Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
TAK TERDUGA



Audrey sedang menemani Olivia bermain di ruang tengah, saat Kyle pulang dari kantor.


"Hai, Sayang! Olivia rewel?" Sapa Kyle seraya mengecup kening Audrey.


"Tidak! Dia bermain sejak tadi, dan lihatlah!" Audrey menunjuk ke arah Olivia yang sudah mulai belajar berdiri seraya berpegangan pada sofa.


"Surprize! Sudah mau berlari sebentar lagi, ya, Sayang!" Kyle langsung meraih tubuh gembul Olivia dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


Audrey hanya tersenyum dan mengusap kandungannya yang kini masuk usia tujuh bulan.


"Malam ini jadi ke acara?" Tanya Audrey mengingatkan Kyle tentang acara malam ini.


Kyle memang sudah menyampaikannya pada Audrey kemarin kalau malam ini Kyle akan mengajak Audrey ke sebuah acara perusahaan yang bekerja sama denagn Arthur Company.


"Iya, jadi. Makanya aku pulang cepat," jawab Kyle yang sudah duduk di samping Audrey seraya memangku Olivia.


"Ini pada kemana? Kok sepi?" Tanya Kyle seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah.


"Mom sama Dad keluar sebentar tadi, katanya mau jalan-jalan. Rachel tadi siang pamit ke rumah mamanya. Mungin mau menginap," jelas Audrey panjang lebar.


"Itu Mom dan Dad!" Audrey menunjuk ke arah Mom Bi dan Dad Nick yang baru datang seraya membawa banyak kantong belanja.


Audrey hendak bangkit berdiri, namun wanita itu sedikit kesulitan.


"Awas, hati-hati!" Kyle meletakkan Olivia dengan cepat ke atas karpet dan segera membantu Audrey untuk bangkit berdiri.


"Lain kali duduk di atas saja, biar tidak kesulitan kalau mau berdiri," nasehat Kyle yang hanya membuat Audrey meringis.


Audrey menghampiri Mom Bi dan membantu membuka kantong belanjaan mertuanya tersebut.


Rupanya Mom Bi dan Dad Nick baru saja memborong buah-buahan dari pasar dekat rumah.


****


"Papapapapapappapa."


Olivia tak berhenti bubbling dan menyebut-nyebut papanya berulang kali.


Kyle sudah rapi mengenakan tuksedo hitamnya dan siap pergi ke acara pesta malam ini. Hanya tinggal menunggu Audrey yang tadi masih merias wajahnya.


"Kau yakin akan membawa Olivia?" Tanya Mom Bi sekali lagi yang merasa khawatir kalau-kalau Olivia rewel atau menangis di acara.


"Kyle yakin, Mom! Olivia juga tidak mau lepas dari Kyle begini. Nanti kalau ditinggal malah rewel," jawab Kyle penuh keyakinan.


Audrey sudah selesai berdandan dan kini siap pergi.


"Pengasuhnya Olivia biar ikut, ya!" Mom Bi masih khawatir.


"Tidak usah, Mom! Audrey dan Kyle aka bergantian menjaga Olivia disana," tolak Audrey yang ikut meyakinkan Mom Bi.


"Baiklah! Kalian berdua memang keras kepala. Sebaiknya langsung pulang kalau Olivia rewel," pesan Mom Bi seraya mengusap punggung Audrey.


"Dan jangan terlalu lama berdiri saat disana nanti!" Sambung Mom Bi berpesan pada Audrey.


"Iya, Mom. Audrey mengerti."


"Kyle akan menjaga Audrey dan Olivia, Mom!" Sahut Kyle kembali menenangkan Mom Bi.


"Kami pergi dulu, Mom!" Pamit Audrey dan Kyle akhirnya sebelum pasangan suami istri tersebut meninggalkan kediaman Arthur.


****


"Kyle Arthur!" Seorang pria paruh baya berperawakan tambun yang sepertinya tuan rumah dari pesta malam ini menyapa Kyle dengan hangat.


"Senang melihatmu datang malam ini," ucapnya lagi yang segera menyalami Kyle dan Audrey secara bergantian.


"Selamat malam, Pak Rifat. Terima kasih banyak atas undangannya," ucap Kyle membalas sapaan hangat dari Pak Rifat, selaku tuan rumah dari acara malam ini.


"Ini istrimu, ya?" Tanya pria paruh baya tersebut seraya menunjuk ke arah Audrey.


"Ya, ini Audrey, istri saya satu-satunya. Dan ini Olivia putri saya," Kyle memperkenalkan Audrey dan Olivia pada Pak Rifat.


Pak Rifat segera menyalami Audrey dan sedikit berbasa-basi.


"Oh, ya, Kyle. Kau sudah bertemu dengan Pak Ardian dari Atmadja Group?" Pertanyaan Pak Rifat yang tiba-tiba menyebut nama Atmadja Group sedikit membuat Audrey tersentak.


Bukankah itu perusahaan milik keluarga besar Will?


Dan Pak Ardian adalah nama Ayahnya Will.


Tidak mungkin mereka datang ke pesta ini juga.


"Bukankah beliau tinggal di kota yang berbeda?" Kyle balik bertanya pada Pak Rifat.


Sepertinya Kyle mengenal keluarga Atmadja juga. Tapi pasti hanya sebatas bisnis.


"Ya. Tapi beliau datang ke acara malam ini karena kebetulan ia dan istrinya sedang berada di kota ini," Jelas Pak Rifat yang sontak menbuat detak jantung Audrey berdetak tak karuan.


Mereka disini!


Kedua orang tua Will ada disini.


Apa iti artinya Will dan Teresa juga ada disini.


Toh Audrey tak lagi memikiki perasaan apapun pada Will.


Audrey sudah punya Kyle yang sangat mencintai dan menyayangi Audrey.


Jadi seharusnya Audrey tak perlu cemas berlebihan.


Audrey menarik nafas panjang dan mengeratkan gamitan tangannya pada lengan Kyle saat Pak Rifat mengajak Kyle dan Audrey bertemu dengan Pak Ardian beserta istrinya.


"Ada apa?" Tanya Kyle yang merasakan gamitan tangan Audrey yang mengerat tiba-tiba.


"Tidak ada!" Jawab Audrey tergagap.


"Apa Olivia sudah tidur?" Audrey pura-pura memeriksa Olivia yang berada di dalam gendongan SSC yang melekat di dada Kyle. Bayi sepuluh bulan itu memang sudah terlelap di dada sang Papa.


Sepasang suami istri paruh baya yang wajahnya sangat familiar bagi Audrey sudah berada di depan Audrey dan Kyle sekarang.


Audrey memilih untuk menundukkan wajahnya dan enggan menatap mereka berlama-lama.


"Selamat malam, Pak Ardian!" Pak Rifat menyapa mantan mertua Audrey tersebut dan sedikit berbasa-basi sebelum akhirnya pria tambun tersebut memperkenalkan Kyle pada Pak Ardian dan Bu Evita.


"Anda ingat Kyle Arthur dari Arthur Company, kan?"


"Oh, ya! Saya ingat. Sudah lama saya ingin bertemu dengan direktur muda itu. Apa ini-" Pak Ardian menunjuk pada Kyle yang mengulas senyum hangat.


"Ini Kyle Arthur," ujar Pak Rifat memperkenalkan Kyle pada Pak Ardian dan sang istri.


"Senang bertemu dengan anda, Pak Atmadja!" Kyle menyalami Pak Ardian dan tetap mempertahankan senyuman hangatnya.


"Kau memang masih muda, Kyle! Dan sudah menjadj seorang direktur di perusahaan sebesar Arthur Company," puji Pak Ardian yang beberapa kali melirik ke arah Audrey yang hanya diam dan menggamit erat lengan Kyle.


Berbeda dengan Bu Evita, ibu kandung Will yang sejak tadi tak lepas menatap pada Audrey dan perut besar Audrey tentu saja. Mungkin wanita paruh baya tersebut kaget melihat Audrey yang dulu ia tuduh mandul, ternyata bisa hamil sekarang. Atau mungkin ia mengira kalau perut besar Audrey ini hanya sebuah sumpalan untuk menipu semua orang?


"Oh, ya! Perkenalkan ini Audrey, istri saya!" Kyle sudah ganti merangkul Audrey dan memperkenalkan Audrey pada Pak Ardian serta bu Evita.


"Lalu ini putri kecil kami. Dia sudah tidur," lanjut Kyle menunjuk ke arah Olivia sambil sedikit terkekeh.


Raut wajah Bu Evita dan Pak Ardian sudah berubah shock.


"Putri kandung?" Sebuah pertanyaan konyol meluncur dari bibir Bu Evita.


"Ya!" Jawab Kyle tegas.


"Putri kandung saya dan istri saya, Audrey. Usianya baru sepuluh bulan, dan sekarang Audrey sedang mengandung tujuh bulan," jelas Kyle lagi yang seakan sedang pamer pada mantan mertua Audrey tersebut.


Lihatlah, Mantan mertua!


Mantan menantumu begitu subur ternyata.


Anak pertamanya belum genap satu tahun, tapi sudah hamil anak kedua.


Lalu kenapa dulu ia tak kunjung hamil saat menikah dengan Will?


"Kami akan bergabung dengan tamu yang lain, Pak Ardian," ucap Kyle selanjutnya memecah kebisuan serta kecanggungan di antara mereka.


"Oh, ya! Silahkan! Senang bertemu denganmu, Kyle Arthur!" Jawab Pak Ardian yang sedang berusaha menyembunyikan rsa shock-nya.


Kyle segera merangkul Audrey menjauh dari pasangan paruh baya tadi, dan mengajak istrinya tersebut untuk duduk di salah satu kursi yang berada di lokasi acara.


"Kyle-"


"Mereka mantan mertuamu, bukan?" Tanya Kyle tiba-tiba memotong kalimat Audrey.


Tapi bagaimana Kyle bisa tahu?


Dulu Audrey hanya memberitau Kyle kalau mantan suaminya bernama Will tanpa menyebutkan nama belakangnya.


Lalu Kyle sepertinya mencari informasi sendiri mengenai seluk beluk mantan suami Audrey tersebut. Tapi itu semua sebelum Kyle kehilangan ingatannya.


"Mereka pasti menyesal karena telah melepaskan menantu sebaik dan sesempurna dirimu, Audrey!" Kyle mengusap wajah Audrey yang masih terlihat bingung dengan semua kejadian malam ini.


Apa ingatan Kyle sudah kembali?


Atau ini hanya sebuah kebetulan yang diingat oleh Kyle?


"Itu semua hanya bagian dari masalaluku, Kyle! Aku sudah meluoakan semuanya," jawab Audrey seraya menundukkan wajahnya.


"Ya! Karena sekarang masa depanmu adalah bersamaku dan anak-anak kita," Kyle meraih dagu Audrey dan mengangkat wajah istrinya tersebut. Menatap dengan penuh cinta ke dalam manik mata hazel milik Audrey.


"Bisa kita pulang sekarang? Olivia sudah tidur," ajak Audrey yang langsung di jawab Kyle dengan anggukan kepala.


Setelah berpamitan dan sedikit berbasa-basi pada Pak Rifat selaku tuan rumah dari acara malam ini, Kyle dan Audrey segera meninggalkan lokasi pesta.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.