Savage Love

Savage Love
#38



Hanna dan Robby berdecak, putranya sudah mulai posesif sekarang, bagaimana nanti. Seakan melihat fotocopy an dirinya, Robby tergelak.


Dulu dia pun sama seperti Jordan, bedanya dulu belum ada telepon pintar yang hanya dengan memencet nomor ditombol, kita dapat berhubungan dengan orang tersebut sambil bertatap muka meski hanya lewat kamera.


Jadi ketika rindu dengan orang yang kita cintai, dan sedang berjauhan bisa bertemu lewat aplikasi.


Dulu Robby harus menahan rindunya pada Hanna, untuk bisa bertemu dengannya Robby harus bisa menyelesaikan segala urusannya agar tidak ada lagi yang mengganggunya.


Belum lagi dia harus melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk menemui kekasih hatinya. Sekarang Jordan jauh lebih beruntung.


Hanna tahu suaminya sedang teringat masa lalu ketika mulai berhubungan dengannya secara jarak jauh. Dia ikut tersenyum mengingat kejadian dulu.


Dan seperti apa posesifnya sang suami, terlihat jelas pada putra semata wayang mereka sekarang.


Jasmine mengikuti mommy Hanna dan duduk disebelahnya, tak mau ketinggalan Jordan duduk disamping gadisnya. Bahkan dia menarik pinggang gadis itu agar merapat ke tubuh kekarnya.


Bukan tidak nyaman, tapi Jasmine malu. Dia sangat malu pada mommy dan daddy yang melihat kearah mereka berdua sambil tertawa.


Jujur saja perlakuan lembut, penuh perhatian meski kadang menjengkelkan dan membuatnya kesal dari Jordan tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.


Butiran bening dari sudut matanya jatuh begitu saja, Jasmine teringat kata-kata ayahnya dulu sebelum dia menerima lamaran dari mantan tunangannya.


###


Flashback on


Siang itu Jasmine duduk diteras depan rumahnya, dia baru saja pulang sekolah. Hari ini adalah hari kelulusannya dibangku menengah pertama, dan sebentar lagi akan memasuki sekolah menengah akhir.


Jasmine sudah menjatuhkan pilihannya untuk masuk di sekolah putri di kota Y yang terkenal dengan pusat pendidikan dan juga industri di negaranya. Ibukota di negara nya, kota dengan penuh kejutan nantinya.


Sekolah itu memiliki asrama jadi dia hanya akan fokus untuk belajar dan mengembangkan diri. Sekolah dengan fasilitas yang cukup bagus dan lumayan mahal untuk menengah ke bawah.


Tapi sekolah itu juga termasuk favorit karena beberapa alumninya berhasil menjadi orang sukses baik dikota itu sendiri maupun diluar negeri.


Dan meskipun hampir semua siswa di sekolah ini berasal dari kalangan menengah keatas, mereka juga menerima dengan terbuka siswa dari keluarga tidak mampu untuk bersekolah disini, lewat jalur prestasi.


Baik akademik maupun non akademik, mereka bisa mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa penuh dari yayasan pendiri sekolah.


Mereka bisa mendaftar secara online dan dengan seleksi ketat tentunya. Jasmine salah satunya, berkat nilai akademisnya di sekolah menengah pertama yang termasuk tinggi, dan selalu diurutan pertama, serta beberapa kali menjadi juara umum membuat dia menerima bea siswa penuh.


Jasmine juga mengikuti beberapa tes lewat jalur online karena dia berasal dari luar kota. Jasmine beruntung, dari sekian peserta yang berasal dari luar kota dan dari jalur akademi, jasmine masuk di peringkat lima besar.


Dengan persaingan yang sangat ketat dari beberapa peserta. Juga skor penilaian yang sangat ketat. Seluruh siswa yang diterima di sekolah ini adalah murni dari jalur prestasi, akademis dan non akademis.


Jadi meskipun berasal dari kalangan berada tapi jika nilainya tidak masuk dalam range yang ditentukan akan dinyatakan gugur. Dan tidak ada jalur titipan, seperti di sekolah lain.


Dan karena semua peserta mendaftar dan mengikuti tes lewat jalur online, maka tidak akan diketahui dia berasal dari keluarga mana.


###


Jasmine duduk termenung dia belum tahu bagaimana caranya mengatakan hal ini. Bahwa keinginannya untuk masuk ke sekolah favorit impiannya tinggal selangkah lagi.


Melihat putrinya duduk termenung diluar, membuat ayahnya penasaran ada apa dengannya.


Tuan Fernandez memilih menemani putrinya, dan berbincang hangat. Jasmine masih belum mengatakan apapun, karena sang ayah tiba-tiba mengatakan jika Jasmine akan dilamar oleh sepupunya sendiri.


Seperti tercekat, bibirnya terasa kelu tak ada satupun kata terucap. Jasmine memperhatikan gelagat ayahnya, ada yang disembunyikannya. Jasmine mencoba mencari jawaban dari sorot matanya.


Yang ada hanya kesedihan, dia yakin ayahnya membuat keputusan yang salah dan sengaja mengorbankannya demi sesuatu. Tapi apa itu, Jasmine tidak tahu.


Alasan ayahnya agar ada yang menjaganya kelak jika mereka tiada, mendengar itu Jasmine semakin curiga. Tak biasanya ayahnya memutuskan sesuatu tanpa berkumpul dan berbicara bersama.


Setelah pembicaraan itu Jasmine tak bertegur sapa dengan ayahnya, dia masih marah tapi seolah semuanya percuma karena keesokan harinya pamannya datang bersama putra mereka dan melamarnya.


Hingga acara pertunangan dadakan yang hanya dihadiri beberapa orang sebagai saksi, berakhir dengan tangisan dari ibu dan anak ini.


Tuan Fernandez sebenarnya tidak tega, tapi demi keselamatan putrinya dia terpaksa menyetujui.


Suatu ketika datanglah peristiwa mengenaskan itu, yang membuat Jasmine harus merasakan trauma, dan membenci laki-laki yang hampir membuatnya kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya.


Jasmine sedang berada didalam kamarnya ketika pria brengsek itu datang dan mencoba merusak hidupnya.


Pria yang baru beberapa hari lalu menjadi tunangannya itu menyerangnya, memaksanya untuk mengambil kesuciannya. Dia meremas kedua ***********, dan merobek bajunya.


Jasmine marah dan mencoba berontak tapi pria brengsek itu membungkamnya dengan ciuman dan membekap mulutnya.


Jasmine berteriak minta tolong tapi rumah dalam keadaan sepi, ayah dan ibunya sedang keluar kota, para pelayanpun seperti tidak ada yang peduli.


Ketika akan menyentuh bagian kewanitaannya, Jasmine tersentak dan mencoba melawan dengan menendang *********** hingga pria itu kesakitan.


Jasmine berhasil pergi melarikan diri dari cengkraman pria itu dan berlari sekuat tenaganya hingga tanpa sadar dia hampir tertabrak mobil yang berjalan kearahnya.


Mobil itu berhenti mendadak, dan ketika keluar ternyata kedua orang tua Jasmine yang langsung pulang begitu acara selesai karena merasa ada yang tidak beres.


Ibu Jasmine melihat kondisi putrinya sekarang, dengan baju yang robek dan terus menangis. Mereka lalu pergi ketempat lain, karena Jasmine tidak mau diajak pulang kerumah.


Untuk sementara mereka tinggal dirumah sederhana peninggalan orang tua nyonya Fernandez. Keesokan harinya setelah keadaan Jasmine lebih tenang, ayahnya bertanya apa yang sudah terjadi padanya.


Jasmine lalu menceritakan semuanya, termasuk bagaimana dia mendapatkan beasiswa tersebut. Kedua orang tua Jasmine akhirnya menyetujui, karena sudah pasti keamanan Jasmine lebih penting.


Tuan Fernandez yakin lambat laun mereka akan melakukan cara kotor untuk membuat usahanya jatuh dan tak perlu waktu lama semua usahanya dibuat bangkrut dan dia terpaksa harus melepas usaha yang sudah dirintisnya dengan susah payah.


Mereka mengambil semuanya, rumah, perusahaan dan juga mobil mewah. Mereka bahkan tidak diperbolehkan membawa satu pun barang yang ada dirumah ini, kecuali baju.


Mereka pun pergi dari rumah itu dan tinggal dirumah milik ibu Jasmine. Sejak awal tuan Fernandez sudah curiga bahwa kejadian ini memang disengaja.


Bahkan saat Jasmine dilecehkan tidak ada satupun pelayan dirumah itu. Untung saja tuan Fernandez berhasil menyelamatkan miliknya yang berharga agar kelak tidak jatuh ke tangan orang serakah seperti saudara angkatnya.


Dan harta itu juga yang kelak akan jadi milik Jasmine, untuk masa depannya. Pantas saja mereka memaksa melamar Jasmine agar bisa menguasai seluruh harta peninggalan orang tuanya.


Setelah kehilangan semuanya bersamaan, tuan dan nyonya Fernandez sepakat membuka toko roti disekitar tempat tinggal nya yang baru demi menyambung hidup.


Mereka sengaja melakukan itu agar saudaranya tidak curiga. Beberapa rekening milik perusahaan dan pribadi tuan Fernandez berhasil dibekukan hanya rekening milik istrinya yang tidak terlacak, karena menggunakan nama lain.


###


Jasmine yang sempat trauma dan shock dengan kejadian tersebut perlahan pulih dan mencoba menata hidupnya. Meski kini dia dijauhi oleh teman-temannya karena fitnah dari orang yang membuat keluarganya bangkrut.


Jasmine tidak masalah, karena baginya semua itu tak ada artinya dibanding kebebasannya. Untuk sementara Jasmine bebas, karena mereka tidak akan melukainya.


Ketika akan melepas Jasmine pergi ke kota impiannya di ibukota, ayah dan ibunya memberi nasehat agar Jasmine selalu waspada dan berhati-hati dimanapun berada.


"Ingatlah, tidak semua pria itu brengsek, tidak semua pria itu jahat. Terkadang sikap mereka menyebalkan, dan membuatmu marah tapi mereka akan berubah, bersikap lembut dan perhatian pada wanitanya." ibu Jasmine berkata, dia menatap putrinya dan membelai rambutnya. Mereka berdua berpelukan lama seolah tidak akan bertemu lagi.


"Jika suatu saat kamu menemukan pria itu, maka belajarlah mencintainya, dia akan menjadikanmu ratu dalam hidupnya, dan berbahagialah. Kamu berhak bahagia seperti kami." ayah Jasmine menambahi, dia juga ikut berpelukan dengan istri dan anaknya.


Hingga bis yang akan membawa Jasmine pergi ke ibukota datang, mereka berdua mengantarkan Jasmine dengan air mata. Jasmine berjanji akan bersikap baik, belajar yang baik dan membuktikan bahwa dia layak mendapatkan beasiswa.


Terbukti nilainya tidak pernah turun bahkan selalu jadi juara, dan karena itu pula dia diterima dikampus favorit dan mendapatkan beasiswa hingga menyandang predikat cum laude.


Flashback off