
Pelepah daun kelapa yang jatuh tepat di depan gazebo, mengagetkan Kyle dan Audrey yang masih saling memeluk tanpa sehelai benangpun.
"Aku rasa akan ada badai malam ini, Kyle," ujar Audrey yang sudah melepaskan pelukan Kyle dan meraih gaun tipisnya.
Kyle melongok keluar atap dan melihat mendung yang mulai berarak serta angin yang berhembus semakin kencang.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah sekarang," ucap Kyle yang juga sudah memakai celana serta kausnya dengan cepat.
Kyle meraih tangan Audrey dan menggenggamnya dengan erat. Pasangan suami istri tersebut berjalan hati-hati menembus gelapnya malam dan menyusuri jalan setapak menuju ke arah rumah.
Angin sudah berhembus semakin kencang saat Kyle dan Audrey tiba di teras rumah. Audrey bersedekap dan segera masuk ke dalam rumah. Wanita itu memeriksa semua jendela dan menguncinya dengan rapat agar tidak tiba-tiba terbuka karena terhempas badai.
"Kyle!" Panggil Audrey pada Kyle yang masih berdiri di teras.
Hujan sudah mulai mengguyur, dan masih disertai oleh angin yang bertiup kencang. Kyle bisa basah kuyup jika pria itu tetap berdiri di teras.
"Ya! Aku akan masuk," jawab Kyle yang sudah bergegas masuk. Suami Audrey itu langsung menutup pintu dan menguncinya dengan rapat.
"Cuacanya tidak pernah bisa ditebak," gumam Kyle yang sudah menyusul Audrey masuk ke dapur.
Audrey sepertinya sedang menyiapkan minuman hangat.
"Bukankah sejak dulu memang seperti ini? Nanti sesudah badai bisa tiba-tiba cerah," ujar Audrey menimpali gumaman Kyle. Wanita itu menghampiri Kyle yang masih duduk di kursi yang ada di samping meja makan seraya membawa dua cangkir di tangannya.
"Coklat hangat, Kyle," ucap Audrey seraya mengangsurkan secangkir coklat hangat pada Kyle.
"Terima kasih," ucap Kyle yang langsung menyesap coklat hangat di cangkirnya perlahan. Pria itu sampai memejamkan mata dan seperti menikmati sekali.
"Kau tidak ikut duduk?" Tanya Kyle seraya menepuk kursi kosong di tangannya.
Audrey memang masih mematung sejak tadi.
"Oh, iya," Audrey bergegas duduk dan meletakkan cangkir berisi coklat hangatnya ke atas meja.
"Coklat hangat buatanmu enak sekali," puji Kyle yang langsung membuat bibir Audrey melengkungkan senyuman.
"Apa aku dulu juga menyukai coklat hangat buatanmu?" Tanya Kyle lagi yang langsung membuat Audrey sedikit tertegun.
Bayangan saat dirinya dan Kyle menikmati coklat hangat di dalam rumah ini kala bulan madu saat itu menari-nari di benak Audrey.
"Kau mau apa, Kyle!" Audrey menahan tangan Kyle yang hendak membuka bra yang ia kenakan
"Melakukan eksperimen," jawab Kyle seraya tertawa nakal ke arah Audrey.
"Coklat ini rasanya enak sekali. Jika aku meminumnya dari sini, apa akan semakin enak?" Kyle menunjuk ke arah dua gundukan dada Audrey.
"Jangan gila! Kau akan membuat tubuhku menjadi lengket," protes Audrey yang segera menolak ide gila Kyle.
Wanita itu sudah beranjak dari pangkuan Kyle dan membenarkan lagi bra-nya yang hampir tersingkap.
"Kita coba sedikit saja, Sayang! Lalu aku akan membantumu membersihkannya nanti. Kau juga bisa ganti baju setelahnya agar tubuhmu tidak lengket," bujuk Kyle yang sudah mengejar Audrey dan merengkuh pundak istrinya tersebut.
"Tidak!" Tolak Audrey tegas.
"Iya!" Ucap Kyle keras kepala.
"Minum saja coklatmu dari cangkir, Kyle! Kenapa harus aneh-aneh?" Audrey sedikit menggeliatkan pundaknya saat merasakan bibir dan lidah Kyle yang sudah menciumi pundaknya lalu pria itu yang juga menggigit kecil pundak Audrey yang memang terpampang nyata karena Audrey yang hanya mengenakan dress tali dan celana pendek sepaha.
"Satu kali saja, ya, Sayang!" Bujuk Kyle sekali lagi seraya menangkup wajah Audrey.
"Kau gila, Kyle!" Audrey meninju pundak Kyle gila.
"Ya, berada di dekatmu memang selalu membuatku gila. Aku tak pernah mau berhenti untuk selalu menciummu, mencumbumu, lalu bercinta denganmu. Kau yang membuat aku segila ini," bisik Kyle yang tiba-tiba sudah mengangkat tubuh Audrey lalu membaringkannya dengan hati-hati ke atas meja makan yang hanya mampu memuat setengah bagian dari tubuh Audrey.
Ya ampun!
Kyle menyesap kembali coklat di cangkirnya, dan menyisakannya sedikit.
Pria itu lalu menurunkan gaun tali Audrey, melepaskan penutup dada Audrey, lalu mengambil cangkir berisi coklat miliknya.
"Tunggu!" Audrey menahan tangan Kyle yang hebdak menuang ci0oklat tadi ke atas dadanya.
"Kau akan membuat dadaku melepuh jika menuangkan coklat panas je atasnya, Kyle!" Ujar Audrey memperingatkan Kyle.
"Sudah tidak panas! Hanya suam-suam kuku." Kilah Kyle cepat.
"Lihat!" Kyle menuangkan sedikit coklat tepat di atas dada Audrey dan seketika tubuh istrinya tersebut langsung menggelinjang.
"Tidak panas, kan?" Kyle memasang senyuman nakal pada Audrey dan lanjut menuang sisa coklat di cangkirnya ke atas bukit kembar milik Audrey.
Ya ampun! Pasti akan sangat lengket setelah ini.
Mata Kyle terlihat berbinar setelahnya. Pria itu lanjut menjilati coklat yang menutupi kedua bukit kembar milik Audrey dan seselaki menhisap ouncaknya, seperti seorang bayi yang sedang kehausan.
"Emmmh! Enaknya menjadi berkali-kali lipat, Sayang!" Gumam Kyle yang masih terus melanjutkan kegiatannya hingga membuat Audrey semakin bergerak-gerak gelisah.
Audrey masih tak menyangka jika Kyle bisa segila ini!
"Boleh untukku saja?" Kyle yang hendak mengambil cangkir coklat milik Audrey, segera menyentak lamunan Audrey.
Audrey melempar tatapan tak mengerti ke arah Kyle.
"Coklatku sudah habis, dan milikmu tak kunjung kau minum sejak tadi," ujar Kyle menjelaskan sekaligus menunjuk ke arah cangkir milik Audrey yang isinya masih utuh.
Audrey segera paham dan mengulas senyum di bibirnya.
"Untukmu saja! Sudah agak dingin tetapi," jawab Audrey yang segera menyodorkan cangkir coklatnya ke arah Kyle.
"Bagaimana kalau kita bagi dua saja?" Usul Kyle yang langsung membuat Audrey mengangguk.
"Baiklah!"
Audrey menuang setengah coklatnya ke cangkir Kyke yang sudah kosong. Pria itu langsung menyesapnya dengan mata yang berbinar.
Audrey ikut menyesap coklat di cangkirnya dan memejamkan matanya. Kembali membayangkan saat dulu Kyle menikmati coklat ini dari atas tubuhnya.
Andai kejadian itu bisa terulang lagi.
"Sebaiknya aku mengambil jaket. Udaranya semakin dingin," ucap Audrey yang sudah bangkit dari duduknya dan segera pergi ke kamar untuk mengambil jaet dari dalam koper. Baru saja Audrey akan kembali ke meja makan, Kyle rupanya sudah berdiri di ambang pintu kamar dan tangannya terentang seolah sedang menutup akses untuk Audrey keluar dari kamar.
"Mau aku ambilkan jaket untukmu juga, Kyle?" Tawar Audrey pada sang suami.
"Aku punya hal lain yang lebih menghangatkan ketimbang sebuah jaket," ucap Kyle dengan seringai yang Audrey sendiri tak tahu maksudnya apa.
Tapi Audrey tentu saja sudah bisa menebebak apa yang akan terjadi setelah ini.
Apa Kyle benar-benar tak memiliki rasa lelah?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.