Savage Love

Savage Love
#31



Jordan melajukan mobilnya ke rumah yang ditempati orang tuanya terakhir, diperbatasan kota. Rumah itu adalah peninggalan dari orang tua mommy nya.


Karena rumah milik ayahnya sudah diambil oleh keluarga pamannya sekaligus mantan mertuanya. Dengan alasan membayar hutang yang ayahnya pinjam beberapa tahun silam.


Setahu jasmine rumah milik daddy nya itu adalah hasil kerja keras ayahnya sebelum menikah dengan ibunya. Dan alasan hutang itu sepertinya tidak masuk akal, karena seingat Jasmine ayahnya tidak pernah memiliki pinjaman apapun di bank apalagi rentenir.


Jordan membelokkan mobilnya kesebuah perkarangan cukup luas yang kini tidak terurus, sejak kedua orang tuanya kecelakaan dan meninggal rumah itu menjadi terbengkalai.


Menghentikan mobilnya dibawah pohon yang cukup rindang sebagai tempat berteduh. Jordan lalu keluar dan membukakan pintu buat gadis pencuri hatinya. Meski Jasmine bisa melakukannya sendiri tapi Jordan tak memberinya kesempatan.


Jasmine memasuki rumah tua yang masih terawat meski sudah banyak tembok yang berlubang tapi tetap tidak mengurangi fungsi rumah itu.


Berbekal kunci serep yang dulu pernah ayahnya berikan takut sewaktu-waktu Jasmine pulang. Dan benar saja, hari ini Jasmine disini melihat sisa-sisa kenangan bersama kedua orang tuanya.


Jasmine menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah itu, tempat mereka berkumpul terakhir kali sebelum dirinya memutuskan untuk pindah ke kota Y tempat tinggalnya sekarang.


Jasmine pertama kali masuk ke kamar kedua orang tuanya, Jasmine mengambil foto mereka yang diletakkan di meja kecil disamping ranjang. Jasmine mengusap bingkai foto yang mulai usang, air matanya menetes begitu saja.


Jasmine terisak teringat akan kedua orang tuanya, mereka mencintai Jasmine seperti mereka mencintai diri mereka sendiri. Tak pernah sedikitpun Jasmine melihat mereka mengeluh karena harus bekerja keras demi mewujudkan keinginannya.


Jasmine ingat saat dulu dirinya meminta dibelikan sebuah boneka beruang yang dia lihat di toko mainan. Jasmine melihat kearah pojok ranjang, boneka itu ada disana.


Pasti ayah dan ibunya sangat merindukan dia, karena mereka selalu berkata akan memeluk boneka itu saat merasa rindu padanya.


Jasmine berjalan mendekati boneka beruang itu, dengan tangan kirinya masih memegang bingkai foto mereka bertiga.


Jasmine memeluk boneka beruang, dan lagi air matanya jatuh. Jasmine terisak, begitu cepat mereka pergi meninggalkannya sendiri di dunia ini. Kadang Jasmine berpikir bahwa Tuhan tidak adil padanya, sejak mereka mengalami cobaan dengan harus merelakan rumah mereka diambil dengan paksa.


Mengalami pelecehan sexual dari orang terdekatnya, dan membuatnya terpisah dari kedua orang tuanya. Apalagi sekarang, mereka sudah pergi untuk selamanya. Jika dulu Jasmine yang meninggalkan mereka, karena terpaksa. Sekarang sebaliknya mereka lah yang meninggalkan Jasmine karena ajal menjemput.


Jasmine menangis dia melupakan keberadaan seseorang yang sejak tadi memperhatikannya. Jordan tidak sekalipun mengganggu gadis itu, dia membiarkan nya melepaskan semua tangisnya. Setelah agak lama tangis Jasmine tak kunjung reda, Jordan pun mendekatinya.


Dia duduk disamping Jasmine dan merengkuhnya dalam dekapan, Jasmine tidak menolak. Karena Jasmine membutuhkannya, Jordan merapatkan pelukannya dan membiarkan Jasmine mengeluarkan segala rasa yang ada dalam dadanya.


"Menangislah jika itu membuatmu lebih baik, lepaskan saja jangan ditahan. Karena setelah ini kamu tidak boleh lagi menangis."


Jordan mengelus punggung Jasmine yang terisak, masih mengeluarkan semua uneg-unegnya dan mulai bersuara.


"Kenapa Tuhan tidak adil padaku, kenapa Dia mengambil orang tuaku. Aku sendiri sekarang, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi."


Tangis gadis itu pecah, suaranya sampai serak. Kemarin dipemakaman dia terlihat baik-baik saja, tapi ternyata sekarang dia begitu rapuh.


"Kamu tidak sendiri, ada aku yang akan selalu disampingmu, ada mommy, daddy, zack, Adam dan Tony. Kamu juga punya sahabat kan Chelsea."


"Ingatlah, ini adalah terakhir kalinya kamu bersedih dan menangis. Setelah ini aku tidak mau melihat air mata kesedihan. Kamu hanya boleh menangis karena aku, hanya aku bukan yang lain."


Jordan menangkupkan kedua tangannya di pipi Jasmine, dan mata mereka bertemu. Jasmine mencoba menyelami kata-kata Jordan. Jasmine mengangguk pelan.


Sebenarnya Jasmine sudah mulai bisa menerima pria ini, meski terkadang sikapnya membuat Jasmine jengkel dan ingin sekali menonjok mukanya.


Tapi sekarang dia melihat sisi lain dari laki-laki ini, dia berhasil menenangkan Jasmine dan membuatnya tersenyum dengan kekonyolan tingkahnya.


Cup


Baru juga Jasmine mengagumi sisi lain dirinya, sekarang tuan mesum ini mulai lagi. Jasmine memutar bola matanya malas. Jordan berhasil mendaratkan ciuman di bibir mungil yang sudah membuatnya candu.


Jordan tertawa saat melihat raut wajah Jasmine yang langsung berubah kesal. Dia menarik tangan Jasmine untuk berdiri, dan mengajaknya keluar dari kamar itu.


Jasmine melangkah mendekati lemari baju dikamar itu. Membuka pintu dan tangannya mulai mencari yang ayahnya katakan. Merasa sedikit kesulitan, Jasmine pun mengambil tumpukan baju ayahnya dan memindahkan keatas ranjang.


Jordan ikut membantu, mengangkat sisanya dan meletakkan disamping tumpukan baju yang diletakkan Jasmine tadi.


Jasmine kaget ternyata dibalik tumpukan baju-baju itu ada lubang kecil yang ditutupi oleh kain dan kertas untuk menyamarkannya. Entah apa tujuan daddy nya melakukan itu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan.


Jordan membantu menyingkirkan kain dan kertas itu, meletakkan begitu saja dibawah dan mengangkat kotak perhiasan kecil yang ada didalamnya.


Jasmine mencoba membukanya tapi terkunci, ada gembok kecil yang menutup kotak perhiasan itu. Dia ingat dulu ayahnya pernah meletakkan sesuatu di leher bonekanya.


Benar saja ada bandul kunci kecil dileher bonekanya. Jasmine mengambil boneka beruangnya dan membuka kain yang membelit dileher boneka itu.


Memasukkan kunci yang ada di kalung dan mencoba membuka kotak perhiasan tadi.


klik


Berhasil, kotak itu terbuka. Jasmine dan Jordan saling berpandangan, Jasmine pun membuka kotak. Dan betapa terkejutnya dia. Ada beberapa keping emas batangan bertuliskan 20 gram. Beberapa dokumen yang tampak usang karena warnanya sudah pudar, tapi tulisannya masih bisa terbaca.


Jordan mencoba membuka plastik yang menutupi dokumen, mengeluarkan isinya dan membuka lipatan dokumen. Jordan membaca, ada beberapa huruf yang tidak jelas.


Ranch Felipe Fernandez


Jasmine ingat itu adalah peternakan yang sekarang dikuasai oleh pamannya. Setelah membaca sebagian dokumen itu, Jordan paham maksudnya.


Peternakan milik keluarga Fernandez yang dikelola oleh paman Jasmine adalah milik kakeknya, dan itu otomatis menjadi milik ayah Jasmine dan kini Jasmine lah pemilik sah karena dia satu-satunya ahli waris yang ada.


Jasmine belum mengerti bagaimana surat kepemilikan peternakan itu ada disana, dan apa hubungannya dengan kematian kedua orang tuanya.


Jordan yang tahu Jasmine sedang mengingat sesuatu, mengambil ponsel nya dan mengambil foto dokumen tersebut. Kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Yes." Jordan mengirim pesan pada seseorang, dan tak lama ponselnya berdering. Jordan lalu mengangkat telepon.


"Halo...dad, bagaimana apa daddy tahu sesuatu?"


Jordan mencoba mengingat, tapi nihil ada kepingan ingatan yang seperti hilang dari otaknya. Sambil mendengarkan ayahnya berbicara, Jordan masih mencoba membaca dokumen itu.


Sementara Jasmine mengambil sebuah kalung berlian dengan sepasang anting yang ada didalam kotak perhiasan. Jasmine tidak percaya bagaimana bisa ayahnya memiliki semua ini.


Sedangkan Jasmine dari kecil hanya melihat ayah dan ibunya memiliki usaha roti, itupun hanya dibantu beberapa karyawan. Jasmine sama sekali tidak ingat apapun. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit, dan dirinya seperti berputar-putar.


Jasmine memegangi kepalanya sambil berteriak, melihat itu Jordan pun menghentikan teleponnya dan mendekat kearah Jasmine. Dia memindahkan barang-barang yang dipegang dan mengangkat Jasmine ke tempat tidur.


Setelah meletakkan Jasmine, Jordan kembali ke bawah dan memasukkan barang-barang dikotak perhiasan ke tempatnya semula. Meletakkan kotak perhiasan itu di dekat Jasmine dan memindahkan tumpukan baju-bajunya kedalam lemari seperti semula.


Merasa akan ada masalah lain setelah ini Jordan pun memilih mengambil kotak itu dan memasukkannya kedalam tas yang Jasmine pakai.


Jordan lalu mengambilkan wewangian di meja rias, dan meletakkan di hidung Jasmine. Berharap semoga gadis itu segera sadar.


Untunglah tak lama kemudian, Jasmine mengerjapkan matanya tapi karena masih merasakan pusing Jasmine memegangi kepalanya. Mencoba duduk, Jordan membantunya bersandar di kepala ranjang.


###


Haiii...aku datang lagi. Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa like, komen dan vote nya.