yang membuat jantungnya terlonjak seketika.
"Tidak perlu menutupi mata indahmu, kamu bahkan memelukku sepanjang malam dan itu menyiksaku baby, kamu harus bertanggung jawab karenanya."
Jordan menarik tangan Jasmine yang menutupi matanya, dan menuntun tangan itu meraba dada dan perut kotaknya.
Jasmine menggigit bibir bawahnya, dia takkan bisa menolak pemandangan indah dihadapannya, tapi dia malu. Bagaimana laki-laki tampan dan kaya ini mulai berani membuat adrenalinnya berpacu kencang.
Jasmine masih menunduk, dia menjadi salah tingkah. Sambil mengatupkan bibirnya, dia menggeleng kepala.
Jordan mengangkat dagu Jasmine, dan berbisik pelan di telinganya.
"It's your baby, enjoy it"
Senyum smirk Jordan melihat Jasmine yang masih malu-malu. Jordan menyambar bibir pink yang sudah diolesi pelembap itu.
"Manis..."
"Ini milikku, ini, ini, dan ini serta semua yang ada padamu adalah milikku sekarang dan selamanya. Ingat itu baby"
Jordan mencium bibir, mata kiri dan kanan serta hidung Jasmine. Gadis itu terpaku, meski dia mendengar percakapan antara ayahnya dan Jordan terakhir kali sebelum menutup mata, tapi Jasmine tidak paham maksudnya.
Kenapa ayahnya menitipkan dia pada Jordan, laki-laki mesum yang membuat dunianya seolah jungkir balik, dan kini laki-laki itu telah berani mengakui semua yang ada pada dirinya sebagai miliknya.
###
Up up up...semangat, semoga tidak padam lagi jadi review nya bisa lebih cepat.