Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
CEMBURU?



Gedung kantor Arthur Company.


Kyle keluar dari ruang meeting dengan raut wajah yang terlihat kusut. Daniel yang tadinya mengekor di belakang Kyle mempercepat langkahnya agar bisa menyamai langkah Kyle yang sudah hampir mencapai lift.


"Kau kenapa, Kyle?" Tanya Daniel merasa heran.


Dua pria yang merupakan sahabat karib tersebut sudah naik ke lift dan segera menuju ke lantai paling atas dari gedung Arthur Company.


"Entahlah, aku sedikit bosan dengan pekerjaanku," jawab Kyle seraya memasang wajah murung.


"Pergilah berlibur kalau begitu!" Saran Daniel to the point.


Bibir Kyle langsung melengkungkan sebuah senyuman.


"Audrey mengajakku ke pulau beberapa hari. Kau bisa menghandle semuanya, kan? Selama aku pergi?" Kyle sudah ganti tersenyum pada Daniel sekarang.


Cepat sekali raut wajah pria ini berubah.


"Sialan kamu! Ternyata hanya akting agar aku memberimu libur!" Daniel langsung meninju bahu Kyle.


"Kita bisa gantian, Daniel!" Ujar Kyle yang seolah memberi harapan pada Daniel.


Meskipun Daniel yakin kalau yang dimaksud gantian oleh Kyle disini adalah, Kyle berlibur satu pekan dan Daniel hanya mendapat libur maksimal tiga hari.


Ya, ya, ya!


Nasib bawahan.


Jadi terima saja, Daniel!


Ketimbang tidak dapat libur sama sekali?


"Tapi ngomong-ngomong apa ingatanmu sudah kembali? Kenapa tiba-tiba kau ingin ke pulau bersama Audrey?" Tanya Daniel merasa penasaran.


Kyle menggeleng dengan cepat dan rasa penasaran Daniel menguap begitu saja.


Seharusnya Daniel tak perlu bertanya.


"Kata Audrey, ada banyak hal berkesan yang pernah kami lakukan di pulau, tapi tak bisa dilakukan disini. Audrey berharap dengan kami mengulangi hal berkesan tersebut di tempat yang sama, ingatanku mungkin akan bisa kembali," ujar Kyle menjelaskan pada Daniel.


Daniel segera manggut-manggut dan merasa setuju dengan pendapat Audrey.


"Istrimu benar!"


"Jadi, aku berangkat hari Sabtu," putus Kyle seraya menaik turunkan alisnya ke arah Daniel.


"Ya! Terserah, Tuan direktur Kyle Arthur. Aku akan menjadi direktur selama sepekan!" Daniel duduk di kursi kerja Kyle, dan memutar-mutarnya sedikit kekanakan.


Memang sudah sejak tadi, Kyle dan Daniel tiba di ruangan Kyle.


"Semoga bulan madumu lancar, dan saat pulang sudah membawa adik untuk Lea dan Ryan," kekeh Daniel yang langsung berhadiah tinjuan dari Kyle.


"Hei! Meskipun kau hilang ingatan, bukan berarti kau juga harus lupa caranya menyentuh Audrey, Kyle! Rugi sekali jika nanti selama di pulau kalian tidak bercinta," pendapat Daniel yang hanya membuat Kyle tersenyum tipis.


"Kau harus mengajak Audrey bercinta. Dia itu istri sahmu!" Saran Daniel sekali lagi.


"Ya! Terima kasih masukannya!" Kyle tersenyum sok bijak.


Tanpa kau suruh, aku juga sudah bercinta dengan Audrey setiap malam dan kecanduan dengan tubuh serta bibir Audrey yang begitu menggiurkan.


Kyle hanya membatin dan tak mengatakannya secara blak-blakan di depan Daniel.


Ingatan boleh hilang atau lupa.


Namun hasarat dan nafsu Kyle sebagai pria dewasa, tak mungkin ikut hilang atau lupa.


Kyle mengambil ponselnya dari atas meja dan segera mengetikkan pesan untuk Audrey


[Kita berangkat hari Sabtu] -Kyle-


****


Kantor Wedding Organizer milik Audrey.


"Ada putri kecil yang sedang tersesat di sebuah ruang kerja bernuansa hijau," sebuah suara yang terdengar bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka, langsung membuat Audrey mendongakkan kepalanya.


Tentu saja Audrey hafal dengan suara kekanak-kanakan itu.


"Abang! Tumben ke sini?" Sapa Audrey yang langsung memeluk erat sang Abang kesayangan.


Baru sehari tak berjumpa dan Audrey sudah kangen berat dengan abangnya ini.


"Mengantarkanmu kopi," Zayn menunjukkan dua gelas kopi di tangannya.


"Tidak biasanya. Pasti ada sesuatu," tebak Audrey merasa curiga.


"Oh, ayolah! Aku hanya sedang menjadi abang yang baik untukmu, dan kau malah mencurigaiku." Zayn tak jadi memberikan kopi pada Audrey.


"Apa Kak Thalita sedang hamil lagi? Kenapa Abang sensi sekali?" Kelakar Audrey yang langsung membuat Zayn berdecak sembari mendaratkan bokongnya di kursi kerja Audrey.


"Masih belum jadi yang ketiga. Mungkin tahun depan menunggu Sakya lulus dulu," ujar Zayn seraya menyeruput kopinya.


"Jadi, Abang kesini ada apa?" Raut wajah Audrey sudah berubah serius.


"Hari Sabtu kau bisa mengatur acara untuk-"


"Abang cari orang lain saja, oke!" Sela Audrey cepat memotong kalimat Zayn yang belum selesai.


"Abang akan membayar harga normal!" Sergah Zayn seraya melotot pada sang adik.


"Bukan soal harga, Bang! Tapi Audrey harus pergi hari Sabtu," tutur Audrey menjelaskan pada Zayn.


"Urus dulu acara kantor Abang, lalu kau bisa pergi!" Zayn tetap bersikeras.


"Audrey perginya lama! Mungkin sepekan," jawab Audrey jujur.


"Mau kemana memangnya?" Zayn mengangkat sebelah alisnya dan menaddak merasa penasaran.


"Ke Pulau bersama Kyle," jawab Audrey lirih.


"Ingatan suamimu sudah kembali?" Raut wajah Zayn berubah sangat serius sekarang.


Audrey menggeleng.


"Tidak! Maksud Audrey belum. Tapi mungkin akan kembali setelah kami pergi ke pulau dan mengulang semua yang pernah kami lakukan saat di pulau," tutur Audrey optimis.


"Kau sudah mencoba semuanya disini, dan kau lihat sendiri tidak ada kemajuan apapun. Kyle masih tak ingat apapun tentang hubungan kalian," gantian Zayn yang kini pesimis.


"Tapi bukankah kata Abang, Audrey harus berusaha membuat Kyle jatuh cinta lagi pada Audrey! Jadi acara ke pulau ini mungkin adalah momen yang tepat," sergah Audrey mencoba meyakinkan sang Abang.


"Ya, tapi Kyle masih menganggapmu sebagai orang asihg, Audrey. Dan jika nanti kalian hanya berdua di pulau, kalau tiba-tiba ada masalah, atau Kyle menyakitimu-" kekhawatiran sudah nampak jelas di wajah Zayn.


"Kyle bukan pria jahat, Bang! Dia tak mungkin menyakiti atau melukai Audrey. Jadi abang tenang saja, Oke!" Audrey berusaha meyakinkan Zayn seraya merengkuh kedua pundak Abangnya tersebut.


"Kau benar. Kyle bukan psikopat dan dia adalah suamimu. Kenapa aku harus khawatir dan takut kalau Kyle mungkin akan memperkosamu," Zayn terkekeh geli dan Audrey langsung meninju bahu abangnya tersebut.


"Bawa lebih dari satu alat komunikasi, agar kau bisa mengubungi Abang kapan saja saat ada masalah," pesan Zayn seraya mengusap lembut kepala Audrey yang merupakan adik kesayangannya tersebut.


"Siap, Abang!" Audrey langsung memeluk Abangnya yang masih duduk di kursi bak seorang kekasih.


"Jangan memberitahu Papa soal kepergianmu ke Pulau," pesan Zayn lagi.


"Kenapa memang?" Tanya Audrey tak paham.


"Papa akan membawakanmu selusin bodyguard jika kau memberitahunya," jawab Zayn seraya terkekeh kecil.


"Papa tidak se-lebay itu!"


"Baiklah terserah saja. Papa akan khawatir berlebihan jika kau memberitahunya. Jadi pergi diam-diam saja atau katakan kau sedang ada urusan di luar kota!" Saran Zayn pada sang adik.


"Baiklah, Abangku yang tampan!" Audrey mengeratkan rangkulannya pada Zayn atau mungkin adik Zayn ini memang berniat untuk mencekik Zayn?


"Thalita akan mengamuk jika meihatmu memelukku seperti ini," gumam Zayn lebay.


"Mustahil! Kak Thalita itu tidak cemburuan seperti Abang! Masa iya Kak Thalita meluk Liam, Abang langsung mencak-mencak!" Ejek Audrey yang masih belum melepaskan rangkulan mesranya pada Zayn.


"Padahal Liam itu kan adiknya Kak Thalita!" Tambah Audrey lagi.


"Hanya adik sambung. Jadi tetap harus menjaga jarak! Beda cerita kalau adik kandung, Abang tidak mungkin cemburu," kilah Zayn mencari alasan.


"Ciih! Kak Thalita pelukan sama Kak Thalia Abang juga cemburu!" Audrey masih tak berhenti mengejek sang Abang.


"Bukan cemburu! Aku hanya mencegah agar jiwa mereka berdua tidak tertukar," jawab Zayn yang sontak membuat Audrey tergelak.


Audrey masih rangkul-rangkulan seraya tertawa bersama Zayn, saat tiba-tiba pintu ruangannya menjeblak terbuka dan Kyle yang sudah berdiri di ambang pintu memegang dua kopi di tangannya.


Api cemburu seketika merambati hati Kyle karena melihat Audrey yang merangkul mesra Zayn.


Demi apapun, itu abang kandung Audrey, Kyle!


Abang kandung!


Sepertinya rasa cemburumu sudah melewati batas.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.