
"Kantormu di sebelah mana?" Tanya Kyle saat mobilnya sudah melaju di jalan utama kota.
"Ruko segitiga emas," jawab Audrey yang pandangannya tetap fokus pada jalan di depannya.
Tadinya Audrey sudah menawarkan pada Kyle, agar Audrey saja yang duduk di kursi pengemudi. Namun Kyle begitu keras kepala dan memaksa agar ia saja yang duduk di kursi kemudi. Audrey sedang malas berdebat, jadi Audrey membiarkannya saja meskioun mata wanita itu tetap awas sepanjang perjalanan untuk memastikan kalau Kyle tak salah jalan.
"Disini?" Tanya Kyle saat mobilnya memasuki kawasan ruko yang berderet.
"Ya! Yang warna hijau!" Audrey menunjuk ke satu-satunya ruko berwarna hijau di deretan ruko tersebut. Terlihat paling mencolok.
Kyle menghentikan mobilnya di halaman parkir ruko tempat kantor Audrey berada.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Audrey seraya melepas sabuk pengamannya.
"Jadi, aku melamarmu di depan kantormu saat itu?" Tanya Kyle tiba-tiba yang langsung membuat Audrey tak jadi keluar dari mobil suaminya tersebut.
"Ya! Kau berdiri dibawah guyuran hujan selama hampir tiga puluh menit, demi menungguku keluar dari dalam kantor," cerita Audrey seraya tertawa kecil.
"Aku mengulang-ulang videonya hampir lima belas kali semalam, dan merasa asing dengan tempatnya. Tapi pagi ini aku langsung tahu kalau ternyata itu adalah kantormu."
"Mungkin kau harus mengajakku ke beberapa tempat yang sekiranya bersejarah atau terdapat memori tentang kita," Kyle mengajukan usul dan Audrey langsung mengangguk setuju.
"Aku akan menyusun dulu daftar tempat-tempatnya."
"Bagus! Kita bisa mulai mengatur jadwal setelahnya," Kyle bersemangat sekali.
"Apa aku langsung masuk angin setelah melamarmu kala itu?" Tanya Kyle lagi penasaran.
"Tidak! Karena setelahnya kita-" suara Audrey tercekat di tenggorokan.
Bayangan saat dirinya dan Kyle saling mencumbu di dalam ruang kerjanya setelah acara lamaran itu kembali berkelebat di benak Audrey. Meskipun tak samlai melakukan hubungan suami istri kala itu, namun adegan remang-remang itu memang nyaris membuat Kyle dan Audrey kebablasan.
Belum lagi Kyle dan Audrey yang kala itu hanya mengenakan baju dalam.
"Kita langsung ganti baju setelahnya?" Tebak Kyle melanjutkan kalimat Audrey yang terputus.
"Ya! Kita langsung berganti baju, lalu menikmati kopi hangat setelahnya. Jadi tidak ada yang masuk angin," ucap Audrey seraya tersdnyum pada Kyle.
"Aku akan turun," pamit Audrey yang kai ini benar-benar membuka pintu mobil Kyle.
"Terima kasih sudah mengantarku!" Ucap Audrey sekali lagi dan Kyle mengangguk seraya tersenyum.
"Kau pulang jam berapa? Biar aku jemput sekalian!" Tawar Kyle seraya membuka kaca mobilnya.
"Jam empat biasanya. Tapi jika kau sibuk, tidak usah menjemputku. Aku akan pulang naik taksi," jawab Audrey yang mendadak sungkan pada Kyle.
"Aku akan menjemputmu nanti," ucap Kyle sangat yakin.
"Baiklah, hati-hati mengemudi!" Pesan Audrey dan Kyle hanya mengangguk.
"Dan Kyle!" Audrey kembali berbalik dan menghampiri mobil Kyle lagi.
"Apa?"
"Selalu pakai sabuk pengamanmu!" Audrey menunjuk ke arah sabuk pengaman Kyle.
"Ya! Aku pergi dulu!" Kyle melambaikan tangan ke arah Audrey, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor Audrey.
Baru saja membuka pintu, Audrey sudah disuguhkan oleh kenangannya bersama Kyle di sofa yang ada di dalam ruangannya tersebut. Terlalu banyak kenangan manisnya bersama Kyle di ruangan ini.
Kyle yang selalu datang saat makan siang, lalu merayunya. Atau Kyle yang datang menjemputnya saat sore, lalu berakhir dengan mereka yang saling menelanjangi dan bercinta disini hingga tengah malam.
Ya ampun!
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan Audrey diketuk dari luar.
"Nona Audrey!" Itu suara salah satu karyawan Audrey.
"Masuklah!" Titah Audrey yang sudah bangkit dari sofa dan berpindah ke kursi kerjanya.
"Maaf, Nona. Tadi klien menelepon dan minta pertemuan yang sore ini dimajukan jadi pagi karena beliau akan bertolak ke luar kota sore nanti."
"Jam berapa?" Tanya Audrey seraya melihat ke arlojinya
"Jam sepuluh pagi, Nona. Tempatnya tetap sama."
"Baiklah, nanti kamu pesankan taksi jam sepuluh, ya! Aku tidak membawa mobil soalnya,"
"Baik, Nona! Saya permisi," Karyawan tadi segera undur diri setelah Audrey mengangguk.
***
Audrey sudah selesai menemui klien-nya tepat saat jam makan siang tiba. Audrey sedikit tergesa keluar dari salah satu restorant, saat wanita itu tak sengaja menabrak seorang waitress.
"Maaf, Nona! Saya tak sengaja," waitress tadi buru-buru minta maaf pada Audrey dan hendak membersihkan tumpahan minuman di baju Audrey.
Namun Audrey memegang tangan waitress itu dengan cepat dan menatap lekat wajahnya, memastikan kalau Audrey sedang tidak salah orang.
"Teresa? Kau sedang apa disini?" Tanya Audrey yang langsung membuat Teresa mematung di tempatnya.
.
.
.
Teresa siapa, thor?
Ada di side story cerita ini.
Kebetulan belum rilis tapi mungkin akan segera rilis.
Aku nggak usah kasih tahu judulnya, nanti kalian cari tahu sendiri saja.
Saran aku, nggak usah dibaca karena itu berhubungan sama masalalu Audrey bersama Will.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.