
"Ini untukmu"
Jordan menyerahkan paperbag, Jasmine menoleh kearahnya masih menyisir rambutnya.
Karena tidak ada tanggapan, Jordan mengambil tangan kanan Jasmine dan meletakkan paperbag itu keatasnya.
"Bukalah" Jordan berlalu dan duduk di sofa.
Jasmine berbalik, meletakkan sisirnya dan membuka paperbag itu. Mata Jasmine berbinar, dia tidak menyangka jika Jordan akan memberikannya ponsel terbaru.
"Hubby...ini"
Jasmine mendekat kearah Jordan dan memeluknya. Hampir saja Jordan terpelanting ke belakang jika saja dia tidak sigap.
"Hubby thank you"
Jasmine menciumi seluruh wajah Jordan, dia sangat senang karena akhirnya memiliki ponsel baru.
Rencananya hari ini Jasmine akan membeli ponsel baru sepulang kerja esok hari, karena hari ini dia mengambil shift malam.
Jordan tidak mengijinkan Jasmine bekerja dua shift sekaligus seperti kemarin, hingga membuatnya tertidur dalam bathup.
Hari ini Jasmine mengambil shift malam karena Jordan menyuruhnya untuk beristirahat.
Jordan memberinya kejutan yang sangat berlebihan menurutnya karena sudah membelikan dia ponsel keluaran terbaru seharga tiga bulan gajinya.
Jasmine tidak menyangka jika Jordan akan membelikan ponsel canggih yang sangat diidamkannya.
Jasmine termenung, hingga suara berat itu mengagetkannya.
"Bukankah kamu sudah lama tidak menghubungi sahabatmu."
Jordan mengambil ponsel itu dan menyalakan tombol on nya. Seketika ponsel menyala, banyak sekali telepon masuk dan juga pesan dari beberapa sahabatnya.
Jasmine membuka satu persatu dan membacanya, air matanya menetes. Sahabatnya mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya kedua orang tua Jasmine.
Jasmine terisak, Jordan merengkuhnya dalam dekapan. Dia tahu Jasmine pasti akan sentimentil. Jordan mengusap bahu Jasmine dan menenangkannya.
"Hubby...terima kasih"
Jasmine memeluk Jordan, dan kembali menangis. Jordan tak akan bisa jika berhubungan dengan perasaan seorang wanita.
Mommy nya sangat peka, karenanya sekecil apapun kesalahan yang dibuat olehnya Jordan pasti akan langsung meminta maaf pada mommy.
Jordan ingat pesan kakeknya dulu, sebejat apapun seorang pria jangan sekalipun menyakiti hati wanita, karena pria bejatpun lahir dari rahim seorang wanita.
###
Jasmine menangis haru karena Jordan bahkan lebih tahu apa yang dia butuhkan, di hatinya Jasmine merasa telah salah menilai laki-laki itu.
Jasmine melihat kearah Jordan yang tampak sibuk menerima telepon dari asistennya. Jasmine tersenyum kearahnya, saat mata mereka bertemu.
Jordan membalas senyumnya dengan kedipan mata. Jasmine tersipu malu, dia menunduk dan tersenyum.
Jordan memasukkan ponselnya kedalam saku celana, hari ini dia terlihat sedikit lebih tampan dari biasanya. Ah tidak, Jordan selalu terlihat tampan seperti biasa.
Hanya saja dimata Jasmine, Jordan lebih tampan. Mungkin karena dia baru saja mendapatkan ponsel terbaru dari Jordan.
"Tapi dia memang tampan, pantas saja banyak wanita yang mengejarnya."
Jasmine bergumam, kedua matanya masih setia mengekori gerak gerik Jordan. Merasa diperhatikan oleh Jasmine, Jordan menoleh kearahnya.
Tapi Jasmine hanya menunduk malu, dia tersipu.
"Aku ada pertemuan dengan klien sebentar, jangan pergi kemana-mana, oke"
Jasmine mengangguk, karena dia butuh istirahat karena tenaganya sedikit terkuras kemarin.
Jordan menunduk dan meraih tengkuk Jasmine, mengecup bibirnya lalu keningnya.
Blush
Jasmine benar-benar butuh istirahat total, apalagi jantungnya semakin tak karuan karena ulah hubby nya.
###
Sejak kecelakaan itu, Jasmine memilih menghapus no mereka, agar tidak larut dalam sedih berkepanjangan.
Hingga Jasmine berhenti di satu nama kontak yang sangat ingin dia hapus sejak dulu. Nama seseorang yang pernah hadir dalam hidup mereka hingga dia menghilang tanpa jejak.
Jasmine ragu, tapi tekadnya sudah bulat. Dulu mommy nya memaksanya untuk menyimpan jika suatu saat membutuhkan bantuannya.
Tapi sampai saat ini belum pernah sekalipun nama itu muncul dalam riwayat teleponnya, bahkan ketika mommy nya meninggal nama itu seakan hilang ditelan bumi.
Beberapa nomor lain juga dihapusnya termasuk nomor kontak yang sudah tidak aktif lagi. Dari sekian banyak nomor yang dihapus, ada nomor baru yang baru dilihatnya.
Jasmine mengingat apakah dia pernah berbagi nomor telepon dengan orang lain, tapi tidak ada. Jasmine tak bisa mengingatnya.
Nomor baru ini juga baru saja menghubunginya beberapa menit lalu. Jasmine masih penasaran, tapi Jasmine memilih mengabaikannya.
Jasmine meletakkan ponselnya dan keluar kamar, menuju pantry dia merasa lapar karena memang sudah saatnya sarapan.
Jasmine membuka lemari pendingin, mencari sesuatu yang bisa dia makan. Tapi nihil, tak ada apapun didalamnya.
Matanya memindai membuka laci diatas dan juga rak yang ada disekitar pantry. Tapi tak ada satupun yang bisa dimakan.
Jasmine teringat tadi Jordan juga belum sempat sarapan. Tapi dia sekarang bersama kliennya pasti sudah sarapan, pikirnya.
Jasmine ingin menghubungi Jordan tapi dia tak memiliki nomor teleponnya. Jasmine duduk di meja makan.
Tak lama terdengar dering telepon, Jasmine yang belum hapal dengan nada deringnya masih mencari sumber suara.
Akhirnya pada dering ketiga Jasmine mengangkatnya, nomor asing yang tadi menghubungi lagi.
Jasmine menggeser tombol berwarna hijau dilayar ponselnya.
"Halo"
"Wifey, bersiaplah sepuluh menit lagi Jamie akan menjemputmu."
Ternyata nomor itu milik Jordan. Setelah menutup teleponnya, Jasmine pun bersiap.
Sepuluh menit persis seperti perkiraan Jordan tadi, Jamie datang menjemputnya. Jamie tidak memberi tahu kemana dia akan pergi.
Jasmine mengikuti asisten Jamie, mereka menuju lift dan langsung ke lobby dan ternyata Jordan sudah menunggu didalam mobilnya.
Jamie membukakan pintu mobil, Jasmine duduk dibangku penumpang disebelah Jordan.
Jamie lalu melajukan mobilnya ke jalanan, mereka melewati beberapa blok kearah restoran.
Mobil yang mereka tumpangi terus melaju, hingga sampailah disebuah restoran apung di sekitar dermaga.
Jasmine belum pernah ketempat ini, bahkan dia baru pertama kali ini mendatangi tempat ini. Jordan tahu Jasmine tidak pernah ke tempat ini.
Jordan melepaskan genggaman tangannya saat Jamie menghentikan mobilnya dan membukakan pintu mobil.
Jordan keluar lebih dulu lalu mengulurkan tangan saat Jasmine akan keluar. Jasmine merasa bahagia, karena baru kali ini diperlakukan sangat manis oleh seorang lelaki.
Jasmine tahu pasti Jordan pun akan melakukan hal yang sama pada setiap wanitanya.
Bersikap manis dan romantis, hingga dia mendapatkan yang diinginkannya. Jasmine tidak berharap banyak, diperlakukan dengan baik saja sudah suatu keberuntungan.
Jasmine teringat kenangan masa lalunya, yang membuatnya menghindari pertemanan dengan laki-laki.
Jasmine tidak ingin Jordan melihatnya menangis, jadi sebisa mungkin dia menahan butiran bening itu agar tidak jatuh.
Keduanya berjalan mendekati dek menuju restoran terapung. Pemandangan disekitar dermaga, dengan banyak kapal dan burung camar yang berterbangan, membuat hatinya senang.
Dulu saat masih kecil, dia pernah memiliki impian ingin berlibur dan naik kapal pesiar bersama mommy dan daddy nya.
Tapi impian itu hanya bisa dia tuang dalam buku diary nya, semoga suatu saat dia bisa mewujudkan impiannya tersebut.
bersambung
###
Akhirnya double up, semangat lagi yuk. Menuju 50 bab, otor bisa!
Terima kasih boom like nya, jangan bosan untuk terus dukung otor ya.