
Audrey dan Kyle masuk ke minimarket dua puluh empat jam yang ada di depan gedung apartemen. Kyle langsung menuju ke rak makanan dan camilan. Sementara Audrey melihat-lihat di bagian etalase coklat, saat dirinya tak sengaja menemukan sekotak coklat truffle persis yang dibelikan oleh Kyle saat hari Valentine beberapa bulan yang lalu.
"Kau mau beli apa?" Tanya Kyle yang sudah membawa sekeranjang makanan ringan, biskuit, serta beberapa minuman.
"Kau pernah membelikanku sekotak coklat yang seperti ini valentine kemarin," ucap Audrey seraya menunjuk ke arah kotak coklat truffle di dalam etalase coklat.
"Oh, ya? Apa kita menghabiskan dua puluh empat coklat itu berdua?" Tanya Kyle menebak-nebak.
"Ya! Karena kita membuat sebuah permainan dengan coklat itu," jawab Audrey seraya tertawa kecil.
"Ambil saja kalau begitu. Mungkin kita bisa bermain lagi malam ini, meskipun ini bukan valentine," ujar Kyle memberikan saran.
"Kau akan membantu menghabiskannya nanti?" Tanya Audrey sedikit ragu.
"Kita bisa menyimpannya kalau tidak habis," jawab Kyle santai.
Audrey akhirnya benar-benar mengambil sekotak coklat truffle tadi dan mereka berdua segera pergi ke kasir untuk membayar belanjaan.
****
Kyle dan Audrey duduk berhadapan di kursi yang ada di balkon apartemen. Diiringi cahaya dari gedung-gedung sekitar apartemen, suasana balkon saat malam memang terasa syahdu.
Audrey membuka kotak coklat truffle yang tadi ia beli.
"Aku ambil satu!" Kyle hendak mengambil satu coklat yang atasnya berhiaskan garis-garis coklat putih. Namun Audrey refleks memukul tangan Kyle. Meskipun sebenarnya tidak kencang, namun Kyle terlihat tidak senang.
"Maaf, Kyle! Itu gerakan refleks karena biasanya kau hanya menganggapnya sebagai candaan," ucap Audrey yang mendadak merasa bersalah pada Kyle.
Padahal dulu Audrey sering melakukannya dan sebagai balasan, Kyle akan meraih tangan Audrey lalu mengecupnya dengan sangat lama.
Lama sekali sampai Audrey merasa geli.
Namun sekarang, sepertinya Kyle tidak suka dengan sikap refleks Audrey tersebut.
"Valeria tak pernah memukulku selama kami berpacaran. Apa kau sering memukul tanganku, Audrey?" Tanya Kyle seolah menghakimi. Meskipun nada bicara Kyle terdengar halus dan lembut, namun tetap saja, makna sindiran di dalamnya mampu menorehkan luka yang dalam di hati Audrey.
Audrey refleks memejamkan matanya karena lagi-lagi ada paku besar yang terasa menusuk hatinya.
Aku Audrey, Kyle!
Aku bukan Valeria!
"Maafkan aku, Kyle! Aku tidak akan menyentuhmu lagi mulai sekarang apalagi memukulmu," janji Audrey seraya menahan pedih di hatinya. Serta air mata sialan yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Besok saja kita makan coklatnya. Aku mendadak mengantuk," ucap Audrey seraya menyeka kasar airmatanya.
Wanita itu sudah bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kyle begitu saja di balkon.
Airmata Audrey semakin deras bercucuran saat wanita itu masuk ke dalam kamar. Audrey memilih lanjut masuk ke kamar mandi dan menyalakan kran air agar dirinya bisa menangis dengan puas.
Sampai kapan?
Sampai kapan Kyle seperti ini?
Sampai kapan ingatan Kyle akan pulih?
****
Audrey keluar dari kamar mandi setelah wanita itu mencuci wajahnya berulang kali. Namun sepertinya tidak ada gunanya juga. Wajah Audrey tetap sembab dan matanya sedikit bengkak karena Audrey yang cukup lama menangis.
Audrey terlonjak kaget saat mendapati Kyle yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dan kini tengah menatapnya. Buru-buru Audrey menundukkan wajahnya dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab
"Kau menangis?" Tanya Kyle seraya meraih dagu Audrey.
Nada bicara Kyle terdengar bersalah.
"Maaf jika ucapanku tadi kasar dan menyakitimu," tutur Kyle yang masih merasa bersalah.
"Aku tidak tahu bagaimana Kyle 27 tahun bersikap kepadamu. Karena yang aku tahu adalah, saat ini aku Kyle 22 tahun yang mungkin masih kekanakan dan labil," lanjut Kyle lagi yang kali ini terdengar frustasi.
"Tidak perlu minta maaf! Kau tidak bersalah, dan ini bukan kemauanmu!" Mata Audrey sudah kembali berkaca-kaca saat wanita itu menatap wajah Kyle.
"Maafkan aku, Audrey!" Ucap Kyle sekali lagi yang tangannya sudah terulur untuk menyeka airmata di kedua pipi Audrey.
"Sebaiknya kau tidur dan beristirahat, Kyle! Ini sudah malam," ucap Audrey seraya menyingkirkan tangan Kyle dari wajahnya.
Audrey hendak keluar dari kamar, saat Kyle menahan tangan Audrey dan menghentikan langkah istrinya tersebut.
"Kita masih dalam tahap melakukan rutinitas bersama, Audrey! Jadi mulai malam ini kita juga harus tidur satu ranjang," kalimat Kyle membuat Audrey mengernyit tak mengerti.
"Aku tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman, Kyle! Bukankah aku adalah orang asing?" Audrey tertawa dengan nada menyedihkan ke arah Kyle.
"Tidak! Aku baik-baik saja. Dan kita juga hanya akan tidur bersisian serta memakai guling sebagai pembatas."
"Aku tidak akan berbuat hal lain. Kita bisa mengobrol saja sebelum tidur atau melakukan kebiasaan kita dulu sebelum aku hilang ingatan. Biasanya kita melakukan apa?" Tanya Kyle menuntut jawaban dari Audrey.
"Kita bercinta dan saling bercerita tentang semua hal yang kita alami selama satu hari," jawab Audrey dengan nada datar.
Kyle diam sesaat atau mungkin pria itu sedikit shock dengan kalimat Audrey yang blak-blakan soal bercinta sebelum tidur.
Namun Audrey memang mengatakan yang sesungguhnya.
Biasanya ia dan Kyle akan bercinta hingga tengah malam sebelum mereka tidur. Kyle tidak akan bisa tidur, sebelum pria itu mencumbu Audrey dan menuntaskan hasratnya pada Audrey.
"Kita bisa bercerita saja tanpa harus bercinta." Kyle tertawa sumbang.
"Maksudku bukan aku jijik atau tidak mau menyentuhmu Audrey! Tapi aku belum bisa dan belum siap, meskipun kita suami istri sekarang. Kau tahu sendiri, kalau-"
"Aku orang asing bagimu, dan kau tidak bisa menyentuh orang asing apalagi bercinta dengan orang asing. Itu bukan prinsip hidup seorang Kyle Aditya Arthur!" Sela Audrey menyambung kalimat Kyle.
"Maaf," ucap Kyle lirih, dan Audrey hanya menggeleng seraya tersenyum kecut.
"Aku paham dengan kondisimu, Kyle! Jadi kau tak perlu memaksakan diri jika memang kau masih merasa tak nyaman padaku."
"Aku akan menjauh mulai detik ini, agar kau tak lagi merasa risih atau terbebani," lanjut Audrey lagi yang matanya sudah kembali berkaca-kaca
"Tidak jangan seperti itu, Audrey!" Kyle mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
"Tolong tetap bimbing aku, Audrey! Aku juga ingin ingatanku kembali! Aku ingin bisa mengingat lagi semuanya tentang kau, tentang hubungan kita!" Mohon Kyle yang raut wajah dan suaranya sudah terdengar memelas, sama seperti saat dulu Kyle meminta sesuatu pada Audrey.
"Kau selalu memasang raut wajah memelas itu saat minta tolong kepadaku!" Audrey berdecak kesal.
"Karena hanya dengan cara ini, kau tidak bisa menolak permintaanku," jawab Kyle tanpa raut berdosa.
"Audrey!" Raut wajah Kyle masih memelas.
Dan sekarang Audrey merasa bimbang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.