Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
INGAT?



Matahari masih belum bersinar sepenuhnya, saat Kyle terjaga dari tidurnya karena mendengar seseorang yang mengetuk kaca pintu mobilnya. Bergegas Kyle membuka kaca mobilnya, dan mendapati seorang pria yang sepertinya seusia dengan Arga, tapi itu bukan Arga.


"Anda butuh bensin?" Tanya pria itu menyelidik.


"Tidak! Aku hanya numpang istirahat, karena aku ingin bertemu Valeria," jawab Kyle setelah mengusap wajahnya beberapa kali.


Pria itu mengernyit,


"Valeria besar atau Valeria kecil?"


"Valeria Rainer," jawab Kyle tegas.


"Kau saudaranya? Atau temannya?" Tanya pria itu lagi yang mulai membuat Kyle kesal.


"Bukan urusanmu! Kau siapa memangnya?" Sergah Kyle denga nada yang meinggi. Kyle sudah membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam mobil.


"Aku Jo! Sepupunya Arga," jawab Paman Jo memperkenalkan diri sekaligus mengulurkan tangannya ke arah Kyle.


"Arga suami Vale?" Tanya Kyle memastikan.


"Iya, Arga suami-"


"Abang Kyle!"


Suara itu!


Kyle segera menoleh ke arah sumber suara dan melihat Valeria yang sedang membawa keranjang belanjaan penuh sayur di tangan kanannya serta punggungnya yang menggendong seorang anak laki-laki yang sepertinya seusia dengan Alle.


"Abang sedang apa disini?" Tanya Vale setelah ia menghampiri Kyle yang sedang berbincang dengan Paman Jo.


"Dia saudaramu, Vale?" Tanya Paman Jo merasa kepo.


"Teman rasa saudara, Paman!" Jawab Vale seraya tersenyum ke arah sepupu Arga tersebut.


"Biar aku yang membawa masuk belanjaanmu, silahkan mengobrol!"


"Ezra, ayo ikut Paman!" Paman Jo merentangkan tangannya ke arah Ezra yang masih bergelayut di punggung Vale. Namun bocah satu tahun tersebut menggeleng dan sedikit merengek.


"Dia sedang rewel. Jadi jangan mengganggunya!" Pesan Vale pada Paman Jo.


"Baiklah! Paman akan menggendong Kak Vaia saja!" Kekeh Paman Jo seraya berlalu dan membawa tas belanjaan penuh sayur yang tadi dibawa Vale.


Sepupu Arga itu sudah menyeberang jalan dengan cepat dan menghilang ke teras rumah Arga.


"Abang kesini sendirian? Audrey mana?" Tanya Valeria berbasa-basi pada Kyle.


"Audrey tidak ikut. Aku kesini karena ingin menjemputmu pulang, Vale!" Ucap Kyle yang tiba-tiba sudah meraih tangan Vale dan menggenggamnya erat.


Vale tertawa kaku dan cepat-cepat melepaskan genggaman tangan Kyle.


"Pulang kemana, Bang? Vale sudah berada di rumah Vale."


"Ini bukan rumahmu, Vale!" Kyle tetap bersikeras.


"Dan kau tidak aman disini! Akan ada orang jahat yang menculikmu, lalu mendorongmu masuk ke jurang, lalu-"


Tangisan Ezra yang masih berada di punggung Vale membuat Kyle tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


Buru-buru Vale memutar gendongan, dan mendekap putranya tersebut berusaha untuk meredakan tangisnya.


"Vale baik-baik saja disini, Bang! Ini rumah Arga, suami Vale. Banyak yang menjaga Vale disini," tutur Vale dengan nada sangat yakin.


"Kau tidak aman disini, Vale! Tolong dengarkan perkataanku! Aku melihat semuanya dengan jelas! Itu sebuah firasat!" Cecar Kyle bersikeras.


Tangis Ezra semakin menjadi dan Vale sedikit kewalahan menghadapinya.


"Kita bahas nanti saja! Abang bisa ke rumah dan minum teh dulu. Vale mau menyusui Ezra dulu," tukas Vale yang masih berusaha menenangkan Ezra dan wanita itu segera menyeberang menuju ke arah rumah.


Kyle mengekori Vale menuju ke rumah Arga.


"Om Kyle!" Pekik seorang gadus kecil yang langsung memeluk kaki Kyle, saat Kyle baru tiba di teras rumah Arga.


Kyle ingat kalau gadis kecil itu adalah Vaia, anak Arga.


"Ezra kenapa?" Tanya Arga yang baru saja muncul dari dalam rumah dan mengusap punggung putranya yang masih berada di dekapan Valeria.


"Sepertinya masih rewel dan mengantuk. Aku akan membawanya masuk dan menyusuinya," jawab Vale yang segera menghilang masuk ke dalam rumah.


Kini hanya ada Arga, Kyle, dan Vaia yang masih bergelayut pada Kyle di teras.


"Pagi, Kyle! Senang rasanya kau mau berkunjung ke gubukku ini," Arga menyapa Kyle dengan hangat, yang tentu saja malah membuat Kyle sedikit salah tingkah.


"Tante Audrey mana, Om? Kenapa nggak diajak kesini?" Tanya Vaia yang masih bergelayut pada Kyle.


"Kapan kau tiba?" Tanya Arga yang sudah mempersilahkan Kyle untuk duduk di bangku kayu yang ada di teras rumahnya.


"Jam dua dinihari tadi. Tapi aku langsung tidur di dalam mobilku, karena rasanya tidak sopan jika aku bertamu jam segitu," jawab Kyle seraya tertawa canggung.


"Ingatanmu sudah kembali?" Tanya Arga sedikit kepo. Namun Kyle segera menggeleng denagn cepat.


"Aku ingin bertemu dan bicara pada Valeria," ucap Kyle menyampaikan maksud dan tujuannya datang kemari.


"Ezra masih sedikit rewel. Jadi, semoga kau mau bersabar menunggu Ezra tidur dulu sebelum bicara pada Vale," ujar Arga sedikit menjelaskan.


"Om, lihat gambar Vaia!" Vaia menunjukkan sebuah gambar pada Kyle yang masih duduk di bangku teras.


Ada gambar keluarga kecil Arga.


Ya, Kyle sangat yakin kalau itu adalah Arga, Vale yang menggendong Ezra, dan Vaia. Mereka berempat sedang melambaikan tangan ke arah sebuah mobil...


Apa itu mobil Kyle?


Ada seorang pria dan wanita duduk di dalam mobil.


Apa maksudnya?


Itu Kyle dan siapa?


"Om simpan gambarnya dan berikan pada tante Audrey, ya! Vaia kangen juga sama Tante Audrey baik hati," Vaia memberikan gambarnya pada Kyle sekaligus menyampaikan sebuah pesan pada Kyle.


"Besok lagi kalau kesini, Om ajak Tante Audrey, ya!" Sambung Vaia sebelum gadis itu beralih ke pangkuan Arga yang juga masih duduk di dekat Kyle.


"Vaia mandi dulu sana!" Titah Arga pada sang putri yang kini sudah berusia hampir tujuh tahun.


"Siap, Ayah!" Tangan Vaia membebtuk sikap hormat, dan gadis kecil itu segera berlati masuk ke dalam rumah.


Tak berselang lama, Vale keluar dari rumah sendirian dan tanpa Ezra kali ini.


"Sarapannya sudah siap!" Ucap Vale memberikan laporan pada Arga dan Kyle.


"Sebaiknya kita sarapan dulu, Kyle!" Arga menepuk punggung Kyle dan masuk duluan ke dalam rumah. Vale sudah berbalik dan hendak mengekori Arga saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh Kyle.


"Abang sebaiknya sarapan dulu," ucap Vale yang langsung cepat-cepat melepaskan genggaman tangan Kyle.


"Ayo pulang, Vale!" Ajak Kyle yang lebih mirip orang mabuk.


Apa suami Audrey ini sedang mabuk?


"Kau tidak aman disini! Ada orang jahat yang akan menculikmu!" Ucap Kyle lagi yang kata-katanya benar-benar seperti orang melantur.


"Tidak ada yang ingin menculik Vale, Bang! Bisakah Abang berhenti bicara tentang penculikan?" Nada bicara Vale sudah berubah meninggi.


"Tapi aku mendapatkan firasat itu! Aku melihat kau diculik oleh orang jahat, di depan Rainer's Resto. Lalu kau divawa ke sebuah rumah, kau akan dijadikan ebagai penebus hutang aku mencarimu! Aku mencarimu kemana-mana tapi tak menemukanmu, hingga tiba-tiba kau sudah berada di rumah papamu dan ada Arga disana," suara Kyle terdengar lirih dibagian akhir kalimat.


Kemarin mimpi Kyle tidak sedetail itu.


Kemarin Kyle hanya melihat Valeria yang diculik oleh seseorang yang menaiki mobil. Lalu setelahnya hanya gelap dan hanya ada suara Vale yang mengatakan kalau ia jatuh ke jurang.


Lalu kenapa sekarang Kyle bisa bercerita sedetail itu?


"Abang sudah ingat semuanya?" Tanya Vale tiba-tiba yang tak lagi terlihat marah.


"Ingat apa?" Kyle balik bertanya dan sedikit linglung.


"Tentang kasus penculikan yang menimpa Vale dua tahun yang lalu. Abang mengingatnya denga detail," Vale terlihat begitu antusias.


"Dua tahun yang lalu?" Kyle semakin linglung.


"Iya, kejadian yang baru saja Abang ceritakan itu adalah kejadian dua tahun lalu, Bang!"


"Abang mengingatnya?" Vale yang merasa begitu senang tanpa sadar langsung memeluk Kyle demi meluapkan kegembiraannya.


Mungkin Vale tidak sadar dengan keberadaan dua pria yang kini sedang melihat Vale yang memeluk Kyle dari jendela rumah.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.