
Audrey sudah duduk di sofa ruang tamu kediaman Abraham dan diapit oleh Mom Bi serta Mama Hanni.
Papa Hans yang duduk berhadapan dengan Dad Nick kembali menghela nafas kasar. Papa kandung Audrey tersebut sepertinya sedang berusaha meredam emosinya sendiri agar tak meledak.
"Aku tidak akan mengizinkan Kyle bertemu dengan Audrey sebelum ingatan putramu itu kembali," ucap Papa Hans akhirnya yang hanya membuat Dad Nick mengangguk pasrah.
Orang tua mana yang bisa terima jika putrinya terus disakiti hatinya?
"Kau sendiri yang dulu berjanji akan memberi pelajaran pada Kyle, jika ia berani menyakiti hati Audrey. Dan lihatlah sekarang!" Tangan Papa Hams sudah menunjuk ke arah Audrey yang wajahnya masih sembab.
"Aku benar-benar minta maaf, Hans! Aku sendiri tak menduga jika Kyle bisa jadi segila ini," tutur Dad Nick penuh rasa bersalah.
"Audrey akan tinggal disini sampai ingatan Kyle kembali," tegas Papa Hans sekali lagi.
Mom Bi dan Dad Nick saling berpandangan sebelum akhirnya mengiyakan meskioun masih mearsa berat. Tapi Audrey juga punya hak untuk menenangkan diri. Sudah terlalu banyak airmata yang ditumpahkan Audrey karrna sikap labil Kyle belakangan ini.
Semoga dengan keputusan ini, Kyle akan segera sadar betapa berharganya Audrey.
Mom Bi memeluk Audrey sekali lagi sebelum berpamitan pada keluarga Abraham.
"Mom harap, kamu akan pulang ke rumah secepatnya, Audrey," ucap Mom Bi yang malah membuat airmata Audrey kembali berlinang.
"Mom pamit. Kamu jaga kesehatan disini, ya! Kamu bisa telepon Mom kapan saja jika ingin mengobrol apapun," pesan Mom Bi sekali lagi yang hanya ditanggapi Audrey dengan anggukan berulang-ulang.
"Maafkan Audrey, Mom! Audrey hanya tidak bisa berdekatan dengan Kyle sementara ini," cicit Audrey di sela-sela isak tangisnya.
"Mom tahu! Mom paham," Mom Bi mengusap lembut kepala Audrey.
Setelah berpamitan sekali lagi pada Papa Hans dan Mama Hanni, Mom Bi dan Dad Nick akhirnya meninggalkan kediaman Abraham.
Meninggalkan Audrey dengan semua luka hatinya karena ingatan Kyle yang tak kunjung kembali.
"Papa akan mengurus surat ceraimu denagn Kyle," ucap Papa Hans pada Audrey yang masih tergugu du pelukan Mama Hanni.
"Hans! Jangan gegabah!" Sergah Mama Hanni memperingatkan sang suami.
"Audrey tidak mau berpisah dari Kyle , Pa!" Ucap Audrey dengan airmata yang masih berderai.
"Apalagi yang ingin kau harapkan jika ingatan Kyle tidak pernah kembali, Audrey? Kau mau terus-terusan disakiti begini?" Cecar Papa Hans emosi.
"Tapi Audrey juga tidak mau menjadi janda untuk kedua kalinya, Pa!" Sergah Audrey ikut emosi dan tangisnya semakin menjadi.
"Pa! Jangan mengambil keputusan saat suasana panas begini!" Zayn yang sejak tadi hanya diam dan menguping akhirnya angkat suara.
"Biarkan Audrey menenangkan diri, lalu mengambil keputusannya sendiri!" Imbuh Zayn lagi yang sontak berhadiah delikan dari sang Papa.
"Zayn benar, Hans! Kita berikan waktu untuk Audrey menenangkan diri dulu. Lalu biarkan Audrey yang mengambil keputusannya sendiri. Apakah dia masih ingin tetap bersama Kyle atau berpisah dari Kyle," tutur Mama Hanni seraya mengusap lengan Papa Hans dan membujuk suaminya tersebut.
"Audrey pasti tahu keputusan mana yang terbaik untuk dirinya, Pa! Jadi kita harus menghargai apapun keputusan Audrey," ujar Zayn yang ikut-ikutan membujuk sang Papa.
Papa Hans kembali menghela nafas kasar dan tak melanjutkan perdebatannya lagi dengan Zayn dan mama Hanni.
Semua keputusan baiknya memang diserahkan pada Audey sekarang.
****
Kyle masih mengendarai mobilnya meskipun malam sudah semakin larut dan jalanan mulai lengang. Hanya tinggal beberapa kilometer lagi dan Kyle akan segera tiba di rumah Valeria.
"Kau sendiri yang mengakhiri hubunganmu bersama Vale, Kyle! Kau memutuskannya di detik terakhir sebelum kau mengucapkan ikrar suci pernikahan!" Suara Audrey terngiang-ngiang kembali di telinga Kyle.
"Hubungan kita yang mana, Bang? Semuanya sudah berakhir. Abang senduri yang mengakhiri semuanya!" Kali ini ganti suara Valeria yang menari-nari di kepala Kyle.
Kenapa Kyle mengakhiri hubungannya dengan Vale dan membatalkan pernikahannya sendiri. Kyle mencintai Vale!
Apa sebenarnya yang salah dengan hubungan Vale dan Kyle hingga Kyle membatalkan pernikahannya di detik terakhir?
Sebuah sorot lampu dari truk yang melaju kencang, menyentak lamunan Kyle dan membuat pria itu sedikit kaget. Kyle berulang kali mebarik nafas panjang berusaha menormalkan irama jantungnya yang nyaris melompat keluar.
Kyle memeriksa sekali lagi peta ke rumah Arga. Belokan depan Kyle hanya perlu berbelok ke arah kiri, lalu ia akan menemukan rumah dan toko yang berseberangan di bawah bukit. Itu adalah rumah Arga.
"Itu dia!" Gumam Kyke saat melihat cahaya lampu dari satu-satunya rumah yang ada di tempat itu. Kyle masih ingat dengan mobil pick up doubod kabin milik Arga yang ia lihat di rumah Om Theo kala itu. Dan sekarang mobil itubterparkir tepat di depan rumah Arga.
Toko sekaligus pom mini yang berada di seberang rumah Arga sudah tertutup rapat dan hanya ada cahaya di depan toko yang masih meyala.
Kyle melirik arlojinya yang kini menunjukkan pukul dua dinihari. Pria itu menguap lebar.
Tak sopan rsanya jika Kyle mengetuk pintu sekarang dan membangunkan Valeria yang pasti sudah terlelap. Sebaiknya Kyle beristirahat di dalam mobilnya sambil menunggu hari terang dan matahari terbit esok pagi.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.