Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
SEJAK KAPAN?



Kyle membelokkan mobilnya masuk ke dalam kompleks perumahan dan merasa tak sabar untuk kembali memperhatikan Audrey dari jauh. Namun baru saja mobil Kyle berjalan beberapa meter, Kyle bisa melihat mobil milik Alvin yang sudah terparkir di luar pagar. Lalu Alvin yang juga menjinjing sebuah tas besar dan memasukkannya ke dalam mobil.


Apa?


Siapa yang mau pergi?


Kyle mengurangi kecepatan mobilnya, dan saat berpapasan dengan mobil Alvin yangdijemudikan oleh Alvin, Kyle menangkap sosok Audrey yang duduk di sebelah Alvin.


Mungkinkah, Audrey hendak pulang?


Tapi kenapa wajah Alvin tadi terlihat panik dan buru-buru?


Kyle tak jadi pulang me rumah sewanya dan pria itu memilih untuk membuntuti mobil Alvin serta mencari tahu kemana Alvin dan Audrey akan pergi.


Kyle terus membuntuti dan sedikit menjaga jarak dari mobil Alvin yang sepertinya menuju ke arah rumah sakit.


Kyle hampir kehilangan jejak mobil Alvin, saat tiba-tiba pria itu melihat mobil Alvin yang sudah terparkir di bahu jalan. Buru-buru Kyle menghentikan mobilnya dan segera turun menghampiri Alvin yang wajahnya terlihat bingung dan panik.


Ada apa sebenarnya?


"Alvin, ada apa?" Tanya Kyle pada sepupu Audrey yang sepertinya semakin terkejut karena melihat Kyle di depan wajahnya.


Ya, ya, ya!


Kyle memang melupakan masker dan topinya, karena ia ingin secepatnya mencari tahu kemana Alvin akan membawa Audrey.


"Kak Audrey mau melahirkan, Bang! Sudah pecah ketuban, dan sekarang ban mobil Alvin malah kempes," Alvin menunjuk ke arah ban belakang mobilnya yang kempes. Naun Kyle tak peduli dan pria itu malah cepat-cepat menghampiri Audrey yang masih berada di dalam mobil.


Kyle membuka pintu mobil Alvin dengan kasar dan segera mendapati Audrey yang sedang meringis menahan kontraksi. Namun wajah meringis Audrey langsung berubah menjadi raut terkejut dengan cepat saat melihat Kyle ada di depan matanya.


"Kyle?" Gumam Audrey yang sepertinya masih tak percaya karena Kyle yang tiba-tiba muncul di depannya.


Kyle tak berucap sepatah katapun dan langsung melepaskan sabuk pengaman Audrey, lalu menggendong istrinya tersebut ke arah mobilnya yang berada di bealkang mobil Alvin.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Kyle pada Alvin yang membantu membukakan pintu mobilnya.


Kyle mendudukkan Audrey dengan hati-hati lalu memasangkan sabuk pengaman.


"Alvin akan menyusul nanti, Bang!" Ucap Alvin yang langsung sigap mengambil tas perlengkapan bayi dan memberikannya pada Kyle.


"Baiklah!" Kyle segera masuk ke dalam mobil dan dengan cepat melajukan mobilnyanke arah rumah sakit yang jaraknya hanya tinggal dua kilometer lagi.


Audrey kembali meringis saat kontraksinya kembali datang. Kyle mengulurkan lengannya untuk mengusap perut Audrey,


"Bertahanlah sebentar, oke! Kita akan segera sampai!"


Audrey masih percaya tak percaya tentang Kyle yang mendadak muncul di depannya dan mengantarnya ke rumah sakit.


Apa ini benar-benar Kyle?


Apa ingatan Kyle sudah kembali?


Lalu darimana Kyle tahu kalau Audrey ada di pulau ini?


Audrey tak berhenti menatap wajah Kyle sepanjang perjalanan, hingga akhirnya kelebat bayangan saat mobil hitam asing terparkir di halaman rumah tante Viola, lalu saat seorang pria bertopi dan bermasker menyelamatkan dompet Audrey dari pencopet di pasar.


Pria berkaus putih yang mengendarai motor matic dan meninggalkan berbagai makanan di pagar rumah selama ini, apakah itu adalah Kyle?


Termasuk juga pria yang berada di rumah sakit dan terus memperhatikan Audrey di ruang tunggu poli kandungan, itu juga pasti adalah Kyle.


Jadi selama ini, Kyle berada di dekat Audrey?


Kyle terus mengawasi Audrey dan menjaga Audrey.


Audrey kembali meringis saat kontraksi itu datang lagi


Mobil Kyle sudah tiba di rumah sakit. Kyle menghentikan mobilnya di depan UGD dan segera menggendong Audrey masuk ke dalam UGD, sedikit menjelaskan kondisi Audrey pada perawat yang berjaga.


Audrey segera dibawa ke ruang bersalin karena bukaannya juga sudah hampir lengkap. Kyle terus mengikuti Audrey, dan menggenggam erat tangan Audrey yang beberapa kali merintih kesakitan mungkin karena kontraksi di perutnya yang semakin kuat.


"Sakit," Audrey merintih dan menatap sayu pada Kyle yanag mash berada di sebelahnya.


"Aku tahu. Tapimkamu pasti bisa," bisik Kyle hanya bisa mengusap lembut kepala Audrey dan menggenggam erat tangan istrinya tersebut.


Ya, andai sakit yang dirasakan oleh Audrey bisa dibagi dua, Kyle sungguh tak keberatan untuk ikut merasakannya.


Wajah Audrey sudah berubah pucat dan nafas istri Kyle itu terlihat kacau saat bukaannya sudah lengkap dan dokter membimbingnya untuk mengejan.


"Audrey! Audrey!" Kyle menangkup wajah Audrey dan memberikan tatapan penuh cintanya pada Audrey.


"Tenang dan jangan panik, oke! Tarik nafas panjang, dan dengarkan instruksi dokter!" Ucap Kyle lembut sebelum pria itu mengecup kening Audrey.


Audrey segera menarik nafas panjang dan mengeratkan genggamannya pada tangan Kyle.


"Jangan kemana-mana!" bisik Audrey pada Kyle.


"Aku akan disini. Ayo, kau pasti bisa!" Kyle kembali memberikan semangat pada Audrey yang kini sudah mulai tenang dan bisa mengikuti instruksi mengejan yang diberikan oleh dokter.


"Ayo, Audrey! Kau pasti bisa, Sayang!" Kyle tak berhebti menyemangati Audrey yang sudah mulai mengejan dengan susah payah.


"Iya, itu sudah bagus, Bu! Ayo disambung terus, kepalanya sudah kelihatan," instruksi sang dokter yang membantu proses persalinan Audrey.


"Ayo, Sayang! Kau bisa!" Kyle mengusap lembut kepala Audrey dan sesekali menyeka keringat yang bercucuran di wajah Audrey.


"Iya, begitu! Sedikit lagi!"


Instruksi dari dokter membuat Audrey semakin kuat mengejan, hingga akhirnya tangisan terdengar menggema ke seluruh ruang bersalin bersamaan Audrey yang kembai berbaring dengan nafas terengah-engah.


"Kau berhasil, Audrey! Kau berhasil, Sayang!" Kyle mengecup tangan Audrey , lalu lanjut ke kening istrinya tersebut yang masih dipenuhi peluh.


"Selamat, bayinya perempuan," ucap dokter seraya meletakkan bayi Audrey yang kini sudah terbalut selimut, ke atas dada Audrey untuk Inisiasi Menyusu Dini.


Mata Audrey langsung berkaca-kaca melihat makhluk mungil yang kini menggeliat-menggeliat di atas dadanya dan mencari-cari sesuatu.


"Dia cantik sepertimu," ucap Kyle yang tangannya sudah mengusap pipi gembil bayi mungil itu dengan hati-hati.


"Ya. Tapi wajahnya mirip sekali denganmu," jawab Audrey yang kini sudah berlinang airmata kebahagiaan.


"Maaf, karena aku sudah menyakiti hatimu dan melukai perasaanmu."


"Maaf karena aku sudah egois dan menjadi suami yang paling bo-" Audrey meletakkan telunjuknya di bibir Kyle dan meminta suaminya tersebut untuk tak melanjutkan kata-katanya.


"Sejak kapan?" Tanya Audrey lirih yang membuat Kyle mengernyit tidak paham.


"Sejak kapan kau jadi penguntit yang mengawasiku setiap hari?" Audrey mengulangi pertanyaannya dengan lebih jelas.


Kyle akhirnya paham dan pria itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti seorang penguntit yang baru saja ketahuan.


"Baru tiga bulan terakhir. Aku tak sengaja melihatmu di rumah sakit saat sedang mengabtar korban kecelakaan-"


"Kau kecelakaan?" Sela Audrey yang raut wajahnya terlihat khawatir.


"Tidak, bukan aku yang kecelakaan," jawab Kyle cepat.


"Aku hanya membantu menolong dan membawanya ke rumah sakit. Lalu aku melihat kau bersama Alvin dan aku mulai menguntitmu sejak saat itu," cerita Kyle jujur.


"Kenapa tidak menemuiku saja? Kau tidak menganggapku sebagai istrimu lagi?" Audrey memasang raut wajah marah.


"Bukan seperti itu! Aku takut kau akan pergi lagi jika aku menemuimu aku takut kau masih marah padaku, dan tidak mau lagi melihat wajahku," Kyle menunduk sedih.


"Maka kau harus mencariku lagi jika aku kembali pergi!" Sergah Audrey memukul dada Kyle meskipun tangannya tak lagi bertenaga.


Kyle hanya mengangguk-angguk dan segera menyeka airmata di kedua pipi Audrey.


"Jangan menangis lagi, Audrey!"


"Kau sendiri juga menangis. Kenapa menyuruhku berhenti menangis?" Audrey tertawa sambil menangis. Dan Kyle juga ikut tertawa seraya menyeka butir bening di pelupuk matanya


"Jadi, kapan ingatanmu kembali?" Tanya Audrey selanjutnya yang benar-benar merasa penasaran.


Kyle menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ingatanku belum kembali jika kau ingin tahu."


Raut wajah Audrey langsung berubah kecewa atau mungkin sedih.


"Tapi semua perjuanganmu beberapa bulan yang lalu untuk mengembalikan ingatanku, aku rasa sudah menumbuhkan perasaan lain di hatiku. Aku jatuh cinta padamu sebagai Kyle yang sekarang, Audrey!" Kyle kembali menggenggam tangan Audrey dan tangannya yang lain mengusap kepala bayi kecil mereka yang kini sudah diam karena sudah menemukan sumber makanannya.


"Aku sangat mencintaimu selama ini, tapi aku tak pernah menyadarinya karena aku sibuk mencari masalaluku. Dan saat aku menyadari perasaanku, kau sudah pergi."


"Pulanglah, Audrey!" Bujuk Kyle dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Pulanglah bersamaku, lalu kita besarkan Olivia bersama, sebagai sebuah keluarga yang lengkap," bujuk Kyle lagi dengan nada memohon.


"Olivia?" Audrey mengerutkan dahinya.


"Nama putri kita. Jika kau tak keberatan," Kyle mengendikkan kedua bahunya dengan ragu.


"Olivia saja bagaimana? Terdengar bagus untuk nama seorang bayi. Kita bisa memanggilnya Via," ucap Kyle memberikan usul pada Audrey.


Kyle sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Audrey yang sedang duduk di bawah rimbunnya pohon kelapa di Pulau Dad Nick.


"Via itu nama tengahku. Audrey Zivia," gumam Audrey yang tangannya masih mengusap-usap kepala Kyle.


"Audrey Zivia, istriku tercinta, yang paling cantik, yang paling seksi," Kyle mengerling nakal ke arah Audrey.


"Pasti ada maunya," Audrey berdecak seraya mencubit gemas hidung mancung Kyle.


"Ayo kita mulai membuat Olivia kita!" Kyle sudah mengangkat kepalanya dari pangkuan Audrey dan lanjut mendorong Audrey hingga tubuh istrinya itu telentang di atas pasir pantai.


Kyle menindih tubuh Audrey.


"Kita tidak akan membuat Olivia disini, Kyle! Pasirnya akan ikut masuk," Audrey tergelak dan Kyle segera membungkam bibir Audrey dengan bibirnya.


"Kau sudah setuju berarti untuk memberikan nama anak kita nanti Olivia," gumam Kyle di sela-sela ciumannya pada Audrey.


"Ya, jika anak kita perempuan. Jika laki-laki, kau harus memikirkan nama lain, Papa Kyle!"


"Kita pikirkan saja nanti. Kita buat Olivia terlebih dahulu." Kyle kembali mencecap bibir Audrey dengan liar.


"Kyle!"


"Kau keberatan jika aku memberinya nama Olivia, Audrey?" Pertanyaan Kyle membuyarkan lamunan Audrey tentang nama Olivia yang sudah disebut-sebut oleh Kyle sebelum pria itu hilang ingatan.


Dan sekarang Kyle mengingatnya tanpa ia sadari.


"Tidak! Sama sekali tidak. Kita bisa memanggilmya Ollie atau Via," jawab Audrey cepat.


"Aku rasa Via lebih manis, dan itu seperti nama tengahmu," pendapat Kyle yang langsung membuat Audrey mengangguk setuju.


"Kita akan memanggilnya Via mulai sekarang," gumam Audrey yang langsung membuat Kyle mengulas senyum di bibirnya.


"Dan kita akan pulang bertiga nanti. Kau dan aku akan menjadi orang tua yang lengkap untuk Via," imbuh Audrey lagi seakan menjawab permohonan Kyle di awal tadi.


Sudah bisa dipastikan, kalau mata Kyle langsung berbinar bahagia dengan jawaban Audrey.


Kyle kembali mengecup kening serta wajah Audrey berulang-ulang demi meluapkan kebahagiaannya.


.


.


.


1666 kata


Aku tamatin ya 😂


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.