
"Tebak yang ini!" Kyle menunjukkan sebuah coklat truffle pada Audrey.
"Hazelnut!" Tebak Audrey setelah sedikit berpikir.
Ini sudah coklat kelima, dan Audrey belum menebak satupun dengan benar. Sedangkan Kyle sudah menebak tiga yang benar.
Beruntung sekali!
Kyle menggigit coklat di tangannya dan menunjukkan isinya pada Audrey.
"Hazelnut," ucap Kyle yang langsung membuat Audrey bersorak senang.
"Habiskan!" Kyle menyuapkan coklat tadi pada Audrey yang menggeleng.
"Aku sudah makan lima, Kyle! Kau mau membuatku gendut?" Tolak Audrey yang langsung bangkit dari duduknya.
"Jatahmu dua belas! Ayo habiskan!" Paksa Kyle yang kini sudah mengejar Audrey yang berpindah tempat ke meja kerja Kyle.
"Tidak! Aku tidak mau! Kau saja yang makan!" Audrey meraih coklat yang berada di tangan Kyle, menggigitnya sedikit, lalu menyuapkannya ke mulut Kyle.
Kyle masih menatap Audrey saat mulutnya sibuk mengunyah coklat. Tangan Kyle masih memegang tangan Audrey, lalu mengecup punggung tangan tersebut.
Tentu saja hal itu langsung membuat Audrey mematung.
"Bye, Nona Audrey!" Kyle meraih tangan Audrey dan mengecupnya.
"Terima kasih juga karena sudah menemaniku makan malam dan tertawa," Kyle meraih tangan Audrey dan mengecupnya cukup lama.
"Kyle, cuci tangan dulu!" Audrey memukul kecil tangan Kyle yang mencolek-colek makanan saat baru tiba di rumah dan belum mencuci tangan.
"Sakit, Sayang!" Kyle meraih tangan Audrey dan mengecupnya lama.
Lama sekali sampai Audrey tergelak.
"Lepas, Kyle!" Audrey berusaha menarik tangannya, namun Kyle menggeleng dan tetap lanjut mengecup punggung tangan Audrey.
"Kyle!" Audrey mulai merengek.
"Muah, muah, muah," ciuman Kyle malan naik dari punggung tangan ke lengan, lalu ke pundak, ke leher, dasar mesum.
"I love you!" Kyle sudah meraih tubuh Audrey dan mengecup bibir istri tersebut dengan dalam.
"Kau belum mandi, Kyle!"
Kyle dan Audrey masih saling menatap, dan coklat di mulut Kyle sudah tandas tak bersisa.
"Aku kenyang, Audrey. Sisanya kita makan nanti malam saja bagaimana?" Usul Kyle yang langsung membuat lamunan Audrey menjadi buyar.
"Apa, Kyle? Kau bilang apa tadi?" Tanya Audrey tergagap karena tidak fokus dengan ucapan Kyle dan malah asyik dengan lamunannya sendiri.
"Aku kenyang. Kita simpan coklatnya untuk nanti malam," Kyle mengulangi kalimatnya.
"Baiklah. Simpan saja di kulkas. Aku akan kembali ke kantor," jawab Audrey yang masih tergagap.
Wanita itu menyelipkan rambutnya di belakang telinga dan segera menuju ke sofa untuk mengambil handbag-nya.
"Aku pikir kau akan disini sampai sore," raut wajah Kyle sedikit kecewa.
"Tadinya aku juga mau disini sampai sore, Kyle! Tapi aku ada janji bertemu sese-" ponsel Audrey berbunyi.
Wanita itu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, lalu melihat sebentar ke layar ponsel sebelum melanjutkan kata-katanya pada Kyle.
"Aku sudah ditunggu, Kyle! Aku pergi dulu!" Pamit Audrey akhirnya pafa Kyle.
"Hati-hati, Audrey!" Pesan Kyle yang sepertinya tak didengar oleh Audrey karena wanita itu sudah keluar dari ruangan Kyle denga cepat sambil menerima telepon yang entah dari siapa.
****
Sore menjelang.
Audrey sedang membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang, saat pintu ruangannya dibuka dari luar.
"Ciluk baa!" Sapa Kyle yang langsung membuat Audrey sedikit kaget.
Dulu Kyle dan Audrey selalu memakai dua kata tersebut untuk saling mengagetkan. Dan sekarang kenapa Kyle mendadak memakainya?
Apa ingatan Kyle sudah kembali?
"Maaf aku tidak mengetuk pintu," ucap Kyle saat melihat raut terkejut di wajah Audrey.
"Tidak apa! Kau memang tidak pernah mengetuk pintu jika masuk kemari," jawab Audrey santai.
"Jadi, ini ruang kerjamu?" Kyle seperti baru pertama masuk ke ruang kerja Audrey. Dan pria itu terlihat mengagumi setiap sudut ruangan Audrey yang besarnya mungkin hanya separuh dari ruang kerja Kyle di gedung Arthur Company.
"Kenapa tidak menyewa ruko yang lebih besar?" Tanya Kyle lagi yang kini sudah duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Audrey.
"Ini sudah besar, Kyle. Dan sudah lebih dari cukup untuk sebuah kantor Wedding Organizer yang sedang berkembang," jawab Audrey seraya bersandar pada meja kerjanya.
"Kenapa pilih warna hijau?"
"Aku suka warna hijau. Membuat otak menjadi segar. Warna biru aku juga suka. Karena selalu mengingatkan aku pada gulungan ombak di pantai," jawab Audrey menjelaskan.
Kyle mengangguk mengerti.
"Seperti pantai di pulau milik Dad, hah?" Tanya Kyle seraya tersenyum pada Audrey.
"Itu pantai paling indah yang pernah aku kunjungi," jawab Audrey yang kini memejamkan matanya.
Membayangkan dirinya yang sedang berbaring di hammock yang ada di tepi pantai. Lalu Kyle datang membawakannya kalung dari rumah kerang yang berserakan di pinggir pantai.
Audrey merindukan momen romatis tersebut.
"Kita ke pulau Dad berapa kali setelah menikah?" Tanya Kyle menatap serius pada Audrey.
"Dua kali. Yang ketiga kali rencananya saat anniversary pernikahan kita kemarin. Tapi kau mengalami kecelakaan. Jadi aku batalkan," jawab Audrey yang sudah tak lagi tersenyum.
Mengingat kecelakaan yang dialami oleh Kyle benar-benar membuat perasaan Audrey menjadi campur aduk.
Karena bukan hanya rencana ke pulau yang batal. Ingatan Kyle juga mendadak hilang karena kecelakaan tersebut. Dan semua kemesraan di dalam hubungan Kyle dan Audrey juga seakan menguap pergi.
Suasana hening sesaat.
"Ayo pulang, sebelum jalanan macet!" Tepukan dari Kyle segera membuat Audrey tersadar. Audrey mengangguk dan meraih tasnya. Pasangan suami istri itupun kekuar dari ruangan Audrey dan berjalan bersisian untuk turun ke lantai bawah. Dan segera menuju ke halaman parkir.
"Aku masih mau pulang ke rumah Mama dan Papa," ucap Audrey saat Kyle membukakan pintu mobil untuknya.
"Aku juga akan ikut pulang kesana kalau begitu. Kita bisa gantian pulang ke rumah Mom dan Dad besok," ujar Kyle mengambil keputusan.
Audrey dan Kyle kini sudah masuk ke dalam mobil. Tak butuh waktu lama, dan Kyle segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor Audrey menuju ke kediaman Abraham.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.