
Jordan meninggalkan Jasmine yang tidur seperti orang mati karena tidak sekalipun bangun atau bergerak.
Dia terlalu lelah mungkin sampai tidak ada gerakan apapun. Hanya dengkuran halus yang terdengar.
Jordan mengendarai mobil sport nya menuju club, dengan teman-teman yang sudah menunggunya.
Tak butuh waktu lama akhirnya dia sampai di club. Penjaga sudah hapal jadi tanpa banyak kata, Jordan langsung masuk menemui kawan-kawannya.
"Akhirnya kamu datang juga." Adam
"Bagaimana keadaan gadismu?" tanya Adam lagi.
Jordan mendengus, mau tidak mau akhirnya dia menceritakan semuanya. Termasuk bagaimana dia harus membuat juniornya tidur kembali setelah melihat pemandangan indah itu.
Benar saja semua serempak menertawakannya, terutama si bungsu Zack yang selalu punya cara membuat kawannya mati kutu.
Tapi tawa mereka berhenti saat Adam mengatakan kejadian itu akan sangat bahaya jika dibiarkan.
Yang lain mengangguk setuju, Jordan hanya diam mendengarkan penjelasan Adam. Jika saja Jordan tidak segera menemukannya, entah bagaimana nasib gadis itu sekarang.
Jordan menyugar rambutnya, dia terlihat gelisah. Jordan tidak menyentuh minumannya sedikitpun, bahkan dia beranjak pergi meninggalkan mereka.
Pikirannya tidak tenang meninggalkan Jasmine sendiri, dia ingin secepatnya bertemu gadis itu. Gadis sapu tangan.
Gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, meski Jordan tidak tahu apa yang sebenarnya membuatnya tertarik.
Saat pertama kali melihatnya di pesta dansa, gadis itu terlihat menjauh dan tak ingin bergabung dengan yang lain.
Disaat gadis-gadis lain berlomba-lomba menarik perhatiannya, dan teman-teman nya, dia malah asyik sendiri mencicipi satu persatu kue dan makanan yang disajikan.
Bahkan disaat sahabatnya berdansa dan berbincang mesra dengan seorang pria, Jasmine hanya sibuk mengambil makanan dan minuman.
Gadis yang sama sekali tidak terlihat jaim, bahkan dia mengakui jika dirinya sangat suka makanan manis.
Benar-benar gadis yang langka, jika yang lain berlomba-lomba untuk diet ketat demi mendapatkan bentuk tubuh yang ideal, Jasmine malah sebaliknya.
Seperti tidak takut badannya terlihat gemuk karena makan makanan manis. Dan itu membuat Jordan tertarik, tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan tetap langsing meskipun gemar makanan manis.
Jordan tersenyum saat ingat bagaimana pertama kali dia mendapati gadis itu menabraknya dengan mulut penuh potongan kue tart, bahkan sempat Jordan cicipi manisnya buttercream yang menempel dibibirnya.
Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, meski kita tidak tahu persis siapa dia.
Jasmine bukan tipe gadis yang suka merias wajah bahkan jika dilihat dari gaya berpakaiannya dia termasuk gadis tomboy.
Lebih suka memakai kemeja kebesaran, kaos oblong dan celana jeans. Suatu keberuntungan Jasmine berteman dengan Chelsea, seorang model papan atas dan berasal dari kalangan konglomerat.
Chelsea berhasil merubah image gadis tomboy pada dirinya menjadi gadis manis, walaupun tetap tidak menyukai polesan di wajahnya.
Hanya riasan sederhana yang membuatnya tampak cerah. Mungkin dengan sedikit polesan dari ahlinya akan memperlihatkan betapa cantiknya dia.
Dan semakin mengenalnya, Jordan semakin menyukainya. Gadis yang bahkan jarang tersenyum itu mulai menunjukkan keceriaannya, ya tentu saja lewat kekesalannya pada Jordan.
###
Jordan membuka pintu kamarnya melihat keadaan Jasmine. Gadis itu masih tidur pulas, dia tak merasakan jika sedang disentuh saat ini.
"Kamu seperti orang mati jika tidur gadis manis. Bagaimana jika tadi aku terlambat menemukanmu."
Jordan membelai pipi dan mengusap rambut Jasmine. Sesekali mencuri ciuman dibibir ranum nya.
Jordan membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Bau asap rokok yang didapatnya saat berada di club tadi membuatnya harus mandi lagi.
Setelah membersihkan dirinya, Jordan bergabung dengan Jasmine dan memeluknya. Mencium kening gadisnya dan memejamkan matanya.
Jasmine merasakan hangatnya pelukan Jordan, dia semakin merapatkan tubuhnya. Jordan tersenyum, dia tahu Jasmine sudah merasakan nyaman bersamanya.
Keduanya tertidur dalam pelukan hangat, hingga pagi menjelang.
###
Jasmine membuka matanya saat sinar matahari menerobos masuk disela jendela kamar.
Tangannya mendekap tubuh seseorang yang aromanya sudah dikenali hidungnya. Jasmine tersenyum. Dia menengadah memperhatikan lekuk wajah yang sekarang selalu menemani harinya.
Tangan kanannya menyentuh rahang tegas yang sudah ditumbuhi bulu halus dan membuatnya geli.
Tangan Jasmine berpindah menyentuh dahi dan menuruni lekuk hidung mancung, lalu turun ke bibir tipis yang suka sekali mencuri ciuman dari nya.
Bibir Jasmine tersenyum, sedikit memdongak dan mendaratkan kecupan disana. Tangan Jasmine masih bermain di wajah Jordan.
Kepalanya kembali turun ke dada bidang yang menjadi sandarannya. Jasmine mulai merasa tergantung padanya, merasa aman saat bersamanya, dan tenang hingga membuatnya tidur nyenyak tanpa bantuan apapun.
Senyum terukir dibibir tipis yang sedari tadi jadi mainan Jasmine. Matanya pun terbuka, tapi saat merasakan Jasmine melihat kearahnya dia pura-pura terpejam.
Jordan sudah bangun sejak tadi, saat Jasmine bergerak tak tentu diatas dadanya. Jordan menggigit bibirnya saat Jasmine mulai memancing gairahnya.
Sejak tadi juniornya sudah terjaga dari tidurnya, tapi masih diam saja, dan ketika Jasmine mencium bibirnya dengan tangan yang masih bermain diwajahnya mesmbuat junior makin tegak.
Jordan mengumpat dalam hati, berharap agar Jasmine tidak melakukan lebih dari ini. Tapi harapannya pupus saat gadis itu menciumi dada bidangnya, tangannya pun tak berhenti bergerak disana.
Jordan tak kuasa lagi menahan, hingga tangan kekarnya menangkap jemari Jasmine dan menggenggamnya.
Menciumnya agar berhenti membangunkan junior yang mulai merasa sesak dibawah sana, apalagi dengan kancing atas pakaian Jasmine yang terbuka dan menampakkan dua benda kenyal yang selalu dia mainkan.
Lagi-lagi Jordan mengumpat kasar, dia sudah tidak tahan untuk mencium bibir kenyal yang menjadi candunya.
Tangan Jasmine terkunci dalam genggamannya, tapi tubuhnya tak berhenti bergerak sehingga Jordan tak kuasa lagi untuk diam.
Jordan melu*** bibir Jasmine, mengecap dan saling bertukar saliva. Jasmine sudah bisa mengimbangi ciuman panas Jordan. Meski belum se profesional mantan-mantan atau teman ranjangnya yang lain.
Keduanya tak berhenti bahkan saling meraba tubuh masing-masing, hingga Jordan bangun dan membawa Jasmine ke kamar mandi masih dengan posisi mereka tadi.
Jordan menurunkan Jasmine dan meletakkanya dibawah shower, mereka mandi bersama. Dengan Jordan yang harus susah payah menjaga agar juniornya tidak membuat kesalahan.
Kegiatan panas itu berhenti saat keduanya sama-sama mandi. Mereka mandi dengan baju yang masih melekat ditubuh mereka, Jasmine sedikit menggoda Jordan dengan melakukan gerakan yang memancing gairahnya.
Jordan mengumpat, dia sudah masuk dalam jebakan gadis itu, hingga akhirnya Jordan menyelesaikan mandinya lebih dulu dan keluar dari sana.
Jordan menggunakan jubah mandinya terburu-buru dan keluar menuju kamar lain di penthouse nya. Dia memilih menyelesaikan ritual mandinya disana.
Jasmine tertawa puas berhasil memancing Jordan dan membuatnya kesal. Gadis itu lalu menyelesaikan mandinya.
Jasmine langsung menuju walk in closet, mengambil baju Jordan untuk sementara, karena nanti dia akan mengganti baju di flatnya.
Betapa kagetnya dia saat membuka lemari, disana sudah tersusun rapi gaun dan dress yang sesuai dengan ukurannya, bahkan lengkap dengan pakaian dalamnya.
Semua yang berhubungan dengan Jordan adalah kejutan, kapan dia mempersiapkannya Jasmine tidak tahu, hanya saja membuatnya sedikit malu karena semua pakaian itu sesuai dengan ukurannya.
Benar-benar seorang pemain wanita sejati dia, hingga tahu ukurannya hanya dengan melihatnya saja.
Bersambung