
"Wifey...tolong siapkan bajuku, sebentar lagi akan ada pertemuan dengan tuan Exel."
Teriak Jordan dari kamar mandi. Sebenarnya tanpa disuruh pun Jasmine sudah menyiapkan semua perlengkapan suaminya. Karena sejak sebelum menikah Jasmine sudah menyiapkan semua keperluan suaminya.
"iya..." jawab Jasmine.
Dia memilih untuk menunggu suaminya selesai mandi lebih dulu, karena jika mereka mandi bersama pasti akan lama.
Dan Jasmine harus melayani suaminya lagi disela acara mandi mereka. Tak lama Jordan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Rambut yang sedikit basah, dan sisa airnya masih menempel di tubuh tegap dan dada bidang itu.
Jasmine merona, meskipun mereka sudah menikah dan sudah mengenal anggota tubuh pasangannya, tapi Jasmine masih seperti orang yang baru saja berhubungan.
"Oh my... lihatlah tubuh kekarnya, bagaimana bisa dia begitu sempurna seperti itu." batin Jasmine masih melihat kearah suaminya.
Jordan melenggang kearahnya, bahkan gerakan Jordan itu seakan menggoda Jasmine untuk mendekat.
"Sial..."
Jasmine menoleh kearah lain saat suaminya membuka handuk di depannya. Jasmine tidak munafik, semua yang ada pada suaminya adalah maha karya sempurna dari Tuhan.
Semakin Jasmine berpura pura semakin puas Jordan menggodanya, Jordan bukan tidak tahu jika istrinya masih malu melihat tubuh polosnya.
Sudah seminggu mereka menjalani biduk rumah tangga, mereka bahkan tak pernah absen melakukan adegan pemersatu bangsa tanpa mengenal waktu.
Tapi Jasmine masih saja malu, hingga terbesit ide untuk mengerjai istrinya tersebut.
"Honey, wifey... kemarilah. Bantu aku" ucap Jordan.
Jasmine masih menunduk malu.
"Oh, honey ayolah mataku sepertinya kemasukan debu, sedikit gatal. Bisakah kamu mendekat, tiup mataku sebentar saja." Jordan
"i.. iya, tapi sebentar saja, aku juga harus mandi." jawab Jasmine sedikit terbata.
Senyum smirk di bibir Jordan terlihat ketika istrinya mendekat. Jasmine menengadah dan sedikit berjinjit untuk bisa meniup mata suaminya yang katanya kemasukan debu.
Tubuh Jasmine yang mungil jelas tidak bisa menjangkau suaminya yang tinggi. Jordan sedikit menunduk, dan memberikan kesempatan istrinya untuk meniup salah satu matanya.
Aroma harum dari tubuh kekar itu kembali menyeruak, masuk kedalam indera penciuman nya dan mengundang nafsunya.
"Oh tidak, jangan lagi." batin Jasmine, pikirannya melayang ke beberapa jam lalu saat mereka saling menghangatkan tubuh.
"Ah..." teriak Jasmine ketika suaminya mulai memegang tangannya dan menciumi lehernya.
Jordan tertawa menang, berhasil membuat istrinya kembali mendesah pelan saat dia mencium belakang telinganya, salah satu titik sensitif wanita.
Bibirnya mengulum bibir mungil istrinya, melu*** dan mengecap, mengabsen isi mulut istrinya.
Tangannya pun sudah bergerak liar mencari tempat favoritnya, keduanya sudah sama sama terbakar gairah.
Jordan menuntun istrinya menuju ranjang, bibirnya tetap menempel dan saling bertukar saliva.
Setelah cukup puas melakukan pemanasan, Jordan akhirnya membuka handuk yang sejak tadi sudah terasa sesak karena ada yang tegak dibawah sana.
Jordan langsung melakukan tugasnya, dia masih saja merasa kesempitan di daerah inti milik istrinya.
Penyatuan itu pun terjadi, mereka menikmati sarapan dalam tanda kutip sebelum sarapan pagi yang sebenarnya.
Jordan ambruk di sisi istrinya setelah mengeluarkan bibit bibit premium calon anaknya kedalam rahim istrinya.
Jordan tersenyum puas dan menciumi wajah istrinya yang kelelahan karena melayaninya.
"Thank you, wifey" ucap Jordan sambil mencium kening, dan kedua mata Jasmine.
"I love you" jawab Jasmine lirih.
"Love you more"
Jordan lalu berdiri dan menggendong istrinya, masih dalam keadaan sama sama polos. Jordan membawa istrinya ke kamar mandi.
"No not again." teriak Jasmine ketika sang suami mulai memberikan rangsangan lagi di titik sensitifnya.
Jasmine meronta, suaminya itu seperti tak pernah cukup menikmati tubuhnya sekali. Jordan menaik kan alisnya dan senyum nya kembali terukir dibibirnya.
"Kamu tahu sayang, tubuhmu itu bagaikan candu bagiku. Dan aku ingin selalu menikmatinya setiap waktu." Jordan
Mereka berdua sudah berada di kamar mandi, Jordan menurunkan istrinya dibawah shower yang sudah dia nyalakan.
Dan bisa ditebak, mereka kembali melanjutkan adegan yang tadi. Kembali melakukan penyatuan.
###
Setelah menikmati makanan pembukanya Jordan mengajak sang istri untuk makan bersama karena daddy dan mommy sudah menunggu mereka berdua.
Bisa dipastikan jika wajah Jasmine saat ini sedikit cemberut karena ulah suaminya yang tak mau melepasnya sedikitpun.
Hanna yang sudah hapal tingkah laku anaknya hanya menggeleng kepalanya, Jordan persis seperti daddy dulu, selalu menempel kemanapun Hanna pergi.
"Morning mom, dad" ucap keduanya saat masuk ruang makan.
Jordan mencium kening dan pipi Hanna, kemudian memeluk Robby. Jasmine melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suaminya.
Dia sudah tidak canggung lagi, karena kedua orang paruh baya itu selalu menunjukkan rasa sayang nya.
"Jo, kamu apakan istrimu sampai cemberut begitu?" daddy Robby buka suara setelah menyeruput kopi hitamnya.
"Nothing dad" Jordan mengendikkan bahunya.
"Nothing, tapi kenapa wajah menantuku seperti habis minum susu asam saja, lihatlah" goda daddy sambil tertawa.
Jasmine yang cemberut makin kesal setelah ayah mertuanya ikutan menggodanya.
"Aku hanya meminta jatah pagiku lebih cepat, itu saja." Jordan berseloroh.
Daddy Robby hanya tertawa, putranya memang foto copyan dirinya. Hanna yang tahu senyum suaminya pun berkata.
"Honey, kamu yang sabar ya. Mereka berdua memang begitu, selalu saja minta jatah pagi padahal semalam sudah mendapatkannya." Hanna tersenyum.
Jasmine malu, tapi dia juga kesal karena dibuat capek oleh suaminya, padahal mereka ada meeting pagi ini.
"Tapi mom, lihatlah.. " Jasmine menunjukkan bekas percintaan mereka di lehernya yang lagi lagi mengundang tawa.
"Wifey, aku hanya menegaskan bahwa kamu itu milikku, agar tidak ada yang berani mendekatimu, itu saja."
Jordan masih cuek, dia suka sekali melihat istrinya cemberut karena ulahnya. Karena wajah Jasmine sangat imut saat cemberut seperti ini.
"Mom, lihatlah anakmu. Dia selalu saja begitu." Jasmine mengadu, tapi tetap saja dia kalah karena ayah dan anak itu pasangan yang kompak untuk urusan ranjang.
"Son, sepertinya kamu harus belajar dari daddy bagaimana membuat tanda kepemilikan tanpa harus dilihat banyak orang seperti itu."
Robby dan Jordan melakukan toss layaknya dua lelaki dewasa. Mereka sangat suka membuat pasangannya merona karena ulahnya.
Robby kembali menggoda Jasmine, dan seperti yang Hanna bilang ayah dan anak itu akan semakin gila jika menyangkut hal pribadi seperti ini.
"Sudah.. sudah, kalian berdua sama saja. Lihatlah menantuku sampai malu mendengar ucapan kalian."
Hanna memeluk menantunya, dia sangat tahu bagaimana akhirnya jika ayah dan anak itu bersama.
"Nanti mommy bantu menyamarkan tato alami buatan suamimu, sekarang kita sarapan dulu."
Mereka akhirnya sarapan bersama seperti biasa, diselingi canda tawa membuat suasana hangat di pagi ini.
Setelah sarapan Jordan dan Jasmine kembali ke kamar untuk mengambil tas sebelum berangkat ke kantor.
Jasmine mengambil fondation dan menyamarkan lukisan yang Jordan buat tadi. Keduanya bersiap untuk berangkat.
"Honey, apa semuanya sudah kamu siapkan untuk meeting pagi ini dengan klien kita?"
Jordan memasang jasnya dan membetulkan kancing bajunya. Jasmine mendekat dan membantu suaminya membetulkan penampilannya.
"Sudah, semua sudah lengkap ada disini." Jasmine menunjukkan tas yang dibawa nya, mereka lalu turun dan berangkat ke kantor karena supir sudah siap menunggu.