
Kyle menatap dari balkon kamar, saat mobil Zayn berhenti di depan teras dan Audrey keluar dari mobil sport warna putih tersebut.
Audrey yang berpamitan pada Zayn dengan mesra, juga tak lepas dari pandangan Kyle.
Kyle hanya berdecak sebelum berbalik dan kembali masuk ke kamar, lalu menyalakan laptopnya dan duduk di atas tempat tidur.
Pemandangan pertama yang terlihat di layar laptop Kyle saat benda itu menyala adalah foto Audrey dan Kyle yang sama-sama tersenyum lebar dan wajah mereka saling menempel. Kyle bahkan tak ingat kalau ia pernah berfoto sedekat dan semesra itu dengan Audrey.
Tak berselang lama, Audrey masuk ke kamar membawa sebuah kotak dengan kedua tangannya.
"Malam, Kyle!" sapa Audrey seraya menutup kembali pintu kamar.
"Kau baru pulang dari kantor?" Tanya Kyle berbasa-basi pada Audrey.
"Sebenarnya, aku mampir ke rumah Mama dan Papa tadi untuk mengambil beberapa barang," jawab Audrey yang segera meletakkan kotak yang tadi ia bawa ke atas tempat tidur.
Kyle meletakkan laptopnya dan mendekat ke arah kotak yang dibawa oleh Audrey untuk memeriksa isinya.
"Ini beberapa hal tentang hubungan kita satu tahun ini," ucap Audrey menatap sendu pada barang-barang kenangannya bersama Kyle.
"Ini disc berisi rekaman video saat kau melamarku, lalu yang ini saat acara pernikahan kita. Barangkali kau mau menontonnya," Audrey menunjukkan dua keping disc pada Kyle yang masing-masing menempati satu kotak dan sudah diberi keterangan oleh Abang Zayn.
"Lalu ini foto-foto pernikahan kita!" Audrey menunjukkan sebuah album foto bercorak bunga-bunga.
"Yang ini foto-foto saat kita honeymoon-"
Satu foto terjatuh dari dalam album dan Kyle segera memungutnya. Kyle menatap pada foto tersebut, dan tempat itu terlihat tidak asing.
"Kita berbulan madu ke pulau milik Dad?" Tebak Kyle yang langsung membuat Audrey menatap pada suaminya tersebut.
"Ya! Kau yang memberiku kejutan dan mengajakku ke sana selama satu pekan," jawab Audrey berusaha menguatkan hatinya.
"Taraaaa!" Kyle membuka penutup mata Audrey saat mereka tiba di sebuah landasan helikopter di atas gedung Arthur Company.
"Kita akan berbulan madu di dalam helikopter?" Tanya Audrey pada Kyle sedikit terkekeh.
"Lebih bagus dan lebih indah dari itu!" Bisik Kyle yang kini sudah melingkarkan lengannya di pinggang Audrey. Pria itu meletakkan dagunya di atas pundak Audrey sambil sesekali mengecup leher istrinya tersebut.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Audrey yang benar-benar penasaran.
"Ke pulau pribadi milik Dad. Hanya ada kita berdua di pulau itu nantinya. Jadi kita akan bisa bercinta di setiap sudut pulau," jawab Kyle dengan nada merayu dan menggoda.
"Dasar mesum!" Audrey menyikut perut sang suami.
"Ayo naik! Kita berangkat sekarang," Kyle segera membopong tubuh Audrey, hingga istrinya itu memekik kaget.
"Kyle, aku bisa berjalan sendiri naik ke helikopter."
"Tapi aku lebih suka menggendongmu begini," Ucap Kyle yang terus membawa tubuh Audrey masuk ke dalam helikopter milik Arthur Company.
"Kau juga akan memangkuku selama di dalam nanti?" Audrey menyusupkan kepakanya di dada Kyle.
"Jika maumu begitu, aku tidak keberatan sama sekali," jawab Kyle santai.
Dua sejoli itu sudah masuk ke dalam. Dan Kyle benar-benar tetap memangku Audrey.
"Berapa lama?" Tanya Audrey seraya menyusupkan kepalanya di dada Kyle.
"Satu setengah jam paling lama," jawab Kyle yang sudah selesai memasangkan headphone ke kepala Audrey. Pria itu mengecup kening Audrey dan mengeratkan dekapannya pada istrinya tersebut.
"Kita akan berbulan madu!" Seru Kyle dengan penuh kebahagiaan.
Kyle mengorek barang lain yang ada di dalam box, hingga akhirnya pria itu menemukan sebendel kertas yang membuatnya penasaran.
"Ini apa?" Tanya Kyle menunjuk ke sebuah kertas panjang berisi rentetan tulisan tangan yang ditulis oleh Kyle.
"Itu janji pernikahan yang pernah kau ucapkan kepadaku!"
"Ada dua?" Tanya Kyle bingung.
"Yang pink adalah janji yang aku ucapkan, dan yang biru adalah yang kau ucapkan," jelas Audrey lagi.
"Aku, Kyle Aditya Arthur berjanji untuk selalu mencintaimu, Audrey Zivia Abraham. Mencintai dalam susah maupun senang, dalam sehat maupun sakit.
Berjanji untuk membantumu mencintai hidup. Menggenggammu dengan lembut untuk kesabaran, karena itulah yang dibutuhkan oleh cinta. Mengatakan kata-kata jika dibutuhkan dan berdiam jika ternyata kata-kata tak lagi dibutuhkan. Mencintaimu dengan sepenuh hati, untuk hidup di kehangatan hatimu yang aku sebut sebagai rumah."
Audrey menyeka airmata di pelupuk matanya dengan kasar saat kata-kata indah Kyle kembali terngiang di kepalanya.
"Kalau yang ini apa?" Kyle menunjuk pada kertas lain berwarna putih dengan tulisan yang berbeda-beda.
"Ini terlihat seperti tulisan tanganku juga," lanjut Kyle lagi sedikit menerka-nerka.
"Itu memang tulisan tanganmu. Ada di dalam kotak hadiah yang kau berikan kepadaku sewaktu kau melamarku," jawab Audrey menjelaskan.
Kyle masih mengernyit tak mengerti.
"Kau bisa menonton videonya jika bingung," lanjut Audrey menunjuk ke salah satu disc yang tadi ia bawa.
"Apa aku memberikanmu sebuah jumper bayi dan sepasang sepatu bayi mungil di bawah tulisan ini?" Tanya Kyle seraya menunjukkan satu kertas bertuliskan
'Untuk anak-anak kita nanti'
"Ya! Dan aku masih menyimpannya di dalam kotak bayi yang selau kita isi setiap bulan," jawab Audrey yang kembali harus mengusap matanya yang kembali berkaca-kaca.
"Kita punya kotak bayi?"
Audrey segera membuka lemari besar Kyle dan mengeluarkan sebuah kotak kontainer yang cukup besar dan sudah dihias. Audrey membuka penutup kotak kontainer tersebut.
"Sebulan sekali kau selalu mengajakku ke babyshop yang ada di kota ini. Lalu kau akan menyuruhku memilih dua baju bayi yang lucu dan aku sukai. Katamu, kita tidak tahu apa anak kita nanti laki-laki atau perempuan jadi kita membeli yang untuk laki-laki dan untuk perempuan." Airmata Audrey sudah berlinang saat bercerita pada Kyle.
"Kau memintaku menyimpan kotak ini di lemari untuk anak-anak kita nanti. Lalu kita selalu mengisinya setiap bulan dan itu sudah berlangsung selama satu tahun." Audrey menatap pada tumpukan baju bayi yang ada di dalam kotak kontainer. Semuanya masih terlipat dan tersusun dengan rapi.
"Ini yang pertama kali kau belikan untuk mereka," Audrey menunjukkan jumper bayi warna putih dan sepasang sepatu bayi mungil yang memang diberikan oleh Kyle sewaktu melamarnya kala itu.
Kyle mengambil sepatu bayi tersebut dan menatapnya sambil tersenyum.
"Aku benar-benar tak bisa mengingatnya, Audrey!" Kyle ganti tersenyum kecut.
"Aku bisa membantumu mengingat semuanya jika kau merasa tak keberatan," tawar Audrey yang sedikit sesenggukan.
"Maksudmu?"
"Kita bisa napak tilas semua yang pernah kita lakukan selama setahun pernikahan. Tapi itu jika kau tidak keberatan. Aku tidak akan memaksamu untuk mengingat aku atau semuanya tentang kita. Hanya saja, setidaknya beri aku kesempatan, Kyle!" Suara Audrey terdengar memohon.
Kyle masih diam dan tampak berpikir, sebelum akhirnya pria itu memberikan jawaban pada Audrey.
"Baiklah, aku setuju. Tapi Bisakah kau melakukan semuanya perlahan karena saat ini aku masih sedikit bingung," ujar Kyle mengajukan syarat.
Audrey mengangguk paham.
"Terima kasih, Kyle!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.