
^^^Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia^^^
^^^Hapuskan memoriku tentangnya^^^
^^^Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia^^^
^^^Ku ingin melupakannya^^^
^^^(Lumpuhkanlah Ingatanku-Geisha)^^^
Alvin mematikan radio di mobilnya karena lagu yang diputar malah terdengar menyedihkan begitu.
"Kenapa dimatikan?" Protes Audrey pada kelakuan sang sepupu.
Audrey baru saja meninggalkan bandar udara dan dijemput oleh Alvin, sepupunya yang memang tinggal dan menetap di pulau ini bersama kedua orang tuanya.
"Alvin tidak mau membuat Kak Audrey menangis, oke! Lihat, mata Kak Audrey sudah berkaca-kaca dan mau menangis sebentar lagi," ejek Alvin yang langsung berhadiah sebuah tinjuan di pundaknya dari Audrey.
"Dasar sok tahu! Kamu itu yang cengeng!" Audrey balas mengejek Alvin.
Audrey kembali menyalakan radio mobil saat lagu yang diputar ternyata sudah berbeda.
Ck!
Dasar Alvin menyebalkan!
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mobil Alvin akhirnya tiba di sebuah rumah minimalis yang tertutupi oleh sebuah pagar besi berwarna putih.
Tante Viola terlihat melambaikan tangan ke arah Audrey yang baru datang.
"Tante!" Sapa Audrey setelah turun dari mobil. Wanita hamil itu langsung memeluk Tante Viola karena sudah cukup lama Audrey tidak berjumpa dengan tantenya yang awet muda ini.
"Bagaimana kabarmu? Sehat?" Tanya Tante Viola seraya merapikan rambut Audrey.
"Sehat, Tante," jawab Audrey yang kembali memeluk sang tante.
"Udah pelukannya! Kayak remaja kemarin sore saja!" Celetuk Alvin seraya melepaskan topi dari kepalanya dan sedikit mengacak rambut hitamnya.
"Alvin! Cepat bawakan koper Kak Audrey ke dalam!" Perintah Tante Viola pada sang putra.
"Kok Alvin, sih, Mi? Alvin kan udah jemput Kak Audrey," protes Alvin merasa keberatan.
"Ya masak Mami yang harus angkat-angkat koper. Papi kamu juga belum pulang. Kalau nunggui Papi kamu ya kelamaan!" Omel Tante Viola yang langsung membuat Alvin berdecak.
"Hitung-hitung olahraga, Vin! Kopernya enteng, kok!" Celetuk Audrey sebelum menghilang masuk ke dalam rumah menyusul tante Viola yang sudah terlebih dahulu masuk.
Alvin hanya menghela nafas kasar dan segera menurunkan koper Audrey dari dalam mobil, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
****
Kyle masih dalam perjalanan menuju ke kediaman Abraham, saat pria itu menutuskan untuk menelrpon Daniel yang mungkin tahu tentang keberadaan Audrey.
"Halo, Ky-"
"Daniel! Audrey dimana?" Tanya Kyle to the point yang langsung memotong sapaan dari Daniel.
"Di rumah kedua orang tuamu? Memangnya dimana lagi?"
"Tidak ada! Aku tidak mungkin bertanya kepadamu kalau Audrey ada di rumah!" Ucap Kyle dengan meledak-ledak.
"Terakhir kali aku melihatnya saat aku meneleponmu kemarin lusa. Audrey menangis karena mendengar kau akan menemui Valeria, lalu ia berlari menuju ke kamarnya. Aunty Bi mengejarnya, dan setelah itu aku tak tahu lagi. Aku langsung pulang dari rumahmu dan belum bertemu Audrey lagi hingga detik ini."
Kyle menggeram frustasi mendengar cerita dari Daniel.
"Mungkin Audrey pulang ke rumah kedua oranga tuanya, Kye!"
"Ya. Aku sedang menuju kesana!" Kyle mematikan teleponnya pada Daniel dan lanjut memacu mobilnya menuju ke kediaman Abraham.
****
Kediaman Abraham
Kyle memarkirkan mobilnya dengan asal di halaman rumah keluarga Abraham, dan turun dengan cepat. Setengah berlari, Kyle melintasi halaman, lalu teras rumah dan menekan bel di samping pintu.
Kyle benar-benar tak sabar menunggu pintu dibuka karena setiap detiknya terasa seperti bertahun-tahun.
Pintu dibuka dari dalam.
"Kak Thalita, Audrey dimana?" Tanya Kyle to the point tanpa salam tanpa basa-basi.
"Aku tidak tahu!" Jawab Thalita menatap tegas pada Kyle.
"Siapa, Thalita?"
Itu suara Papa Hans.
Thalita sedikit menggeser posisinya dan menunjukkan pada Papa Hans siapa yang bertamu. Raut kemarahan pangsung memenuhi wajah pria paruh baya tersebut.
"Papa!" Kyle sudah merangssk masuk dan mendekat ke arah Papa Hans.
"Papa, dimana Audrey, Pa! Kyle ingin bertemu dengan Audrey." Kyle memohon pada sang Papa mertua.
"Tapi Audrey tidak mau bertemu dengan pria pecundang sepertimu! Jadi silahkan pergi dari rumah ini!" Usir Papa Hans tegas dan lantang.
"Tidak! Audrey tidak seperti itu! Kyle akan minta maaf dan membujuk Audrey!" Kyle berlari menaiki tangga dan menuju ke kamar Audrey yang ada di lantai dua.
"Audrey! Audrey!"
Kyle terus memanggil-manggil nama Audrey lalu tangannya mendorong pintu kayu itu. Dan lagi-lagi yang Kyle temui hanya sebuah ruang kosong.
Audrey tak ada di kamarnya.
"Audrey! Audrey kau dimana?" Teriak Kyle seperti orang gila.
Namun tetap tak ada suara atau jawaban dari Audrey dimanapun.
"Audrey!" Kyle sudah menuruni tangga dan kembali ke ruang tengah, dimana sekarang ada Papa Hans, Zayn, Thalita dan Mama Hanni yang berdiri disana menunggu Kyle seolah mau menghakimi pria labil tersebut.
"Papa! Dimana Audrey? Dimana Papa menyembunyikan Audrey?" Tanya Kyle pada Papa Hans dengan nada frustasi.
"Izinkan Kyle bertemu dengan Audrey, Pa!" Mohon Kyle sekali lagi.
"Untuk apa aku mengijinkanmu bertemu dengan Audrey lagi? Agar kau bisa membujuknya pulang lalu kau bisa menyakiti hatinya lagi?" Cecar Papa Hans penuh emosi.
"Kyle minta maaf atas semua kebodohan Kyle, Papa! Tolong katakan dimana Audrey!" Kyle memohon sekali lagi.
Namun bukannya menjawab pertanyaan dan permohonan Kyle, Papa Hans malah menarik kerah baju Kyle lalu melotot pada pemuda dua puluh tujuh tahun tersebut.
"Audrey sudah tidak mau lagi bertemu denganmu! Audrey sudah pergi jauh!"
Papa Hans hampir mendorong Kyle dan membuatnya jatuh terjerembab ke lantai, namun Zayn dengan cepat menghentikan tingkah barbar sang papa.
"Pa! Jangan memakai kekerasan begitu!" Nasehat Zayn yang sudah dengan cepat menarik Kyle dari cengkeraman Papa Hans. Wajah Kyle terlihat frustasi berat dengan peluh yang memenuhi wajahnya.
Entah itu peluh entah itu airmata. Zayn juga tidak tahu.
"Audrey dimana, Bang?" Tanya Kyle seperti seseorang yang penuh keputusasaan dan kehilangan gairah hidup,
Kyle terlihat begitu kehilangan, apa mungkin ingatan Kyle sudah pulih?
"Audrey sudah pergi, Kyle!" Ucap Zayn seraya merengkuh kedua pundak Kyle dan menatap tegas pada adik iparnya tersebut.
"Pergi kemana, Bang? Pergi kemana? Kyle akan menyusulnya. Kyle hanya ingin minta maaf kepadanya," cecar Kyle yang wajahnya kini dipenuhi oleh penyesalan.
"Ayo ikut aku!" Zayn merangkul pundak Kyle dan mengajak pria itu menuju ke halaman belakang kediaman Abraham. Sepertinya Zayn akan bicara hal serius pada Kyle.
.
.
Udah othor kasih bocoran di paling atas bab padahal Audrey ada dimana.
Babang Kyle nggak bisa baca apa, ya 😅😅
Alvin udah 21 tahun di karya yang ini, ya!
Kalau di cerita Galen-Emily, Alvin masih 19 tahun.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.