
Hari masih pagi.
Suara pintu gerbang rumah Tante Viola yang dibuka dari dalam menyentak Kyle yang sebenarnya masih sedikit mengantuk. Pria itu mengangkat kepalanya, dan benar saja, Audrey keluar dari dalam pagar, bertelanjang kaki, dan mengenakan baju terusan warna biru dengan bagian bawah baju yang berpotongan longgar.
Rambut Audrey terlihat di cepol sembarangan, dan ibu hamil itu berjalan kaki sendirian menyusuri jalanan kompleks yang masih lengang.
Kyle memilih mengamati dari kejauhan, Audrey yang biasanya akan berjalan hingga ujung lalu kembali lagi ke depan rumah Tante Viola. Audrey akan bolak-balik selama tiga kali dan Kyle tentu saja sudah hafal di luar kepala.
Sudah satu pekan terakhir, Kyle mengamati kegiatan Audrey setiap pagi hingga malam hari. Kyle menghafal jam-jam Audrey akan keluar dari rumah sang tante untuk jalan-jalan pagi, atau belanja sayur di tukang sayur dan buah di depan kompleks.
Kyle benar-benar sudah seperti penguntit untuk istrinya sendiri.
Kyle memang beruntung, karena rumah di kompleks tersebut yang hanya berjarak satu rumah dari rumah Tante Viola kebetulan sedang disewakan. Jadi Kyle langsung menyewanya dan kini pria itu bisa tersenyum setiap hari karena akhirnya ia bisa mengawasi Audrey setiap waktu.
Meskipun Kyle tak bisa memeluk atau mengecup bibir sang istri, tapi setidaknya Kyle bisa tahu setiap hari bagaimana keadaan Audrey.
"Pepayanya yang matang tidak ada, ya, Bu?" Tanya Audrey pada penjual buah di depan kompleks.
Audrey sepertinya sedang ingin makan pepaya.
Kyle yang berdiri tak jauh dari tukang sayur dan buah, bisa mendengar dengan jelas percakapan Audrey dan ibu penjual buah.
"Kebetulan habis, Non! Ini sudah mengkal. Disimpan dua hari nanti juga matang," ucap ibu penjual sayur.
"Maunya makan sekarang, Bu," jawab Audrey yang wajahnya terlihat kecewa.
Sepertinya Audrey benar-benar sedang ngidam pepaya. Sebaiknya Kyle mencarikan pepaya untuk Audrey.
Entah kebetulan atau bagaimana, sejak semalam Kyle juga kepikiran dengan buah berwarna jingga tersebut. Padahal Kyle hanya melihat sekilas di layar televisi, dan mendadak Kyle ingin makan buah pepaya.
Kyle sudah memacu motornya ke arah pasar yang letaknya juga tak jauh dari kompleks perumahan tempat Audrey tinggal. Tak butuh waktu lama, dan Kyle sudah membawa dua kantong pepaya matang di motor matic-nya.
Kyle menggantungkan satu kantung pepaya di pagar rumah Audrey, dan yang satu lagi akan Kyle bawa pulang untuk ia makan sendiri. Setelah menengok kanan dan kiri, serta memastikan situasi aman, Kyle segera menekan bel di depan pintu gerbang rumah Tante Viola sebanyak tiga kali.
Dan setelah menekan bel, tentu saja Kyle akan langsung kabur ke rumah yang disewanya. Bersembunyi dan mengintip dari dalam pagar, siapa yang akan membuka gerbang dan mengambil buah pepaya yang tadi Kyle tinggalkan.
Kyle bisa melihat saat Audrey membuka gerbang dan terlihat kebingungan. Wanita hamil itu menengok ke arah kanan dan kiri untuk mencari siapa orang iseng yang menekan bel pagi-pagi. Namun karena tak menemukan siapapun, Audrey hendak menutup kembali pagar rumah Tante Viola.
Lalu Audrey terlihat berhenti sejenak saat melihat kantong hitam berisi pepaya yang Kyle tinggalkan. Mata wanita itu langsung berbinar dan bibirnya melengkungkan senyuman saat melihat isi dari kantong plastik yang tergantung di pagar rumah sang Tante.
Tanpa ragu, Audrey membawa kantong plastik tersebut masuk ke dalam rumah, dan Kyle ikut tersenyum lega karena ngidam Audrey yang akhirnya berhasil Kyle turuti.
Ya, meskipun Audrey tak tahu.
Setidaknya Kyle sudah berusaha.
****
"Siapa, Audrey?" Tanya Tante Viola yang masih menyiram tanaman di halaman depan rumah, setelah Audrey kembali dari luar pagar.
"Orang iseng kayaknya, Tan!" Jawab Audrey menerka-nerka.
"Trus itu apa?" Tanya Tante Viola menunjuk ke arah kantong plastik yang dibawa Audrey.
"Pepaya matang. Kelihatannya manis sekali, yang beli pinter milih ini," puji Audrey pada siapapun yang mengirimkan pepaya ini untuknya.
"Mungkin, Tan! Mungkin lihat wajah melas Audrey tadi jadi kasihan ibunya, trus diantarin pepaya yang matang," kekeh Audrey yang langsung menghilang masuk ke dalam rumah.
Audrey ingin cepat-cepat mengupas pepaya di tangannya tersebut dan memakannya.
"Besok jangan lupa ditanyain dan dibayar sekalian pepayanya!" Pesan tante Viola setengah berteriak.
"Iya, Tante!" Sahut Audrey ikut-ikutan berteriak dari dalam rumah.
Wanita itu sudah di dapur dan mulai mengupas pepaya yang warnanya begitu menggiurkan tersebut.
Audrey benar-benar akan menghabiskan satu buah pepaya ini sendirian.
"Manis sekali," gumam Audrey saat mencicipi satu potong pepaya yang telah selesai ia kupas. Segera Audrey menyelesaikan memotong-motong pepaya tadi dan kini sudah ada sepiring penuh pepaya berwarna jingga menggiurkan.
Audrey membawa buah manis tersebut ke teras depan, dan menyantapnya sembari mengobrol bersama Tante Viola yang masih asyik menyiram dan merawat bunga-bunga miliknya di taman kecil di depan rumah.
****
"Hoek!"
Kyle kembali muntah-muntah karena pepaya yang ia makan barusan.
Ada apa sebenarnya dengan Kyle?
Itu hanya pepaya!
Dan biasanya Kyle tidak pernah mual apalagi muntah-muntah jika makan buah.
Kenapa sejak Kyle pindah kesini dan mengetahui tentang kehamilan Audrey, Kyle jadi muntah-muntah tak jelas begini pada makanan apapun yang diinginkan oleh Audrey?
Ck!
Padahal pepayanya manis sekali, tapi Kyle malah merasa mual saat memakannya.
Kyle akhirnya menyimpan pepaya yanag sudah ia buka sebagian tersebut ke dalam kulkas dan pria itu ganti memakan makanan lain. Baiklah, ternyata Kyle tidak mual saat makan makanan lain, asal tidak sama dengan yang dimakan oleh Audrey.
Apa ini sebuah karma?
Apa ini pembalasan dari calon bayi Kyle karena Kyle sudah menyakiti Audrey?
Menderita sekali hidupmu, Kyle!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.