Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
JAWABAN DEMI JAWABAN



"Bang, belum tidur?" Pertanyaan serta tepukan dari Sean segera menyentak lamunan Kyle. Buyar sudah semua lamunan Kyle dan semua pertanyaan yang mengganggu pikirannya terasa semakin mengganggu saja.


"Aku tiba-tiba terjaga dan ingin makan es krim. Jadi aku makan es krim," jawab Kyle menunjuk ke cup es krimnya.


Sean tersenyum dan mengangguk.


"Kau sendiri juga belum tidur, Sean?" Kyle balik bertanya pada Sean.


"Sean hanya ingin minum tadinya, tapi melihat Abang duduk sendiri, Sean jadi ingin menemani," jawab Sean sedikit terkekeh.


Kyle ikut terkekeh, sebelum suasana hening sesaat.


"Jadi, kenapa kau putus dari Emily? Emily merasa malu dengan sikap konyolmu saat di pernikahan Anne dan Abi?" Kyle akhirnya buka suara dan bertanya pada Sean dengan nada bercanda.


Namun Sean menggeleng dengan cepat.


"Sean yang mengacaukan semuanya. Sean mabuk lalu menghamili Rachel. Emily marah dan minta Sean menikahi Rachel lalu mengakhiri semuanya," cerita Sean yang tentu saja membuat Kyle terkejut.


"Apa aku marah saat kejadian itu? Apa aku menyakitimu?" Tanya Kyle sedikit khawatir.


"Ya! Abang sangat marah dan menghadiahi Sean dua bogem mentah di skni dan disini," sean menunjuk kedua pipinya secara bergantian. Namun adik Kyle itu masih saja terkekeh seolah ada yang lucu.


Apa memangnya yang lucu dari cerita kakak beardik yang saling baku hantam?


"Abang juga mendiamkan Sean selama berbulan-bulan. Dan baru setelah pernikahan Abang dengan Kak Audrey, Aabang mulai bicara dengan Sean meskipun masih setrngah hati. Namun Abang tetap menjaga hubungan baik di antara kita, karena permkntaan Kak Audrey." Tutur Sean yang langsung membuat Kyle diam sejenak.


"Jadi maksudmu, Audrey yang mendamaikan perselisihan di antara kita?" Tanya Kyle menerka-nerka.


"Ya! Abang sangat tergila-gila pada Kak Audrey, jadi apapun yang diminta oleh Kak Audrey, Abang tak akan bisa menolaknya," jawab Sean seraya terkekeh.


Namun Kyle tidak ikut terkekeh kali ini dan wajahnya malah menunjukkan raut serius.


"Kau tahu kenapa Audrey bercerai dari suaminya yang pertama?" Tanya Kyle yang langsung membuat kekehan Sean terhenti.


Sean berdehem ringan sebelum menjawab pertanyaan Kyle.


"Kenapa mendadak bertanya hal itu, Bang?" Sean malah balik bertanya dan belum menjawab pertanyaan Kyle.


Kyle mengendikkan bahu,


"Aku hanya penasaran, apa yang aku lakukan sekarang sama seperti yang pernah dilakukan oleh mantan suami Audrey," wajah Kyle tertunduk lesu.


"Mantan suami Kak Audrey menuduh Kak Audrey mandul dan tak bisa memberikan anak, jadi mereka bercerai," ucap Sean menjawab pertanyaan Kyle.


Hati Kyle merasa tak terima saat Sean mengucapkan kalimat Audrey mandul.


Audrey tidak mandul!


Audrey bahkan sedang hamil sekarang!


Batin Kyle menjerit.


Tunggu!


Tapi darimana Kyle tahu kalau Audrey sedang hamil?


Dari suara di mimpinya tadi?


Benarkah itu suara Audrey?


Batin Kyle ganti bertanya-tanya.


"Audrey tidak mandul! Berapa lama memangnya mereka menikah sampai pria brengsek itu mengatakan kalau Audrey mandul?" Kyle bertanya lagi dengan penuh emosi pada Sean.


"Kurang dari satu tahun seingat Sean," jawab Sean sedikit mengernyit bingung karena wajah Kyle yang tiba-tiba terlihat emosi.


"Belum ada satu tahun dan dia sudah mengatakan Audrey mandul? Dasar pria brengsek!" Kyle tiba-tiba meninju meja di depannya, hingga cup es krim yang ada di atas meja jatuh terguling.


"Berapa lama kita menikah, Audrey?" Tanya Kyle seraya menatap pada Audrey.


"Satu tahun," jawab Audrey lirih.


"Apa kita sedang menunda momongan? Bukankah satu tahun itu-"


"Kau dan Audrey sedang menjalani program kehamilan, Kyle!"


Kilatan percakapan Kyle, Audrey, Thalia, dan Daniel kala itu kembali berkelebat. Audrey bercerai dari mantan suaminya karena masalah momongan, dan ternyata Kyle juga pernah menyinggung masalah momongan pada Audrey secara blak-blakan.


Tadi Kyle menyebut mantan suami Audrey brengsek. Padahal Kyle sendiri nyatanya juga seorang pria brengsek, karena malah mengorek kembali luka di hati Audrey yang mungkin belum pulih. Sangat wajar jika Audrey sekarang menjauh dan meninggalkan Kyle. Hati Audrey pasti begitu terluka.


"Bang!" Teguran Sean lagi-lagi menyentak lamunan Kyle.


"Abang ingat sesuatu?" Tanya Sean memastikan.


"Entahlah!" Kyle menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Semuanya datang secara acak, dan aku bingung," Kyle ganti memegangi kepalanya dan menyugar rambutnya dengan kasar berulang kali.


"Boleh Sean memberikan saran untuk Abang?"


"Saran apa?" Wajah Kyle terlihat serius.


"Begini, daripada Abang sibuk mencari ingatan Abang yang entah kapan akan kembali. Kenapa Abang tidak memulai semuanya saja dari awal bersama Kak Audrey?" Kalimat Sean malah menbuat Kyle semakin mengernyit bingung.


"Maksud Sean, jika dulu abang bisa jatuh cinta dan tergila-gila pada Kak Audrey hingga Abang mati-matian mengejar Kak Audrey dan meyakinkannya agar ia mau menikah dengan Abang, bukankah itu artinya Abang juga bisa melakukannya sekarang?" Tutur sean lagi yang mulai dimengerti oleh Kyle.


"Sekarang saja, Abang sudah mencari-cari Kak Audrey meskipun ingatan Abang belum kembali. Bukankah itu artinya Abang memang sudah merasa nyaman pada Kak Audrey?"


"Ya! Audrey wanita yang baik, dan dia selalu membuatku merasa nyaman sata aku ada di dekatnya. Dan sejak liburan kami di pulau, aku merasa sudah bergantung pada Audrey. Aku merasa-"


"Jatuh cinta pada Kak Audrey?" Tebak Sean cepat melanjutkan kalimat Kyle.


"Apa menurutmu Audrey akan memaafkanku dan mau melanjutkan hubungan kami, Sean? Aku sudah terlalu banyak menyakiti hati Audrey," suara Kyle terdengar lirih dan putus asa.


"Kak Audrey pasti memaafkan Abang. Kak Audrey juga sangat mencintai Abang. Sean yakin akan hal itu, Bang!" Sean menepuk punggung Kyle mencoba memberikan kekuatan pada sang Abang.


Kyle hanya mengangguk-angguk dan mengaminkan ucapan Kyle di dalam hatinya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.