Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
MASIH BERHARAP



Kyle masih diam mendengar jawaban jujur Valeria.


Dulu, Vale tak pernah mengatakan secara jujur dan gamblang seperti sekarang ini. Karena saat itu, Kyle yang seolah sudah peka kalau hati Vale sebenarnya sudah berpaling. Kyle yang saat itu mungkin sudah merasakan kalau perasaan Vale sudah hambar terhadapnya, akhirnya memilih mundur dan menyerahkan Vale pada Arga.


"Semua di antara kita sudah pergi dan hilang, Bang! Semua masalalu dan hal-hal indah yang pernah kita lalui, sudah Vale hapus dari hati Vale." Ucap Vale seraya menyeka airmata di kedua pipinya.


"Saat ini Vale hanya mencintai Arga dan keluarga kecil Vale. Semua perasaan cinta atau apapun yang pernah Vale berikan untuk Abang sudah lama menguap pergi," sambung Vale dengan nada bersungguh-sungguh.


Mendengar pengakuan jujur Vale, hati kecil Kyle 22 tahun terasa sakit. Namun sisi hati Kyle yang lain merasa biasa saja.


Aneh!


Apa itu adalah hati kecil dari Kyle 27 tahun yang juga sudah tak memiliki perasaan apapun pada Valeria?


"Abang juga sudah menikah dengan Audrey dan Abang begitu mencintai Audrey," ujar Vale lagi yang sudah meraih tangan Kyle dan menggenggamnya erat.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mencintai Audrey? Aku mungkin hanya menjadikan Audrey pelarian saja," suara Kyle tercekat di tenggorokan.


Benarkah Audrey hanya pelarian dari perasaan Kyle pada Valeria yang tak pernah sampai?


Lalu kenapa Kyle harus marah saat ia memergoki Audrey yang memeluk dan merangkul-rangkul Zayn. Padahal Zayn adalah abang kandung Audrey.


Dan saat di pulau, Kyle begitu tergila-gila pada Audrey. Sebelum mimpi buruk tentang Valeria datang. Dan menghancurkan semua momen indah Kyle bersama Audrey.


"Abang sangat mencintai Audrey sebelum Abang hilang ingatan. Abang sendiri yang waktu itu mati-matian membujuk dan meyakinkan Audrey agar mau menikah," ucap Valeria berusaha meyakinkan Kyle.


"Tapi aku merasa kalau aku hanya mencintaimu, Vale!" Kyle tiba-tiba sudah menarik tangan Vale dan mengecupnya.


Dan tanpa di duga, semua yang dilakukan Kyle itu dilihat jelas oleh Arga yang hendak pulang ke rumah dan mengantarkan Ezra pada Vale.


Arga mematung di tempatnya. Pria itu tak jadi menyeberang jalan dan memilih untuk kembali masuk ke dalam toko.


Vale sudah melepaskan genggaman tangan Kyle dengan cepat dan beringsut mundur menjauhi Kyle.


"Bagaimana lagi Vale harus menjelaskan ke Abang, kalau Vale sudah tak memiliki perasaan apapun pada Abang Kyle!" Suara Vale mulai terdengar frustasi.


"Istri Abang itu Audrey! Jadi berhentilah memikirkan Vale dan belajarlah untuk menerima kenyataan itu, Bang!"


"Vale hanya mencintai Arga dan tak lagi mencintai Abang Kyle! Terserah Abang mau bagaimana?" Valeria benar-benar sudah hilang kesabaran sekarang.


"Audrey istri yang sempurna untuk Abang Kyle! Jadi silahkan Abang pulang dan berhenti mengganggu rumah tangga Vale! Hubungan kita sudah lama berakhir dan sampai kapanpun tak akan pernah kembali lagi! Jadi pahamilah semuanya, Bang" pungkas Valeria seraya mengusap kasar airmatanya dan masuk ke dakam rumah, lalu membanting pintu. Meninggalkan Kyle yang masih duduk sendirian di teras rumah Arga.


****


Kediaman Abraham.


Audrey menuruni tangga perlahan sambil mengedarkan pandanganya ke lantai bawah yang tampak sepi. Mama dan Papa sedang ada acara di luar, Abang Zayn sudah pergi ke kantor, dan mungkin Kak Thalita sedang di kamar menidurkan Sakya.


"Audrey, mau kemana?" Teguran dari Kak Thalita yang baru kekuar dari kamarnya membuat jantung Audrey nyaris meloncat dari rongganya.


"Mau ke kantor, Kak! Ada urusan sedikit yang harus Audrey bereskan," jawab Audrey sedikit tergagap. Wanita itu meremas tangannya dan merasa sedikit gugup karena terpaksa berbohong pada Kak Thalita.


Audrey bahkan sudah cuti dari kantornya hingga waktu yang belum ditentukan dan melimpahkan semua pekerjaannya di kantor Wedding Organizer -nya pada satu karyawan yang ia percaya. Audrey hanya akan memantau dari jauh setelah ini dan tak akan datang ke kantor lagi.


"Kau tidak mengambil cuti dulu?" Tanya Kak Thalita yang terlihat khawatir.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati mengemudi! Atau kau mau menbawa supir Kakak?" Tawar Kak Thalita yang langsung dijawab Audrey dengan sebuah gelengan kepala.


"Audrey akan mengemudi sendiri saja, Kak! Audrey akan langsung pulang setelah urusan Audrey selesai," janji Audrey pada sang Kakak ipar.


"Baiklah, hati-hati!" pesan Kak Thalita sekali lagi, dan Audrey segera menuju ke garasi untuk mengambil mobil merahnya.


Audrey meninggalkan kediaman Abraham dan segera memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Bukan ke kantor WO-nya, melainkan ke sebuah rumah sakit yang ada di pusat kota.


Audrey harus menemui dokter kandungan dan memastikan kehamilannya.


****


"Selamat, usia kandungannya empat minggu."


"Janinnya sehat dan semuanya bagus."


Kata-kata dari dokter terus terngiang di benak Audrey.


Akhirnya Audrey benar-benar hamil. Audrey hamil anak Kyle


Tapi Audrey bingung harus senang atau sedih sekarang mengingat hubungannya dengan Kyle yang sedang mengalami goncangan.


Audrey baru saja akan memasukkan kartu periksa kehamilannya ke dalam tas, saat wanita itu tak sengaja bertubrukan dengan seorang pria yang wajahnya terlihat familiar.


Tidak!


Itu memang sangat familiar.


Karena Audrey pernah hidup seatap dengan pria ini.


Sebelum sebuah badai mengombang-ambingkan bahtera rumah tangga mereka.


Hingga akhirnya semuanya menjadi kandas.


"Will!"


"Audrey!"


.


.


.


Siapa kemarin yang nyuruh ditemuin sama mantannya hayo 😂😂


Biar Kyle gigit jari sekalian.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.