Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
MAU KEMANA?



Tok tok tok!


Audrey mengetuk pintu kamar Zayn meskipun sedikit ragu. Semoga Abang kesayangan Audrey itu belum tidur.


Tak butuh waktu lama, dan pintu kamar segera dibuka dari dalam. Zayn yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan menatap bingung ke arah Audrey.


"Ada apa, Audrey?"


"Apa Audrey mengganggu tidur Abang?" Tanya Audrey sedikit ragu.


"Tidak sama sekali! Abang belum tidur tadi. Apa ada masalah?" Tanya Zayn lagi merasa khawatir.


"Apa besok pagi-pagi Abang bisa mengantar Audrey ke bandara?" Audrey mengungkapkan permintaannya.


"Mau kemana?" Tanya Zayn tidak mengerti.


"Ada apa, Zayn?" Thalita sudah ikut mendekat dan menarik lengan Audrey, mengajak adik iparnya itu masuk ke dalam kamar.


"Audrey ingin aku mengantarnya ke bandara besok pagi," jawab Zayn setelah menutup pintu kamar.


"Kau mau kemana, Audrey?" Thalita ikut-ikutan bertanya pada Audrey.


"Pergi jauh dan menenangkan diri," jawab Audrey seraya menundukkan wajahnya.


"Kau bisa menenangkan diri di rumah ini, Audrey! Jika Kyle datang kesi-"


"Audrey tidak bisa, Bang! Terlalu banyak kenangan Audrey dan Kyle di kamar Audrey, di setiap sudut rumah ini!" Audrey sudah berurai airmata. Segera Thalita memeluk adik iparnya tersebut.


"Audrey hanya ingin berpikir jernih sekarang." Ucap Audrey lagi.


Dan berusaha melupakan Kyle meskipun itu mustahil.


Audrey bahkan sedang mengandung anak Kyle sekarang, jadi bagaimana Audrey bisa lupa pada suaminya itu?


Tapi jika Audrey tetap berada di rumah ini, pikiran Audrey hanya akan semakin terpuruk, dan itu pasti akan sangat berpengaruh pada perkembangan janinnya. Audrey hanya ingin menjaga janinnya agar tumbuh dengan baik tanpa rasa tertekan.


Belum lagi Kyle dan keluarganya yang akan dengan mudah menemui Audrey. Dan usaha Audrey untuk menjernihkan pikiran pasti akan berakhir sia-sia, karena pasti Audrey tidak akan tahan lagi untuk tidak pulang ke kediaman Arthur.


Audrey butuh tempat dan suasana baru sekarang.


Audrey butuh menjauh dari Kyle dan keluarganya.


"Zayn, aku rasa keputusan Audrey harus kita hargai," ujar Thalita mengungkapkan pendapatnya.


"Tapi kau mau pergi kemana, Audrey?" Zayn terlihat begitu khawatir.


Padahal Audrey belum memberitahu abangnya ini tentang kehamilannya. Tapi Zayn sudah sangat khawatir.


"Ke suatu tempat. Abang hanya perlu mengantar Audrey," jawab Audrey yang sepertinya tak berniat memberitahu siapapun kemana ia akan pergi.


"Kau tidak mau memberitahu abangmu kemana kau akan pergi?" Tanya Thalita yahg sepertinya sedang menyelidik dan sedikit membujuk Audrey.


Namun Audrey tetap menggeleng dan teguh pada pendiriannya.


"Audrey berjanji akan segera pulang jika hati Audrey sudah tenang dan pikiran Audrey sudah jernih," janji Audrey seraya menatap bergantian pada Zayn dan Thalita.


"Jam berapa pesawatnya berangkat?" Tanya Zayn akhirnya yang berarti ia setuju dengan keputusan Audrey kali ini.


"Jam enam pagi," jawab Audrey cepat.


"Kau sudah berkemas?" Tanya Thalita memastikan.


Audrey segera mengangguk dengan cepat.


"Sebaiknya kau istirahat sekarang, agar besok tak kesiangan," titah Zayn seraya mengusap kepala Audrey dengan lembut.


"Iya, Bang! Audrey akan ke kamar dan beristirahat," pamit Audrey seraya membuka pintu kamar sang abang.


Audrey sudah keluar dan segera menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.


"Audrey pasti akan bisa melalui ini semua, Zayn," ucap Thalita seraya mengusap pundak Zayn dan berusaha menenangkan suaminya tersebut.


"Ya!" Zayn meraih tangan Thalita dan mengecupnya dengan lembut.


"Audrey wanita yang kuat. Ia akan bisa melalui semuanya dan mendapatkan kebahagiaan setelahnya," Zayn sudah menarik Thalita ke dalam pelukannya dan memeluk istrinya tersebut dengan erat.


****


Udara pagi masih berselimutkan kabut dan matahari sepertinya masih enggan untuk beranjak dari peraduannya. Namun Kyle sudah berdiri di depan pintu rumah Arga yang entah mengapa sudah dibuka padahal masih pagi.


"Kyle! Kau sudah bangun?" Sapa Arga yang hendak keluar menuju teras sembari menggendong Ezra.


"Boleh aku bicara denganmu, Arga!" Ucap Kyle sedikit ragu.


Tapi Kyle harus minta maaf pada pria ini karena Kyle sudah membuat kekacauan di keluarganya.


"Tentu! Duduklah!" Arga sikapnya tetap hangat dan mempersilahkan Kyle dengan ramah.


"Kau kemana kemarin? Aku pikir kau langsung pulang tanpa pamit," Tanya Arga yang langsung membuka percakapan.


"Aku ke pantai yang ada di dekat sini. Pantainya begitu indah, aku sampai lupa waktu dan baru pulang saat langit sudah gelap," cerita Kyle sedikit terkekeh.


"Pantai itu? Kau menemukannya?" Cecar Arga dengan raut wajah tak percaya.


Pria itu menepuk-nepuk punggung Ezra yang berada di dekapannya.


Ah, bahagianya Arga karena memiliki keluarga yang lengkap.


Kyle akan segera memperbaiki hubungannya dengan Audrey setelah ini.


Dan menjalani program hamil lagi agar ia dan Audrey bisa secepatnya memiliki momongan.


Dan mungkin setelahnya ingatan Kyle juga akan segera kembali.


"Arga, aku benar-benar minta maaf karena sudah mengacau disini," ucap Kyle akhirnya menyampaikan permohonan maafnya pada Arga.


"Semua di antara aku dan Vale sudah berakhir sejak lama, dan seharusnya aku tak perlu menuruti egoku sebagai Kyle 22 tahun yang terus mengejar Vale," Kyle tertawa sumbang seakan sedang menertawakan dirinya sendiri.


"Kau sudah memiliki kebahagiaanmu sendiri, Kyle! Bersama Audrey," tukas Arga menanggapi kalimat Kyle.


"Ya! Harusnya sejak awal aku fokus pada Audrey dan tak perlu mengungkit-ungkit masalaluku besama Valeria seperti orang bodoh begini," Kyle kembali terkekeh dan merutuki kebodohannya.


"Tolong sampaikan permintaan maafku pada Valeria," ujar Kyle lagi sedikit memohon pada Arga.


"Kau tidak mau mengatakannya sendiri secara langsung pada Vale?" Arga memberikan pilihan. Namun Kyle segera menggeleng dengan cepat.


"Vale sepertinya sangat marah kepadaku. Jadi aku tak mau membuat semuanya menjadi semakin runyam. Kau saja yang menyampaikan," tutur Arga penuh kesungguhan.


"Baiklah, nanti akan aku sampaikan," jawab Arga akhirnya yang langsung membuat Kyle menarik nafas lega.


"Aku akan sekalian pamit pulang," ucap Kyle selanjutnya yang tidak mau memperpanjang lagi masalah ini.


Jadi Kyle memang sebaiknya cepat-cepat pulang saja.


"Kau tidak sarapan dulu?" Tanya Arga kembali memberikan tawaran.


Namun lagi-lagi Kyle menggeleng bersamaan dengan tangan mungil itu yang tiba-tiba sudah menggenggam tangan Kyle.


"Om Kyle mau pulang?" Tanya Vaia yang rupanya sudah bangun.


"Iya, Vaia! Om harus pulang sekarang. Tapi Om akan berkunjung lagi ke sini kapan-kapan," janji Kyle pada Vaia.


"Om juga harus janji, kalau Om kesini lagi, Om harus mengajak Tante Audrey," Vaia meminta janji dari Kyle.


"Kasihan tante Audrey jika Om Kyle meninggalkannya sendirian dan tidak mengajaknya," imbuh Vaia lagi yang ekspresi wajahnya sudah berubah sendu.


Kyle segera berlutut untuk menyamakan posisinya dengan Vaia.


"Om janji, Vaia! Om pasti akan mengajak Tante Audrey jika Om datang kesini lagi." Janji Kyle pada Vaia.


"Ayo ikut, Om! Vaia mau titip sesuatu buat tante Audrey!" Vaia menarik tangan Kyle dan membawa pria itu masuk ke dalam rumah. Menyeberangi ruang tengah lalu masuk ke dalam kamar Vaia.


Apa yang ingin diberikan Vaia pada Audrey?


.


.


.


Tiga episode mumpung weekend 😉


Semangatin othornya, yuk! Biar semakin rajin UP nya 😁


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.