Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
POSESIF ATAU CINTA?



Audrey dan Zayn terkejut bersamaan, saat tiba-tiba pintu ruang kerja Audrey menjeblak terbuka, dan Kyle yang sudah berdiri di ambang pintu seraya memegang dua kopi di tangannya.


"Maaf, aku tidak mengetuk pintu-" Kyle terlihat salah tingkah.


Sementara Audrey sudah melepaskan rangkulannya pada Abang Zayn dan kini ganti menghampiri Kyle serta mengambil dua kopi dari tangan suaminya tersebut.


"Masuklah, Kyle! Aku hanya sedang mengobrol bersama abang Zayn," ucap Audrey seraya mengulas senyum pada Kyle.


"Abang harus pergi sekarang, Audrey!" Abang Zayn sudah bangkig berdiri dan menengok arloji di tangannya.


Tak lupa abang dari Audrey tersebut juga meraih kopinya dari atas meja.


"Kenapa buru-buru, Bang?" Tanya Audrey tak mengerti.


"Abang harus mencari orang lain yang mau mengurus acara hari Sabtu," jawab Zayn seraya mengusap rambut Audrey.


"Baiklah, Audrey benar-benar minta maaf soal itu," kekeh Audrey tanpa raut penyesalan sedikitpun.


"Aku duluan, Kyle!" Abang Zayn berpamitan pada Kyle yang hanya ditanggapi dengan anggupan serta senyuman tipis.


Audrey mengantar abang Zayn hingga ke pintu, dan setelah abangnya tersebut turun ke lantai bawah, segera Audrey menutup pintu ruang kerjanya.


Baru saja Audrey berbalik, tiba-tiba Kyle sudah berdiri di balik punggungnya. Pria itu ikut meraih handle pintu, lalu memutar kunci, dan mengunci pintu ruangan Audrey dua kali.


Ada apa ini?


Kyle melirik pada jendela yang ada di samping pintu ruangan, dan tangannya dengan cepat menutup tirai kedua jendela tersebut.


Audrey masih tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Kyle tersebut.


"Aku tadi sudah membaca pesanmu, Kyle! Tapi maaf belum sempat kubalas karena Abang-" Kalimat Audrey terputus begitu saja karena Kyle yang tiba-tiba sudah menarik tubuhnya, lalu ******* bibirnya dengan sedikit kasar.


Kyke terus saja mencecap bibir Audrey dan semakin memperdalam ciumannya hingga membuat Audrey sedikit gelagapan. Tangan Audrey meremas kasar rambut Kyle, sementara suaminya itu masih belum berniat mengakhiri ciumannya pada Audrey.


Kyle melepaskan jasnya dengan kasar, lalu melemparnya sembarangan, sebelum tubuh besar itu mendorong Audrey hingga menubruk sofa dan terduduk di atasnya.


Kyle seperti sedang kesetanan saat ia yang tak berhenti mencecap dan mengecup bibir Audrey dan kadang menggigitnya sedikit hingga membuat Audrey memekik.


Ciuman Kyle kini turun ke dagu Audrey, ke leher, lalu tulang selangka. Semua Kyle kecup dengan penuh nafsu.


"Kyle, ada apa denganmu?" Tanya Audrey tak mengerti.


Wanita itu terus saja menggeliat-menggeliat karena kecupan Kyle di lehernya.


"Aku tidak suka, kau memeluk atau merangkul pria lain selain diriku!" Kyle melempar tatapan tajam mengintimidasi pada Audrey.


"Tapi Abang Zayn adalah abang kandungku, Kyle! Bukankah kau sudah tahu?" Tanya Audrey tak mengerti.


"Tetap saja dia itu seorang pria! Dan aku tidak suka saat lenganmu ini," Kyle meraih lengan Audrey lalu mengecupnya dari atas hingga bawah dengan sedikit gila.


"Merangkul dan memeluknya!"


"Kau hanya boleh memelukku!" Kyle memaksa untuk melingkarkan kedua lengan Audrey di tubuhnya. Lalu entah dengan kekuatan apa, Kyle menarik dan memaksa untuk membuka dress Audrey hingga dress berwarna maroon tersebut sobek di beberapa bagiannya.


"Kyle-" pekikan Audrey serta merta langsung di bungkam oleh bibir Kyle bersamaan dengan Kyle yang juga dengan cepat melucuti bajunya sendiri.


Dasar gila!


Sejak kapan Kyle jadi posesif begini terhadap Audrey.


Sebelum pria ini amnesia, Kyle tidak pernah mempermasalahkan tentang Audrey yang memeluk atau merangkul pria lain selain dirinya.


Audrey kembali memekik saat Kyle menyentak masuk ke dalam miliknya. Dan kini tubuh Kyle dan Audrey sudah tak lagi berpenghalang.


Keduanya segera hanyut dalam gerakan seirama serta bibir mereka yang tak berhenti untuk saling berpagutan.


Audrey menjambak rambut Kyle dan mencakar punggung suaminya tersebut, saat Kyle melesakkan miliknya semakin dalam ke dalam milik Audrey. Sepertinya Kyle sudah benar-benar gila sekarang.


Seakan sedang berpacu dengan waktu, Kyle semakin mempercepat gerakannya sekarang hingga membuat nafas Audrey kian tersengal.


Audrey masih berusaha untuk mengimbangi gerakan Kyle hingga akhirnya wanita itu merasakan tubuh Kyle yang mengejang, bersaman dengan sesuatu hangat yang kini memenuhi rahim Audrey.


"Hanya aku yang boleh menyentuhmu, Audrey!" Ucap Kyle menatap tegas pada Audrey.


Itu masih bukan tatapan cinta, tapi itu adalah tatapan dari seorang pria posesif yang tergila-gila pada Audrey.


"Kau milikku!" Sambung Kyle lagi sebelum bibirnya yang kembali meraup bibir Audrey dan mencecapnya cukup lama.


Audrey hanya memejamkan mata, mencoba menikmati kecupan hangat bibir Kyle meskipun dalam hatinya merasa sedikit sakit karena kini ia yang seperti hanya dijadikan budak nafsu oleh Kyle.


Audrey tidak tahu kenapa Kyle jadi seperti ini.


Jiwa suaminya itu seakan berubah labil, dan Kyle yang dulu selalu berpikir bijak dan dewasa tak lagi Audrey temukan.


Entahlah!


Audrey bingung!


Kyle mengakhiri pagutannya pada Audrey dan pria itu segera bangkit berdiri, meninggalkan Audrey yang masih mencoba mengatur nafasnya.


"Kyle, kau merobek gaunku!" Ucap Audrey pada Kyle yang sedang memakai kembali celana serta kemeja putihnya yang sedikit kusut.


Kyle mengambil jasnya yang teronggok di lantai mengibaskanya sejenak, lalu membawanya ke arah Audrey. Kyle kembali mengecup leher, pundak, dan dada Audrey serta meninggalkan tanda kepemilikannya di beberapa bagian tubuh Audrey, sebelum pria itu membentangkan jasnya untuk menutupi tubuh polos Audrey.


"Aku akan menelepon Mom agar mengirimkan gaun baru untukmu kesini," ucap Kyle seraya meraih ponselnya yang ada di atas meja.


Pria itu lanjut menghubungi Mom, dan berbicara sebentar di telepon.


Audrey hanya menghela nafas kasar dan sekuat tenaga menelan gumpalan pahit di tenggorokannya.


Kyle sudah kembali duduk di samping Audrey dan menyodorkan gelas kopi yang tadi ia bawa pada Audrey.


"Rock salt caramel," ucap Kyle yang sesaat membuat Audrey mematung.


Bahkan Kyle masih ingat dengan kopi kesukaan Audrey.


Atau mungkin Audrey memang pernah mengatakan pada Kyle setelah pria ini amnesia tentang rasa kopi kesukaannya!


Entahlah, Audrey lupa.


"Terima kasih," balas Audrey mengulas senyum tipis di hibjrnya dan langsung menyesap kopi yang disodorkan oleh Kyle.


Ya, rasanya sedikit menenangkan meskipun tak sepenuhnya bisa menghapus ganjalan sakit di hati Audrey


Dan Kyle juga belum mengecup kening Audrey seperti yang dulu selalu pria ini lakukan setiap kali mereka selesai bercinta, sebagai ucapan terima kasih dari Kyle.


Kyle-nya benar-benar sudah berubah.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.