
Beberapa minggu berlalu,
Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi dan jalanan kompleks di depan kediaman Arthur masih cukup lengang. Namun Audrey sudah keluar dari gerbang bersama dengan Kyle yang mendorong kereta bayi Olivia.
Seperti saat dulu mengandung Olivia, di kehamilan keduanya ini Audrey juga rajin jalan-jalan pagi sembari menghirup segarnya udara di pagi hari. Mungkin yang membedakan adalah, dulu Audrey hanya berjalan pagi seorang diri, namun sekarang Kyle selalu menemani Audrey dan kadang mereka juga membawa Olivia saat anak pertana Kyle dan Audrey tersebut sudah bangun.
"Dia aktif sekali. Lebih aktif dari Olivia dulu," ucap Audrey seraya menunjukkan perutnya yang sudah membulat sempurna pada Kyle. Hanya tinggal menghitung harimenu hari perkiraan lahir.
"Mungkin yang ini adalah Kyle junior dan saat USG itu dia sengaja menipu penglihatan dokter," pendapat Kyle yang sontak membuat Audrey tergelak.
"Mana bisa seperti itu, Kyle! Segala jenis USG sudah kita coba dan hasilnya sama semua. Yang ini Audrey junior dan bukan Kyle junior," jawab Audrey dengan nada tegas.
"Baiklah, terserah saja! Aku akan langsung membuat Kyle junior setelah yang ini lahir," gumam Kyle mengungkapkan rencananya.
"Tidak boleh! Aku akan langsung memasang alat kontrasepsi setelah melahirkan," sergah Audrey menolak rencana konyol Kyle.
"Oh, ayolah, Sayang! Aku juga mau membuat penerusku." Kyle masih bersikeras.
"Kau gila! Beri aku waktu istirahat sebelum kita membuat Kyle junior!" Ungkap Audrey mengajukan syarat.
"Baiklah. Dua tahun aku rasa cukup." Jawab Kyle enteng.
"Empat tahun, ya!" Audrey mengajukan penawaran dan permintaan.
"Tidak itu terlalu lama. Dua tahun saja saat adiknya Olivia lulus ASI, aku akan langsung menghamilimu lagi," sergah Kyle menolak permintaan Audrey.
"Kau benar-benar menyiksaku!" Dengkus Audrey seraya memukul kecil lengan Kyle yang sejak tadi ia gamit.
Dan Kyle hanya terkekeh tanpa dosa.
"Tapi bagaimana kalau yang ketiga nantk ternyata Audrey junior lagi?" Tanya Audrey tiba-tiba.
"Kita buat yang keempat kalau begitu," jawab Kyle enteng.
"Kalau yang keempat perempuan lagi?"
"Kita buat yang kelima, kernam, ketujuh, pokoknya sampai aku dapat Kyle junior! Bukankah harus ada yang mewarisi ketampananku?" Jawab Kyle penuh percaya diri.
Dau Audrey sontak tergelak, sebelum kemudian ibu hamil itu meringis karena merasakan kontraksi di perutnya.
"Aduh!" Audrey menghentikan langkahnya dan mempererat cengkeramannya pada lrngan Kyle.
"Ada apa? Bayinya mau lahir?" Tanya Kyle panik.
"Entahlah! Aku rasa hanya kontraksi palsu," Audrey menarik nafas panjang beberapa kali dan rasa sakit di perutnya berangsur hilang.
"Sebaiknya kita pulang saja, Kyle!" Ajak Audrey selanjutnya dan Kyle segera mengangguk setuju.
Pasangan suami istri itupun segera putar balik dan berjalan kembali ke kediaman Arthur.
****
"Kyle!"
"Hmmm?" Kyle menjawab panggilan Audrey masih sambil memejamkan mata.
"Kyle ayo ke ruamh sakit!" Ajak Audrey kali ini sambil mengguncang tubuh Kyle.
Bola mata Kyle langsung terbuka lebar.
"Bayinya sudah mau lahir?" Tanya Kyle seraya memeriksa Audrey dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ya, kontraksinya sudah semakin teratur dan berdekatan. Aku tidak bisa tidur sejak tadi," cerita Audrey yang sudah beranjak dari atas tempat tidur dan membuka lemari baju lalu mengambil tas berisi perlengkapan bayi.
"Kau masih bisa berjalan?" Tanya Kyle heran.
Bukankah kontraksi saat akan melahirkan itu begitu menyakitkan. Lalu kenapa Audrey masih bisa mondar-mandir?
"Mungkin baru bukaan empat atau lima. Ayo ke rumah sakit agar bisa diperiksa!" Ajak Audrey lagi pada suaminya tersebut.
Kyle melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul dua dinihari. Segera Kyle beranjak dari atas tempat tidur dan hendak membimbing Audrey keluar dari kamar. Saat tiba-tiba Audrey menghentikan langkahnya dan memegang kuat lengan Kyle.
"Ada apa?" Tanya Kyle bingung.
"Entahlah. Aku merasa ada yang mau keluar," Audrey menunjuk ke arah jalan lahirnya. Kyle mendudukkan Audrey dengan hati-hati di atas karpet yang ada di dalam kamar.
"Coba kamu lihat!" Titah Audrey pada Kyle karena wanita itu kembali merasakan kontraksi, namun kali ini sangat kuat seperti saat Olivia akan lahir beberapa bulan yang lalu.
Kyle melongok ke bagian bawah dress Audrey dan membuka underwear yang dikenakan oleh Audrey.
Tidak mungkin!
"Kepalanya sudah terlihat!" Wajah Kyle berubah panik. Pria itu hendak bangkit berdiri namun Audrey menahannya.
"Jangan kemana-mana, Kyle! Sepertinya anakmu sudah mau keluar."
Kyle sontak membelalakkan matanya.
"Tapi aku bukan dokter, Sayang!"
"Mom! Dad!" Kyle membuka pintu kamarnya dan berteriak memanggil semua penghuni rumah.
"Sean! Rachel!" Kyle hanya bisa berteriak-teriak karena Audrey yang terus memegang lengan Kyle dan meremasnya dengan kuat.
Audrey sepertinya sudah mulai mengejan sendiri apa itu artinya istri Kyle ini akan melahirkan di dalam kamar?
Sean dan Rachel juga ikut datang serta beberapa maid yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar Kyle.
Audrey masih mengejan dan berusaha mengeluarkan bayinya seorang diri seraya memegang erat lengan Kyle.
Rachel yang tanggap segera membantu memegangi kepala bayi yang sudah terlihat, sementara Sean berlari ke ruang tengah untuk menghubungi dokter.
"Sedikit lagi, Kak!" Rachel memberikan aba-aba pada Audrey untuk terus mendorong, hingga di detik selanjutnya, suara tangisan bayi langsung menggema di kamar Kyle dan Audrey.
Raut kepanikan di wajah Kyle langsung berubah menjadi raut kebahagiaan, saat melihat bayi perempuan mungil yang baru saja dilahirkan oleh Audrey tersebut.
Dalam waktu satu tahun, Audrey sudah memberikan Kyle dua bayi perempuan yang cantik-cantik. Betapa beruntungnya Kyle.
Dokter sudah datang dan Audrey juga sudah dipindahkan ke atas tempat tidur. Kini ibu dua anak tersebut sudah bisa memangku bayinya dan tersenyum bahagia.
Mama Hanni dan Papa Hans juga langsung meluncur ke kediaman Arthur setelah dihubungi oleh Sean dan diberitahu kalau Audrey melahirkan dengan sangat mudah di kamarnya.
"Dia cantik sama sepertimu dan seperti Olivia," puji Mama Hanni yang sudah duduk di samping Audrey dan mengusap pipi kemerahan putri kedua Audrey.
"Seperti Mama juga," timpal Audrey seraya tersenyum bahagia.
Mama Hanni ikut tersenyum seakan turut msrasakan kebahagiaan Audrey.
"Sudah memilih nama untuknya?" Tanya Mama Hanni lagi dan Audrey segera mengangguk.
"Namanya Alicia."
"Hai, bayi Alice! Selamat datang di dunia, bayi mungil!" Mama Hanni mengambil alih bayi Alice dari pangkuan Audrey dan segera menimang cucu perempuannya tersebut.
Kyle masuk ke kamar dan membawa Olivia di dalam gendongannya.
"Hai, Kakak Via!" Audrey menciumi wajah putri sulungnya.
"Via punya kejutan untukmu," bisik Kyle pada Audrey yang langsung membuat Audrey mengernyit penuh tanya.
"Kejutan apa?"
"Ayo tunjukkan pada Mama, Sayang!" Kyle mengangkat Olivia dari pangkuan Audrey dan menaruh balita tersebut di atas karpet.
Kyle segera mengambil posisi berjongkok agak jauh dari Olivia, dan Olivia langsung bangkit berdiri dengan lincah kemudian kaki mungilnya melangkah perlahan ke arah Kyle.
"Iya, begitu, Via! Ayo datang ke Papa!" Kyle merentangkan tangannya pada Via yang terus melangkah meskipun masih tertatih menuju ke arah sang Papa.
"Ayo, Via!"
Audrey bertepuk tangan dari atas tempat tidur dan memberikan semangat pada Via yang suadh semakin dekat pada Kyle.
"Hap! Dapat!" Kyle mengangkat Via tinggi-tinggi demi meluapkan kegembiraannya karena Via yang kini sudah mulai bisa berjalan.
"Yeay! Via hebat!" Audrey merentangkan tangannya ke arah Via yang masih berada di gendongan Kyle, dan suaminya itu langsung memberikan Via pada Audrey.
"Anaknya Mama hebat!" Puji Audrey seraya menciumi wajah Via berulang kali.
"Mamanya juga hebat!" Timpal Kyle yang ikut memuji Audrey.
Kyle sudah duduk di samping Audrey seraya memangku bayi Alice. Mama Hanni sendiri sudah pamit kekuar kamar seolah memberi ruang pada keluarga kecil Kyle dan Audrey yang sedang dilingkupi kebahagiaan.
"Terima kasih, Istriku yang cantik dan hebat!" Kyle mengecup kening Audrey dengan mesra.
"Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini, untuk putri-putri cantik yang sudah kau lahirkan, dan untuk semua kesabaranmu selama ini," ucap Kyle tulus dan lembut yang langsung membuat Audrey mengulas senyum di bibirnya.
"Terima kasih juga karena sudah menjadi suami yang baik dan pengertian. Menjadi ayah yang siaga juga, terima kasih untuk semuanya, Kyle!" Audrey mengecup bibir Kyle, dan Kyle langsung membalasnya dengan mesra.
"Dua tahun lagi kita program anak ketiga, ya!" Rayu Kyle yang sontak membuat Audrey tergelak.
"Nanti gantian kau yang hamil, ya! Biar adil!" Jawab Audrey yang langsung membuat Kyle ikut tergelak.
Selalu ada pelangi setelah hujan.
Dan kini Audrey telah menemukan pelangi kebahagiaannya bersama Kyle dan kedua putri mereka. Semua kesabaran dan ketabahan hati Audrey benar-benar telah berbuah manis.
Meskipun ingatan Kyle tidak pernah kembali seratus persen, namun cinta Kyle ke Audrey sekarang benar-benar telah melampaui cinta Kyle sebelum pria itu hilang ingatan.
Kyle sudah menjadi suami dan ayah yang semourna untuk Audrey dan kedua putrinya.
**************TAMAT****************
Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua reader yang sudah mengikuti cerita Audrey sampai tamat.
Terima kasih juga untuk yang sudah menyumbang vote, hadiah, like, komen, serta banyak dukungan untuk othor.
Cerita Audrey dan Kyle aku akhiri sampai disini karena mereka sudah bahagia. Tak perlu ditambahi konflik pelakor/pebinor, ya! Karena ini bukan sinetron.
Next ada cerita Bennedic dan Ayunda di "Beauty & Berondong"
Bab pertamanya bisa kalian baca mulai besok pagi, karena sekarang masih tahap review. Tapi kalau ada yang nyuruh crazy UP, othor akan pura-pura budeg, karena sementara belum bisa crazy up dan hanya bisa diusahakan untuk UP setiap hari.
Yang tanya cerita tentang Will dan Teresa, bisa ceki-ceki profilnya othor, kali aja nemu judul yang rada-rada absurd. Nah, itu cerita Will dan Teresa (maaf nggak sebut judul karena niatnya memang nggak mau aku promoin. Konfliknya ruwet soalnya)
Terima kasih sekali lagi untuk kalian para reader.
Sampai jumpa di ceritanya Ben dan Ayunda.