Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
MUAL LAGI



Kyle terus mengikuti motor yang dikendarai oleh Alvin, hingga akhirnya motor tersebut berhenti di sebuah warung tenda yang menjual martabak aneka rasa. Kyle memilih memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari warung martabak tersebut.


Tadinya Kyle tidak berniat turun dan hanya ingin mengawasi Alvin dari jauh, namun nyatanya aroma khas butter dari martabak yang sedang dipanggang, menusuk-nusuk hidung Kyle dan membuat Kyle menelan salivanya berulang kali.


Mau tidak mau, Kyle akhirnya turun dari dalam mobilnya seraya mengenakan topi dan masker untuk menutupi separuh wajahnya. Dan entah sedang beruntung atau memang hanya kebetulan, Kyle mendapat giliran antri tepat dibelakang Alvin.


Kyle sedikit mengernyit saat Alvin menyebutkan pesanan Audrey yang sedikit rumit dan membingungkan. Penjualnya bahkan harus bertanya dua kali agar pesanan Alvin tidak keliru.


Alvin sudah duduk dan menunggu pesanannya jadi, saat Kyle gantian menyebutkan pesanannya.


"Mau pesan apa, Mas?" Tanya penjual martabak yang melihat penampilan aneh Kyle.


"Sama seperti masnya tadi," jawab Kyle sedikit berbisik.


"Sama tiga loyang?" Tanya penjual martabak sekali lagi.


"Dia pesan tiga loyang?" Kyle bergumam tak percaya.


Banyak sekali?


Apa mereka akan menghabiskannya berdua saja? Atau jangan-jangan ada orang lain di rumah yang ditingali Audrey selain Audrey dan pria asing ini.


"Iya. Masnya mau berapa loyang?"


"Satu loyang saja, yang rasa campur tadi. Yang sedikit rumit tadi pesanannya," jawab Kyle sedikit menjelaskan.


"Mau sama persis?" Tanya penjual martabak sekali lagi.


"Iya! Satu loyang saja!" Jawab Kyle yang jarinya menunjuk angka satu.


"Oke siap!"


Kyle lagsung duduk tak jauh dari Alvin yang kini kepalanya sedang mengangguk-angguk sepertinya sedang mendengarkan musik karena telinga pemuda itu disumpal dengan earphone.


Kyle mengeluarkan ponselnya dan pura-pura memainkan ponsel dengan layar enam inchi tersebut. Padahal Kyle sedang mengambil gambar wajah Alvin secara diam-diam. Namun sepertinya Alvin tak menyadarinya.


Kyle langsung mengirimkan foto Alvin pada Daniel untuk mengulik, siapa sebenarnya Alvin ini.


Apa benar saudara Audrey atau selingkuhan Audrey?


Balasan pesan dari Daniel masuk dengan cepat.


[Itu Alvin, sepupu Audrey. Anak dari adik kandung Uncle Hans. Tahun ini usianya 21 tahun kalau tidak salah] -Daniel-


Beberapa detik kemudian ada pesan lagi dari Daniel.


[Cemburumu berlebihan, Bung!] -Daniel-


Ck!


Kyle hanya berdecak membaca pesan Daniel yang terakhir. Namu hatinya sedikit merasa lega karena pemuda yang duduk tak jauh darinya tersebut ternyata adalah sepupu Audrey dan bukan selingkuhan Audrey.


Berarti selama ini Audrey memang tinggal di rumah Om dan Tantenya. Tapi kenapa sekeluarga bisa kompak menyembunyikan Audrey begini?


Atau jangan-jangan keluarga Abraham sebenarnya memang tahu keberadaan Audrey dan mereka sengaja merahasiakannya dari Kyle?


"Pesanannya, Mas!" Ucapan dari penjual martabak yang menyodorkan satu bungkus martabak manis pada Kyle, membuyarkan lamunan Kyle.


Aroma butter yang menguar dari dalam bungkus martabak, membuat Kyle kembali harus menelan salivanya, dan cacing di perutnya kini seakan ikut berpesta pora.


"Terima kasih, Pak! Ucap Kyle seraya menyodorkan uang untuk membayar martabak pesanannya. Alvin sendiri sudah pergi duluan karena pesanannya memang sudah jadi. Dan untuk kali ini, Kyle tak lagi ada niat untuk membuntuti Alvin.


Kyle akan kembali ke hotelnya dan menikmati martabak manis yang sama dengan yang akan dimakan oleh Audrey.


Kini Kyle paham dengan rasa ngidam dan mual-mual tak jelas yang ia alami beberapa waktu yang lalu. Ternyata itu memang karena Audrey sedang mengandung anak Kyle.


****


"Sial!" Umpat Kyle kesal saat dirinya kembali merasa mual dan muntah-muntah sesaat setelah ia memakan satu potong martabak manis yang tadi ia beli.


Padahal mual dan muntahnya sudah berhenti sebulan yang lalu. Kenapa sekarang malah kembali lagi hanya karena Kyle makan martabak manis yang serupa dengan yang dimakan oleh Audrey?


Apa Audrey juga mengalami semua hal ini?


****


Audrey mengambil lagi potongan martabak manis dari kotaknya, dan memakannya tanpa ragu. Sekarang hanya tinggal dua potong di kotak milik Audrey, dan sisanya sudah berpindah ke dalam perut ibu hamil tersebut.


"Kakak akan menghabiskan dua potong sisanya?" Tanya Alvin menatap tak percaya pada sang sepupu. Alvin saja sudah kenyang makan dua potong, kenapa Audrey seperti tak kenyang-kenyang makan satu loyang martabak manis sendirian.


Apa ibu hamil ini menyimpan karung di perutnya?


"Ya, kau mau? Ambil saja, kalau kau mau!" Jawab Audrey seraya menyodorkan kotak martabak manisnya pada Alvin, namun sepupunya itu menggeleng dengan cepat.


"Buat Kak Audrey semuanya saja. Biar nanti adik bayinya gembil pipinya kayak martabak," ucap Alvin sedikit berkelakar.


"Nanti kamu gigiti pipinya, kalau kayak martabak, Vin!" Celetuk Om Alex yang langsung membuat Audrey dan Tante Viola tergelak bersamaan.


"Makan punya Alvin kalau masih mau, Audrey!" Tante Viola menyodorkan kotak martabak pisang keju milik Alvin yang baru berkurang tiga potong.


Audrey mengambil satu potong tanpa ragu dan segera melahapnya. Alvin langsung berdecak tak percaya sambil geleng-geleng kepala.


Benar-benar ibu hamil yang doyan makan!


"Enak juga yang rasa pisang keju, Tan!" Puji Audrey yang akhirnya berhenti makan martabak manis. Entah sudah berapa banyak kalori yang masuk ke tubuh ibu hamil itu.


Tapi badan Audrey memang tak banyak perubahan meskipun ia banyak makan. Hanya perutmya saja yang kian membulat, menandakan calon bayinya yang tumbuh dengan baik dan sehat di rahim wanita dua puluh enam tahun tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.