Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
JANGAN MENGGANGGUNYA LAGI



Angin bertiup perlahan menggerakkan dedaunan dan menimbulkan suara gemerisik. Kyle dan Zayn duduk bersisian di tepi kolam renang. Menatap pada air kolam yang memantulkan cahaya lampu yang mengelilingi halaman belakang kediaman Abraham. Sesekali air di kolam akan beriak karena hembusan angin atau karena adanya dajn kering yang jatuh ke atas kolam.


"Kau tahu, Kyle? Dulu aku pernah melakukan sebuah hal bodoh pada Audrey, saat aku mengizinkan Audrey menikah dengan Will, sahabat baikku," Zayn sudah buka suara dan memulai ceritanya.


"Saat itu aku pikir Will pasti akan menjaga dan mencintai Audrey karena Audey juga mengatakan kepadaku kalau ia merasa nyaman saat bersama Will. Bahkan Papa yang sebenarnya saat itu merasa keberatan dengan hubungan Will dan Audrey berhasil aku yakinkan."


"Namun ternyata keputusanku saat itu adalah sebuah keputusan yang salah." Wajah Zayn tertunduk lesu.


"Aku tak berhenti menyalahkan diriku sendiri saat melihat Audrey yang terpuruk karena perceraiannya dengan Will. Aku merasa sudah jadi seorang Abang yang gagal untuk Audrey," suara Zayn semakin terdengar menyedihkan.


"Terlebih saat Audrey mengatakan pada kami semua kalau ia atak mau menikah lagi selepas perceraiannya dengan Will, kami semua benar-benar khawatir."


"Saat itu, kami hanya bisa berdoa, agar suatu hari akan datang seorang pria baik yang mampu menhembuhkan luka dan trauma di hati Audrey. Pria baik yang akan menerima Audrey apa adanya tanpa pernah memandang masalalu Audrey."


Zayn tersenyum kecut.


"Siapa menyangka jika pria baik itu bernama Kyle Aditya Arthur."


"Aku akui, awalnya aku kaget saat Audrey yang tiba-tiba dekat dan menjalin hubungan denganmu. Aku sempat berpikir kalau mungkin saja kau hanya menjadikan Audrey sebuah pelarian dari pernikahanmu yang gagal dengan Valeria kala itu."


"Karena aku juga ada disana, saat kau dengan besar hati memberikan calon istrimu untuk pria lain."


"Tapi kau berhasil meyakinkan aku, Papa, dan Mama, kalau kau sungguh-sungguh mencintai Audrey dan sudah, melupakan semua masalalumu."


"Kau bahkan langsung membawa kedua orangtuamu datang kd rumah ini dan melamar Audrey demi menunjukkan keseriusanmu."


"Kau tahu, Kyle? Berapa kali Papa bertanya tentang keseriusanmu pada Audrey?"


"Berapa kali?" Tanya Kyle sedikit tergagap.


"Tiga kali! Papa sampai menanyaimu tiga kali, apa kau benar-benar serius pada Audrey, apa kau benar-benar mencintai Audrey, apa kau benar-benar tidak akan mengungkit hal apapun tentang masalalu Audrey. Papa terus menanyaimu hal-hal itu dan mengulanginya sampai tiga kali."


"Tapi saat itu kau benar-benar menjawabnya dengan lantang dan tegas tanpa rasa gentar sedikitpun. Sorot matamu juga menunjukkan sebuah kejujuran serta sebuah keseriusan. Kyle yang bijak dan dewasa yang benar-benar mencintai Audrey."


"Kehadiranmu di dalam hidup Audrey benar-benar bisa mengembakikan senyuman Audrey yang sudah lama hilang. Bahkan saat pesta pernikahan kalian, binar bahagia di wajah Audrey tak pernah pudar sepanjang acara."


"Dan di hari-hari selanjutnya, binar kebahagiaan di wajah Audrey semakin dan semakin terlihat jelas. Senyuman Audrey semakin lebar, tawa Audrey semakin lepas, adikku benar-benar bahagia dengan pernikahannya dan hidup barunya bersamamu."


"Lalu sebuah kecelakaan seakan menjadi babak baru untuk hubunganmu dengan Audrey. Audrey tiba-tiba menyalahkan dirinya sendiri, karena sesaat sebelum kecelakaan kau menelepon Audrey dan mengatakan akan memberikan hadiah untuk Audrey. Tapi hadiahnya jatuh di lantai mobil, dan kau melepas sabuk pengamananmu demi bisa mengambil hadiah tersebut-"


"Tidak ada yang menceritakan kepadaku detail kejadian itu," Kyle menyela cerita Zayn.


"Mungkin Audrey lupa menceritakannya kepadamu." Jawab Zayn berpendapat.


"Audrey pingsan saat kau dinyatakan koma."


"Audre tak pernah beranjak dari sisimu setelahnya. Selama seorkan kau terlelap dalam tidurmu, Audrey selalu berada disampingmu, menggenggam tanganmu, membisikkan semua kata-kata cinta agar kau cepat bangun, namun nyatanya saat kau bangun, kau malah tidak ingat pada Audrey," Zayn kembali tersenyum kecut.


"Audrey hancur."


"Tapi Audrey wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah, jadi dia tak berhenti berjuang agar ingatanmu lekas kembali. Bahkan saat kau terus membandingkannya denagn Valeria, Audrey memilih untuk menahan kekecewaan serta rasa sakit hatinya."


"Audrey mengatakan kepadaku, kalau dia tidak bisa mengembalikan ingatan Kyle Aditya Arthur, maka ia akan menbuat Kyle Aditya Arthur yang sekarang jatuh cinta lagi kepadanya dan tergila-gila lagi kepadanya."


Kyle sedikit tertegun dengan kalimat Zayn yang itu.


Semua hal romantis yang dilakukan oleh Audrey selama sebulan terakhir mendadak berkelebat di pikiran Kyle.


"Namun candaanmu yang mengungkit tentang status Audrey, mendadak membuat kekuatan Audrey menjadi runtuh. Apalagi saat kau memutuskan untuk menemui Valeria hanya demi memastikan keadaannya yang sangat bisa kau tanyakan lewat telepon, membuat hati Audrey semakin hancur."


"Itu bukan perjuangan yang sia-sia, Bang!" Ucap Kyle yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Audrey sudah berhasil membuat Kyle jatuh cinta lagi kepadanya."


"Terlambat!" Potong Zayn tegas.


"Audrey sudah pergi jauh, Kyle!" Imbuh Zayn lagi yang seolah seperti sebuah batu besar yang menghimpit dada Kyle.


"Pasti Abang tahu Audrey pergi kemana?" Tanya Kyle yang terlihat frustasi dan putus asa. Namun gelengan Zayn membuat harapan di hati Kyle menjadi lenyap.


"Bukan aku tidak mau memberitahumu, Kyle! Tapi aku memang tidak tahu Audrey pergi kemana. Tidak ada yang tahu Audrey menenangkan diri kemana, karena memang Audrey tidak memberitahu siapapun."


"Aku hanya mengantarnya tadi pagi ke bandara, dan Audrey sama sekali tak memberi tahu dia mau naik pesawat apa, penerbangan nomor berapa, tujuan ke kota mana. Sejuanya Audrey simpan rapat," tutur Zayn yang semakin membuat hati Kyle kehilangan harapan.


Bahkan keluarganya saja tak tahu Audrey pergi kemana. Lalu bagaimana Kyle akan bisa menemukan istrinya itu?


"Audrey hanya mengatakan kalau ia ingin menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya, sebelum ia mengambil keputusan," imbuh Zayn lagi yang membuat Kyle kembali harus tercengang.


"Keputusan? Keputusan apa maksudnya?"


"Keputusan apa Audrey akan tetap mempertahankan rumah tangganya bersamamu atau mengakhiri semuanya," jawab Zayn yang langsung membuat Kyle hilang arah.


"Tapi Kyle tidak mau berpisah dari Audrey, Bang! Kyle sudah jatuh cinta pada Audrey! Kyle tidak bisa berpisah dari Audrey!" Teriak Kyle seperti orang kesetanan. Pria itu juga sudah mengguncang-guncang kedua pundak Zayn.


"Sudah terlambat, Kyle!" Jawab Zayn tegas dan lantang.


"Semua sudah terlambat! Biarkan Audrey mengambil keputusannya, dan jangan pernah mengganggu hidup Audrey lagi!"


"Sudah cukup kau menyakiti hati Audrey dan membuatnya berurai airmata setiap hari."


"Jika sekarang kau muncul dihadapan Audrey, kau hanya akan membuat luka hati Audrey semakin menganga lebar. Jadi berhenti mencari Audrey dan tunggu saja sampai Audrey kembali, lalu memberikan keputusannya!" Tegas Zayn sekali lagi yang langsung membuat Kyle menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kyle tidak bisa, Bang! Kyle ingin minta maaf pada Audrey," suara Kyle terdengar semakin menyedihkan.


"Berhentilah, Kyle! Berhentilah mencari Audrey dan pulanglah!" Pungkas Zayn yang kini sudah bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kyle yang masih berkubang dengan semua penyesalannya.


.


.


.


Namanya penyesalan ya selalu di akhir.


Kalau di awal namanya pendaftaran, Babang Kyle!


Itu kata reader budiman.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


Oh,ya. Kalau belakangan ini banyak typo harap dimaklumi dulu.


Mataku rada nge-blur pas ngedit naskah 😅


Nanti beli kacamata dulu