Savage Love

Savage Love
#50



Setelah menikmati makan direstoran terapung, Jordan mengantarkan Jasmine pulang ke flat nya.


Jasmine sudah lama meninggalkan flatnya, dia sudah tidak sabar ingin menikmati nyamannya tidur di kasurnya lagi.


Jordan menurunkan Jamie di depan lobi perusahaannya, kali ini dia akan menyetir sendiri mobilnya ke flat Jasmine.


Sekaligus dia ingin menikmati waktunya bersama Jasmine sebelum gadis itu bekerja sore ini.


Jasmine ingat jika dia tidak memiliki apapun diflatnya, bahkan stok sabun mandi dan pasta giginya pun sudah habis.


Apalagi Jordan suka tiba-tiba datang ke flatnya, dan tidur disana. Dia ingin agar Jordan merasa nyaman disana, seperti dia nyaman tinggal bersama Jordan di penthouse nya.


Jasmine mengajak Jordan untuk mengantarkannya ke supermarket terdekat untuk berbelanja.


Jasmine juga ingat bahwa tidak ada stok makanan di penthouse, bahkan mie instan pun tak ada.


Jasmine tahu Jordan pun pasti tidak mengetahuinya. Karena yang biasa mengisi stok makanan di lemari pendingin atau di dapur adalah pelayan.


Sudah lama Jasmine tidak berbelanja, dia ingin memilih sendiri apa saja yang dia inginkan.


Jordan menyetujui ajakan Jasmine, hari ini dia ingin menikmati quality time nya bersama Jasmine agar mereka lebih mengenal satu sama lain.


Jordan tahu Jasmine masih belum sepenuhnya percaya padanya, bahkan terlihat masih meragukan perasaan Jordan padanya.


Jordan ingin membuktikan bahwa dia benar-benar tulus, perasaan cintanya nyata adanya.


Jordan tidak peduli dengan penilaian orang padanya, yang masih menganggapnya seorang pemain wanita.


Dia tidak peduli, yang dia inginkan hanyalah agar Jasmine menjadi satu-satunya wanita dalam hatinya, yang akan selalu menjadi kekasih hatinya bukan sekedar wanita penghangat ranjangnya.


Mungkin banyak yang akan mencibirnya, dan mengatakan dirinya egois. Tidak terlalu memusingkan kemungkinan yang akan terjadi nanti, dia hanya ingin menjalani harinya dengan Jasmine saat ini.


Jordan melajukan mobilnya kemudian berbelok ke arah supermarket yang ada di ujung jalan itu. Sebelum keluar dari mobil, Jordan melepas jas yang melekat dibadannya.


Jas mahal dari salah satu desainer ternama dunia, yang terbuat dari kain wol kualitas terbaik.


Aroma tubuhnya melekat disana, Jasmine tak sengaja mencium baunya saat Jordan meletakkan jasnya di jok belakang.


Jordan juga melepas dasinya, membuka kancing teratas kemeja putih yang dikenakannya.


Meletakkan dasinya disamping jas mahalnya, setelah itu dia menyugar rambutnya menjadi sedikit berantakan.


Menggulung kedua lengan bajunya sampai ke batas sikunya, tak lupa mengambil kacamata hitamnya di dashboard.


Jordan lalu membetulkan kaca depan mobil menghadap kearahnya, memperhatikan penampilannya sendiri.


Jasmine tak berhenti berkedip, penampilan berantakan saja sudah cakep, apalagi rapi.


Aahhh...


Jasmine gemas, bagaimana ada makhluk ciptaan Tuhan sesempurna ini. Bagaimana tidak, melihat nya sekilas dengan jarak sedekat ini membuat Jasmine sudah terpesona.


Pantas saja Jordan banyak digilai oleh wanita-wanita yang selalu mengejarnya. Sejak lama Jordan memang terkenal dengan pribadi yang humble dan menyenangkan.


Hanya saja Jordan memang tidak banyak teman yang bisa dekat dengannya, tapi Jordan tak pernah memilih-milih dalam berteman.


Dia tak pernah memandang seseorang karena status atau kekayaannya, Jordan bahkan sering terlihat di berbagai acara amal yang dilakukan di kampusnya.


Jasmine tahu itu, karena Jordan sangat terkenal dikampusnya. Selalu ada prestasi yang berhasil diperolehnya.


Baik secara akademis maupun non akademis, selain nilai IPK yang diperolehnya. Jordan juga dikenal sebagai jago basket, karate dan renang.


Pernah menjadi idola kampus karena pernah menjuarai kejuaraan antar mahasiswa dan berhasil membawa pulang banyak medali.


Jasmine termasuk salah satu pengagum rahasia nya kala itu, tapi sadar diri akan statusnya Jasmine memutuskan untuk melupakan idolanya.


Meskipun Jordan dan Jasmine lain jurusan, dan beda angkatan tapi kampus mereka berdekatan.


Jordan sudah selesai dengan penampilannya sekarang dia sudah siap keluar, tapi melihat Jasmine masih menatapnya tanpa kedip, membuat Jordan menyunggingkan senyumnya.


"Aku tahu aku tampan, tapi kita harus belanja agar kamu bisa segera bekerja."


Jordan menyentuh pipi Jasmine, membuat gadis itu tersadar. Rona merah pipinya terlihat, Jordan mendekatkan bibirnya ke bibir Jasmine.


Mereka berciuman singkat, karena Jordan segera menyudahinya. Dia tidak ingin Jasmine akan mengomelinya karena membuat waktunya terbuang.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan, lebih tepatnya Jordan lah yang menggenggam tangan Jasmine.


Mereka berjalan meninggalkan parkiran menuju supermarket, penampilan Jordan memang sudah tidak terlalu mencolok, tapi tetap menjadi sorotan.


Banyak mata melihat kearah mereka, mereka mengenali siapa yang sedang berjalan bersama Jasmine saat ini.


Seorang CEO perusahaan terkenal dan banyak digandrungi wanita. Jasmine merasa tidak percaya diri karenanya.


Seolah memandangnya sebelah mata, Jordan terus menggenggam tangan Jasmine tak sedikitpun ingin melepaskannya.


Jordan seolah menjaga harta paling berharganya, tidak mau sampai lecet apalagi kecolongan.


Mereka mulai berbelanja, mengambil troli dan mengisinya dengan berbagai bahan makanan. Aneka daging sapi dan ayam dengan berbagai potongan, ikan segar dan fillet nya, sayuran, dan buah-buahan.


Mereka juga memasukkan susu, keju, roti dan juga mie instan. Jasmine beberapa cup mie instan berbeda rasa.


Mereka mengambil troli kedua karena troli pertama sudah hampir penuh, tak lupa mereka juga mengambil air mineral botol dan juga soda.


Beberapa camilan berupa keripik kentang, kacang kulit dan kuaci juga masuk dalam keranjang belanja.


Hampir saja mereka melupakan bagian perlengkapan mandi. Jordan mengambil troli ketiga dan mengisinya dengan sabun cair, pasta gigi, dan juga shampoo.


Acara belanja kali ini benar-benar menguras tenaga, tapi tak nampak wajah lelah dari keduanya.


Mereka bahkan bersenda gurau, Jordan bahkan terang-terangan menggoda Jasmine. Sedari awal acara belanja itu seperti memindahkan isi supermarket ke rumah mereka.


Hampir semuanya Jordan masukkan kedalam keranjang. Seandainya Jasmine tidak menyortirnya Jasmine yakin keranjang belanja mereka akan lebih dari tiga troli.


Jordan tertawa ketika Jasmine mengomelinya, mereka tampak seperti pasangan suami istri yang baru saja menikah dan pindah kerumah barunya.


Jordan mendorong kedua troli bersamaan, sedangkan Jasmine mendorong satu troli yang isinya hampir tumpah karena banyaknya isi.


Saat akan melewati lorong menuju kasir, dua orang pekerja supermarket itu datang mendekati.


Membantu mereka membawakan keranjang belanjaannya. Satu orang pekerja swalayan datang membantu.


Jasmine dan Jordan membiarkan mereka membawakan keranjangnya. Mereka bukan tidak tahu jika Jordan adalah salah satu pemegang saham terbesar bahkan dia adalah cucu pemilik supermarket ini.


Sedari awal Jordan sudah memberi kode pada mereka untuk tidak mendekat, kecuali Jordan memintanya.


Tapi melihat bos mereka tampak kesulitan, tanpa dikomamdo mereka langsung mendekat.


Mereka sangat kompak karena salah satu penilaian kinerja mereka dilihat dari pelayanan mereka pada tanpa melihat status.


Setiap pelanggan atau pembeli yang merasa kesulitan wajib mereka layani, karena motto dari supermarket itu adalah "pelayan terbaik adalah semangat kami".


Jordan dan Jasmine berjalan bergandengan dibelakang mereka menuju kasir, Jasmine tidak menyangka jika belanja mereka sangat banyak.


Bagaimana dia akan membayarnya, Jasmine bahkan menghela napasnya saat melihat belanjaannya.


Jordan tahu apa yang ada dalam pikiran Jasmine, tampaknya gadis ini belum begitu mengenal siapa Jordan.


Kasir mulai menghitung belanjaan mereka, dan total belanjanya cukup mencengangkan. Setara dengan gajinya di restoran selama enam bulan plus bonusnya.