Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
KENAPA?



Kediaman Abraham,


Audrey masih melamun di balkon kamarnya, saat bunyi notifikasi di ponselnya membuyarkan semua lamunan Audrey. Audrey hanya melihat sekilas ke layar ponselnya, dan hendak mengacuhkannya saja. Namun saat melihat kalau itu adalah notifikasi dari aplikasi pengingat jadwal menstruasinya, Audrey mendadak jadi tercengang.


'Sudah terlambat tiga hari dari jadwal menstruasi'


Demikian isi notifikasi tersebut.


Audrey tak pernah terlambat sebelumnya. Bahkan selalu mendapatkan tamu bulanan sebelum jadwal.


Aneh!


Buru-buru Audrey beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Audrey membuka lemari puyih di dekat wastafel dan mencari-cari sesuatu di dalamnya.


Dapat!


Audrey membuka bungkus benda berwarna biru tersebut meskipun sedikit ragu. Tapi tidak ada salahnya dicoba. Dan kalaupun hasilnya negatif, bukankah Audrey sudah terbiasa?


Audrey masuk sebentar ke toilet lalu keluar lagi membawa cup berisi air seninya. Audrey mencelupkan benda pipih tadi ke dalam cup dan menggigit bibir bawahnya saat menunggu hasilnya.


Satu garis merah sudah terlihat jelas, lalu menyusul garis merah selanjutnya yang sedikit samar. Tapi itu memang sebuah garis merah, dan kini alat itu menunjukkan dua garis merah yang langsung membuat airmata Audrey jatuh tak terbendung.


Audrey hamil!


Audrey akhirnya hamil.


Tapi kenapa harus di saat hubungannya dengan Kyle memburuk begini?


****


Arga mendengus kasar dan memilih untuk berbalik meninggalkan Paman Jo yang masih asyik menyaksikan adegan pelukan antara Kyle dan Valeria.


Menyebalkan!


"Mereka terlihat akrab," ucap Paman Jo yang sudah menyusul Arga ke ruang makan.


"Ya, Kyle adalah calon suami Vale sebelum pernikahan mereka gagal waktu itu," jawab Arga sedikit ketus.


"Wow! Jadi itu adalah orang baik yang kau ceritakan waktu itu. Yang membuat kau akhirnya bisa menikah denagn Vale. Dan sekarang dia datang hendak mengambil Vale lagi darimu." Paman Jo terkekeh kecil.


"Tidak ada orang baik yang benar-benar baik ternyata, " sambung Paman Jo lagi dengan nada sarkas.


"Dia kehilangan sebagian ingatannya," ucap Arga memasang wajah kecut.


"Tapi dia ingat pada Vale. Dulu saat Vale hilang ingatan dia tidak ingat apapun tentang dirinya," paman Jo memasang raut wajah bingung.


"Itulah! Kasus hilang ingatan yang dialami Kyle memang lain daripada yang lain. Dia hanya kehilangan ingatannya lima tahun terakhir. Selebihnya, dia masih ingat jelas semua hal tentang dirinya, keluarganya, teman-temannya, dan rekan kerjanya." Arga menghela nafas sejenak.


"Dia juga lupa tentang istrinya dan malah ingat pada Vale. Bukankah itu menyebalkan?" Sambung Arga lagi yang kembali harus berdecak.


"Siapa yang menyebalkan, Ayah?" Tanya Vaia yang tiba-tiba sudah berada di ruang makan.


"Tidak ada? Tidak ada yang menyebalkan! Kau sudah selesai mandi?" Jawab Arga yang langsung mengulas senyuman pada sang putri.


Pesan Vale agar Arga tak menunjukkan kemarahannya di depan anak-anak selalu Arga ingat dan pegang teguh.


"Sudah! Bunda mana?" Tanya Vaia yang tak menemukan sang bunda setelah mengedarlan pandangannya ke ruang makan dan juga dapur.


"Bunda disini!" Sahut Vale yang sudah ikut bergabung ke ruang makan dengan Kyle yang juga kini sudah duduk di samping Paman Jo.


"Sarapan, Kyle!" Ucap Paman Jo ramah seraya meletakkan piring berisi nasi ke hadapan Kyle.


"Terima kasih, Jo," balas Kyle sedikit canggung.


Vale sendiri sudah sibuk mengambilkan makanan untuk Arga dan juga Vaia. Wanita itu terlihat bahagia bersama keluarga kecilnya.


****


Acara sarapan di rumah Arga sudah selesai.


Arga dan Paman Jo segera ke toko karena ada barang yang datang hari ini. Mereka berdua langsung sibuk di toko. Sedangkan Vale masih sibuk mengurus Ezra yang ternyata sedikit rewel hari ini. Dan Kyle memilih untuk duduk bersama Vaia yang sedang sibuk menggambar di teras depan.


"Vaia tidak sekolah?" Tanya Kyle membuka obrolan dengan bocah tujuh tahun tersebut.


"Masih libur, Om!" Jawab Vaia tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas gambar yang ada di depannya.


"Adik Ezra, ayo main sama Kak Vaia!" Bujuk Vaia seraya merentangkan kedua tangannya pada Ezra. Namun bayi laki-laki berusia satu tahun tersebut langsung menolak dan masih terus bergelayut pada Vale.


"Vaia main sendiri dulu, ya!" Ucap Vale lembut seraya mengusap kepala sang putri. Vaia mengangguk paham dan segera turun ke halaman untuk bermain ayunan yang ada di bawah pohon.


Vale membereskan peralatan gambar Vaia masih sambil memangku Ezra.


"Vale soal hubungan kita dan penculikan itu," Kyle yang akhirny apunya kesempatan untuk bicara pada Vale seoalh tak membuang waktu.


"Itu sudah lama berlalu, Bang! Bukankah Vale sudah mengatakan kalau hubungan kita sudah lama berakhir?" Ucap Vale menatap tegas pada Kyle.


"Tapi apa masalahnya? Kita saling mencintai, dan sudah merencanakan sebuah pernikahan. Membangun kekuarga, memiliki anak-anak yang lucu. Kenapa kau malah menikah dengan Arga yang seorang-"


"Duda?" Vale melanjutkan kalimat Kyle.


"Kau menikah seorang duda, lalu membiarkan aku menikah denagn seorang janda. Kekonyolan macam apa ini?" Kyle tertawa sumbang.


"Ini bukan kekonyolan. Ini hanya soal jodoh!" Sergah Valeria masih tegas.


"Abang sendiri yang waktu itu mengatakan pada Vale kalau kita memang tak berjodoh. Jadi abang meminta Vale menikah dengan Arga dan menjadi bunda sambung untuk Vaia!" Ujar Vale mencoba menjelaskan pada Kyle.


"Aku yang memintamu menikah dengan Arga?" Tanya Kyle dengan raut wajah bingung.


"Ya! Abang sendiri yang saat itu menarik tangan Arga, memaksanya untuk duduk di deoan pak Penghulu dan mengucapkan ikrar suci pernikahan nenggantikan posisi Abang! Apa tidak ada yang menceritakan semua itu pada Abang?" Tutur Vale panjang lebar yang sepertinya sedikit emosi dengan sikap Kyle yang terus mengungkit - ungkit soal pernikahan mereka yang batal kala itu.


"Tapi kenapa aku melakukannya?" Tanya Kyle bingung.


"Karena Abang tidak mau menyakiti Vaia!"


Vale sudah sekesai membereskan peralatan menggambar Vaia. Wanita itu menghela nafas panjang berulang kali sebelum melanjutkan ceritanya.


"Vale diculik, seminggu sebelum pernikahan kita berdua. Kronologinya sama persis seperti cerita Abang tadi pagi."


"Lalu Vale jatuh ke jurang, dan mengalami amnesia. Vale ditemukan oleh Arga dan Vaia. Mereka berdua yang merawat Vale hingga sembuh dan mereka juga yang mengantar Vale pulang, setelah Arga secara tak sengaja menemukan selebaran yang memberitakan Vale sebagai orang hilang." Valeria kembali menghela nafas panjang.


Dan Kyle masih menyimak cerita Vale seraya membisu. Hanya Ezra yang terlihat bergerak-gerak gelisah dan merasa tak nyaman. Namun bayi laki-laki itu langsung diam saat Vale memberinya sebuah mainan.


"Vale tinggal disini selama sebulan lebih saat amnesia. Dan Vale jadi dekat dengan Vaia karena Vaia yang tak pernah merasakan kasih sayang dari bunda kandungnya selau menganggap Vale adalah bundanya," sambung Vale lagi yang seketika membuat raut wajah Kyle berubah.


"Bagaimana dengan Arga? Kau juga dekat dengannya selama sebulan tinggal bersama itu? Kau merasa kau adalah wanita lajang dan melupakan hubungan kita begitu saja?" Sergah Kyle dengan nada bicara yang sedikit meninggi.


"Vale tidak ingat sama sekali siapa Vale waktu itu!" Kilah Vale membela diri.


"Bahkan nama Vale saja Vale tidak mengingatnya! Dan saat Arga mengantar Vale pulang ke rumah Papa, barulah Vale mengingat semuanya! Barulah Vale ingat kalau Vale adalah calon istri Abang Kyle, tapi-" suara Vale tercekat di tenggorokan. Bersamaan dengan Ezra yang tiba-tiba menangis karena sang Bunda yang juga sudah berurai airmata.


"Tapi apa?" Tanya Kyle tak sabar.


"Tapi-" Vale membawa Ezra ke dalam pelukannya dan menenangkan bayinya tersebut, saat Arga tiba-tiba sudah muncul di teras dan mengambil alih Ezra dari pelukan Vale.


"Biar aku membawa Ezra ke toko!" Ucap Arga menatap dingin pada Vale.


"Aku bisa menenangkannya," tukas Vale merasa keberatan. Cepat-cepat Vale menyeka airmatanya dengan kasar.


Namun Arga tetap memaksa untuk mengambil Ezra yang menangis dari pelukan Vale dan pria itu juga memanggil Vaia yang masih bermain ayunan.


Arga membawa kedua anaknya menyeberang jalan dan masuk ke toko.


"Tapi apa, Vale?" Tanya Kyle sekali lagi karena Vale yang memutus kalimatnya tadi.


"Tapi perasaan Vale ke Abang sudah menguap pergi, saat Vale kembali. Hati Vale sudah berpaling pada Arga dan Vaia!" Jawab Vale penuh emosi yang terdengar seperti sebuah sambaran petir di hati Kyle.


Apa sebelumnya juga sesakit ini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.