
Audrey masih diam dan menatap Kyle dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Apa Audrey tadi sedang berkhayal?
Atau Kyle sedang mengigau?
Mungkin Audrey hanya salah dengar.
"Maaf, Audrey. Aku hanya-" Kyle menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Audrey kembali menggigit bibir bawahnya, seolah menyadari kalau ternyata Audrey hanya salah dengar.
Mana mungkin Kyle mengatakan kalau ia ingin mencium Audrey.
Kyle masih menganggap Audrey sebagai orang asing.
Audrey menertawakan dirinya sendiri dalam hati.
Bibir bawah Audrey yang kini semakin memerah karena terus-terusan digigit oleh pemiliknya, membuat Kyle semakin ingin mencecapnya. Mungkin Kyle tak perlu minta izin. Kyle langsung meraupnya saja. Sama seperti saat dulu Kyle mengecup bibir Valeria.
Namun bibir Audrey terlihat lebih merah dan lebih menggiurkan ketimbang bibir Valeria. Dan Kyle menyukai yang seperti milik Audrey.
"Kyle, kau melamun?" Teguran Audrey menyentak lamunan Kyle.
"Tidak!" Kyle tersenyum dan memejamkan matanya. Berusaha membuang jauh khayalannya tentang mencium Audrey.
Ck!
Tapi Kyle pria dewasa yang normal.
Dan ini masin pagi.
Ya ampun!
"Aku akan berolahraga pagi," ucap Kyle yang akhirnya memutuskan untuk turun dari atas tempat tidur dan meninggalkan Audrey.
"Kau tidak ingin mengganti bajumu?" Tanya Audrey yang juga sudah ikut turun dan kini mengambil baju untuk Kyle dari dalam lemari.
Kyle langsung melepaskan begitu saja kausnya dan berganti baju serta celana di hadapan Audrey.
"Kau tidak berolahraga pagi?" Tanya Kyle pada Audrey yang diam mematung.
"A-aku akan ganti baju dulu," Audrey menunjuk ke arah piyama yang masih ia kenakan.
"Kita bisa jogging keliling kompleks," ucap Audrey lagi yang sudah mengambil baju olahraganya dari dalam lemari.
"Ide bagus. Aku akan menunggumu di bawah," jawab Kyle yang sudah keluar darj kamar dan menutup pintu.
Audrey segera masuk ke dalam kamar mandi dan melepas piyamanya. Wanita itu tak langsung memakai baju olahraganya dan memilih untuk mencuci mukanya tetlebih dahulu, saat tiba-tiba pintu kamar mandi menjeblak terbuka.
"Maaf, aku kebelet!" Kyle langsung masuk begitu saja dan menunaikan hajatnya seolah mengabaikan keberadan Audrey yang masih bearda di dalam kamar mandi, hanya mengenakan underwear dan bra saja.
Kyle yang sudah selesai dengan urusannya dan hendak keluar dari kamar mandi sontak terkejut melihat Audrey yang hanya mengenakan setelan baju dalam.
"Ouh! Maaf, Kyle! Aku baru saja akan memakai bajuku," ucap Audrey tergagap yang langsung menyambar handuk untuk membalut tubuhnya.
Sementara Kyle masih mematung di tempatnya. Pria itu menelan salivanya dengan susah payah, membayangkan moleknya tubuh Audrey yang begitu menggiurkan untuk di peluk.
Rasa canggung dan kaku yang dulu pernah hinggap pada diri Kyle, saat melihat tubuh Audrey yang hanya terbalut handuk, kini seakan menguap pergi. Karena kini Kyle merasakan perasaan lain.
Rasa ingin memilikinya, menyentuhnya, dan menikmatinya.
Perasaan sebagai seorang pria dewasa yang normal.
Audrey sudah meraih baju olahraganya, dan baru saja akan memakai baju tersebut, saat tiba-tiba tangan Kyle mencegahnya.
Audrey kaget, dan menatap tak mengerti pada Kyle yang kini masih mencekal lengannya. Tangan Kyle yang lainnya mengambil baju Audrey dan meletakkannya sembarangan. Lalu pria itu menarik Audrey agar mendekat ke arahnya. Memangkas jarak antara Audrey dan Kyle.
Tangan Kyle terulur dan kini mengusap lembut wajah Audrey, langsung ke arah bibir Audrey yang sejak tadi membuat Kyle penasaran.
"Boleh aku?" Tanya Kyle sedikit ragu. Namun gerakan cepat Audrey yang kini juga sudah menangkup wajah Kyle dengan kedua tangannya, membuat keberanian Kyle seakan bangkit.
Jadi jika Kyle mencium atau menyentuh Audrey, hal itu tak akan jadi masalah.
Kyle langsung meraup bibir Audrey yang berjarak sangat dekat dengan bibirnya. Kecupan yang sekian lama Audrey rindukan, kini benar-benar mendarat di bibirnya.
Kyle mencecap bibir Audrey dengan lembut dan perlahan, seolah ini baru pertama kali ia mencicipi bibir merah milik Audrey. Setiap inchi Kyle cecap dengan lembut dan tak ada rasa tergesa sedikitpun. Kyle dan Audrey benar-benar menikmatinya.
Hasrat dalam diri Kyle semakin tak terkendali. Pria itu mengurung Audrey di tembok, lalu tangannya bergerilya merem*s bokong Audrey yang hanay tertutupi underwear.
Audrey memekik kecil, namun Kyle segera membungkamnya dengan cepat.
Sepertinya, acara olahraga pagi Kyle benar-benar akan berpindah tempat setelah ini.
Kyle tiba-tiba sudah menanggalkan kausnya dan pria itu kini bertelanjang dada.
"Audrey," desah Kyle yang masih tak berhenti menciumi leher dan tengkuk Audrey.
"Audrey, aku menginginkannya," sambung Kyle seraya menatap Audrey dengan tatapan penuh kabut gairah.
Persetan tentang ingatannya yang belum kembali soal Audrey. Karena sekarang, Kyle hanya ingin menyentuh wanita yang kata semua orang adalah istrinya tersebut.
Bukankah itu artinya Kyle punya hak penuh atas semua yang ada pada diri Audrey?
Audrey mengusap lembut wajah Kyle, mencium bibir suaminya itu dengan penuh kelembutan, lalu turun ke dagu Kyle, ke leher, dan terus turun.
Audrey sepertinya sangat ahli membakara gairah dan semangat seorang Kyle. Decapan yang terus Audrey berikan di setiap jengkal tubuh Kyle, membiat pria itu benar-benar gila sekarang.
Kyle tidak tahan lagi.
Segera pria itu mengangkat tubun Audrey dan membawanya keluar dari kamar mandi. Kyle melucuti pakaian dalam Audrey dengan tergesa, lalu melepas celananya sendiri dengan tergesa juga dan melemparnya serampangan.
Tubuh Audrey yang tanpa busana sudah terbaring pasrah di atas tempat tidur, dan Kyle dengan cepat menindih tubuh polos istrinya tersebut.
"Aaaahhh! Audrey!" Pekik Kyle saat ia menyentak masuk ke dalam milik Audrey yang baginya terasa begitu mencengkeram.
Audrey menggigit bibir bawahnya, dan kuku-kukunya mencengkeram punggung Kyle, hingga pria itu meringis.
Kyle mengecup bibir bawah Audrey yang kembali memerah, sembari pria itu bergerak dengan perlahan namun sangat berirama.
Audrey merasa Kyle-nya sudah kembali sekarang.
Audrey menatap lekat-lekat sajah Kyle yang kini mulai berpeluh. Berulang kali tanga Audrey membelai wajah Kyle yang terlihat semakin tampan.
Wajah yang selalu membuat Audrey merasakan jatuh cinta setiap hari.
"Aku hampir sampai," gumam Kyle yang mulai mempercepat gerakannya.
Kyle menatap ke dalam netra milik Audrey seolah minta lersetujuan pada istr6tersebut untuk menuntaskannya di dalam.
Audrey hanya mengangguk dan segera menarik kepala Kyle, lalu kembali menyatukan bibir mereka berdua dengan sangat dalam kali ini, bersamaan dengan Kyle yang mencapai pelepasannya.
Rasa hangat dari cairan yang ditumpahkan oleh Kyle di dalam rahimnya, menjalar hingga ke tulang sumsum dan ke seluruh tubuh Audrey.
Audrey merasa terbang melayang. Bibirnya melengkungkan senyuman bahagia, dan tangannya mendekap tubuh Kyle yang masih berada di atasnya.
"Kau suamiku, Kyle!"
"Kau milikku sampai kapanpun,"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.