Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
KYLE?



"Mami dan Papi tidak jadi pulang sore ini dan katanya baru bisa pulang besok sore, Kak!" Lapor Alvin sesaat setelah sepupu Audrey tersebut menerima telepon.


Saat ini Tante Viola dan Om Alex memang sedang berada di luar kota karena ada acara penting yang harus mereka hadiri.


"Yaudah, kalau memang begitu. HPL aku juga masih dua minggu lagi kata dokter," jawab Audrey santai seraya membuka toples berisi camilan di atas meja.


Wanita hamil itu kembali menarik nafas panjang saat merasakan kontraksi di perutnya. Audrey sangat yakin kalau ini hanyalah kontraksi palsu seperti yang sebelum-sebelumnya. Jadi Audrey tak akan memberitahu Alvin agar sepupunya itu tidak panik.


"Alvin harus ke kampus pagi ini, Kak! Tapi nanti habis makan siang Alvin sudah pulang. Kak Audrey mau nitip sesuatu?" Tawar Alvin memaparkan acaranya hari ini.


"Apa, ya?" Audrey terlihat berpikir sejenak.


"Beliin es kelapa muda aja, Vin! Jawab Audrey akhirnya dan Alvin segera mengangguk.


"Yang seperti biasa, ya! Oke, nanti Alvin beliin," ucap Alvin yang sudah bersiap pergi ke kampus.


"Alvin berangkat dulu, Kak!" Pamit Alvin selanjutnya.


"Hati-hati!" Pesan Audrey pada Alvin yang suadh dengan cepat menghilang di pintu depan.


Audrey bangkit berdiri untuk mengambil minum, saat wanita itu merasakan kontraksi di perutnya yang kembaki datang.


Benarkah ini hanya konntraksi palsu?


Tapi kenapa tidak hilang-hilang dan jaraknya juga mulai teratur?


Mungkin sebaiknya Audrey berbaring saja setelah ini agar kontraksinya segera hilang.


****


Jam di kamar Audrey sudah menunjukkan pukul sebelas siang saat Audrey merasakan sakit di perutnya yang malah semakin kuat. Padahal sejak tadi Audrey hanya berbaring miring di atas tempat tidur dan tidak melakukan apa-apa. Namun komtraksi di perutnya bukannya hilang, malah semakin terasa kuat dan sering.


Audrey menarik nafas panjang sekali lagi, dan menurunkan kakinya dengan perlahan dari atas tempat tidur. Baru saja Audrey bangkit berdiri, saat wanita dua puluh enam tahun tersebut measakan ada sesuatu yang pecah di bagian bawah perutnya.


Apa ini?


Sebuah cairan bening bercampur lendir darah langsung mengalir dari jalan lahir Audrey.


Ya ampun!


Sepertinya ketuban Audrey baru saja pecah. Dan sekarang Audrey hanya sendirian di rumah.


Bagaimana ini?


Kontraksi di perut Audrey kembali terasa dan kali ini sakitnya berkali-kali lipat, hingga membuat Audrey terduduk di lantai. Tangan Audrey berusaha meraih gagang telepon di atx nakas, saat sebuah suara membuat Audrey sedikit bernafas lega.


"Kak Audrey!" Panggil Alvin yang sepertinya pulang lebih cepat.


"Alvin! Aku di kamar!" Panggil Audrey setengah berteriak pada sang sepupu.


"Kak! Aku udah beliin kelapa-" Alvin yang berdiri di ambang pintu kamar Audrey langsung tercengang melihat Audrey yang kini terduduk di lantai kamarnya dengan cairan yang masih terus keluar dari jalan lahirnya.


"Vin, ketuban aku pecah," lapor Audrey pada Alvin yang masih mematung.


"Vin!" Seru Audrey lagi berusaha mengembalikan kesadaran Alvin.


"Eh, iya! Trus Alvin harus bagaimana, Kak?" Alvin segera meletakkan es kelapa muda yang tadi ia bawa sembarangan dan menghampiri Audrey


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Titah Audrey yang langsung membuat Alvin mengangguk.


Albin segera mengalungkan lengan Audrey di pundaknya lalu membantu sepupunya itu untuk berdiri.


"Kak Audrey masih bisa jalan, kan?" Tanya Alvin khawatir.


"Iya, masih! Pelan-pelan saja," jawab Audrey lirih masih sambil menahan rasa sakit di perut dan pingganggnya.


"Vin! Tas perlengkapan bayinya, ada di lemari aku bagian bawah. Kamu ambil dulu!" Perintah Audrey pada Alvin yang hanya mengangguk-angguk. Wajah Alvin terlihat panik, mungkin karena ini kali pertama Alvin mengantar ibu hamil yang akan melahirkan.


Tak berselang lama, Alvin sudah keluar lagi dari dalam rumah membawa sebuah tas yang memang sudah Audrey siapkan jauh-jauh hari. Alvin menutup pintu gerbang, dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati mengemudi, Vin! Jangan ngebut!" Pesan Audrey sebelum Alvin mulai melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.


"Iya, Kak!"jawab Alvin seraya menarik nafas panjang berulang kali.


Alvin mungkin panik sekarang. Namun Alvin tetap harus tenang dan mengemudi dengan hati-hati.


****


Alvin masih terus memacu mobilnya membelah jalanan beraspal sambil sesekali melirik ke arah Audrey yang terlihat menahan sakit. Namun baru setengah perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh Alvin mendadak oleng. Beruntung Alvin bisa segera mengendalikannya dan menginjak rem tepat waktu.


"Ada apa, Vin?" Tanya Audrey setelah berulang kali menarik nafas panjang karena merasa kaget saat mobil tiba-tiba oleng tadi.


"Bentar, Alvin periksa dulu, Kak!" Jawab Alvin yang sudah melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.


Alvin memeriksa satu per satu ban mobilnya, dan pemuda itu langsung mengumpat saat mendapati ban bagian belakang mobilnya yang sudah pecah dan kempes.


"Sial!" Alvin menendang ban mobilnya dengan kesal.


"Alvin!" Panggil Audrey dari dalam mobil yang sepertinya kesakitan sekali.


"Kak Audrey, ban mobilnya pecah. Alvin cariin taksi, ya!" Lapor Alvin yang kembali panik.


"Iya, terserah kamu saja! Ini kontraksinya semakin sering datang," Audrey kembali meringis.


Alvin baru saja akan memanggil taksi saat sebuah mobil berhenti di bekakang mobilnya dan sang pengemudi yang langsung keluar menghampiri Alvin.


Tentu saja Alvin langsung bisa mengenali wajah pria itu, meskipun dirinya baru bertemu beberapa kali sebelum ini.


"Abang Kyle?" Gumam Alvin setengah percaya.


Bagaimana ceritanya, Abang Kyle bisa tiba-tiba ada disini?


"Alvin, apa yang terjadi?" Tanya Kyle pada Alvin yang kini mematung dan membisu.


"Alvin! Apa yang terjadi? Audrey kenapa?" Tanya Kyle sekali lagi sambil mengguncang kedua pundak Alvin kali ini.


Seolah kesadarannya baru kembali, Alvin menunjuk ke arah mobilnya dengan cepat,


"Kak Audrey mau melahirkan, sudah pecah ketuban, tapi ban mobil Alvin kempes, Bang!" Ucap Alvin nyaris tanpa jeda.


Kyle segera menghampiri Audrey dan membuka pintu mobil dengan sedikit kasar. Wajah pucat Audrey yang sedang menahan sakit, seketika berubah terkejut saat melihat pria yang kini tengah melepaskan sabuk pengamannya dan hendak menggendong tubuhnya.


"Kyle?"


.


.


.


Gantung dulu biar greget 😂


Doain levelnya Audrey naik ya, guees!


Besok aku kasih crazy up kalo levelnya Audrey naik 😉


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.