Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
KERAS KEPALA



Hari masih pagi saat Kyle terjaga dari tidurnya.


Semalaman Kyle tidak bisa tidur nyenyak karena pikirannya terus saja tertuju pada Valeria. Kyle benar-benar khawatir dengan kondisi Valeria sekarang.


Saran Audrey agar Kyle menghubungi keluarga Rainer untuk bertanya kondisi Valeria juga tak diindahkan oleh Kyle. Lagipula, Vale sudah tidak tinggal di kediaman Rainer sekarang dan sudah ikut suaminya tinggal di rumah terpencil mereka di dekat pesisir. Jadi mana Om Theo tahu kondisi sang putri saat ini?


Kyle meraih ponselnya di atas nakas dan segera menghubungi Daniel meskipun sekarang baru pukul enam pagi.


"Halo, Kyle! Kau sudah tiba di rumah?" Sapa Daniel dari seberang telepon.


"Daniel, bisa kau kirimkan alamat rumah suami Vale sekarang?" Bukannya menjawab sapaan Daniel Kyle malah langsung memberikan perintah pada sahabat sekaligus asistennya tersebut.


"Kenapa bertanya masalah Vale lagi, Kyle? Bukankah kau sudah betjanji pada Uncle dan Aunty kalau kau akan melupakan Vale? Kau bukan lagi Kyle 22 tahun yang berpacaran dengan Valeria Rainer! Kau Kyle 27 tahun, suami dari Audrey Zivia Abraham!"


Daniel memperingatkan Kyle dengan tegas.


"Aku hanya ingin memastikan kondisi Valeria! Aku bermimpi dan mendapatkan firasat buruk tentang Vale!" Jawab Kyle tak kalah tegas dan galak pada Daniel.


"Lagipula, aku masih tidak paham kenapa Vale bisa tiba-tiba berpaling dariku dan memilih menikah dengan pria lain, lalu membiarkanku menikahi seorang janda." Kyle sedikit terkekeh di bagian akhir kalimat.


"Kau sudah ingat semua hal tentang Audrey? Bukankah Vale juga sudah menjelaskan kepadamu alasan hubungan kalian kandas?"


"Vale tidak menjelaskannya! Vale hanya mengatakan kalau aku yang mengakhiri semuanya? Apa memang alasanku mengakhiri hubunganku dengan Vale? Aku sangat mencintai Vale!" Sergah Kyle dengan nada meninggi.


"Tanyakan semuanya pada Aunty dan minta Aunty menceritakan secara detail dan lengkap mengapa hubunganmu dengan Vale bisa kandas waktu itu!"


"Aku mau mendengar semuanya langsung dari Vale! Jadi kirimkan saja alamat rumah Vale sekarang agar aku bisa menemuinya!" Tegas Kyle sekali lagi memberikan perintah pada Daniel.


"Kau gila! Aku tidak akan memberikan alamat rumah Vale!"


"Daniel!"


Tuut tuut tuut!


Sambungan telepon diputus begitu saja oleh Daniel.


"Aaarrgh! Dasar brengsek!" Kyle menggeram emosi dan melemparkan ponselnya ke atas nakas, lalu keluar dari kamar.


Audrey yang sejak tadi sudah bangun dan mendengar percakapan Kyle dan Daniel di telepon hanya bisa menyeka airmatanya dengan kasar.


"Aku sangat mencintai Vale!"


"Kenapa aku malah melepaskan Vale dan memilih menikah dengan seorang janda?"


Kata-kata Kyle yang membandingkan Audrey dengan Vale kembali menari-nari di benak Audrey. Ditambah Kyle yang menyebut-nyebut status Audrey dan nada bicaranya yang seolah menyesal karena telah menikahi seorang janda, membuat rasa sesak di dada Audrey kian menggunung.


Apa yang salah dengan sebuah status?


Bukankah sejak awal Kyle sendiri yang mengejar-ngejar Audrey?


Vale memang lebih segala-galanya dibanding Audrey. Tapi haruskah Kyle kembali mengungkitnya sekarang?


****


Kyle masih berada di dalam mobilnya yang sedang terparkir di halaman depan Rainer's Resto. Sepertinya pria itu tengah menunggu seseorang keluar dari dalam Rainer's Resto.


Dan benar saja, tak berselang lama, Ben keluar dari dalam Restorant sang Papa dan hendak mengambil motornya. Bergegas Kyle turun dari mobil dan menghampiri Ben.


"Ben!" Sapa Kyle pada adik laki-laki Valeria tersebut.


"Kabarku baik. Bisa ikut aku sebentar?" Kyle sudah merangkul pundak Ben dan mengajak pemuda itu masuk ke dalam mobilnya.


"Kita mau kemana, Bang?" Tanya Ben bingung karena Kyle malah menyodorkan ponselnya kepada Ben sekarang.


"Aku akan minta baik-baik, dan tolong kau tuliskan alamat lengkap rumah suami Valeria sekarang!" Ucap Kyle dengan lembut namun sedikit tegas.


"Kenapa mendadak minta alamat rumah Bang Arga? Abang mau mengunjungi mereka?" Tanya Ben tak paham.


"Anggap saja begitu! Aku ingin bicara hal penting pada Vale dan mengunjunginya," jawab Kyle yang nada bicaranya sudah sedikit meninggi.


"Abang bisa menelepon Kak Vale jika memang mau mengobrol dengannya. Ben akan menuliskan nomor telepon rumah Bang Arga karena jarang ada sinyal ponsel disana." Ben segera mengetikkan nomor rumah Arga di ponsel Kyle, saat tiba-tiba Kyle sudah menarik kerah baju Ben dan menatap tajam ke arah pemuda dua puluh dua tahun tersebut.


"Aku tidak butuh nomor telepon rumah Arga! Aku butuh alamat lengkapnya, Ben!" Tegas Kyle dengan suara lantang dan galak.


"Berikan sekarang!" Perintah Kyle lagi yang masih menatap tegas pada Ben yang sedikit ketakutan.


"Tapi, Bang-"


"Berikan saja!" Sergah Kyle tak mau tahu.


Ben tak punya pilihan dan segera mengetikkan alamat lengkap rumah Arga di notes ponsel Kyle.


"Abang dan Kak Vale sudah sama-sama menikah dan berkeluarga! Kenapa Abang masih saja mencari-cari Kak Vale?" Tanya Ben tak mengerti sambil tangannya masih mengetikkan alamat Arga.


"Bukan urusanmu!" Sentak Kyle galak seraya merebut ponselnya dari tangan Ben karena pemuda itu juga sudah selesai mengetikkan alamat Arga.


"Keluar!" Usir Kyke selanjutnya pada Ben.


"Berhentilah mengganggu hidup Kak Vale, Bang! Hanya karena abang amnesia, bukan berarti Abang bisa kembali menjadi kekasih Kak Vale!" Ucap Ben tegas seolah sedang memperingatkan Kyle.


Pemuda itu membuka pintu mobil Kyle dan keluar dengan cepat lalu membantingnya penuh emosi.


"Aku tidak mengganggu hidup Vale! Aku hanya ingin menyelamatkan Vale dari penculikan," gumam Kyle yang segera melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Rainer's Resto.


Ben masih mematung menyaksikan kepergian mobil Kyle hingga akhirnya pemuda itu tersadar dan segera mengumpat.


"Sial!"


Ben menaiki motornya dengan cepat dan segera memacunya ke arah kediaman Arthur.


Sebaiknya Ben memberitahu Uncle Nick dan Aunty Bianca.


.


.


.


Mohon maaf bikin esmosi.


Kyle masih ngelindur sodarah-sodarah.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.