Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
KEPUTUSAN AUDREY



"Aku akan tidur di sofa," ucap Audrey akhirnya setelah kebisuan di antara dirinya dan Kyle. Wanita itu mengambil satu bantal dari atas tempat tidur dan membawanya keluar dari kamar.


"Audrey, aku minta maaf!" Kyle mengejar langkah Audrey yang menuju ke arah sofa ruang tengah.


"Aku minta maaf, oke!" Kyle merengkuh kedua pundak Audrey dan melempar bantal yang sejak tadi masih dipegang oleh Audrey.


"Jangan terus-menerus minta maaf, Kyle!" Audrey kembali memalingkan wajahnya dari Kyle dan enggan menatap wajah suaminya tersebut.


Hanya menatap tanpa bisa menyentuh dan menciumnya, padahal jarak mereka sangatlah dekat. Rasanya benar-benar menyakitkan!


"Aku sudah berusaha!" Kyle berucap dengan nada frustasi.


"Aku sudah berusaha untuk mengingat semuanya diantara kita! Aku menonton video lamaran, pernikahan berulang kali, tapi aku tetap tak bisa ingat apapun, Audrey!"


"Aku bisa melihat Kyle yang begitu mencintaimu di semua video dan foto-foto yang kau berikan itu, tapi aku tetap tak bisa menemukan perasaan itu kembali, sekuat apapun aku berusaha mengingatnya," Kyle ganti mengusap kasar wajahnya berulang-ulang.


"Aku tidak tahu kemana perginya Kyle yang begitu mencintaimu itu!" Nada bicara Kyle terdengar semakin frustasi.


"Karena saat ini aku merasa-" Kyle menatap wajah Audrey yang sembab.


Haruskah Kyle melanjutkan kalimatnya?


"Aku merasa-" suara Kyle terasa tercekat di tenggorokan.


"Hambar?" Gumam Audrey lirih seakan menyambung kalimat Kyle yang tak mampu ia lanjutkan.


"Aku sudah berusaha, Audrey!" Kyle menatap Audrey dengan sungguh-sungguh.


"Aku tahu," suara Audrey masih lirih.


Wanita itu melepaskan kedua tangan Kyle yang masih merengkuh pundaknya.


"Mungkin saat ini, kita memang butuh waktu untuk saling menenangkan diri, Kyle!" Ucap Audrey lagi yang sudah ganti meraih handbag-nya di atas sofa.


"Aku akan pulang," pamit Audrey pada Kyle yang masih mematung.


"Pulang ke rumah Mom?"


"Pulang kerumah Mama dan Papaku. Kau bisa menjemputku saat ingatanmu sudah kembali," pungkas Audrey seraya menitikkan airmatanya.


"Boleh aku mengantarmu?" Tanya Kyle tanpa beranjak dari tempatnya.


Audrey segera menggeleng dan terus melanjutkan langkahnya untuk keluar dari apartemen Kyle.


****


Kediaman Abraham.


Zayn membuka pintu utama kediaman Abraham karena mendengar seseorang menekan bel. Padahal jam sudah menunjukkan hair pukul sepuluh malam.


"Audrey?" Gumam Zayn terkejut saat mendapati Audrey yang berdiri mematung di depan pintu rumah.


Segera Zayn meraup adik perempuannya tersebut ke dalam pelukan. Audrey menangis tersedu-sedu di pelukan Zayn.


"Ayo masuk," Ajak Zayn seraya membimbing Audrey ke arah dapur. Kakak beradik itu kini sudah duduk bersisian di minibar yang ada di dapur.


Audrey meneguk air putih di gelasnya hingga tandas dan menarik nafas panjang berulang kali sebelum mulai bersuara. Zayn sejak tadi juga hanya diam dan memilih untuk tidak menanyai Audrey terlebih dahulu. Zayn akan membiarkan Audrey bercerita jika hatinya sudah membaik.


"Ada apa?" Tanya Thalita sedikit berbisik seraya merangkul pundak Zayn.


Zayn mengendikkan kedua bahunya.


"Kita tunggu Audrey cerita," jawab Zayn seraya mengecup kening Thalita.


"Sakya dan Zeline sudah tidur?" Tanya Zayn lagi setengah berbisik pada Thalita yang kini duduk disampingnya.


Istrinya tersebut hanya mengangguk.


"Audrey bingung, Bang," ucap Audrey dengan nada lirih.


"Soal Kyle?" Tebak Zayn yang langsung dijawab Audrey dengan sebuah anggukan.


"Audrey tidak tahu akan bertahan sampai kapan menghadapai Kyle 22 tahun yang terus saja tergila-gila pada Valeria!" Isak Audrey yang langsung membuat Thalita beranjak dari duduknya dan memeluk adik iparnya tersebut.


"Audrey bingung, Kak!" Cicit Audrey menumpahkan keluh kesahnya pada Thalita.


"Kadang Audrey ingin menyerah dan menyudahi saja semuanya. Mungkin ingatan Kyle memang tak akan pernah kembali," tutur Audrey lagi dengan airmata yang sudah bercucuran.


"Ingatan Kyle pasti kembali, Audrey!" Ucap Thalita mencoba berpikir positif.


Namun Audrey hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan merasa pesimis. Kyle bahkan selalu saja membahas tentang Valeria dan membawa-bawa Valeria di setiap obrolannya bersama Audrey.


Membandingkan Audrey dengan Valeria yang tentu saja rasanya sungguh menyakitkan.


Atau mungkin sejak dulu Audrey memang hanya pelarian Kyle atas perasaannya yang tak pernah kesampaian pada Valeria?


Lalu kenapa satu tahun yang lalu, saat Kyle nelamar audrey Kyke mengatakan kalau cintanya pada Audrey bukanlah sebuah pelarian?


Apa Kyle berbohong?


Apa Kyle berbohong pada Audrey?


"Tenangkan saja dulu pikiranmu, Audrey! Kau sedang kalut sekarang ini!" Nasehat Zayn bijak.


"Kau bisa tinggal disini sementara, jika berdekatan dengan Kyle membuatmu tertekan. Ini juga rumahmu!" Timpal Thalita yang ikut menenangkan Audrey.


Audrey hanya mengangguk dan kembali meneguk air minum yang disodorkan oleh Zayn.


"Mama dan Papa masih di Bali?" Tanya Audrey setelah wanita itu sedikit tenang.


"Ya. Mungkin besok baru pulang. Kau rindu pada Papa dan Mama?" Tanya Thalita yang kembali merangkul Audrey.


"Sudah seminggu lebih tak bertemu, pastilah kangen bergelayut pada Mama," sahut Zayn sok tahu.


"Abang sok tahu!" Cibir Audrey yang raut wajahnya tak lagi murung.


"Istirahat saja dulu di kamarmu! Sudah lama tidak tidur di sana, kan!" Ucap Thalita yang kembali mengusap kepala sang adik ipar.


"Ya! Audrey naik ke atas dulu, Kak!" Pamit Audrey pada Thalita.


"Abang tidak dipamiti?" Celetuk Zayn yang merasa iri karena adik kandungnya malah lebih akrab dengan Thalita ketimbang dengan dirinya.


Ya, mungkin karena mereka sama-sama wanita!


Bukankah dulu Audrey selalu merengek minta Zayn mencarikannya kakak ipar, agar bisa diajak shopping, curhat, dan bergosip?


"Tidak usah! Abang siapa memangnya?" Cibir Audrey yang langsung berlalu meninggalkan Zayn dan Thalita di minibar dapur.


"Keterlauan kamu, Audrey! Abang tidak akan membelikanmu tas baru lagi!" Seru Zayn mengancam Audrey dan bersikap kekanakan.


"Audrey bisa beli sendiri atau minta pada Papa!" Sahut Audrey yang suaranya sudah terdengar samar-samar karena wanita itu sudah setengah berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.


"Jangan kekanakan, Zayn!" Thalita mencubit gemas perut Zayn yang kini mendekapnya.


"Jadi bergairah, gara-gara kamu cubit-cubit begitu!" Zayn mulai menggoda Thalita dan mencolek hidung istrinya tersebut.


"Mulai!" Thalita memutar kursinya adan mengalungkan lengannya ke leher Zayn.


"Kau bergairah juga?" Tebak Zayn sok tahu.


"Tidak! Hanya saja, aku baru membeli lingerie baru kemarin. Kau mau melihatnya?" Thalita sedikit berbisik pada Zayn masih sambil mengalungkan lengannya di leher Zayn.


"Tentu saja! Ayo!" Jawab Zayn bersemangat.


"Gendong!" Thalita merentangkan kedua lengannya pada sang suami.


"Dasar manja!" Zayn sedikit membungkuk di depan Thalita, dan istrinyabitu naik dengan cepat ke punggungnya.


"Ya ampun! Kau sedikit berat sekarang!" Keluh Zayn yang langsung berhadiah cubitan dari Thalita.


"Semuanya salahmu!"


.


.


.


Barangkali ada yang kangen sama Thalita-Zayn 😆


Kalo nggak ada yaudah.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.