Savage Love

Savage Love
#51



Acara belanja kali ini benar-benar seru, Jasmine sampai heran ketika melihat keranjang belanja mereka hingga tiga troli.


Jordan sudah membayar semua belanjanya, dia menggunakan kartu berwarna hitam yang tanpa limit, atau biasa dikenal dengan nama black card.


Tidak sembarang orang bisa memilikinya, karena hanya orang tertentu saja yang mampu mendapatkan kartu istimewa tersebut.


Jordan mengajak Jasmine berjalan menuju mobil mereka, para karyawan supermarket tadi juga masih setia mengikuti di belakang mereka.


Membawakan beberapa kantung belanja yang mereka letakkan di troli agar memudahkan mereka untuk membawanya.


Jordan membuka bagasi mobilnya, mereka meletakkan barang belanjaan tadi disana. Merasa tidak cukup tempat, Jordan membuka pintu mobil bagian penumpang, memindahkan jas dan dasi yang tadi dipakainya ke bangku depan.


Semua barang belanja sudah masuk ke dalam mobil, mobil jadi penuh seketika. Jordan membukakan pintu mobil untuk Jasmine. Meski Jasmine bisa melakukannya sendiri, Jordan tetap membukakan pintu untuknya.


Setelah Jasmine duduk dan memasang sabuk pengamannya, Jordan menutup pintu dan berjalan memutar menuju kursi pengemudi.


Jasmine mengambil Jas dan dasi hubby nya yang tadi diletakkan disana. Jordan membuka pintu dan masuk.


Jordan melihat jasnya ada di pangkuan Jasmine. Jordan mencium pipinya dan berterima kasih.


Mereka lalu meninggalkan super market itu dan menuju ke flat. Setelah memarkirkan mobilnya Jordan membuka pintu bagasi agar Jasmine bisa mengambil belanjaannya.


Tidak banyak yang dia bawa hanya bahan makanan dan perlengkapan untuk mandi. Jordan mengambil beberapa kantung belanja lagi.


Mereka berdua berjalan menuju kamar Jasmine. Setelah pintu terbuka, mereka meletakkan belanjaan itu di meja makan.


Jasmine lalu berjalan menuju kamarnya, meletakkan tasnya dan mengambil sapu tangan untuk mengikat rambutnya.


Jasmine mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda, menampakkan leher jenjangnya dan itu menarik perhatian Jordan untuk mendekat.


Jordan menciumi Jasmine dari belakang lehernya, Jasmine merasa geli sekaligus terangsang.


Ciuman itu berpindah ke bagian depan leher dan naik ke bibir ranum Jasmine. Mereka saling membalas, dan saling mengecap.


Jasmine menikmatinya, setiap ciuman yang Jordan berikan sudah bisa dia imbangi. Jasmine semakin lihai membalas perlakuan Jordan.


Ciuman itu tidak berlangsung lama, Jasmine segera mengakhirinya karena ingin segera menyelesaikan acara bersih-bersihnya.


Jasmine memukul dada Jordan pelan, dia akan terus melancarkan aksinya jika tidak segera diakhiri.


Jordan tersenyum puas, pelajaran yang dia berikan pada Jasmine semakin lama semakin bagus.


Jasmine sudah tidak canggung lagi untuk membalas ciumannya, berarti pelajaran tahap berikutnya bisa segera dia laksanakan.


Jordan tersenyum nakal dan mengerlingkan matanya pada Jasmine. Jordan tidak ingin mengganggu acara bersih-bersih Jasmine.


Dia memilih naik ke atas ranjang dan rebahan disana, memainkan ponselnya dan membuka email yang dikirim kan oleh Jamie asistennya.


Jasmine membersihkan seluruh ruangan flat yang sudah lama dia tinggalkan. Mulai dari dapur hingga menyusun bahan makanannya di lemari pendingin, meletakkan perlengkapan mandinya di kamar mandi, membersikan sofa dan sudut ruangan dengan vakum cleaner.


Jasmine membersihkan kamarnya dan mendapati Jordan sedang terlelap dengan salah satu tangannya menutupi matanya.


Jasmine tak ingin mengganggunya, meski Jasmine mendengar ponsel nya berdering. Jasmine menyelesaikan acara bersih-bersihnya dengan cepat.


Dia lalu membersihkan dirinya dan bersiap untuk berangkat kerja. Jasmine sebenarnya tidak tega untuk membangunkan Jordan.


Tapi dia harus segera pergi agar tidak terlambat bekerja. Jasmine memilih menulis pesan diatas kertas dan meletakkan diatas ponsel Jordan.


Jasmine juga memberikan ciuman di bibir Jordan, dia lalu pergi meninggalkan hubby nya yang masih tidur.


Jasmine menutup pintu flatnya pelan, dia berjalan kaki ke restoran seperti yang biasa dia lakukan selama ini.


Jordan pasti tidak akan membiarkan gadis itu jalan kaki jika tahu Jasmine akan berangkat kerja.


Jasmine berjalan kaki sambil bersenandung, membuatnya tidak terasa capek. Berjalan dua puluh menit dengan cuaca yang masih panas meski menjelang sore.


Jasmine menyapa orang-orang yang dia kenal di sepanjang jalan. Jasmine dikenal sebagai pribadi yang supel bagi yang sudah mengenalnya.


Jasmine sudah sampai di restoran, dia langsung mengganti pakaiannya dengan seragam kerja.


Ternyata hari ini restoran sudah ada yang booking untuk acara makan malam. Sebagian ruangan privat di lantai dua sudah dihias sesuai keinginan pelanggan.


Jasmine kebagian shift malam, jadi otomatis dia akan ikut sibuk menjamu tamu spesial restoran ini.


Jordan sudah lama tidur, dia merasa sepi tidak mendengar suara Jasmine. Jordan melihat jam tangannya, pantas saja rupanya Jasmine sudah berangkat.


Jordan beranjak dari tidurnya, merenggangkan otot-ototnya. Jordan berniat bangun dari ranjang, melihat ada kertas diatas ponselnya.


Jordan membacanya dan tersenyum.


"Hubby, maaf jika aku pergi tanpa membangunkanmu. Aku harus segera sampai di restoran. Aku sudah menyiapkan handuk bersih di kamar mandi.


Sampai jumpa lagi, love you.


Jasmine"


Jordan ke kamar mandi dia membasuh wajahnya, dia harus segera kembali ke penthouse karena teringat dengan belanjaannya di mobil.


Setelah cuci muka Jordan berjalan ke arah dapur mengambil air mineral dilemari pendingin. Menegak minuman nya lalu mengambil kunci mobil dan ponselnya.


Jordan mengunci kamar flat Jasmine dan menuju parkiran. Jordan segera melajukan mobilnya ke penthouse yang jaraknya tidak begitu jauh dari sana.


Mobil Jordan sudah memasuki pelataran parkir di basement, seorang petugas security melihat Jordan mengeluarkan kantung belanja dari bagasi mobil.


Dia lalu berinisiatif mengambilkan troli yang ada didekat lift dan berjalan kearah Jordan. Dia membantu Jordan mengeluarkan semua belanjaannya di mobil.


Setelah itu petugas security mendorong troli menuju lift dan naik ke lantai paling atas letak penthouse Jordan berada.


Jordan berjalan dibelakangnya, dia naik lift berikutnya. Setelah sampai di lantai teratas, petugas security tadi masih setia menunggunya.


Jordan membuka pintu penthouse nya dan menyuruh security itu meletakkan barang-barangnya di pantry.


Petugas security itu mengerjakan perintah Jordan. Setelah selesai dan berniat mengundurkan diri, Jordan memberikan dia tip.


Petugas itu berterima kasih dan meninggalkan penthouse Jordan. Tidak sembarang orang bisa masuk kesana dia termasuk beruntung.


Terlebih saat Jordan memberinya tip, meski bukan itu tujuan dia membantu Jordan. Tapi CEO muda itu memaksanya, dan itu sangat berarti baginya.


Petugas security berusia paruh baya itu sangat senang karena uang itu bisa dia gunakan untuk membeli obat bagi putrinya yang sedang sakit.


Jordan menata belanjaannya, sayur, daging dan ikan yang sengaja diletakkan di tempat terpisah demi menjaga kesegarannya dia letakkan dibagian bawah lemari pendinginnya.


Sewaktu di supermarket dia sengaja meminta wadah khusus untuk daging dan ikan agar tetap segar dan tinggal memasukkan ke dalam freezer.


Jordan memang sudah terbiasa hidup sendiri, meskipun dia sibuk dan tidak ikut berbelanja segala kebutuhannya, tapi Jordan biasa memasak makanannya sendiri.


Terutama saat dia sedang libur, dia akan memasak makanannya sendiri dan sesekali mengundang teman-temannya.


Seperti hal nya Jordan, ketiga sahabatnya pun memiliki hobi yang sama. Sebenarnya mereka tidak terlalu pandai mengolah bahan makanan.


Hanya saja terbiasa hidup sendiri dan sering bepergian jauh membuat mereka sering merindukan masakan rumah dan memaksa mereka untuk memasak sendiri.


Karenanya mereka sangat menghargai masakan orang lain. Bagi mereka menjadi CEO perusahaan terkenal adalah suatu keberuntungan karena mereka bisa makan apapun yang mereka mau, berapapun harganya.