Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
MOVE ON, KYLE!



Kediaman Arthur.


Kyle pulang ke rumah Mom dan Dad-nya pagi-pagi karena ia memang tak membawa baju ganti untuk ke kantor.


"Audrey mana, Kyle?" Tanya Mom Bi saat Kyle baru saja masuk ke dalam rumah.


"Pulang," jawab Kyle lirih.


"Pulang kemana? Mom belum melihatnya sejak semalam. Kau juga baru pulang pagi ini," tanya Mom Bi bingung.


"Pulang ke rumah Papa dan Mamanya! Memangnya rumah Audrey hanya disini?" Jawab Kyle yang nada bicaranya terdengar kesal.


"Kapan? Kau mengantarnya, kan?" Cecar Mom Bi memastikan.


"Sejak semalam dan dia pulang sendiri naik taksi!" Jawab Kyle jujur.


"Apa katamu?"


"Abang membiarkan Kak Audrey pulang me rumah orang tuanya naik taksi, sendirian, malam-malam?" Sean yang entah darimana datangnya tiba-tiba ikut mencecar Kyle.


"Belum terlalu malam! Baru pukul sepuluh!" Sergah Kyle mencari pembenaran.


"Keterlaluan kamu, Kyle! Kenapa kamu tak mengantarnya?" Tanya Mom Bi emosi.


"Kyle sudah menawarkan untuk mengantarnya. Tapi Audrey menolak. Kyle bisa apa memangnya?" Jawab Kyle masih tetap berusaha membela diri.


"Seharusnya Abang tetap mengantar Kak Audrey sekalipun ia menolak! Abang suaminya kak Audrey! Kalau terjadi sesuatu pada Kak Audrey bagaimana?" Sahut Sean yang entah mengapa jadi ikut-ikutan menyudutkan Kyle.


"Diam kamu! Aku sedang bicara pada Mom! Jadi tidak usah ikut campur!" Gertak Kyle seraya mendelik ke arah Sean.


"Sean benar, Kyle! Seharusnya kamu mengantar Audrey pulang dan tak membiarkannya pulang sendirian!" Ujar Mom Bi membenarkan pendapat Sean.


"Audrey marah! Kyle sudah minta maaf kepadanya, tapi dia tetap marah! Audrey itu wanita yang keras kepala dan susah dimengerti, Mom!" Tutur Kyle mengungkapkan keuh kesahnya.


"Kak Audrey tidak mungkin marah kalau Abang tidak menyinggung hatinya!" Sergah Sean yang langsung berhadiah tudingan dan delikan tajam dari Kyle.


"Diam kamu! Jangan sok tahu!"


"Kau membuat Audrey marah?" Tebak Mom Bi seraya bersedekap ke arah Kyle.


"Audrey memukul tangan Kyle hanya karena Kyle akan mengambil sebuah coklat truffle yang ia beli. Valeria bahkan tak pernah memukul tangan Kyle selama kami berpacaran!" jawab Kyle menuturkan kronologinya.


"Audrey memukul sebagai gerakan refleks! Itu hal biasa dan sering Audrey lakukan sepanjang pernikahan kalian berdua dan kau tidak petnah mempermasalahkan hal kecil itu sebelumnya. Mom juga yakin kalau Audrey memukulmu tidak keras! Kenapa tiba-tiba sekarang kau kekanak-kanakan dan membesar-besarkan hal konyol itu?" Cecar Mom Bi yang masih bersedekap pada Kyle.


"Dan apa Abang juga terang-terangan mengatakan di depan Kak Audrey tentang Vale yang tak pernah memukul Abang selama kalian berpacaran?" Sean ikut-ikutan menanyai sang abang.


"Tentu saja!" Jawab Kyle cepat.


Mom Bi dan Sean langsung berdecak bersamaan.


"Move on, Kyle! Valeria itu sekarang istrinya Arga! Bisakah kau berhenti memikirkan Valeria, apalagi membandingkan Audrey dengan Valeria!" Mom Bi kembali berdecak dan tak habis pikir.


"Hanya karena kau hilang ingatan, bukan berarti kau juga harus menjadi Kyle 22 tahun yang tergila-gila pada Valeria!"


"Kau adalah Kyle 27 tahun! Suami dari Audrey Zivia Abraham! Valeria Rainer hanyalah bagian dari masalalumu!" Mom Bi merengkuh pundak Kyle dan menatap tegas pada sang putra seolah menyuruh Kyle untuk bangun dari semua khayalan tentang masalalunya bersama Valeria.


Kyle masih diam.


"Bagaimana kau bisa menemukan kembali ingatanmu, jika usaha Audrey untuk mengembalikan semua memori tentang kalian selalu saja kau permasalahkan! Kau banding-bandingkan dengan Valeria! Apa kau tidak memikirkan sakitnya hati Audrey?" Cecar Mom Bi lagi seakan hilang kesabaran.


"Mom tidak mau tahu! Kau jemput Audrey sekarang ke rumah orang tuanya, minta maaf pada Audrey dan berhenti membahas tentang Valeria di depan Audrey!" Perintah Mom Bi pada Kyle dngan nada tegas seolah tak mau dibantah.


"Sean, kau antar abang amnesiamu itu ke kediaman Abraham agar tidak tersesat!" Mom Bi gantian memberi perintah pada Sean seraya berlalu meninggalkan Kyle yang masih mematung.


"Tidak usah! Aku masih ingat rumah Audrey!" Ucap Kyle menatap tegas pada Sean yang hendak mengajakya keluar.


Kyle keluar dari rumah dengan cepat dan langsung masuk ke dalam mobil hitamnya. Tak berselang lama, mobil Kyle sudah melaju meninggalkan rumah besar keluarga Arthur.


****


"Kiri atau kanan?" Audrey menunjukkan kedua tangannya yang menggenggam pada Zeline dan minta keponakannya tersebut untuk menebak letak jepit rambut Zeline yang disembunyikan oleh Audrey.


"Kiri," jawab Zeline setelah menimbang-nimbang.


"Kosong!"


"Kanan! Kanan!" Zeline ganti memaksa untuk membuka genggaman tangan Audreh di sebelah kanan, namun gadis lima tahun tersebut sedikit kesulitan karena Audrey yang kini mengangkat tinggi tangan kanannya.


"Kembalikan, Aunty!" Rengek Zeline yang masih berusaha untuk meraih tangan Audrey.


Saat ini, Audrey memang tengah menemani Zeline bermain di halaman depan kediaman Abraham.


Audrey tak berhenti menggoda Zeline sejak tadi, dan Sakya yang baru genap satu tahun, masih sibuk berlari kesana kemari karena bocah itu yang memang baru bisa berjalan. Thalita terus mengikuti langkah kecil Sakya dan memastikan agar putranya tersebut tidak jatuh atau tersandung.


"Mom!" Zeline yang tak kunjung bisa meraih jepit rambutnya, akhirnya mengadu pada Thalita.


"Audrey! Berikan jepit rambut Zeline, dan pergilah mandi!" Perintah Thalita pada Audrey yang pagi ini begitu kekanakan serta masih mengenakan piyama.


Audrey selalu kekanakan jika berada di dekat dua keponakannya ini.


"Baiklah, baiklah, Tuan putri Zeline yang suka ngambek!" Audrey menghampiri Zeline dan segera memasangkan jepit rambut bentuk mahkota yang tadi ia sembunyikan ke rambut Zeline.


"Ayo mandi sama Aunty!" Rayu Audrey pada Zeline.


Namun Zeline menggeleng dengan cepat.


"Aunty nakal! Zeline nggak mau mandi sama Aunty!" Zeline memeletkan lidahnya ke arah Audrey dan gadis kecil itu berlari ke arah pintu gerbang. Audrey langsung mengejar Zeline bersamaan dengan pintu gerbang yang mendadak terbuka, dan mobil Kyle yang berjalan pelan masuk ke dalam halaman rumha keluarga Abraham.


"Uncle Kyle! Yeayy!" Zeline bersorak dan meloncat-loncat saat melihat mobil Kyle yang baru datang.


Sedangkan Audrey hanya diam dan menatap ke arah mobil hitam tersebut, menunggu si empunya mobil turun.


"Uncle Kyle! Uncle Kyle!" Zeline langsung menyapa Kyle yang akhirnya turun dari mobil.


"Hai, Zeline!" Sapa Kyle seraya membawa Zeline ke dalam gendongannya.


"Sudah mandi?" Tanya Kyle seraya mengendus aroma tubuh Zeline.


"Belum!" Zeline terkikik kecil.


"Aunty juga belum mandi!" Zeline ganti menunjuk ke arah Audrey yang masih mengenakan piyamanya.


Audrey segera membuang pandangannya dan enggan menatap pada Kyle yang kini berjalan ke arahnya masih sambil menggendong Zeline.


"Zeline!" Panggil Thalita yang ddngan cepat menghampiri Zeline sambil menggendong Sakya.


"Ayo mandi dulu!" Ajak Thalita lembut pada Zeline yang langsung membuat gadis lima tahun tersebut mengangguk.


Zeline turun dari gendongan Kyle dengan cepat.


"Pagi, Kak!" Kyle sedikit berbasa-basi dan menyapa Thalita yang hanya mengulas senyum tipis.


"Aku akan memandikan anak-anak dulu!" Pamit Thalita yang kini sudah berjalan menuju ke arah rumah, masih sambil menggendong Sakya dan menggandeng Zeline.


Kini hanya tinggal Kyle dan Audrey yang ada di halaman rumah.


"Bisa kita bicara, Audrey?" Pinta Kyle dengan nada lembut khas Kyle.


Audrey menghela nafas sejenak,


"Ya! Ayo duduk di teras!" Dagu Audrey mengendik ke arah kursi teras.


Kyle mengangguk dan segera mengikuti langkah Audrey untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah keluarga Abraham.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.