
"Sudah pasang alat kontrasepsi?" Tanya Mama Hanni pada Audrey yang sedang memangku Olivia seraya duduk di ayunan yang ada di halaman belakang kediaman Abraham.
Audrey sedang rindu pada sang Mama. Jadi hari ini dan dua hari ke depan, Audrey, Olivia, dan Kyle akan menginap di rumah Papa Hans.
"Kata dokter harus menunggu sampai dapat tamu bulanan dulu, Ma!" jawab Audrey yang sedikit melamun.
"Memang belum dapat tamu bulanan? Ini sudah hampir dua bulan sejak kamu selesai nifas, kan?" Tanya Mama Hanni lagi seraya mengambil Olivia dari pangkuan Audrey.
"Belum. Tapi bukankah kalau ASI eksklusif itu hal yang wajar, Ma?" Audrey menggigit bibir bawahnya karena mendadak merasa cemas.
Bukan sekali dua kali Kyle kebablasan dan lupa memakai pengaman.
"Ya, itu memang benar. Tapi kan tidak semuanya," jelas Mama Hanni mengemukakan pendapatnya.
Audrey hanya diam dan memilih untuk tak menyahut lagi.
Kenapa perasaan Audrey jadi tak karuan begini?
Atau mungkin sebaiknya Audrey melakukan tes saja agar dirinya bisa bernafas lega dan membuktikan pada sang Mama kalau ia tidak sedang hamil?
Entahlah, Audrey benar-benar galau sekarang.
****
Setelah menimbang-nimbang dan memikirkannya semalaman, akhirnya Audrey memutuskan untuk melakukan tes kehamilan pagi ini di dalam kamar mandi. Ibu satu anak itu masih menunggu hasil dan matanya tak lepas menatap benda putuh panjang yang kini ada di depannya.
Satu garis....
Lalu muncul satu garis merah lagi yang masih terlihat samar tepat di samping garis merah yang pertama.
"Hah!" Audrey menutup mulutnya sendiri karena kaget.
Wanita itu mengambil dua alat tes kehamilan lagi dan membukanya dengan kasar lalu mengulangi lagi tesnya.
Kedua testpeck yang baru Audrey gunakan ternyata juga menunjukkan dua garis merah.
Audrey hamil!
Audrey hamil lagi dan Olivia usianya baru genap tiga bulan.
Bagaimana ini?
"Sayang, kau sedang apa di dalam? Via sudah bangun dan mencarimu," Kyle mengetuk pintu kamar mandi dan Audrey seolah terbangun dari lamunannya.
Audrey menatap sekali lagi pada tiga testpack di depannya, berharap dua garis mearh tadi hanyalah sebuah ilusi, namun nyatanya garis merah di masing-masing testpack tetap menunjukkan dua garis yang itu berarti Audrey sedang hamil sekarang.
"Audrey!" Panggil Kyle sekali lagi dan Audrey segera membuka pintu kamar mandi.
"Kau sedang apa? Kenapa wajahmu pucat begitu? Kau sakit?" Cecar Kyle yang sudah meletakkan punggung tangannya di kening Audrey untuk memeriksa suhu tubuh istrinya tersebut.
Tapi suhu tubuh Audrey normal.
Lalu kenapa Audrey pucat?
"Ini semua salahmu, Kyle!" Audrey tiba-tiba sudah mengomel dan memukul-mukul Kyle.
Terang saja hal itu langsung membuat Kyle merasa bingung.
"Sayang, ada apa ini? Aku salah kenapa?" Tanya Kyle bingung seraya berusaha menghentikan pukulan tangan Audrey.
"Lihat ini!" Audrey memberikan testpack dua garisnya tadi pada Kyle.
"Ini juga!"
"Ini!" Ketiganya Audrey berikan semua pada Kyle dan suaminya itu melihat garis di atas testpack dengan seksama, sebelum akhirnya Kyle tertawa bahagia.
"Kau hamil? Kau benar-benar hamil?" Kyle mengangkat tubuh Audrey, lalu memeluk erat istrinya tersebut. Kyle juga menciumi wajah Audrey berulang kali dan tak berhe ti meluapkan kebahagiaannya.
"Olivia baru genap tiga bulan, Kyle!" Cicit Audrey merasa sedih.
Audrey menatap pada Olivia yang kini berada di atas tempat tidur dan sedang menendang-nendangkannkakinya ke udara sambil menghisap-hisap jari mungilnya.
"Kita bisa mencari pengasuh untuk Olivia, agar kau tidak kecapekan," Kyle memberikan solusi.
"Aku masih mau menyusui Olivia sampai dia umur dua tahun," Sergah Audrey dengan raut wajah sedih.
"Kita bisa konsultasi ke dokter kalau masalah itu. Kau bisa tetap menyusui Olivia meskipun hamil, selama tak ada keluhan appaun nanti," tukas Kyle yang sepertinya selalu punya solusi untuk semua masalah.
"Bagaimana kau bisa tahu hal-hal seperti itu? Tanya Audrey mengernyit curiga.
"Aku membaca artikel! Kau cemburu dan mengira aku main serong, hah?" Kyle mencubit dagu Audrey dan berkata dengan nada menggoda.
Audrey tak menjawab dan hanya menundukkan wajahnya.
"Sudah jangan sedih dan murung begitu!" Kyle meraup Audrey ke dalam pelukannya dan mencoba menghibur istrinya tersebut.
"Bukankah seharusnya kita bersyukur, karena masih diberikan keoercayaan untuk memiliki seorang bayi lagi. Anggap saja ini bonus setelah semua kesabaran dan penantian panjangmu!" Sambung Kyle lagi yang sudah ganti menangkup wajah Audrey dan mengecup kening istrinya tersebut.
Kecupan Kyle lalu lanjut ke kedua mata Audrey, lalu ke hidung Audrey, dan terakhir ke bibir Audrey yang selalu membuat Kyle menjadi gila.
"Aku harus bersiap-siap dan pergi ke kantor karena ada rapat penting. Nanti sore aku antar ke dokter, ya!" Ucap Kyle sekali lagi yang hanya dijawab Audrey dengan anggukan kepala.
Kyle mengecup kening Audrey sekali lagi, sebelum pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Audrey sendiri langsung mengambil Olivia dari atas tempat tidur dan menggendong bayinya tersebut, lalu membawanya keluar dari dalam kamar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.