Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
JANJI PERNIKAHAN



"Aku Audrey Zivia Abraham, berjanji untuk selalu mencintaimu, Kyle Aditya Arthur. Mencintai dalam semua keadaan. Dalam susah maupun senang. Dalam sehat maupun sakit. Mendampingimu menjalani rumitnya kehidupan ini. Berbagi tawa dan berbagi kesedihan. Berjuang bersama mengarungi kehidupan rumah tangga, hingga nanti kita menua bersama."


Kyle tersenyum tipis melihat video pernikahannya sendiri bersama Audrey. Kyle terus mengulangi bagian video saat Audrey mengucapkan janji suci pernikahan. Wanita itu terlihat sangat bahagia.


Namun kenapa Kyle tidak sedikitpun ingat?


Kyle ganti menatap pada Audrey yang sudah terlelap di sofa kamar. Sudah berulangkali Kyle meminta Audrey untuk tidur saja di atas ranjang dan biar Kyle yang tidur di sofa. Namun Audrey begitu keras kepala dan selalu mengambil tempat tidur di sofa, lalu membiarkan Kyle menguasai ranjang ini sendirian.


Wanita itu benar-benar keras kepala!


Kyle mengganti video pernikahan yang tadi ia tonton lewat laptop dengan video saat Kyle melamar Audrey di bawah guyuran hujan.


Seromantis itu Kyle pada Audrey dulu.


Lalu kenapa tak ada sedikitpun memori yang tertinggal di hatinya sekarang?


Wajah Audrey terasa sangat asing.


Kecuali nama Abraham yang tersemat di belakang nama Audrey. Hanya itu yang terdengar tidak asing untuk Kyle.


Audrey adik dari Zayn.


Kyle terus mengulangi video saat ia berlutut di depan Audrey. menyodorkan kotak cincin warna biru pada istrinya tersebut, lalu menyematkan cincin berlian di jari manis Audrey.


Adegan itu terus Kyle putar berulang-ulang, berharap kenangannya bersama Audrey akan kembali meskipun hanya sekilas.


Namun semuanya tak berguna!


Kyle menggeram frustasi dan menjambak rambutnya sendiri karena kini kepalanya malah terasa sakit!


"Brengsek!" Umpat Kyle masih frustasi.


Kyle menutup laptopnya dan meletakkannya dengan kasar ke atas nakas. Pria itu bangkit berdiri saat kertas yang bertuliskan janji pernikahannya untuk Audrey tak sengaja jatuh ke lantai.


Kyle memungutnya dan membacanya sekali lagi, meskipun tadi Kyle sudah sempat membacanya.


"Berjanji untuk membantumu mencintai hidup. Menggenggammu dengan lembut untuk kesabaran, karena itulah yang dibutuhkan oleh cinta."


"Mencintaimu dengan sepenuh hati, untuk hidup di kehangatan hatimu yang aku sebut sebagai rumah."


Kyle menghampiri Audrey yang masih terlelap. Menatap pada wajah wanita yang baginya masih seperti orang asing tersebut.


Kyle merapatkan selimut yang membalut tubuh Audrey.


Kyle sudah kembali bangkit berdiri saat kalimat di kertas tadi kembali terngiang di kepalanya.


"Menggenggammu dengan lembut untuk kesabaran."


Kyle kembali berbalik dan menatap lagi ke wajah Audrey yang tetap terlelap. Setelah berulang kali menarik nafas panjang, Kyle segera membopong tubuh Audrey dan memindahkannya ke atas ranjang. Membenarkan sekali lagi selimut untuk menutupi tubuh Audrey.


Sekarang gantian Kyle yang tidur di sofa kamar.


****


Audrey mengerjapkan matanya berulang kali, saat wanita itu mendapati dirinya yang tidur di atas ranjang.


Apa?


Bagaimana bisa?


Audrey memastikan sekali lagi dan saat memeriksa sofa tempatnya tidur semalam, Audrey mendapati Kyle yang masih tertidur pulas di sana.


Tapi siapa yang memindahkan Audrey dari sofa?


Perasaan semalam Audrey tidur di sofa dan Audrey tidak pernah mrngalami tidur sambil berjalan.


Audrey segera turun dari ranjang dan menghampiri Kyle yang masih terlelap di atas sofa. Selimut pria itu hampir jatuh ke lantai, jadi Audrey memungutnya dan membenarkan letak selimut tersebut.


Audrey merasa benar-benar rindu pada Kyle-nya yang dulu, jadi selagi Kyle masih terlelap, Audrey segera mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Kyle. Jengkal demi jengkal wajah Kyle, Audrey usap dengan lembut, membayangkan senyuman Kyle yanag begitu menyejukkan. Tawa Kyle yang kadang menggelegar, dan seringai nakal dari Kyle saat pria itu sedang berpikir mesum dan hendak meminta jatah pada Audrey.


Audrey masih menyusuri wajah Kyle saat tiba-tiba kedua mata pria itu terbuka dan Kyle langsung bangkit dari berbaring.


Audrey yang juga kaget langsung beringsut mundur hingga jatuh terduduk di lantai.


"Kau sedang apa, Audrey?" Tanya Kyle yang matanya memerah. Entah karena marahatau entah karena pria itu masih mengantuk?


Kyle memejamkan matanya sejenak, seolah baru ingat kalau Audrey memanglah istrinya. Lalu kenapa Kyle harus marah hanya karena Audrey menyentuh wajahnya?


"Maaf, jika ucapanku kasar tadi," Kyle sudah bangkit dari sofa dan membantu Audrey untuk bangkit berdiri.


Audrey tak menjawab dan hanya menundukkan wajahnya.


"Apa kau sering mengusap wajahku seperti tadi?" Tanya Kyle tiba yang langsung membuat Audrey mengangkat wajahnya.


"Baru tadi. Maaf, jika aku lancang," jawab Audrey cepat.


"Tidak! Maksudku sebelum aku kehilangan ingatanku. Apa kau sering mengusap wajahku seperti tadi?" Kyle mengulangi pertanyaannya.


Tak hanya mengusapnya.


Aku bahkan selalu menciumi wajahmu setiap pagi, setiap menit saat kita sedang berdekatan.


Audrey hanya bergumam dalam hati sembari menatap wajah Kyle.


"Audrey!" Tegur Kyle karena Audrey malah melamun dan tak menjawab pertanyaan.


"Eh, iya! Iya, Kyle! Aku selalu mengusap wajahmu setiap pagi saat kita bangun tidur. Lalu setelahnya kau akan ganti mengusap wajahku," jawab Audrey sedikit terbata.


Lalu menciumiku seolah tak mau berhenti.


Audrey melanjutkan dalam hati.


"Seperti ini?" Tangan Kyle tiba-tiba sudah terulur dan mengusap wajah sendu Audrey.


Audrey sampai memejamkan matanya, demi menikmati sentuhan lembut tangan Kyle yang sudah lebih dari sebulan tak Audrey rasakan.


"Seperti ini, Audrey?" Tanya Kyle sekali lagi pada Audrey yang malah memejamkan matanya.


"Iya, seperti ini," jawab Audrey lirih.


"Kau keberatan jika kita melakukannya setiap pagi sebagai rutinitas baru?" Tanya Kyle penuh harap.


"Maksudku begini. Aku menemui dokter kemarin. Dan kata dokter jika aku menjalani rutinitas yang biasa aku lakukan sebelum aku kehilangan ingatanku secara berulang-ulang. Maka kemungkinan ingatanku akan segera kembali jauh lebih besar," tutur Kyle menjelaskan pada Audrey.


Audrey mengangguk mengerti.


"Aku sama sekali tak keberatan."


Jawaban Audrey langsung membuat Kyle mengulas senyuman tipis.


"Kau ke kantor hari ini?" Tanya Kyle lagi pada Audrey.


"Ya."


"Mungkin kita bisa berangkat bersama. Aku juga mulai ke kantor hari ini," tawar Kyle pada Audrey meskipun masih terlihat kaku dan canggung.


"Bukankah Daniel sudah mengirimkan pekerjaanmu ke rumah?" Tanya Audrey sedikit ragu.


"Aku sudah jenuh di rumah jadi aku akan ke kantor saja dan menjalani rutinitasku," jawab Kyle penuh keyakinan.


"Baiklah, jika menurutmu begitu," ucap Audrey pada akhirnya.


"Aku akan mandi duluan," pamit Audrey yang sudah mengambil baju dari dalam lemari.


Audrey tentu ingat dengan peringatan dari Kyle soal dirinya yang harus sudah memakai baju lengkap saat keluar dari kamar mandi. Bahkan kini Audrey juga selalu memakai piyama lengkap saat tidur malam. Padahal dulu Audrey tak butuh baju setiap malam karena selalu ada Kyle yang menghangatkannya.


Semua hanya tentang waktu.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.