Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
HATI-HATI!



"Kamu nanti pulang dari kampus jam berapa, Vin?" Tanya Audrey pada Alvin yang sedang memakai sepatunya di teras depan.


"Mungkin sore, Kak! Kak Audrey mau titip sesuatu?" Alvin balik bertanya.


"Aku mau makan jeruk bali. Yang bulat dalamnya warna merah, bulir buahnya besar-besar itu," jawab Audrey sedikit menjeladkan pada Alvin.


"Di tukang buah depan kompleks nggak ada?" Tanya Alvin mengerutkan kedua alisnya.


Audrey menggeleng dengan cepat.


"Kata ibu penjual buahnya belum musim. Tapi mungkin kalau berkeliling pasar ada yang jual," jelas Audrey lagi dan Alvin hanya manggut-manggut.


"Aku akan ke pasar naik taksi saja nanti dan mencarinya sendiri," putus Audrey akhirnya.


"Ke pasar yang dekat saja, Kak! Jangan pasar lain! Nanti kalau masih belum dapat Kak Audrey telepon Alvin saja. Biar Alvin carikan pulang dari kampus," ucap Alvin berpesan pada Audrey.


"Baiklah!" Audrey mengangguk paham.


"Tante Viola biasanya pulang jam berapa?" Tanya Audrey selanjutnya pada Alvin.


Hari ini Tante Viola dan Om Alex memang sedang ada acara di luar.


"Katanya kalau nggak sore ya malam. Kakak nggak apa-apa, kan di rumah sendiri sampai sore?" Tanya Alvin khawatir.


"Nggak apa-apa, Vin! Aku kan bukan bayi!" Jawab Audrey sediiit terkekeh.


"Baiklah, Alvin pergi ke kampus dulu, Kak!" Pamit Alvin serayamemakai tas punggungnya. Pemuda itu lanjut mengenakan helm di kepalanya.


"Kencangin itu tali helmnya!" Pesan Audrey yang hanya membuat Alvin nyengir dan sepupu Audrey tersebut buru-buru mengencangkan tali helmnya.


"Bye!" Alvin melambaikan tangan ke arah Audrey sebelum memacu motornya kekuar dari gerbang.


Audrey segera menutup pintu gerbang depan, dan wanita itu memilih untuk mandi dulu sebelum pergi ke pasar mencari jeruk bali.


****


Kyle baru tiba di rumah, setelah membeli makanan, saat pria itu melihat sebuah taksi yang berhenti di depan rumah Tante Viola. Tak berselang lama, Kyle melihat Audrey yang naik ke dalam taksi sendirian.


Dimana Alvin atau tante Viola?


Kenapa Audrey pergi sendiri naik taksi?


Kyle tak jadi masuk ke dalam rumah dan memakai kembali helmnya, lalu membuntuti taksi yang dinaiki oleh Audrey.


****


Kyle masih terus membuntuti taksi Audrey yang sepertinya hendak menuju ke arah pasar yang tak jauh dari kompleks. Taksi berhenti di dekat deretan penjual buah. Kyle memilih untuk memarkirkan motornya sedikit jauh agar tak memhuat Audrey curiga.


Kyle melepas helmnya dan ganti memakai topi hitam serta masker yang menutupi sebaian wajahnya. Mata Kyle tetap awas mengamati Audrey yang berjalan sedikit tertatih ke arah salah satu kios penjual buah. Perut Audrey yang sudah begitu besar dan membulat, sepertinya sedikit menghambat langkah istri Kyle tersebut.


Kyle sedikit mendekat ke arah Audrey yang sedang memilih-milih buah di depannya tanpa rasa tertarik. Sepertinya Audrey menginginkan buah lain.


"Jeruk balinya nggak ada, ya, Pak?" Tanya Audrey pada bapak penjual buah.


"Belum musim, Non! Belum pada matang buahnya!" Jawab Bapak penjual buah yang langsung membuat Audrey menunjukkan raut kekecewaan di wajahnya.


Audrey melanjutkan langkahhya menuju ke kios buah berikutnya dan pertanyaannya masih sama. Menanyakan tentang keberadaan si jeruk bali yang tak kunjung ada hingga di kios buah terakhir.


Audrey menarik nafas panjang dan kecewa berat karena tak menemukan buah yang ia cari. Ibu hamil itu kembali berjalan dan sedikit melamun, saat tiba-tiba dompet yang ada di genggamannya dirampas paksa oleh seorang pemuda asing. Audrey yang kaget hanya berdiri mematung saat dompetnya dibawa kabur oleh pencopet tadi.


"Copet!" gumam Audrey yang masih terlihat kaget.


"Copet!" Teriak Audrey sekai lagi pada orang-orang di sekitarnya. Namun sepertinya tak ada yang peduli, kecuali seorang pria bertopi dan bermasker yang langsung dengan sigap mengejar si pencopet, sesaat setelah copet tak beradab itu merampas dompet Audrey.


Kyle terus mengejar pencopet yang membawa dompet Audrey, dan tak butuh waktu lama, Kyle sudah berhasil melumpuhkan copet yang ternyata masih bocah tersebut.


Brengsek!


"Maaf, Om! Saya lapar," ucap copet tersebut dengan wajah memelas.


Kyle menahan tangannya dan tak jadi menghadiahi copet tersebut dengan bogem mentah. Apalagi mengingat Audrey yang sedang hamil besar, membuat Kyle seketika menahan emosi dalam dadanya.


Kyle mengambil dompet Audrey lalu ganti mengeluarkan dompetnya dari dalam saku, dan memberikan beberapa lembar uang warna biru pada copet bocah tersebut.


"Untuk membeli makanan! Dan jangan jadi copet lagi!" Pesan Kyle sebelum berlalu pergi meninggalkan bocah yang kini tersungkur di atas trotoar tersebut.


Kyle segera berjalan kembali ke arah Audrey yang rupanya sudah menyusul dirinya dan copet tadi. Wajah Audrey terlihat masih kaget dan kebingungan.


"Dompet anda, Nona!" Kyle mengembalikan dompet Audrey sambil,sedikit membenarkan letak topinya.


Audrey menatap ke arah wajah Kyle yng hanya terlihat matanya saja. Wanita itu sejenak mematung karena seperti mengenal tatapan mata itu.


Mungkinkah?


Tidak mungkin!


Itu tidak mungkin adalah Kyle!


"Lain kali hati-hati dan jangan melamun di tempat umum," pesan Kyle yang suaranya sedikit teredam oleh masker hitam yang ia kenakan.


Audrey hanya mengangguk dan sedikit salah tingkah karena tatapan dari pria yang baru saja menyelamatkan dompetnya tersebut. Audrey seperti melihat tatapan mata milik Kyle.


Tapi pria ini tak mungkin Kyle, kan?


Bukankah Kyle tidak tahu kalau Audrey sedang ada di Bali sekarang?


Mama, Papa, dan abang Zayn saja tidak tahu Audrey dimana, jadi bagaimana Kyle bisa tahu?


Jadi mungkin ini hanya seorang pria asing yang kebetulan matanya mirip dengan milik Kyle.


Atau mungkin Audrey terlalu rindu pada suaminya itu, hingga Audrey berhalusinasi?


"Nona!" Suara Kyle yang masih berdiri di depan Audrey, segera mengagetkan wanita itu dan membuyarkan lamunan Audrey.


"Jangan melamun di tempat umum!" Pesan Kyle sekali lagi dan Audrey kembali mengangguk dengan salah tingkah.


Kebetulan ada taksi yang melintas, jadi buru-buru Audrey menghentikannya dan masuk ke dalam taksi tanpa berpamitan pada pria asing yang baru saja menolongnya.


Audrey tak berhenti memikirkan pria asing tersebut.


****


Hari sudah beranjak sore, saat suara mobil Om Alex masuk ke garasi.


Audrey yang sudah duduk di posisi ternyamannya di sofa sambil menonton acara kartun di televisi, enggan beranjak atau menyambut Om dan Tantenya yang baru pulang.


"Sore!" Sapa Tante Viola seraya mengulas senyum di bibirnya.


"Sore, Tante! Sudah selesai bulan madunya?" Balas Audrey sedikit menggoda pada tantenya yang awet muda tersebut.


"Sudah, dong! Sebentar lagi adik untuk Alvin akan jadi dan Tante Viola akan langsung saingan sama kamu!" Sahut Om Alex yang sudah ikut menyusul masuk ke dalam rumah.


"Ngomong apa, sih, Pi! Udah tua juga, masa masih mau punya bayi," decak Tante Viola yang sontak membuat Audrey dan Om Alex tergelak bersamaan.


"Ini apa, Tante?" tanya Audrey seraya menunjuk ke kantong plastik watna hitam yang tadi dibawa oleh Tante Viola.


"Lah, Tante baru mau tanya sama kamu, ini apa?"


"Mana Audrey tahu? Kan Tante yang bawa," Audrey mengernyit tak paham.


"Tante menemukannya tergantung dj pagar depan. Ada nama kamu, jadi tabte pikir kamu pesan makanan trus lupa," cerita Tante Viola yang semakin membuat Audrey mengernyit bingung.


Audrey membuka bungkusan berwarna hitam tersebut dan langsung menemukan dua buah jeruk Bali berukuran cukup besar.


"Jeruk Bali? Kamu ngidam jeruk Bali?" Tanya Tante Viola menyelidik.


"Iya, tadi sesiangan Audrey muter-muter di pasar dan nggak ada yang jual. Kok sekarang ada yang ngirim ke rumah?" Jawab Audrey sedikit bingung.


Audrey juga belum menelepon Alvin kalau ia tak mendapatkan jeruk Bali di pasar dekat rumah. Jadi ini pasti bukan kerjaan Alvin. Lalu siapa yang mengirimkannya untuk Audrey?


Telepon rumah berbunyi. Om Alex yang paling dekat dengan telepon langsung mengangkatnya.


"Halo!"


"Halo, Papi? Sudah pulang?"


Rupanya Alvin yang menelepon.


"Iya, sudah! Kamu kelayapan kemana? Kenapa meninggalkan Audrey sendirian?"


"Ck! Alvin ada kelas sampai sore, Pi! Ini baru keluar dari kelas. Kak Audrey udah dapat jeruk balinya belum? Tadi pagi katanya ngidam jeruk bali."


"Sudah! Barusan ada yang mengantar kerumah. Tidak tahu dari siapa," jawab Om Alex.


"Huh! Baguslah kalau begitu! Alvin akan langsung pulang," pungkas Alvin sebelum akhirnya panggilan terputus. Om Alex meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.


"Yaudah kamu makan saja, Audrey! Anggap saja rezeki dari orang baik!" Saran Tante Viola seraya menepuk pundak Audrey.


Audrey hanya mengangguk, dan ibu hamil itu segera bangkit berdiri menuju ke dapur untuk membuka jeruk bali yang terlihat menggiurkan tersebut.


.


.


.


Kyle masih malu malu meong buat membuka penyamarannya, gueess!


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.