
Jordan menggandeng tangan Jasmine, meski sempat menolak tapi kekuatan Jasmine tidak ada apa-apa nya dibanding laki-laki ini.
Mendekati meja yang lebar dan berada di pojok ruangan yang penuh dengan bermacam-macam jenis bunga segar, dan wangi yang semerbak. Jordan meminta gadis itu untuk mengambilkan buket bunga mawar yang ada disana.
Jasmine yang awalnya bingung dengan permintaan pria tampan dihadapannya ini lalu mengerutkan dahi. Pasalnya bunga-bunga yang ada disini adalah pesanan yang siap diambil pemiliknya.
"Tidak perlu curiga begitu, aku hanya mengambilkan pesanan buket milik nyonya Smith dan itu ibuku. Bukankah disitu sudah ada tulisannya, nona."
Jordan seakan tahu apa yang ada dalam pikirannya, meski tidak sepenuhnya percaya yang dikatakannya, gadis itu tetap mengambilnya.
Bunga mawar merah yang tadi sempat membuatnya terluka karena durinya. Nyonya Daniel memang tidak menyebutkan siapa nama pemesan buket itu.
Bahkan kartu ucapannya juga baru saja ditempelkan oleh pemilik toko. Karena itu dia sedikit curiga karena pria ini justru lebih tahu pesanannya.
"Tidak usah melihatku seperti itu nona, aku tahu aku sangat tampan, dan semua orang mengakuinya."
Jordan mulai narsis, Jasmine bahkan tidak percaya pada media yang memberitakan bahwa CEO bertangan dingin ini dikenal angkuh dan arogan.
"Ternyata selain sombong, anda juga orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, tuan" Jasmine.
"Terima kasih atas pujiannya." Jordan tersenyum manis membuat siapapun yang melihat meleleh karenanya.
Jasmine menatap Jordan, dan pria ini malah mengedipkan sebelah matanya. Raut merah muda terpancar diwajah cantiknya.
"Oh tidak..ini tak boleh terjadi, aku bisa terjebak dalam pesonanya."
Jasmine membatin, dirinya tidak ingin jatuh dalam pesona seorang Jordan yang dikenal sebagai seorang casanova.
"Mari kita selesaikan pembayarannya."
Jordan memberikan sebuah kartu limited edition miliknya. Jasmine yang seumur hidup baru melihat kartu debit tanpa batas ini pun tercengang. Mulutnya bahkan sedikit terbuka, saat memegang kartu itu.
"Hei nona, disini bisa menggunakan debit kan, karena aku tidak membawa uang cash."
Jordan menepuk bahunya, gadis itu tersentak kaget. Dan buru-buru menetralkan kekagumannya.
"Orang ini benar-benar kaya, bahkan di dompetnya masih ada beberapa kartu lagi yang seperti ini." gumam Jasmine
Meskipun tidak setiap hari dia melayani pembeli yang menggunakan kartu debit atau kredit, tapi Jasmine tahu cara menggunakan pembayaran menggunakan kartu seperti ini.
Jasmine berjalan menuju meja kasir, karena nyonya Daniel tidak nampak disana. Jasmine mengambil nota pembayaran pesanan untuk ditanda tangani oleh Jordan.
Kemudian mulai melakukan transaksi pembayaran, dan menyerahkan kembali kartu tersebut.
"Terima kasih" Jasmine mengucapkan sambil tersenyum. Karena pelayanan yang baik dan ramah adalah motto kerjanya. Meski dia harus dibuat kesal terlebih dulu oleh konsumen nya kali ini.
Nyonya Daniel datang sesaat kemudian. Dia pun menyapa Jordan. Jasmine menatap keduanya, ternyata mereka sudah saling kenal. Obrolan mereka pun berakhir ketika Jordan mengutarakan niatnya.
"Aunty, aku ingin meminjam karyawan cantikmu ini sebentar. Aku ingin meminta bantuannya." Jordan membisikkan sesuatu pada Nyonya Daniel.
"Apakah boleh?" tanya Jordan, nyonya Daniel tersenyum dan mengangguk, menandakan setuju.
"Oke, kalau begitu kami permisi dulu." jordan
"Silahkan, titip salam untuk mommymu. Katakan padanya, aku merindukan kebawelannya." nyonya Daniel tertawa, Jordan mengangguk dia sangat tahu bagaimana mommy nya itu.
Jordan memasukkan kartu tadi kedalam dompetnya, dia lalu mengambil bunga yang sedari tadi diletakkan di meja kasir.
Jordan lalu mencium pipi nyonya Daniel, lalu menyeret tangan Jasmine. Jasmine sontak kaget pasalnya sejak menyerahkan kartu limited itu pada pemiliknya, Jasmine memilih pergi mengambil bunga lily yang tadi sempat dipegangnya sebelum Jordan datang dan mengacaukan pekerjaannya.
Jasmine melotot, dia tidak suka jika diperlakukan kasar seperti ini. Tangannya mencoba lepas dari pegangan Jordan. Jordan menghentikan langkahnya dan berbalik, melepaskan pegangannya, melihat gadis sapu tangan itu mengacak pinggang.
"Apa anda tahu, anda sudah berbuat kasar padaku tadi, dan aku bisa melaporkanmu ke polisi, tuan muda yang angkuh."
Jasmine terlihat marah, bahkan dadanya terlihat naik turun, membuat dua benda kenyal miliknya terlihat menantang. Jordan lagi-lagi tersenyum, dia senang membuat gadis itu kesal.
Melangkah mendekat dan cup, lagi Jordan membuat pipi Jasmine memerah. Dia mengecup bibir mungil yang terlihat menggodanya.
Jordan bahkan membuat Jasmine malu, karena dia menciumnya lagi dan kali ini di depan pemilik toko bunga itu. Entah bagaimana dia menyembunyikan wajahnya yang terlihat malu.
"Kau..." Jasmine menunjuk Jordan, semakin kesal dia melihat tingkah tuan muda ini, tapi Jordan justru menanggapinya dengan tertawa kecil.
"Kamu akan ikut aku pulang dan memberikan bunga ini untuk mommy, dan sebelumnya ikut aku untuk membelikannya sebuah kado buat mommy."
Jordan mendekat dan membuka apron Jasmine, gerakannya persis seperti adegan orang berciuman, mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Wangi tubuh membuat Jasmine terlena.
Jordan berhasil membuka apron, dia melipat apron itu dan meletakkannya begitu saja di meja kasir. Masih menunggu si gadis bereaksi.
Jasmine ingin menolak karena masih ada beberapa buket bunga yang belum selesai. Dia merasa tidak enak pada nyonya Daniel jika harus meninggalkannya sendiri.
"Tapi aku masih banyak pekerjaan, lihatlah beberapa buket belum selesai dirangkai dan akan diambil sore ini." Jasmine
"Sudah tidak apa, tinggalkan saja. Nanti aku yang akan menyelesaikannya sayang, pergilah dia lebih membutuhkanmu."
Nyonya Daniel datang mendekat dan memberikan beberapa tangkai bunga mawar soft pink pada Jordan.
"Tapi anda akan sendirian nyonya, aku tak tega meninggalkanmu dengan banyak pekerjaan." ucap Jasmine
Nyonya Daniel tersenyum dan meraih tangan Jasmine, mengelusnya pelan.
"Tak apa, sebentar lagi suamiku akan tiba. Dia sedang dalam perjalanan kemari. Nanti kami akan menyelesaikannya." nyonya Daniel.
"Baiklah jika kau memaksa, aku akan segera kembali dan menyelesaikan pekerjaanku." Jasmine meletakkan aproan yang tadi dipakainya ditempat biasa. Dia tidak suka barang-barang berserakan.
Jordan hanya memperhatikan mereka berdua, matanya tidak lepas dari Jasmine, meski dia sibuk menciumi mawar pink yang tadi dipesan pada nyonya Daniel secara mendadak.
"Tidak sayang, kamu akan lama. Dan kemungkinan kami sudah tutup, jadi sebaiknya kamu bawa sekalian barang belanjaanmu lalu ikut dia."
Nyonya Daniel mengambilkan barang belanjaan milik Jasmine yang diletakkan di rak belakang meja, dan Jasmine mengambilnya dari tangan nyonya Daniel. Dia ingat belum memberikan roti pemberian pemilik toko yang tadi dibawanya.
"Hampir lupa, ini ada titipan dari nyonya Rafael. Baiklah aku pergi dulu, telpon aku jika anda butuh bantuan. Aku akan segera kembali."
Jasmine menyerahkan beberapa roti yang dia bawa pada nyonya Daniel, dan mencium pipi wanita paruh baya ini.
Jordan tersenyum dan melambaikan tangan pada nyonya Daniel. Dia senang rencananya berjalan mulus.
"Bye aunty, and thank you" ucap Jordan sebelum meninggalkan toko.
Dia kembali menggenggam tangan Jasmine. Jasmine yang kembali digenggam hanya melirik, kali ini tidak sekasar tadi.
Jordan sudah mulai terbiasa dengan sikap gadis ini yang cuek, dan sedikit tomboi. Dia senang karena kali ini tidak ada penolakan darinya.
Dia tidak perduli jika dirinya akan jadi sasaran kemarahan nona sapu tangan yang membuatnya terlihat lucu. Bahkan dia ingin selalu menciumnya jika melihat muka kesal Jasmine yang membuatnya semakin menggemaskan.
###
Terimakasih yang sudah mampir, jangan lupa like, komen dan vote ya.