Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
RENCANA



Audrey sudah bangun dan duduk di atas tempat tidur, saat Kyle keluar dari kamar mandi.


"Hai, Sayang! Kau sudah bangun?" Sapa Kyle pada Audrey seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kemarilah!" Audrey memberi kode pada Kyle agar mendekat ke arahnya. Dan Kyle yang menurut segera mendekat ke arah Audrey lalu duduk di tepi tempat tidur.


Audrey mengambil handuk dari tangan Kyle dan membantu suaminya tersebug mengeringkan rambut.


"Kau tidak bercukur?" Audrey meraih dagu Kyle dan mengusap dagu serta pipi Kyle yang terasa kasar.


"Kau yang melarangnya. Bukankah kau lebih suka yang seperti ini?" Jawab Kyle memberikan alasan.


"Tapi sekarang tidak! Rasanya kasar dan tidak nyaman. Kau harus bercukur!" Perintah Audrey tegas.


"Baiklah, Istriku yang cantik!" Kyle menangkup wajah Audrey dan mencium bibir Audrey sekilas, sebelum bibir itu berubah merengut.


"Kenapa?" Tanya Kyle yang kembali menangkup wajah Audrey.


"Olivia rewel hari ini," lapor Audrey sedikit mengeluh pada Kyle.


"Tadi aku ke kamarnya, dia sedang tidur."


"Bukan aku yang menidurkankannya," sergah Audrey merasa sedih.


"Aku benar-benar sudah menjadi Mama yang buruk untuk Olivia." Audrey menutup wajahnya dengan kedua tangan dan kembali menyalahkan dirinya sendiri.


"Audrey." Kyle sudah semakin mendekat ke arah Audrey dan menurunkan tangan Audrey yang menutupi wajahnya.


"Hanya karena kau tidak menidurkan Olivia, atau menyuapinya, bukan berarti kau adalah mama yang buruk. Kau tetap mama yang terbaik untuk Olivia," Kyle berusaha meyakinkan Audrey.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri seperti itu!" Nasehat Kyle sekali lagi dan Audrey masih diam.


"Kau sudah menyapanya hari ini?" Tanya Kyle seraya mengusap perut Audrey yang membulat.


Audrey menggeleng samar. Audrey bahkan melupakan calon anak dalam perutnya sekarang karena sibuk memikirkan bagaimana menjadi Mama yang sempurna untuk Olivia tanpa membuat anaknya itu rewel atau menangis.


"Kau harus nenyapanya dan tidak boleh mengabaikannya," nasehat Kyle lagi.


"Ya, aku tahu."


"Hai, anaknya Papa! Kau ganteng seperti Papa, kan?" Kyle mengusap perut Audrey dan berbicara dengan sang calon anak.


"Tidak! Aku cantik seperti Mama dan Kak Via, Papa!" Audrey menjawab sapaan Kyle dan bersuara seperti seorang balita.


"Dia ganteng, oke! Yang ini harus Kyle junior!" Kyle mengangkat kepalanya dan pura-pura menatap tegas pada Audrey.


"Yang ini Audrey junior juga. Kau akan menjadi yang paling tampan di rumah, jadi seharusnya kau bersyukur!" Ucap Audrey seraya mengusap wajah Kyle.


"Satu lawan tiga?" Kyle menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kapan kita bisa melihat jenis kelaminnya?" Tanya Kyle antara bersemangat dan penasaran.


"Sudah masuk enam bulan, biasanya sudah bisa dilohat, asalkan dia di posisi yang benar," jelas Audrey yang langsung membuat Kyle bersemangat.


"Kita ke dokter sore ini, dan aku akan melihat jenis kelaminnya."


"Jadwal check up masih minggu dep-" Audrey tak melanjutkan kalimatnya karena mendengar suara tangisan Olivia dari luar kamar.


"Olivia menangis!" Audrey hendak bangkit darinatas tempat tidur, namun Kyle mencegahnya.


"Biar aku yang mengambilnya," ucap Kyle seraya mengambil satu kaus dari lenari, lalu memakainya dengan cepat.


Masih dengan rambut yang berantakan dan belum disisir, Kyle keluar kamar untuk mengambil Olivia yang kembali rewel.


Tak berselang lama, Kyle sudah kembali masuk ke dalam kamar sembari menggendong Olivia yang masih sesenggukan.


"Hai, Cantik! Kenapa menangis?" Audrey mengulurkan kedua tangannya pada Olivia dan kali ini, putri kecilnya itu langsung mau ikut Audrey ke dalam pangkuan.


"Mau susu?" Audrey membuka kancing bajunya dan hendak menyusui Olivia.


"Aku sudah tidak mual hari ini, jadi tidak masalah juka aku menyusui Olivia. Aku akan makan banyak dan bergizi nanti," janji Audrey sedikit memohon pada Kyle.


Audrey kembali membuka kancing bajunya, dan Olivia langsung melahap payudara sang Mama. Bayi itu langsung menyusu dengan tenang.


"Aku ambilkan makan, ya!" Tawar Kyle yang langsung dijawab Audrey dengan anggukan kepala.


****


Malam mulai merangkak.


Olivia masih di kamar, bermain dan bersenda gurau bersama Audrey dan Kyle. Bayi sembilan bulan tersebut juga sudah mulai merangkak kemana-mana dan penasaran dengan beberapa benda yang ada di kamar orang tuanya. Jadi Kyle selalu sigap mengawasi Olivia agar tidak memegang benda-benda yang berbahaya.


"Ciluk baaa!" Audrey yang sejak tadi hanya duduk dan mengawasi Olivia yang bermain bersama Kyle, gantian mengajak sang putri bermain cilukba.


Olivia langsung merangkak ke arah Audrey dengan cepat dan merambai menaiki Audrey. Menunjuk-nunjuk ke arah dada Audrey sebelum kemudian bayi itu merengek minta ASI.


"Udah ngantuk?" Audrey menggoda sang putri yang tetap merengek.


"Ayo bobok!" Audrey bangkit berdiri dan Kyle dengan sigap menggendong Olivia, lalu membawa putrinya tersebut naik ke atas tempat tidur.


Audrey menyusul naik dan segera menyusui Olivia sambil berbaring. Kyle ikut berbaring dan mendekap Audrey dari belakang. Mendekap istrinya tersebut dan mengusap perut Audrey dengan lembut.


"Lusa aku berencana mengambil cuti dua hari. Kau mau jalan-jalan?" Tanya Kyle membuka obrolan masih sambil mendekap Audrey.


"Jalan-jalan kemana? Olivia kita ajak?" Audrey balik bertanya dan menggenggam tangan Kyle yang masih mengusap perutnya.


"Hanya kita berdua, anggap saja kita babymoon berdua."


Jawaban Kyle membuat Audrey sedikit merengut.


"Olivia akan baik-baik saja di rumah, Sayang! Ada Mom dan Dad yang menjaganya. Kita hanya akan pergi dua hari," Kyle berusaha membujuk Audrey.


Olivia sudah selesai menyusu dan bayi sembilan bulan tersebut sudah terlelap. Audrey segera berbalik dan ganti menghadap ke arah Kyle.


"Benar hanya dua hari?" Tanya Audrey yang masih merasa ragu.


"Iya, benar!"


"Kenapa Olivia tidak kita ajak saja?" Tawar Audrey.


"Kau nanti akan sibuk mengurus Olivia dan kita tidak akan jadi babymoon kalau kita mengajak Olivia. Aku juga mau kamu manjain," jelas Kyle panjang lebar yang langsung membuat Audrey terkekeh.


"Baiklah! Memangnya kita mau kemana?" Audrey menyusupkan kepalanya ke dada Kyle.


"Rahasia!" Bisik Kyle seraya mengecup puncak kepala Audrey.


"Aku akan memindahkan Olivia ke kamarnya," Kyle hendak beranjak, namun Audrey menahan suaminya tersebut.


"Olivia biar tidur disini."


"Kau yakin?" Kyle merasa ragu.


"Iya, aku yakin!" Audrey mengecup bibir Kyle.


"Mau membuat adik untuk Via?" Tawar Kyle berkelakar.


"Sudah jadi! Dasar!" Audrey memukul-mukul dada Kyle dan kembali mengecup bibir suaminya tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.