
Kyle sudah selesai mandi, saat Audrey kembali ke kamar membawa nampan berisi sarapan.
"Kau darimana?" Tanya Kyle yang baru selesai memasang dasinya.
Audrey yang sudah meletakkan nampan yang tadi ia bawa ke atas meja, segera mendekati Kyle dan membenarkan dasi Kyle yang terlihat miring.
"Mengambil sarapan untuk kita," ujar Audrey menjawab pertanyaan Kyle.
"Kita tidak sarapan di bawah bersama Abang Zayn dan Kak Thalita?" Tanya Kyle bingung.
"Biasanya kita sarapan di kamar, saat sedang menginap disini, jadi-"
"Jadi kita juga akan sarapan di kamar pagi ini," sahut Kyle menyambung kalimat Audrey.
Audrey hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Aku akan mandi dulu. Jika kau lapar, kau bisa sarapan terlebih dahulu, Kyle," ucap Audrey yang sudah menghampiri lemarinya, dan memilih setelan blouse dan celana panjang yang akan ia kenakan ke kantor hari ini.
"Aku akan menunggumu selesai mandi," gumam Kyle mengambil keputusan.
Audrey sudah masuk ke dalam kamar mandi, dan Kyle berkeliling di dalam kamar Audrey seakan sedang mencari sesuatu. Entah Kyle sedang mencari apa, Kyle sendiri juga tidak tahu.
Aku, kamu, dan waktu.
- Kyle-
Kyle membaca tulisan di sticky notes dan di tempel di kaca meja rias Audrey.
Tentu Kyle hafal dengan tulisan itu, karena itu adalah tulisan tangan Kyle sendiri.
Apa ini sebuah surat cinta dari Kyle untuk Audrey?
Kenapa isinya singkat sekali?
Tapi kalau ditelisik lebih dalam, satu kalimat yang ditulis oleh Kyle tersebut memiliki arti yang cukup dalam.
Kyle ganti mengambil satu foto yang juga ditempel di kaca meja rias tersebut. Itu adalah foto dirinya yang bertelanjang dada dan sedang berdiri di depan gulungan ombak, di pulau milik Dad. Sepertinya Audrey yang mengambil foto tersebut diam-diam, karena ekspresi wajah Kyle terlihat kaget.
Satu foto lagi adalah foto selfie Audrey dan Kyle di dalam helikopter. Terlihat jelas dari headphone yang terpasang di kepala Kyle dan Audrey.
Mesra!
Hanya satu kata itu yang menurut Kyle paling cocok untuk menggambarkan kedekatan Kyle dan Audrey. Bahkan senyuman Audrey terlihat sangat lepas dan berbeda dengan senyuman Audrey yang Kyle lihat belakangan ini.
"Kau belum makan, Kyle?" Pertanyaan Audrey sontak membuyarkan lamunan Kyle.
"Aku menunggumu," jawab Kyle seraya memindai penampilan Audrey yang tetap terlihat feminim meskipun wanita itu mengenakan setelan baju kerja model celana panjang.
Baju apapun yang dikenakan oleh Audrey, selalu terlihat pas di tubuh Audrey.
"Baiklah, kita mulai sarapan sekarang saja!" Ujar Audrey akhirnya, yang kini sudah duduk di sofa. Kyle ikut duduk di samping Audrey, dan mulai mrnyantap sarapan yang disodorkan oleh Audrey.
"Aku boleh mengantarmu, nanti?" Tanya Kyle sedikit ragu.
"Tidak usah jika kau repot. Arah kantor kita berbeda. Lagipula, mobilku juga ada disini. Jadi aku akan menyetir sendiri saja," tolak Audrey memberikan sederet alasan.
"Itu bukan mobilmu! Itu mobil Abang Zayn yang kamu pinjam, lalu diberikan Abang Zayn kepadamu. Bukan begitu?" Tebak Kyle sedikit terkekeh.
Audrey langsung tercengang dengan tebakan Kyle barusan.
Terakhir kali Audrey bercerita tentang mobil merahnya itu adalah beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Kyle. Dan setelah itu Audrey tak sedikitpun membahasnya.
Apa mungkin Abang Zayn yang menceritakannya pada Kyle belakangan ini?
"Abang Zayn yang memberitahumu?" Tebak Audrey segelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kau yang memberitahuku! Bagaimana kau bisa lupa?" Kyle kembali terkekeh.
Audrey berhenti mengunyah makanan di mulutnya dan sesaat, hatinya mendadak bersorak senang.
Kyle ingat!
Kyle ingat kalimat yang dilontarkan Audrey setahun silam.
Apa ini sebuah titik terang?
Audrey mengulas senyum di bibirnya,
"Baiklah, karena kau memaksa. Aku bisa apa?"
Kyle dan Audrey melanjutkan sarapan mereka tanpa obrolan lagi.
****
"Kau akan menginap berapa hari di rumah Mama dan Papa?" Tanya Kyle memulai obrolan.
Mobil Kyle sudah melaju menembus padatnya lalu lintas pagi di kota metropolitan.
"Mungkin sampai besok. Kau bisa pulang dan tidak harus ikut menginap, Kyle!" Jawab Audrey cepat memberikan pilihan untuk Kyle.
"Lalu Mom akan kembali memarahiku," Kyle tersenyum kecut.
"Mom?" Audrey mengernyit tak paham.
"Mom memarahimu tadi?" Tebak Audrey selanjutnya mencoba menerka-nerka.
"Mom dan Sean. Mereka kompak sekali memarahi dan mengomeliku, karena aku tak mengantarmu pulang semalam, dan membiarkanmu naik taksi sendirian," cerita Kyle yang tetap fokus pada jalan di depannya.
"Jadi kau datang pagi ini karena perintah dari Mom?" Tebak Audrey lagi yang raut wajahnya sudah berubah kecewa.
Tadinya Audrey pikir, Kyle datang karena benar-benar merasa bersalah dan pria itu peduli pada Audrey. Nyatanya ini karena omelan dari Mom Bi dan Sean.
"Mom menyuruhku untuk membawamu kembali pulang ke rumah," jawab Kyle jujur.
Ya!
Seharusnya Audrey memang sudah bisa menebaknya sejak awal.
"Kau akan ikut pulang, kan, Audrey?" Tanya Kyle penuh harap.
"Kau istriku, jadi kau harus ikut pulang bersamaku," ucap Kyle lagi sedikit memaksa.
"Apa kau masih Kyle 22 tahun yang labil dan mudah tersinggung?" Tanya Audrey tertawa renyah, meskipun makna sindirannya sangat bisa dirasakan oleh Kyle.
"Aku akan berhenti menjadi Kyle 22 tahun dan berusaha untuk menjadi Kyle 27 tahun," janji Kyle pada Audrey.
"Tidak! Tidak perlu memaksanya, Kyle!" Audrey menepuk punggung Kyle yang masih fokus mengemudi.
"Seharusnya memang aku yang harus memahami keadaanmu, karena kau yang sakit disini-"
"Aku tidak sakit! Aku sudah sehat, Audrey! Jadi berhenti menganggapku sebagai sebagai pasien sekarat yang butuh perhatian!" Sergah Kyle memotong kalimat Audrey dengan nada yang sedikit meninggi.
"Baiklah, Tuan Kyle Arthur! Aku minta maaf, dan tolong kendalikan emosimu itu karena kita sedang di jalan." Audrey kembali menepuk punggung Kyle dan berucap sedikit lebay.
Dan diluar dugaan, ucapan Audrey tadi langsung membuat emosi Kyle menguap dan pria itu ganti terkekeh pada Audrey.
"Ekspresi wajahmu lucu sekali, Audrey!" Kekeh Kyle yang sesekali menengok ke arah Audrey sambil tetap fokus mengemudi.
Audrey ikut tertawa bersama Kyle.
Mungkin sebaiknya memang begini.
Audrey tak perlu memaksa untuk tetap menjadi istri Kyle dan memaksa mengembalikan ingatan suaminya tersebut.
Audrey hanya perlu menjadi orang asing yang datang ke kehidupan Kyle 22 tahun, dan membuat suaminya itu kembali jatuh cinta kepadanya.
Jika dulu Audrey bisa melakukannya, maka sekarang Audrey juga pasti akan bisa melakukannya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.